Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Taktik tidak berhasil


__ADS_3

Di dalam mobil, Andika berdiam diri terus fokus menyetir tanpa sekalipun memandang Arisa di sampingnya. Dia merasa kesal mendengar ucapan Arisa tadi.


Bisa-bisanya dia lebih memilih mengabari Johan daripada mengabariku yang jelas-jelas suaminya ini. Mengingat itu membuat Andika semakin kesal dan cemburu sehingga dia memilih mendiamkan Arisa, padahal biasanya dia selalu antusias mengajak bicara duluan.


Sementara itu, Arisa yang menyadari kalau dia salah bicara tadi, menjadi tidak nyaman karena didiamkan oleh Andika begitu.


"Aku minta maaf." ucap Arisa duluan membuka obrolan namun tidak digubris oleh Andika.


"Aku minta maaf kalau tadi aku hanya mengabari Johan. Aku takut menganggu kerjaanmu di kantor tadi, makanya aku tidak berani menghubungimu." lanjut Arisa masih tidak dihiraukan oleh Andika. Andika mungkin masih mengumpat dalam hatinya karena Arisa lebih memilih menghubungi sahabatnya dibandingkan suaminya.


Sesampai di apartemen, seperti biasa Andika langsung menuju ke kamar mandi di ruang tidurnya untuk membersihkan diri. Sementara itu, Arisa menyiapkan makan malam. Cukup lama, Andika berada di kamar mandi, padahal Arisa sudah siap dengan makan malamnya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Arisa memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas...makan malam sudah siap."


"Makan saja duluan." sahut Andika dari dalam kamar mandi

__ADS_1


Waduh, sepertinya dia benar-benar marah.


Tidak tahu harus berkata apa, akhirnya Arisa memilih mandi dulu sebelum makan malam di kamar mandi luar. Dia berharap ketika dia selesai mandi, Andika sudah keluar dari kamar mandi dan mereka bisa makan malam bersama-sama nanti. Tetapi ketika dia selesai mandi dan masuk kembali ke kamar, dia tidak menemukan suaminya itu. Dia keluar dari kamar mandi dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tidak ada juga. Satu tempat yang tersisa belum diceknya adalah ruang kerja Andika, dengan segera dia berjalan ke sana dan membuka pintu ruang kerjanya. Dan benar, suaminya itu sedang berada di sana, terlihat lagi sibuk mengutak-atik laptop di depannya.


"Makan malam dulu, Mas." ajak Arisa


"Makan saja duluan, aku belum lapar" jawab Andika bohong. Sebenarnya perutnya cukup lapar sekarang, namun dirinya tidak berselera untuk makan karena sedang kesal.


"Yah sudah...." jawab Arisa singkat, sambil berjalan menuju ruang makan.


Dipikir-pikirnya lagi, kalau malam ini dia mogok makan, yang ada nanti malam dia mungkin bisa bergadang semalaman, tidak bisa tidur karena kelaparan. Tidak mau rugi karena kebodohannya sendiri, akhirnya dia menyusul ke ruang makan namun tetap memasang muka datar.


"Akhirnya, mau makan juga, Mas." basi-basi Arisa malah terdengar seperti sindirin yang semakin memanaskan telinga Andia.


"Sini aku ambilkan."

__ADS_1


"Aku bisa sendiri." ketus Andika.


"Ya sudah....kalau begitu." Arisa kemudian meneruskan makannya dengan santai tanpa merasa bersalah. Bodoh amat, yang penting tadi kan dia sudah minta maaf di mobil, pikirnya.


Selesai makan, Arisa segera membereskan piring-piring kotornya. Kali ini, Andika langsung menuju kembali ke kamarnya. Padahal biasanya, dia selalu menawarkan diri untuk membantu istrinya itu. Namun, Arisa sengaja mengacuhkan gelagat aneh suaminya itu. Selesai mencuci piring, dia memilih menonton film kesukaanya di ruang nonton ketimbang masuk ke dalam kamar dan bertemu dengan orang aneh yang sedang marah tidak jelas, pikirnya.


Sesekali terdengar cekikian kecil dari ruang nonton, membuat Andika semakin kesal di dalam kamar sendirian. Dia berpikir setelah selesai mencuci piring, istrinya akan menyusul ke kamar dan mengajaknya bicara. Rupanya tidak sama sekali. Apakah sedemikian tidak pekanya wanita itu, bukankah biasanya hati perempuan yang lebih peka dibandingkan hati laki-laki, pikirnya.


Menyadari bahwa taktiknya untuk mendapatkan perhatian dari istrinya itu tidak berhasil, dengan malas akhirnya Andika beranjak dari tempat tidurnya bermaksud untuk menyusul istrinya yang sedang menonton di luar. Namun, sesampainya di ruang nonton, suara cekikikan tadi sudah tidak ada lagi, digantikan suara dengkuran merdu dari seorang perempuan yang sedang tertidur lelah di kursi sofa.


Dia mendekat dan melihat wajah perempuan itu, sungguh wajah yang polos, pantesan dia tidak merasa bersalah sama sekali. Akh, bodohnya aku bersikap cuek kepadanya, kalau ujung-ujungnya aku juga yang dicuekin, sesal Andika dalam hati.


Kemudian pelan-pelan, dia mengangkat tubuh Arisa agar istrinya itu tidak terbangun. Kebiasaan Arisa memang kalau sudah tidur gak bakalan terganggu apapun juga, jadi tentu saja Arisa tidak menyadari kalau dirinya sedang diangkat. Dia masih saja tertidur pulas, bahkan tangannya kini dalam posisi melingkar di leher Andika. Otomatis, posisi wajah mereka cukup dekat.


Cup....

__ADS_1


Andika mengecup kening Arisa dan melanjutkan berjalan menuju ke kamar tidur mereka. Dengan pelan, dia meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Lalu, dirinya segera beranjak meraih tombol lampu untuk mematikannya menyisakan satu lampu tidur di pojok yang masih hidup. Merasa rugi karena tadi telah dicuekin, kali ini dia bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan.


__ADS_2