
"Kamu?" ujar wanita itu tiba-tiba kaget ketika dia menoleh melihat Arisa setelah dia sudah berhasil berdiri sempurna.
"Kamu Rasti Andini kan?" sahut Arisa tidak kalah kagetnya setelah wanita itu membuka kacamata hitamnya sehingga Arisa bisa mengenalinya dengan baik. Namun, yang lebih mengagetkan dirinya adalah bahwa Rasti kenal dengannya juga.
"Anda kenal denganku juga?" tanya balik Arisa merasa tidak percaya, siapa dia hingga seorang selebritis terkenal mengenalinya jgua.
"Ya..ya...tentu saja aku kenal dengan penipu seperti kamu. Dasar wanita licik." ketus wanita itu yang menyulut emosi Arisa.
"Tunggu dulu, apa maksud Anda? sopan sedikit kalau berbicara ya..." ujar Arisa dengan nada agak tinggi, tidak terima dirinya dikatakan licik.
"Ya, bukankah memang begitu kenyataannya, sebutan apa lagi coba yang cocok, untuk orang yang menikah dan membohongi suaminya dengan berpura-pura menjadi orang lain." lanjut wanita tersebut.
"Maksud anda?"
"Jangan pura-pura tidak paham deh, kamu pasti tahu sekali maksudku. Aku tahu kamu bukan Erina, kamu hanyalah perempuan yang sekedar mirip dengan Erina, sehingga bisa menikahi Andika."
"Asal kamu tahu saja ya, harusnya aku yang lebih pantas menjadi istri Andika saat ini, dibandingkan gadis miskin seperti kamu." lanjut wanita itu, membuat Arisa kaget karena dia hampir tahu segala seluk beluk kehidupannya.
"Oh...jadi Anda adalah salah satu wanita yang terobesesi untuk menjadi istri dari suamiku. Hahaha....kalau gitu, maaf...Anda lebih lambat selangkah dari saya." sindir Arisa untuk membalas wanita tersebut.
"Lagipula saya tidak kenal dengan Anda, jadi saya tidak mau berurusan dengan Anda lama-lama." lanjut Arisa sambil melangkahkan kakinya meninggalkan wanita itu. Dia memang sama sekali tidak kenal dengan wanita tersebut yang tidak lain adalah Larasti Andini, mantan dari Andika. Namun, sebelum dia sempat berjalan lebih jauh, langkahnya tertahan karena tangannya ditarik oleh Rasti.
__ADS_1
"Tunggu dulu...urusan kita belum selesai. Aku akan membuka kedokmu di hadapan Andika, hingga nanti dia sendiri yang akan mencampakkanmu saat dia tahu semua kebenaran ini."
"Silakan saja, saya tidak takut dengan ancamanmu itu, nona!" jawab Arisa berpura-pura tidak gentar, padahal dia takut juga kalau Andika akan mengetahui jati dirinya suatu saat nanti.
"Ancaman? siapa yang berani mengancam menantuku?" tiba-tiba terdengar satu suara wanita membuat keduanya segera menoleh ke belakang. Entah sejak kapan, Anita sudah berada di dekatnya.
"Dasar kamu wanita licik, buat apa kamu ke sini? Berani sekali kamu mau mengancam menantuku ini?" ujar Anita memarahi Rasti. Sejak dulu, dia tidak pernah menyukai hubungan Andika dengan Rasti karena menurutnya gadis itu selalu membawa pengaruh buruk kepada Andika. Makanya dia berusaha menjodohkan Andika dengan Erina. Namun sayang, ketika perjodohan itu berhasil dan hampir masuk ke jenjang pernikahan, takdir berkata lain.
"Tetapi, dia bukan Erina, tante...." jawab Rasti berusaha membela diri.
"Kamu tidak perlu ikut campur urusan keluarga saya, dia itu Erina atau bukan, itu bukan urusan kamu."
"Coba saja, jika kamu berani melakukan itu, saya tidak akan segan-segan kepada kamu. Jangan salahkan saya jika hal buruk terhadap dirimu nanti." ancam balik Anita. Namun, memang dia tidak sedang main-main dengan ucapannya itu. Dia tidak akan membiarkan ada orang yang merusak kebahagiaan putra kesayangannya itu.
"Tenang saja Risa, dia tidak akan berani macam-macam sama kamu. Kalau dia berani lakukan itu, dia akan berhadapan dengan mama." ucap Anita kepada Arisa yang membuat hatinya menjadi terharu karena ibu mertuanya itu membela dia di hadapan perempuan judes itu. Dia merasa sikap mertuanya agak berubah akhir-akhir ini, tidak lagi sedingin saat awal-awal mereka bertemu
"Tapi...tante...." ucap Rasti namun sudah dipotong oleh Anita.
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang pergi sana, saya tidak sudi melihat kamu lama-lama di sini." ujar Anita mengusir Rasti membuat gadis itu dengan terpaksa melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan mereka. Rasti segera berjalan menuju kamar tempat ibunya dirawat, karena tadi dia mendapatkan kabar bahwa ibunya pingsan dan masuk rumah sakit. Tetapi dia melupakan tujuan utamanya sesaat karena berpapasan dengan Arisa.
"Mama....kenapa mama ada di sini?" tanya Arisa setelah dilihatnya Rasti sudah berjalan cukup jauh.
__ADS_1
"Oh...tadi mama dapat telepon dari Andika, katanya ibumu sudah sadar. Makanya, mama segera ke sini. Bagaimana keadaan ibumu sekarang, Risa?"
"Ibu sekarang masih tidur, Ma. Keadaanya baik kok."
"Hmmm....baguslah kalau begitu."
"Oh ya, Ma. Ada yang mau Risa bicarakan. Ini soal....." Arisa terlihat ragu untuk melanjutkan.
"Soal apa, Risa?"
"Soal ibu, Risa tidak yakin ibu akan terima kalau mendengar berita Arisa tiba-tiba sudah menikah. Dan yang aku kuatirkan, bagaimana kalau mas Andika bertemu dengan ibu dan mengetahui sendiri dari ibu, bahwa aku adalah Arisa bukan Erina."
"Oh...kalau soal itu, serahkan sama mama. Aku sudah pikirkan semua itu baik-baik. Kamu tenang saja. Untuk sementara, kita usahakan Andika tidak bertemu dengan ibumu dulu!" Mendengar hal itu, membuat Arisa sedikit tenang dan bisa bernafas lega.
Setelah menemani ibu mertuanya masuk kembali ke ruangan untuk melihat ibunya yang masih saja tertidur pulas, barulah Arisa pulang ke apartemen diantar oleh Anita. Sesampainya di apartemen, dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang empuk di kamarnya itu. Dirinya memang sudah capek sekali, apalagi tadi harus bertemu dengan Rasti yang rupanya terobsesi untuk menjadi istri Andika itu.
Baru saja dirinya merasakan kegembiraan hari ini karena ibunya sudah sadar, tetapi kegembiraannya itu sudah terusik dengan kehadiran Rasti. Tetapi dia mau terlalu mengkuatirkan hal itu, karena dia percaya dengan perkataan ibu mertuanya tadi yang akan membantunya untuk mengurus masalah tersebut.
Setelah cukup lama berbaring, dia baru beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, merasakan guyuran air hangat di bawah shower, pasti sangat nyaman rasanya. Saat dia sedang asyik-asyik menikmati air hangat yang membasahi badannya, dia terkaget tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang. Sialnya saat ini, dia benar-benar tidak memakai apa-apa dan tidak sempat lagi baginya untuk meraih handuk di dekatnya. Akhirnya dia memilih pasrah saja, ketika mengetahui Andika yang entah sejak kapan masuk ke kamar mandi dan tiba-tiba saja sudah bergabung dengannya untuk mandi bersama. Dia mengutuki dirinya sendiri yang lupa mengunci kamar mandi lagi, karena berpikir tadi dia hanya sendirian di apartemen.
Sore itu, Andika juga sengaja pulang awal dari kantor setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, apalagi setelah dia mengetahui bahwa istrinya juga akan pulang lebih awal. Suatu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, saat dia mendapati bahwa istrinya sedang mandi dengan tidak mengunci pintu kamar mandi, entah lupa atau memang disengaja. Akhirnya, dia dapat melakukan apa yang diinginkannya selama ini. Memang keberuntungan sedang mengikutinya hari ini, pikirnya.
__ADS_1