Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Menghadiri Reuni Part 1


__ADS_3

Waktu sudah berlalu hampir seminggu, sejak Andika menerima undangan reuni waktu itu. Kini hari itu telah tiba. Andika membulatkan tekadnya untuk menghadiri acara reuni nanti malam. Dia berharap bisa mendapatkan informasi tentang gadis yang ada di dalam foto tersebut dan juga sekaligus mengenal kembali teman-teman dari masa lalunya dulu, tidak ada salahnya bukan.


Sore itu, setelah Andika mengabarkan kepada Arisa bahwa dia akan pulang telat malam ini, karena dia akan pergi ke ballroom hotel XXX, tempat diselenggarakannnya acara reuni itu, langsung dari kantor supaya tidak habis waktu karena kemacetan, jika dia harus pulang ke apartemen dulu.


Saat dia sampai di hotel tersebut dan berjalan menuju ballroom, sepertinya sudah cukup banyak orang yang juga hadir lebih awal darinya. Dia memasuki ballroom dan melihat sekelilingnya, tetapi sayang tak satupun yang dikenalnya, lebih tepatnya tidak ada yang diingatnya. Dia memilih duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja bundar sambil menunggu acara dimulai.


"Hei...kamu Andika kan?" tiba-tiba seorang laki-laki menyapa Andika. Dari wajahnya, kelihatannya umurnya tidak beda jauh dengan Andika. Mungkin mereka satu angkatan.


"Kamu?" tanya Andika sambil mengernyitkan dahi pura-pura mengingat, padahal dia tidak mengingat sama sekali siapa orang yang di depannya saat ini.


"Masa kamu lupa? teman seperjuanganmu waktu SMA dulu." padahal kan Andika memang lupa ingatan, mana mungkin dia ingat.


"Aku Rinto, teman sebangkumu dulu waktu kelas III, ingatkan?"


"Oh...Rinto, aku ingat, ingat....tadinya agak lupa habis penampilan kamu agak berubah sekarang. Tambah keren." jawab Andika asal, padahal dia benar-benar tidak ingat sama sekali, tetapi tidak perlu juga kan dia harus bercerita panjang lebar kepada Rinto bahwa dia lupa ingatan gara-gara kecelakaan yang dialaminya, pikirnya.


"Boleh aku duduk di sini, atau mungkin sudah ada orangnya di sini? Siapa tahu kamu ajak istrimu?" tanya Rinto.


"Oh tidak. Aku datang sendiri kok. Kebetulan kursi di sampingku ini masih kosong, belum dibooking orang, duduk aja. Silakan."


"Oh...baiklah. Ngomong-ngomong soal istri, kamu jadi kan akhirnya nikah dengan Rasti? primadona sekolah kita dulu tuh. Kalian kan pasangan paling serasi waktu itu. Secara.... ketua osis dengan primadona sekolah, top deh." lanjut Rinto sambil mengacungkan jempolnya.


"Rasti?"


"Eits....jangan bilang kalian gak jadi sampai menikah. Wah, sayang sekali." tebak Rinto asal karena mendengar Andika malah menanyakan balik tentang Rasti.

__ADS_1


"Tetapi kamu sudah menikah kan sekarang?" tanya Rinto sekedar memastikan setelah melihat cincin yang melingkar di jari manis Andika.


"Oh iya, aku sudah menikah....kira-kira sebulan yang lalu."


"Wah, nikah gak undang-undang nih....tapi gak apa-apalah, secara memang kita hilang kontak setelah kita lulus dari SMA, aku harus ikut papaku pindah ke luar kota, jadinya aku harus kuliah di kota lain. Tetapi ngomong-ngomong, akhirnya kamu menikah dengan siapa, secara kamu kan juga banyak diincar adik kelas waktu itu, siapa tahu ada yang kecantol satu."


"Aku nikahnya dengan Erina." jawab Andika singkat.


"Erina? Erina Anggaraini, adik kelas kita, yang cupu dan kutu buku itu, gak salah nih bro?" tanya Rinto kaget tidak percaya.


"Emang Erina dulu begitu?" tanya balik Andika, yang membuat Rinto jadi bingung.


"Lho, kok tanya balik ke aku? Situ yang nikahnya, terus kita kan sama-sama tahu bagaimana dia dulu."


"Aku gak ingat." jawab Andika jujur sambil mengangkat bahunya.


"Iya, aku masih ingat jelas, gimana penampilan Erina dulu, dengan kacamata tebalnya, poni ratanya, ditambah lagi kalau rambut panjangnya lagi dikepang dua begitu. Masa sih, aku gak percaya deh, kok kamu bisa tertarik dengan dia, nikah pula?"


"Eits...jangan salah, Erina sekarang gak seperti yang dulu lagi deh, dia tidak lagi cupu seperti bayanganmu tahu." bela Andika, karena memang Erina yang dia kenal sekarang bukanlah gadis cupu menurut Rinto, dilihat dari sisi manapun tidak ada kesamaan dengan ciri-ciri yang disebutkan Rinto barusan.


"Apa jangan-jangan ini karena kamu kena kualat nih, akhirnya nikahnya dengan Erina. Kamu ingat gak kita dulu kan suka jahilin dia. Yang paling parah, waktu kita naruh cecak, yang dijepit di dalam bukunya itu hahahaha....."


Sejahat itu kah aku dulu dengan Erina? Rasanya tidak bisa dipercaya....


"Dan akhirnya waktu Erina tahu bahwa kita pelakunya, dia mengejar kita sampai keliling lapangan, ujung-ujungnya kita harus bersembunyi di dalam gudang sekolah waktu itu. Ikh, membayangkan Erina marah waktu itu, ngeri juga ya...." lanjut Rinto bergidik ngeri.

__ADS_1


"Terus....terus....? tanya Andika merasa seru mendengarkan cerita nostalgia Rinto, membuat temannya itu menjadi bingung seketika. Benaran lupa ingatan nih anak, pikirnya. Rinto memang tinggal di kota lain selama ini, dia datang ke Jakarta memang khusus untuk menghadiri acara reuni akbar ini, jadi memang dia sama sekali tidak tahu menahu mengenai kecelakaan yang dialami Andika beberapa waktu yang lalu.


"Terus waktu dia tahu kita bersembunyi di dalam gudang sekolah, dia berusaha untuk masuk. Syukurnya pintu sudah kita kunci dari dalam. Tetapi rupanya besar juga nyali Erina, dia memecahkan salah satu kaca jendela dan masuk lewat situ. Tetapi karena tergelincir, akhirnya bahunya terkena pecahan kaca hingga mengeluarkan banyak darah."


"Apa? sampai separah itu?"


"Iya, lukanya cukup parah, hingga akhirnya kita ketakutan berlari mencari pertolongan. Sejak saat itu, kita tobat deh gangguin dia. Karena setiap kali melihat bekas goresan luka di sisi lengan bahunya yang tidak tertutup oleh lengan baju, aku merasa bersalah sekali."


"Syukur deh, kalau sekarang kamu nikah dengan Erina, paling tidak bisa menebus kesalahan yang kita lakukan bersama dulu. Hitung-hitung ngurangi dosa hehehe." lanjut Rinto.


Andika berusaha mencerna cerita Rinto barusan. Tak pernah disangkanya, kalau dulu dia pernah berbuat jahat dengan istrinya sendiri. Seketika itu, rasa bersalah menyelimuti dirinya.


"Hei...hei...bro, melamun nih." tegur Rinto.


"Gak...gak...hanya sedang berpikir saja."


"Emang apa yang kau pikirkan?"


"Bukan apa-apa kok."


"Selamat malam hadirin, di malam yang berbahagia ini....." sapa pembawa acara di atas panggung menandakan acara malam itu akan segera dimulai.


Andika mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, hampir seluruh kursi sudah terisi penuh. Seketika itu, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang duduk, terpisah dua meja di sisi samping kanan depannya.


"Wanita itu....tidak salah lagi, dia yang ada di dalam foto tersebut" guman Andika pelan.

__ADS_1


"Hei bro....siapa yang kau pandangi?" tanya Rinto yang kemudian mengikuti arah pandang Andika.


"Oh....itu Rasti, wah kebetulan sekali, dia juga datang. Awas ya jangan sampai cinta lama bersemi kembali ya." goda Rinto.


__ADS_2