Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Bertukar Pikiran


__ADS_3

Pertemuannya dengan Farah, sedikit banyak membuat Arisa menjadi kepikiran juga. Meski Arisa baru mulai menjalin hubungan pertemanan dengan Farah, entah kenapa dia merasa peduli dengan masalah yang dihadapi Farah. Bahkan, dia ingin sekali bisa membantu wanita itu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tetapi, apa yang dapat dilakukannya untuk membantu? Sedangkan Alex sendiri tidak bisa dihubungi selama beberapa hari ini. Pria itu bak hilang ditelan bumi.


Dia pun memberanikan diri untuk mencoba menelepon Alex. Dan benar seperti yang dikatakan Farah, panggilan itu tidak berhasil terhubung. Sebenarnya, ke mana perginya Alex saat ini?


"Sayang!" panggil Andika mengagetkan Arisa yang terlihat sedang melamun.


"Sedang memikirkan apa sayang? lagi mikirin aku ya?" tanya Andika yang baru pulang dari kantor. Sedangkan Arisa sudah pulang sejam yang lalu setelah bertemu Farah di kafe.


"Siapa juga yang mikirin Mas, gak penting akh.."


"Akh, yang benar. Bukannya biasanya, sayang yang berkali-kali telepon kalau aku biasanya pulang terlambat. Itu kan artinya diriku selalu ada di dalam pikiranmu, sayang!" sahut Andika tak mau kalah, sembari melepaskan jasnya dan membuka kemejanya bersiap-siap untuk mandi.


"Sayang sudah mandi?"


"Sudah!" dengan cepat Arisa menjawab karena dia sudah menangkap tatapan mesum suaminya itu.


"Sayang sekali, ya sudah aku mandi dulu ya atau sayang mau mandi lagi. Ayo, sekalian!" ajak Andika masih dengan tatapan mesumnya.


"Gak! Sudah, cepat mandi sana, Mas!" sahut Arisa.


Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Arisa menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Farah, untuk menanyakan kabarnya saat ini dan berharap masih bisa membujuk Farah untuk mempertimbangkan keputusannya.


Arisa masih sibuk berkutat dengan handphonenya saat Andika sudah selesai mandi. Dia sama sekali tidak menyadari kalau suaminya itu sudah berada di dekatnya.


"Sedang apa sih, sayang? kelihatannya sibuk sekali, chat dengan siapa?" tanya Andika sambil mengenakan kaos dan celana pendeknya.


"Gak, hanya chat dengan Farah."


"Farah? Oh, iya, teman yang kamu temui tadi? Kalau tidak salah, dia kekasihnya Alex, mantan bosmu itu kan?"


"Iya, Mas."


"Memangnya, ada masalah apa tadi, sampai dia mengajak kamu ketemuan?" tanya Andika yang sedikit penasaran.


"Ada saja, ini urusan sesama wanita." jawab Arisa.

__ADS_1


"Wah, sudah pandai ya, main rahasia-rahasian dengan suamimu. Awas ya!" dengan sigap Andika menghampiri istrinya dan menggelitik tubuh Arisa tanpa ampun hingga Arisa meronta-ronta berusaha menghindar dari tangan jahilnya Andika.


"Ampun....ampun...Tuanku, hahahaha...." pekit Arisa, namun Andika tetap terus menggelitiknya hingga terdengar panggilan Dina dari luar kamar.


"Arisa....Andika....makan malam sudah siap. Ayo makan!" teriak Dina yang mengajak makan malam bersama. Dengan segera mereka berdua pun keluar dari kamar menuju meja makan.


"Ngomong-ngomong, tadi kamu ke mana Arisa?" tanya Dina, yang saat pulang dari belanja tidak menemukan Arisa ada di apartemen. Sejam kemudian, barulah Arisa pulang.


"Oh, tadi hanya keluar sebenta bertemu dengan teman."


"Oh..."


Makan malam pun berlangsung dengan senyap, karena masing-masing memang sudah kelaparan dari tadi, jadi mereka begitu menikmati makanannya dan tidak ada obrolan lagi di meja makan. Bahkan, Arisa pun makan dengan lahap, padahal biasanya dia agak susah makan.


Selesai makan malam, Arisa membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah semuanya beres, barulah dia menyusul suaminya yang sudah masuk ke kamar duluan.


Malam ini dia bermaksud tidur lebih awal, karena badannya terasa capek setelah keluar td siang. Setelah menggantikan pakaian tidurnya, dia selalu merebahkan badannya di atas ranjang dan segera menarik selimutnya. Sementara itu, Andika masih berkutat dengan pekerjaannya di depan laptop.


"Tumben sayang, kamu tidur awal malam ini?"


"Ya udah, kamu istirahat duluan ya. Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan."


Arisa mengangguk, kemudian mencoba untuk tidur. Namun, semakin dia mencoba untuk tidur, dia semakin kesulitan untuk tertidur. Andika yang melihat istrinya sedari tadi uring-uringan tidak bisa tidur, segera menghentikan pekerjaannya dan mematikan laptopnya. Kemudian, ikut menyusul Arisa di atas tempat tidur.


"Kenapa sayang?" tanya Andika sembari memeluk Arisa dari belakang.


"Aku gak bisa tidur, Mas. Aneh, padahal rasanya badanku sudah capek sekali." keluh Arisa.


"Kamu sedang banyak pikiran? Hati-hati lho, ibu hamil tidak boleh stress, lho. Kalau kamu ada masalah, apapun itu, jangan dipendam sendiri ya." ujar Andika yang merasakan bahwa seperti istrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Gak kok, aku gak lagi sedang ada masalah kok, Mas. Hanya saja...."


"Hanya kenapa?" tanya Andika.


"Aku jadi kepikiran dengan Farah. Aku jadi kasihan dengan Farah, Mas."

__ADS_1


"Lho, memangnya kenapa dengan Farah? Dia sedang ada masalah?"


"Iya, Mas. Hubungan Farah dan Alex sedang bermasalah. Sayang sekali ya Mas, padahal menurutku mereka adalah pasangan yang serasi. Dan sebelumnya mereka juga sudah merencanakan akan menikah, tetapi..."


"Ada apa dengan hubungan mereka?"


"Farah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka."


"Oh, sayang sekali. Jadi, ini yang membuat kamu jadi kepikiran, sayang?" Arisa mengangguk.


"Sayang, tidak masalah kamu peduli dengan Farah, tetapi kamu juga harus ingat dengan kondisimu yang sedang hamil ya. Jangan sampai, gara-gara memikirkan masalah orang lain, lalu kamunya yang stres." ucap Andika menasehati Arisa.


"Tetapi, Mas.."


"Kamu harus ingat, sayang. Cinta itu tidak dapat dipaksakan, cinta itu timbul dengan sendirinya. Seperti kita ini, meski awalnya kita menikah karena tidak saling mencintai, namun sekarang kita bisa saling mencintai. Itu adalah sebuah anugerah. Dan untuk mereka, jika memang mereka itu jodoh, pasti hubungan mereka akan membaik nantinya, jika tidak, yah begitulah....." ucap Andika menjelaskan panjang lebar seolah menjado pakar cinta.


"Mas...tumben, kamu bisa ahli ngomong soal cinta?" tanya Arisa menggoda suaminya.


"Kan belajar dari ahlinya, yaitu kamu, sayang...yang membuatku jatuh cinta dan tergila-gila padamu." jawab Andika sembari mengecup kening Arisa, yang kini posisi mereka sudah saling berhadapan.


"Mas!"


"Iya?"


"Terima kasih ya Mas telah mencintaiku. Aku sungguh bersyukur bisa menjadi istrimu saat ini. Aku berharap cintamu kepadaku tidak akan pernah pudar selamanya ya, Mas."


"Oh, kalau itu, aku tidak janji. Siapa tahu, nanti aku ketemu yang lebih wah....di luar, hahaha...." ucap Andika spontan, bermaksud mengerjai istrinya.


"Mas!" pekik Arisa geram sambil mencubit bagian sisi samping perut suaminya


"Awas ya, kalau berani!" ancam Arisa masih sambil memberikan cubitan kecil di tubuh suaminya itu.


"Ampun ratuku, ampun....mana berani hamba, baru rencana saja, sudah babak belur begini. Apalagi kalau benaran...bisa habis diriku ini." sahut Andika yang segera membalas cubitan Arisa dengan mencumbui istrinya dan memberikan beberapa jejak kepemilikan di beberapa area tubuh istrinya


Merekapun menikmati malam indah ini dalam keintiman mereka. Arisa yang berencana akan tidur awal, malah akhirnya baru bisa tidur di tengah malam setelah menunaikan kewajibannya sebagai istri kepada suami tampannya itu.

__ADS_1


__ADS_2