
Tiba di apartemen, Andika langsung menuju kamar mandi di kamar tidurnya untuk membersihkan diri, sedangkan Arisa menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Arisa berusaha melakukan kewajibannya sebagai istri dengan baik, supaya tidak ada keluhan dari Andika yang terdengar sampai ke telinga Anita ibu mertuanya itu, selama dirinya masih membutuhkan bantuan dana perawatan ibunya di rumah sakit. Tetapi untuk kewajiban yang satu itu, sampai sekarang Arisa masih belum memberikan kepada suaminya, kebetulan sejak kejadian seprai merah di ranjang hotel kemarin, sepertinya Andika masih belum mau menuntut haknya.
Andika telah selesai mandi dan mengenakan celana pendek dipadukan dengan kaos kasual yang melekat pada tubuhnya menampakkan otot-otot kekarnya. Sungguh pemandangan yang indah bagi Arisa, saat dia melihat suaminya berjalan ke luar dari kamar, sampai-sampai dia lupa sedang menyendok sup panas ke dalam mangkuk.
"Aduh....aduh...." teriak tiba-tiba karena tangannya terkena siraman sup panas yang tidak pas masuk dalam mangkuk. Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang melepuh sedikit.
"Kamu kenapa? apa yang terjadi?" tanya Andika kuatir segera menghampiri Arisa. Dilihatnya, tangan istrinya itu melepuh pada satu area di punggung tangannya.
"Makanya jangan melamun donk, saat memasak....bahaya." ujar Andika sambil mencari kotak P3K yang terletak di salah satu rak, untuk mengobati luka tangan Arisa.
"Gak....gak kok, siapa bilang aku melamun tadi, aku hanya......" Arisa terhenti tak berani jujur. Hanya mengagumi dirimu tadi, lanjutnya dalam hati.
Dengan cekatan, Andika mengobati luka tangan Arisa sambil sesekali meniupnya. Sungguh hati Arisa begitu trenyuh melihat begitu besar kepedulian dan rasa sayang kepada dirinya, atau lebih tepatnya kepada Erina.
"Sudah...sudah....gak sakit lagi kok, ayo kita makan. Semuanya sudah siap kok." ajak Arisa.
"Benaran tidak sakit lagi?" seakan tidak percaya, Andika masih mengamat-amati tangan Arisan.
"Iya, benar deh. Ayo, kita makan sekarang kita makan, aku sudah lapar deh." ujar Arisa sambil tersenyum manja kepada Andika. Sepertinya dirinya sudah mulai bisa bermanja dengan Andika, ya supaya perannya lebih meyakinkan.
"Kamu masak apa hari ini? sepertinya enak..." Andika mencium bau sedap yang hampir memenuhi seluruh ruangan apartemennya.
"Sederhana saja kok, sup jagung dan udang goreng tepung, kamu suka kan?"
__ADS_1
"Oh tentu saja. Apapun yang kamu masak pasti aku suka."
"Akh....gombal, memang kalau aku masakin batu, kamu suka juga?"
""Ya, siapa tahu batupun bisa jadi enak kalau sudah dimasak oleh kamu sayang hahaha...." Andika segera melahap makanan di piringnya, setelah disendokin oleh Arisa. Dalam waktu sekejap, makanan di piringnya langsung ludes berpindah tempat ke dalam perutnya. Sepertinya, dia benar-benar menyukai masakan Arisa. Tidak lama kemudian, Arisa pun telah menghabiskan makanannya menyusul Andika.
"Aku bantu cuci piring ya, sini piringnya." Andika mengambil piring dari hadapan Arisa.
"Tidak usah, aku aja."
"Gak, aku aja, kan tadi kamu udah masak. Giliranku sekarang yang cuci piring, kamu pergi mandi aja gih. Biar wangi, supaya nanti kita bisa asyik-asyikan." ujar Andika memberi kode.
"Asyik-asyikan? Mank kita mau ngapain, mau nonton film ya? Wah asyik nih...ada film action yang bagus ya? apa judulnya?" Di mata Arisa, memang kegiatan paling asyik baginya adalah menonton film. Makanya dulu sering sekali dia menonton film di bioskop bersama Johan, dia lebih menyukai film action ketimbang film romantis, sesuailah dengan gayanya yang agak tomboi.
"Yang itu apaan? Akh gak tahu akh, aku mandi dulu....." sepertinya Arisa memang agak lemot pikirannya, tidak menangkap apa maksud Andika. Tinggallah Andika bengong sendiri karena salah ditanggapi oleh istrinya.
Selesai cukup lama berada di dalam kamar mandi, karena Arisa sekalian keramas rambutnya, dia berjalan keluar dengan santainya hanya menggunakan sehelai handuk yang membalut tubuhnya karena dia kelupaan membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi. Dia mengira Andika seperti biasanya akan berada di ruang bacanya selesai makan malam, namun tak disangkanya rupanya Andika sedang duduk di tepi ranjang di dalma kamarnya itu. Tentu saja, dia terkaget dan dirinya merasa risih ditatap oleh Andika dalam keadaan seperti itu. Dengan cepat dia mengambil baju tidurnya untuk menggantinya di dalam kamar mandi. Namun, tiba-tiba langkahnya dicegat oleh Andika tepat di depan pintu kamar mandi, menarik tubuhnya hingga kemudian mendempetnya pada salah satu sisi dinding di samping pintu. Kali ini, Arisa benar-benar tak bisa berkutik.
Kamu cantik sayang." ujar Andika lembut sambil mengecup bibir Arisa membuat jantung Arisa semakin berdegup kencang. Tangannya mulai menjalar, namun cepat ditangkap oleh Arisa.
"Tunggu dulu, jangan sekarang, biarkan aku mengganti bajuku dulu." seraya melepaskan pelukan dari Andika, Arisa masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Hmmm, kenapa susah sekali aku mendapatkan dirimu sayang. Padahal kita sudah sah menjadi suami istri, guman Andika dalam hati.
__ADS_1
Sembari menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, dia menyalakan TV yang berada tepat di depan tempat tidur. Dan kebetulan, ada film action yang sedang ditayangkan di salah satu channel. Ketika, Arisa berjalan keluar dari kamar mandi, dia ikut bergabung duduk di samping Andika. Akhirnya Arisa larut dalam tontonan tersebut, begitu menikmatinya, sampai- sampai melupakan suatu kegiatan yang tertunda untuk dia lakukan bersama suaminya itu.
Aria tertawa-tawa sendiri, marah-marah sendri bahwa sampai tangannya ikut-ikutan memukul bantal saat adegan pemeran utamanya sedang berkelahi dengan penjahat. Sedangkan Andika, tinggallah dia duduk terbengong melihat istrinya yang begitu menjiwai film tersebut. Padahal, ada sesuatu yang ingin sekali dia salurkan malam ini, tetapi dia tidak tega juga menganggu kesenangan istrinya saat ini.
Berharap filmnya cepat berakhir, Andika menunggu hingga akhirnya dia terlelap. Sekali lagi dia batal melakukan aksinya. Saking pulasnya tidur Andika, sampai-sampai dia ngorok begitu keras hingga menganggu Arisa yang masih asyik menonton, Arisa menatap gemas wajah tampan suaminya itu.
cup.....
Tanpa sadar dia mencium pipi Andika dan membuat dia tersenyum-senyum sendiri. Dia pun kemudian melanjutkan tontonannya.
"Akh.....jangan tinggalkan aku Erina....Erina....!" teriak Andika tiba-tiba terbangun, hingga mengagetkan Arisa. Sepertinya dia mengalami mimpi buruk lagi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arisa segera memeluk Andika untuk menenangkannya.
"Jangan tinggalkan aku Erina, jangan pernah tinggalkan aku!" ujar Andika lirih dan semakin erat membalas pelukan Arisa.
Aku tidak akan meninggalkanmu, tetapi mungkin kau yang akan meninggalkanku suatu saat nanti jika kau tahu kebenarannya. Ucap Arisa sedih dalam hati.
"Iya...ya...aku tidak akan meninggalkanmu. Sekarang tidurlah kembali, aku ada di dekatmu." Tiba-tiba saja suaminya itu bersikap seperti anak kecil yang takut ditinggalkan pergi oleh mamanya ke pasar.
"Kamu harus berjanji bahwa kamu tidak akan pernah tinggalkanku ya, janji...!" sambil menunjukkan jari kelingkingnya, Andika masih terlihat seperti anak kecil.
"Iya, aku janji!" jawab Arisa sambil mengaitkan jari kellingkingnya ke jari Andika sebagai tanda mengikat janji.
__ADS_1
"Sekarang tidurlah kembali, aku akan menemanimu!" Arisa kemudian juga ikut berbaring bersama Andika setelah dia mematikan televisinya. Tidak lama kemudian, mereka pun terlelap dan menyongsong mimpi mereka masing-masing.