Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Ibu Sadar


__ADS_3

Pagi itu, setelah menjalankan rutinitasnya seperti biasa, Arisa bergegas ke rumah sakit. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya, padahal hampir setiap hari dia tidak pernah absen menemani ibunya di rumah sakit.


"Selamat Bu, Arisa datang lagi. Ibu cepetan bangun dong, betah amat tidur terus sih, Bu. Arisa sudah kangen sekali dengan omelan ibu...." ucap Arisa membuka obrolan dengan ibunya yang tentu saja tidak akan mendapat balasan apa-apa.


"Risa janji deh, kalau ibu sadar, aku akan selalu patuh dengan perintah ibu, tidak akan pernah membantah lagi." janji Risa seperti anak kecil yang mengharapkan dibelikan sesuatu oleh orang tuanya.


Arisa terus mengoceh sendiri, tiba-tiba tangannya yang sedang memegang tangan ibunya, merasakan gerakan yang kemudian membalas mencengkeram tangan Arisa, membuat Arisa terkejut sekali. Apalagi ketika dilihatnya, pelan-pelan mata ibunya mulai terbuka.


"Ibu....ibu sadar....." pekik Arisa kesenangan. Dengan segera, dia memanggil dokter untuk memeriksa ibunya.


Saat sedang diperiksa oleh dokter, Arisa melihat ibunya berangsur sadar meskipun belum berbicara sepatah katapun, itu sudah membuatnya sangat senang. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga.


"Bagaimana keadaan ibu saya, dokter?"


"Keadaan ibu anda cukup stabil, mudah-mudahan setelah sadar, kesehatannya juga berangsur cepat pulih kembali. Untuk saat ini, jangan terlalu banyak ajak bicara pasien dulu ya, supaya pasien tidak kelelahan." ucap dokter menjelaskan keadaan ibu Arisa.


"Baik, dok. Terima kasih."


"Sama-sama. Kalau gitu, saya permisi dulu."


"Ibu!" pekik Arisa langsung spontan memeluk ibunya sesaat setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan tersebut.


"Aduh....aduh....sakit!" ujar ibunya


"Jangan kuat-kuat dong peluknya!" lanjutnya, namun masih dengan suara yang lemah.

__ADS_1


"Kamu beneran Arisa, anakku itu?" tanyanya memastikan setelah sekilas melihat Arisa yang sedikit berbeda.


"Ya elah ibu, ini aku Arisa....ibu tidak hilang ingatan kan?"


"Kalau ibu hilang ingatan, ibu tidak mungkin masih ingat punya anak yang namanya Arisa, tahu?" balas ibunya yang mulai semangat bicara yang bakalan berlanjut ke omelan kalau tidak segera dihentikan oleh Arisa


"Sudah...sudah....nanti saja kita lanjutkan bicaranya Bu, sekarang ibu istirahat dulu. Ibu dengar sendiri kan apa kata dokter tadi, jangan banyak bicara dulu, supaya gak habis tenaga."


"Iya...sekarang ibu mau istirahat dulu, kumpulin tenaga dulu. Biar nanti kuat untuk omelin kamu lagi." balas ibu Arisa.


"Yah....ibu, gak seru akh, masa bangun-bangun dah omelin putri cantikmu ini."


"Cantik apaan? tomboi model begini....lagipulan bukannya dari kemarin-kemarin kamu bilang suka kangen dengan omelan ibu."


"Hehehe....ibu benaran dengar omongan Arisa saat berbicara dengan ibu selama ini?" tanya Arisa tidak yakin.


"Ya ibu....kok begitu ngomongnya? sadis amat....udah akh, ibu tidur aja lagi. Ingat ya, tidur aja...jangan koma lagi, aku mau telepon Mas Andika dulu."


"Tunggu dulu, apa kamu bilang tadi, telepon Andika? siapa Andika itu ?" tanya ibu Arisa kaget, selama ini yang dia tahu, putrinya ini hanya punya satu kenalan laki-laki yang dekat yaitu Johan.


"Udah, ibu tidur aja. Ntar Arisa perkenalkan deh." ujar Arisa tersenyum tipis.


Tak lama setelah memastikan ibunya sudah tertidur kembali, Arisa berjalan ke luar ruangan sambil memencet handphonenya untuk menelepon Andika. Kali ini dia memilih untuk mengabarkan Andika terlebih dahulu daripada Johan, mengingat sikap Andika yang ketus beberapa waktu yang lalu karena dia lebih memilih mengabarkan kondisi ibunya kepada Johan.


Drrit....Drrit....Drrit....

__ADS_1


Bunyi handphone Andika yang tergeletak di atas meja berbunyi, setelah diabaikan beberapa saat karena Andika masih terfokus menatap pekerjaannya di layar laptopnya, barulah Andika mengangkat panggilan tersebut.


"Sayang...tumben telepon, ada apa?" ujar Andika langsung setelah melihat nama yang meneleponnya pada layar handphonenya.


"Mas....aku punya kabar baik, ibu sudah sadar. Aku senang sekali." jawab Arisa dari seberang.


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Nanti setelah pulang dari kantor, aku segera ke rumah sakit ya, bertemu dengan mertuaku sekalian menjemputmu ya, sayang."


"Iya boleh.....Eh....tidak usah aja deh mas, aku nanti bisa pulang sendiri kok. Lagipula kata dokter, ibu masih perlu banyak istirahat, belum boleh banyak bicara dulu." ujar Arisa meralat omongannya dan mencari alasan yang tepat supaya Andika tidak datang dulu ke rumah sakit. Bisa-bisanya tadi dia lupa bahwa ibunya kan belum tahu kalau dia sudah menikah dengan Andika, apalagi menikah dengan berpura-pura berperan sebagai Erina.


Bisa kacau nih, kalau nanti ibu bertemu dengan Andika, terus memanggilnya dengan nama Arisa di depan Andika. Tidak....tidak....untuk saat ini, Andika tidak boleh bertemu dengan ibu dulu. pikirnya.


Hari ini karena memang badannya rasanya kurang fit dan kecapean karena semalaman harus meladeni Andika, melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tadi malam, tepatnya pas tengah malam ketika Arisa lagi enak-enaknya tidur dan bermimpi indah, tiba-tiba saja Andika mencumbuinya dengan ganas, sehingga membuatnya terbangun padahal biasanya dia tidak mudah terbangun hanya gara-gara gangguan kecil. Akhirnya, mau tidak mau dia harus mengikuti permainan Andika, bahkan hingga sampai subuh, sehingga membuatnya merasa ngantuk saat ini. Rencananya, hari ini dia akan pulang istirahat di rumah dan menitipkan ibunya kepada perawat penjaga yang sudah dipesaninya untuk langsung menghubunginya jika ada apa-apa, besok barulah dia akan minta izin kepada Andika untuk menginap di rumah sakit menemani ibunya.


Hari sudah mulai sore, melihat ibunya masih tertidur pulas, Arisa tidak tega untuk membangunkannya hanya sekedar untuk pamitan. Dia hanya menitip pesan kepada perawat penjaga yang bertugas saat itu. Saat dia berjalan keluar dan menatap layar handphonenya untuk memesan taksi online, tiba-tiba dia menabrak seseorang.


"Aduh....aduh...sakit." ujar wanita yang ditabrak Arisa.


"Maaf.....maaf Nona, anda tidak apa-apa...maafkan saya tadi tidak...." ucap Arisa sambil membantu wanita itu bangun dari posisinya yang terduduk di lantai.


"Maaf....maaf....kalau jalan pakai mata dong..." ketus wanita itu sambil membersihkan roknya tanpa memandang Arisa.


Ya elah, di mana-mana orang jalan juga pakai kaki, nona. Gimana caranya jalan pakai mata, ajarin dong situ bisa....Arisa membatin kesal mendengarkan ucapan wanita yang ketus itu, mentang-mentang orang kaya kali, tetapi Arisa tetap berusaha menahan diri.


"Saya benar-benar tidak sengaja. Maafkan saya ." ucap Arisa berpura-pura terlihat merasa bersalah, padahal sebenarnya dia juga sudah mulai kesal.

__ADS_1


"Kamu?" ujar wanita itu tiba-tiba kaget ketika dia menoleh melihat Arisa setelah dia sudah berhasil berdiri sempurna.


__ADS_2