
Sementara itu, Arisa yang sudah sampai di rumah sakit, sangat senang ketika melihat ibunya sudah bangun saat dia datang. Biasanya dia hanya bisa menatap ibunya yang terbaring lemah tanpa pernah sekalipun membalas ucapan selamat paginya, tetapi sekarang semuanya sudah berubah.
"Selamat pagi, ibu." ucap Arisa dengan riang saat memasuki ruangan.
"Pagi Risa, kamu sudah datang, bagaimana tidurmu semalam, nyenyak?" tanya ibunya basa-basi, yang tentu saja dia sudah tahu jawabannya sendri. Mana pernah Arisa tidak tidur nyenyak, gadis itu kalau sudah ketemu bantal, langsung aja bisa molor dan susah terbangun lagi. Itulah sebabnya, setiap pagi harus diteriakin dulu sama ibunya, barulah Arisa terbangun.
"Ibu tahu sendirilah hehehe.... Bagaimana keadaan ibu sekarang, sudah agak nyamanan?" Arisa sendiri bisa melihat perubahan ibunya yang sepertinya sudah lebih bugar dari kemarin. Tentu saja, ini membuatnya sangat senang dan dia berharap secepatnya ibunya sudah boleh keluar dari rumah sakit, supaya biaya perawatan ibunya tidak semakin membengkak. Dia tidak mau membebani keluarga Andika semakin lama.
"Ibu baik, kepala ibu juga tidak sakit lagi. Hanya saja badan ibu masih terasa kaku." jawab ibunya.
"Mungkin karena ibu selama ini tidak sadarkan diri, jadi badannya kaku karena selama ini tidak digerakkan." ujar Arisa yang segera diiyakan oleh ibunya dengan anggukan kepala.
"Kamu hari ini tidak pergi kerja ke cafe tante Ririn?"
"Hmmm....Aku....." jawab Arisa ragu apakah dia harus menceritakan semuanya kepada ibunya sekarang atau nanti saja. Dia takut ibunya shock jika mendengar kabar bahwa dia sudah menikah. Tetapi, cepat atau lambat ibunya juga harus mengetahui hal itu.
"Aku sudah tidak bekerja lagi, Bu. Aku sudah mengundurkan diri sejak ibu dirawat di rumah sakit."
"Apa?" tanya ibu Arisa kaget tidak percaya.
"Terus kalau kamu tidak bekerja, bagaimana kamu membayar biaya perawatan di rumah sakit ini. Pasti biayanya sangat mahal ini." lanjut ibunya.
"Mengenai biaya, ibu tidak perlu kuatir soal itu...tenang saja." ucap Arisa tenang malah membuat ibunya semakin curiga.
"Bagaimana ibu bisa tenang? sepertinya ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari ibu. Ayo, kasih tahu ibu!" pinta ibunya. Memang kalau soal perasaan, ibunya paling peka, jadi hampir tidak ada hal yang bisa disembunyikan oleh Arisa dari ibunya selama ini.
"Mengenai itu......" Namun ucapan Arisa terpotong, karena tiba-tiba seorang dokter dan perawat masuk untuk memeriksa keadaan ibu Arisa.
"Bagaimana keadaan ibu saya saat ini, Dok?" tanya Arisa setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter itu selsai.
"Dilihat dari kondisinya saat ini, ibu Anda sudah mengalami banyak perkembangan. Beruntung sekali, meskipun terbentur cukup keras di bagian kepala, ibu Anda tidak mengalami amnesia."
"Kalau begitu, apakah ibu bisa segera keluar dari rumah sakit, Dok?"
"Saya belum bisa pastikan itu. Kita tunggu hasil scan dulu untuk melihat kondisinya lebih lanjut ya, baru nanti saya bisa infokan." jawab dokter tersebut.
"Baik Dok. Saya tunggu info selanjutnya dari dokter, terima kasih."
"Sama-sama, saya permisi dulu."
__ADS_1
Setelah dokter dan perawat tersebut ke rumah sakit, tiba-tiba kepalanya diketok oleh ibunya saat Arisa baru saja menghempaskan bokongnya untuk duduk di kursi dekat ranjang ibunya.
"Auw....sakit Bu. Ibu baru sadar aja, udah kumat lagi galaknya. Kirain habis terbentur kepalanya, sifat ibu jadi agak berubah gitu, rupanya tidak." keluh Arisa sambil mengelus kepalanya yang tiba-tiba diketok ibunya.
"Itu hukuman jika kamu berani-berani merahasiakan sesuatu dari ibu, tahu!" ujar ibunya.
"Benar Bu, Arisa tidak merahasiakan apa-apa, hanya saja....." Arisa terhenti sesaat.
"Hanya apa? kalau bicara, jangan sepotong-potong...apa mau ibu ketuk kepalanya lagi."
"Ikh....ibu nih, sadis amat....kayak ibu tiri saja."
"Sadis katamu, biar sadis begini, ibu yang membesarkanmu sampai sebesar ini, tahu?" balas ibunya.
"Iya...iya....Arisa tahu kok, biar sadis, ibu tetap sayang sama aku, aku pun selalu sayang sama ibu." ujar Arisa dengan senyum menyeringai.
"Nah, itu kamu tahu.....Ayo ceritakan sekarang!"
"Tetapi, ibu janji ya....ibu jangan marah, apalagi shock setelah mendengar cerita Arisa, oke?"
"Tergantung..."
"Lho, kok tergantung?" tanya Arisa
"Lha, tuh kan? Aku tidak jadi cerita aja deh." Alhasil, sekali lagi lagi ketokan tangan ibunya mendarat sempurna di kepalanya.
"Auw....sakit Bu!" pekik Arisa.
"Makanya cepat cerita, jangan kebanyakan basa-basi begitu!" perintah ibunya tidak main-main. Arisa berpikir menyusun kata-kata untuk bagaimana menyampaikan perihal soal Andika kepada ibunya.
"Ibu.....saat ibu koma setelah kecelakaan dan kata dokter ibu membutuhkan perawatan yang cukup lama agar bisa pulih, Arisa benar-benar bingung. Kita tidak punya siapa-siapa. Arisa tidak tahu harus minta tolong kepada siapa untuk membantu biaya perawatan ibu." Arisa berhenti untuk meneguk air putih sebentar.
"Terus?"
"Di saat aku sedang bingung, tiba-tiba datang seorang wanita kaya yang menawarkan bantuan untuk membiayai perawatan ibu sampai sembuh, tetapi dengan satu syarat."
"Syarat apa? Dia tidak menyuruhmu menjual ginjal atau organ tubuhmu yang lain kan karena dia perlu donatur organ gitu kan?" tebak ibunya asal sambil menatap tajam kepada Arisa.
"Tidak, Bu. Arisa sehat-sehat saja, organ Arisa di dalam nih juga masih utuh." Arisa berusaha meyakinkan ibunya karena merasa risih ditatap seperti itu.
__ADS_1
"Terus apa syarat yang dia ajukan?"
"Syaratnya adalah aku harus menikah dengan putranya, Bu."
"Hah.....ibu tidak salah dengar, Risa? Terus kamu penuhi syaratnya itu?" tanya ibu Arisa tidak percaya.
"Yah....seperti ibu yang lihat sekarang, ibu masih bisa dirawat dengan baik di rumah sakit karena perjanjian yang Arisa lakukan dengan wanita tersebut."
"Yah ampun Arisa, kok bisa-bisanya kamu ambil keputusan sembrono begitu?" ucap ibu Arisa serasa tidak percaya dengan cerita putrinya barusan.
"Waktu itu, Arisa benar-benar bingung, Bu....aku tidak tahu harus berbuat apa lagi?" ujar Arisa berusaha membela diri bahwa keputusan yang dibuatnya itu tidak salah.
"Tetapi, ini soal kehidupanmu lho, Risa..masa iya, kamu mau menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai, apalagi tidak kamu kenal kan?"
"Iya Bu, Arisa memang tidak kenal Andika waktu itu."
"Oh...jadi namanya Andika, nama yang kamu sebut-sebut kemarin."
"Lantas, bukankah yang namanya Andika itu juga tidak kenal denganmu, terus bagaimana mungkin dia mau menikah dengan kamu. Ibu sendiri tidak yakin deh, ada yang bisa kecantol sama kamu, tomboi begini...." ledek ibunya.
"Yeah...jangan salah, Bu. Gini-gini, kalau aku dandan, Agnes Mo pun lewat Bu...." balas Arisa tidak mau kalah.
"Iya, Agnes lewat cepat karena tidak tahan lama-lama melihat kamu, tahu?"
"Ikh, ibu nih....selalu meragukan anak sendiri, heran deh, ibu ini sebenarnya ibu kandung aku atau bukan sih?" tanya Arisa asal, namun tanpa disadarinya raut wajah ibunya langsung berubah ketika mendengar pertanyaan Arisa barusan.
"Terus, bagaimana tadi, jadi benaran terus kamu nikah dengan yang namanya Andika gitu?" tanya ibunya kembali pada topik pembicaraan awal tadi.
"Iya, Mama Andika meminta aku untuk menikah dengan Andika, karena wajahku mirip dengan calon istri Andika yang bernama Erina, Jadi, aku harus menikah dengan berperan sebagai Erina."
"Terus yang namanya Erina itu ke mana? kok kamu yang menggantikan menikah dengan Andika kalau memang calon istrinya itu Erina?" tanya ibu Arisa yang sepertinya malah lebih penasaran soal Erina.
"Mengenai Erina, aku kurang tahu Bu, karena ibu Anita, mamanya Andika tidak menceritakan secara detail kepadaku. Aku juga tidak berani menanyakan sendiri."
"Ya ampun, Arisa. Kamu benar-benar gila ya...rupanya selama ibu tidak sadarkan diri, kamu melakukan banyak hal gila." sindir ibunya namun tidak terlihat benar-benar marah.
"Jadi, ibu tidak marah kan?"
"Apa boleh buat, semua sudah terjadi tokh. Nanti kapan-kapan ajak yang namanya Andika itu, ibu mau ketemu calon menantu ibu."
__ADS_1
"Tetapi , ibu harus janji satu hal ya?"
"Apa itu?" Namun percakapan mereka tiba-tiba terhenti karena seseorang mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu.