Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Bersemangat kembali


__ADS_3

Sepertinya tidak ada kesempatan bagi Andika untuk berbicara lebih lanjut dengan Arisa, karena yang kemudian datang membawakan pesanannya bukanlah Arisa lagi. Mungkin Arisa sengaja menghindar dari Andika, yang menurutnya laki-laki aneh itu, sehingga dia meminta temannya yang membawakan pesanan Andika laki-laki tersebut.


Andika terlihat sedikit kecewa, namun dia bersyukur paling tidak, dia sekarang sudah tahu di mana Erina bekerja. Jadi, sewaktu-waktu dia bisa datang kembali ke tempat ini untuk menemuinya, pikirnya. Senyum tipis menyungging di sudut bibirnya.


Tidak lama setelah dia menghabiskan tegukan terakhir minumannya, Andika beranjak pergi untuk kembali ke rumahnya. Keluar dari cafe, dia berjalan dengan semangat. Pak Jono yang melihat dari mobil, merasa aneh melihat Tuannya yang tadi masuk dengan tidak bersemangat, sekarang terlihat begitu semangat dengan senyum tipis di wajah tampannya itu.


"Kita pulang, Pak." perintah Andika singkat.


"Eh iya....Tuan." jawab Pak Joko. Dalam hatinya, dia penasaran ada apa gerangan yang terjadi di dalam cafe tersebut, sehingga bisa mengubah anak bosnya itu menjadi berubah seketika.


"Tuan tidak apa-apa?" Pak Joko bertanya sekedar memastikan semua baik-baik saja.


"Oh, tentu saja, Pak. Memangnya saya kelihatan sedang ada apa-apanya, Pak." jawab Andika


"Oh, tidak, Tuan...Saya hanya merasa aneh saja, tiba-tiba Tuan keluar dari cafe, sekarang terlihat lebih riang." jawab Pak Joko jujur.


"Bukankah itu bagus? Memang Bapak suka lihat saya memasang wajah murung terus???" tanya balik Andika.


"Oh, tentu saja, saya senang melihat Tuan kembali ceria seperti ini, karena dari kemarin saya perhatikan, sejak Tuan keluar dari rumah sakit, selalu kelihatan lesu tak bersemangat." ujar Pak Joko jujur, menyadarkan Andika bahwa selama ini memang dirinya seperti kehilangan semangat hidup, namun tiba-tiba sekarang dia merasa begitu senang. Akh....pasti karena Erina, gadis cantik itu.


Sesampainya di rumah, Andika yang melihat mamanya sedang membaca majalah di ruang keluarga, segera menyapanya ketika melewatinya.


"Aku pulang, Mah." sembari lewat menuju kamarnya dengan senyum tipis di wajahnya membuat mamanya menjadi penasaran melihat sebuah perubahan kecil di wajah anaknya itu.

__ADS_1


Tumben, Andika....Pikir Anita, dia senang bisa melihat wajah putranya itu tersenyum kembali.


Tidak lama kemudian, Wijaya pulang dari kantor. Kali ini, Wijaya yang bingung ketika melihat istrinya senyum-senyum sendiri.


"Ada apa Mah? kok rasanya aneh ya?" tanya Wijaya sambil menatap istrinya penasaran.


"Lho, memangnya ada apa yang aneh Pa? ada yang salah ya dengan muka mamah?" tanya balik Anita


"Gak...sejak dari tadi, kok mama senyum-senyum sendiri, kelihatannya senang sekali, lagi dapat arisan ya??" tanya Wijaya serius.


"Gini lho Pa, mamah senang aja melihat tadi Andika pulang sore tadi, wajahnya kelihatan ceria, tidak muram seperti kemarin-kemarin. Sudah lama rasanya, kita tidak melihat wajah anak kita yang seperti itu kan Pa." Anita menjelaskan.


"Oh, ya....memangnya apa yang membuat Dika jadi ceria kembali Ma?" tanya Wijaya namun istrinya hanya mengangkat bahunya mengisyaratkan bahwa dia juga tidak tahu.


"Iya, kita doakan saja." Wijaya mengiyakan harapan istrinya itu.


*****


Tidak lama setelah, pasangan istri itu membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam, kali ini tanpa dipanggil, tiba-tiba saja Andika sudah nongol di meja makan bergabung dengan kedua orang tuanya itu. Padahal biasanya, dia harus dipanggil dulu baru akan turun untuk ikut makan malam, itu biasa dilakukannya dengan sedikit terpaksa.


Wijaya dan Anita makin keheranan ketika melihat putranya itu makan dengan lahap kali ini. Tidak biasanya seperti itu, pikir mereka.


"Pelan-pelan makannya, Nak. Mama lihat dari tadi, sejak kamu pulang dari luar tadi, kamu kelihatan senang. Memangnya ada apa?" tanya Anita penasaran.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa." jawab Andika singkat, enggan untuk menjelaskan karena dia tahu kedua orang tuanya itu pasti tidak percaya kalau dia tadi bertemu dengan Erina. Mereka tetap bersikeras mengatakan kalau Erina sedang ada di luar negeri.


"Oh iya, jangan lupa, besok jadwal kontrol kamu ke rumah sakit ya. Mama akan menemanimu besok siang." lanjut Anita mengingatkan.


"Iya..... " jawab Andika singkat. Dia sebenarnya bingung bagaimana mengakrabkan diri dengan kedua orang di depannya itu, karena baginya kedua orang itu masih terasa begitu asing, namun dia percaya kalau memang mereka adalah orang tuanya. Semua terlihat dari kasih sayang dan perhatian yang diberikan selama masa pemulihan Andika ini.


"Oh ya....mungkin aku bisa mulai mencoba membantu di perusahaan Papa, aku akan belajar kembali mulai dari nol. Itu tidak masalah bagiku." ujar Andika tiba-tiba mencoba memulai obrolan. Wijaya dan Anita sama-sama kaget ketika mendengar hal itu.


"Apakah kamu yakin, Nak? kamu sudah siap?" tanya Anita untuk sekedar memastikan bahwa anaknya tidak sedang bercanda.


"Iya, Mah. Rasanya bosan sekali kalau hanya di rumah terus, lagipula kalau aku bisa mencoba mengerjakan sesuatu di perusahaan, mungkin bisa membantu memulihkan ingatanku lebih cepat." jawab Andika. Tentu saja kedua orang tua itu senang mendengarnya, melihat bahwa Andika sudah bersemangat kembali, meskipun mereka tidak tahu apa yang tiba-tiba membuat putranya itu bisa berubah seperti ini.


"Iya, nanti papa akan pertimbangkan. Kita tunggul hasil pemeriksaanmu setelah kontrol ke dokter besok." jawab Wijaya.


Setelah selesai makan malam, Andika kembali ke kamarnya. Malam ini, perasaan terasa lain dengan malam-malam sebelumnya. Kekosongan hatinya tiba-tiba terasa terisi kembali sejak dia bertemu dengan Erina siang tadi. Dia yakin bahwa gadis itu adalah calon istrinya, hanya saja mungkin dia juga lupa ingatan, sama seperti yang dialaminya saat ini.


****


Sementara itu, di ruang keluarga, Wijaya dan Anita sedang bersantai mengobrol tentang Andika sambil sesekali memandang ke arah televisi yang sedang menyala, namun keduanya tidak benar-benar fokus menontonya.


"Kira-kira apa yang membuatnya Dika bisa berubah seperti ini ya, Pa? Mama masih penasaran deh." tanya Anita berharap memperoleh jawaban atas rasa penasaran.


"Yah...mana papa tahu? coba tanyakan saja kepada Pak Joko, tadi mereka ke mana.... Siapa tahu Pak Joko tahu apa yang membuat Andika berubah menjadi lebih ceria seperti barusan tadi."

__ADS_1


"Oh iya ya....besok deh, mama akan tanyakan kepada Pak Joko." Anita baru teringat. Kenapa tidak dari tadi dia mencoba mencari informasi dari Pak Joko. Mengingat hari sudah malam, dia mengurungkan niatnya untuk memanggil Pak Joko saat itu juga.


__ADS_2