
Pagi ini, Arisa sedang berada di kantor namun tidak seperti biasanya, hatinya sedang gelisah. Setelah mengetahui bahwa Alex sudah berada di ruangannya, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan masuk ke ruangan atasannya itu.
"Ada apa?" tanya Alex.
Arisa tidak menjawab, namun ketika dia sudah sampai di depan meja kerja Alex, tangannya menyodorkan sebuah amplop surat ke hadapan Alex.
"Apa ini?" tanya Alex sembari membuka amplop surat tersebut dan membaca isinya.
Alex terkejut saat mengetahui isi surat tersebut yang rupanya adalah surat pengunduran diri Arisa.
"Tidak bisa! Kamu tidak boleh berhenti bekerja. Ingat kamu masih terikat dengan kontrak!" ujar Alex. Tentu saja dia tidak rela Arisa berhenti bekerja, karena itu berarti dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa dekat dengan Arisa. Meskipun dia sadar dia tidak mungkin bisa memiliki Arisa karena Arisa sudah menikah, tetapi setidaknya dia masih bisa memandang Arisa dari dekat setiap hari kerja, sehingga menjadi penyemangat hidupnya. Betapa beratnya mencintai seseorang namun tidak bisa memilikinya.
"Aku siap dengan semua konsekuensinya, Pak!" jawab Arisa.
"Tidak..tidak...kamu tetap tidak bisa seenaknya berhenti!"
"Tetapi..."
"Tidak ada tapi - tapian, kamu tetap harus bekerja sebagai sekretarisku, paling tidak sampai kontrakmu selesai, atau aku akan...." ucap Alex dengan nada sedikit mengancam. Namun, belum sempat dia menyelesaikan perkataannya itu, dia terkaget saat melihat Arisa tiba-tiba jatuh pingsan di hadapannya.
"Arisa!"
Alex bergegas mengendong Arisa ke sofa yang ada di ruangannya itu dan segera menelepon asistennya, agar bisa membantunya untuk membawa Arisa ke rumah sakit.
"Lebih cepat lagi!" ujar Alex kepada asistennya yang sedang mengendarai mobil di depan. Sedangkan dirinya ada di kursi bagian belakang dengan posisi kepala Arisa berbaring di atas pangkuannya.
Akhirnya sampai juga mereka ke rumah sakit, yang dengan segera disambut oleh beberapa perawat dengan sebuah ranjang dorong. Alex menggendong Arisa dan memindahkan pelan ke atas ranjang tersebut. Kemudian, para perawat tersebut segera membawa Arisa ke ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Alex menunggu dengan gelisah di depan ruang pemeriksaan. Dia kuatir terjadi sesuatu kepada Arisa, apa mungkin Arisa shock hingga pingsan karena mendengar perkataannya tadi yang cukup keras bahkan dengan nada mengancam. Alex menjadi merasa bersalah sendiri.
Tak lama kemudian, keluarlah dokter yang memeriksa Arisa di dalam. Alex segera beranjak dari tempat duduknya.
" Dokter, bagaimana keadaan...?" tanya Alex, yang langsung dijawab oleh dokter sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya.
"Pasien tidak apa-apa, Anda tidak perlu kuatir. Hanya saja fisiknya saat ini dalam keadaan lemah disebabkan perubahan hormon yang terjadi dalam tubuhnya, karena saat ini istri Anda sedang hamil." ucap dokter itu menjelaskan.
Alex cukup kaget saat dokter mengucapkan kata hamil. Jika saat ini, dirinya yang menempati posisi sebagai suami Arisa, tentu saja dia akan sangat senang mendengarnya. Namun, sekali lagi, Alex harus membuang jauh-jauh mimpi itu, dia sadar, Arisa sudah menjadi milik orang lain. Jadi, kabar bahagia ini adalah milik suaminya Andika, bukan dia.
" Melihat kondisi pasien, saya sarankan pasien rawat inap paling tidak semalam, baru keluar, agar tidak bermasalah dengan perkembangan janinnya nanti." lanjut dokter. Alex hanya mengangguk saja mendengar penjelasan dokter. Dia tidak berniat menjelaskan kepada dokter kalau dirinya dan pasien bukanlah suami istri, karena kuatir dokter akan salah paham.
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi dulu." pamit dokter tersebut.
"Terima kasih, Dok!"
Arisa sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Alex menyusul masuk ke dalam ruang tersebut. Dilihatnya, Arisa masih belum sadar. Dia mendekati tempat tidur dan menerik sebuah kursi untuk duduk di dekat Arisa. Dia memandangi wajah polos Arisa yang tertidur lelap sambil membayangkan kalau Arisa itu adalah miliknya, akh betapa bahagianya jika itu yang terjadi.
Andika mendapat kabar dari Reni, salah satu rekan kerja Arisa, yang pernah ditemuinya saat menjemput Arisa di mall dulu. Syukurlah Reni memiliki nomor kontak Andika karena Arisa pernah meminjam handphonenya untuk mengirim pesan singkat saat handphonenya low bat.
Mendapat kabar dari Reni, Andika langsung kalang kabut dan bergegas ke rumah sakit. Saat ini, kedua pria yang mencintai wanita yang sama itu saling menatap tajam tanpa ada senyum di antara keduanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa istriku bisa pingsan?" tanya Andika dengan nada sedikit emosi.
"Tenang...tenang...Arisa tidak apa-apa, dia hanya ...." jawab Alex menanggapi pertanyaan Andika, namun dia tidak melanjutkan ucapannya karena dilihatnya Arisa sudah mulai membuka matanya.
"Mas..mas...!" panggil Arisa pelan. Andika segera berjalan mendekat.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, sayang? Katakan padaku, bagian mana yang sakit? kamu kenapa bisa pingsan? tadi pagi sarapan kan? atau kerjaanmu terlalu berat ya di kantor?"tanya Andika sambil menatap sinis ke arah Alex saat mengucapkan pertanyaan terakhirnya itu. Rentetan pertanyaan Andika membuat Arisa bingung bagaimana menjawabnya.
"Anda tidak perlu kuatir berlebihan, Tuan...istri Anda hanya lemas karena perubahan hormon, kata dokter tadi." sahut Alex yang merasa sedikit risih mendengarkan pertanyaan terakhir Andika yang seolah ditujukan kepadanya.
"Apa maksud kamu?" tanya.
"Arisa sedang hamil." jawab Alex.
"Benarkah itu, sayang? Aku senang sekali mendengarnya." wajah tegang Andika langsung berubah seketika. Tak lupa dia mengecup lembut kening Arisa, yang membuat Alex yang melihatnya semakin tidak tahan. Alex menyadari posisinya, dirinya hanya sebagai nyamuk saja di antara mereka, jadi sebaiknya dia harus cepat pergi dari situ.
"Kalau begitu, aku permisi dulu!" ucap Alex, tanpa menunggu jawaban dari keduanya, langsung berjalan menuju arah pintu.
"Hmm.." Andika hanya menganggukkan kepalanya merespon ucapan pamit Alex.
"Sayang, gimana keadaan sekarang? apakah kamu lapar? kamu mau makan apa? Aku belikan ya...Kamu harus banyak makan ya, biar anak kita juga sehat di dalam!" ucap Andika bersemangat yang terdengar semakin menyerupai ibunya bagi Arisa, sama cerewetnya.
"Aku masih kenyang, Mas!"
"Tidak, kamu harus makan lagi. Seingatku, tadi pagi, kamu hanya sarapan sedikit. Kamu tunggu sebentar ya, aku pergi membeli makan dulu.!" ucap Andika begitu bersemangat setelah mendengar kabar Arisa sudah hamil. Tanpa menunggu respon istrinya, Andika sudah berjalan ke luar menuju kantin rumah sakit untuk membeli makanan. Pikirnya, itu lebih cepat daripada dia memesan makanan online.
Saat Andika sedang berjalan ke kantin, setelah menanyakan letaknya kepada perawat yang berpapasan dengannya, tanpa sengaja dia menabrak seseorang karena dirinya tidak melihat ke depan, saat sedang mencoba melakukan panggilan telepon kepada mamanya untuk memberitahukan kabar bahagia ini
"Aduh..!" pekik wanita yang ditabrak Andika itu.
"Maafkan saya, Nona!" ucap Andika spontan sambil mengarahkan pandangannya ke arah wanita itu.
"Kamu!" ucap Andika kaget ketika melihat siap yang ditabraknya itu.
__ADS_1
******
Update lagi ya, jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman