Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Selamat untuk sesaat


__ADS_3

Arisa terbangun ketika mulai terasa silau dengan sinar matahari yang mencuri masuk melalui celah-celah golden yang tidak tertutup rapat. Dan betapa kagetnya, ketika dia merasakan sebuah tangan kekar melingkari perutnya, dia tidak berani bergerak sama sekali.


Aduh....sial, sejak kapan dia memelukku seperti ini. Aku harus bagaimana nih sekararang, mana perutku mulai mules lagi. Kalo aku bangunkan, bakalan marah gak ya? Dia memberanikan diri membalikkan badannya, dan mencoba menggoyangkan badan Andika supaya bangun. Namun laki-laki itu sengaja berpura-pura, semakin mendekap badan Arisa, sehingga membuatnya tak berkutik. Akhirnya setelah beberapa lama kemudian, Andika melepaskan dekapannya setelah puas memeluk Arisa, barulah Arisa bisa bangun. Namun, ketika dia bangun, dilihatnya sebuah pemandangan yang mengejutkan.


"Akh....." teriak Arisa yang seketika itu membuat Andika langsung terbangun dengan posisi duduk.


"Kamu ngapain aku semalam?" tuduh Arisa yang membuat Andika bingung, Arisa menyibakkan selimutnya dan terlihat bercak-bercak darah pada seprai yang berwarna putih. Andika melongo bingung.


"Ayo ngaku, kamu ngapaian tadi malam?" suara semakin keras dan langsung berlari menuju ke kamar mandi. Tinggallah Andika yang terbengong sendiri, karena dia juga bingung, seingatnya dia belum melakukan apa-apa terhadap Arisa, lalu kenapa seprai ini penuh dengan bercak darah.


Aduh....bodohnya diriku ini. Mana sudah menuduh sembarangan lagi. Mau ditaruh ke mana muka ini kalau nanti keluar? Rupanya aku sedang datang bulan.....


Setelah membersihkan dirinya, akhirnya Arisa memberanikan diri keluar, dia berjalan tertunduk malu tidak berani menatap Andika karena saking malunya tadi sudah main tuduh sembarangan.


"Kamu kenapa Erina? kamu baik-baik saja?"


"Oh...iya....aku baik-baik saja, maafkan aku tadi sudah menuduhmu sembarangan." jawab Arisa menahan malu.


"Iya...tetapi kamu tidak apa-apa kan, bercak darah ini?"


"Hiks.....aku rupanya sedang datang bulan."


Bodohnya diriku ini, sampai-sampai lupa jadwal rutin tamu bulananku ini. Pantesan, tadi malam perutku sudah mulai mules-mules. Mana, aku sudah menuduh sembarangan lagi tadi.


"Ha....ha....ha" tawa Andika membuat Arisa semakin merasa bodoh sendiri.


"Lho....kok ketawa?" protes Arisa


"Kamu lucu...."

__ADS_1


"Ikh....gak ada yang lucu kali."


Tiba-tiba Andika menampakkan muka sedihnya padahal tadi sudah tertawa terbahak-bahak. Orang aneh, pikir Arisa.


"Lho, kok sekarang sedih? tadi ketawa? gimana sih jadi orang kok gak konsisten?" ketus Arisa melihat perubahan wajah laki-laki di depannya itu.


"Yah....sedih donk....itu berarti aku harus menunggu lagi malam pertama kita....padahal aku sudah gak sabaran nih, hmmm....." Kali ini giliran Arisa yang tertawa terbahak-bahak. Dirinya juga baru menyadari, tamu bulanannya yang biasanya selalu membuat bete dan gak nyaman seharian, sekarang telah menyelamatkannya dari malam-malam mengerikan yang harus dihadapinya, paling tidak bisa aman untuk beberapa malam. Oh terima kasih, tamu bulananku.


"Gak apa-apa deh, ntar juga kesampaian, aku sabar kok nunggu." ujar Andika serius, menyadarkan Arisa bahwa dirinya cuma aman untuk sesaat, nasib....nasib.


"Aku mau mandi dulu, benaran nih....kamu tidak mau mandi bareng?" goda Andika.


"Gak akh....aku kan lagi datang bulan, ntar kamunya ketakutan lagi melihat darah berceceran di kamar mandi."


"Ikh...biasa aja kali....." jawab Andika, kemudian langsung menuju ke kamar mandi.


Sementara itu Arisa memilih untuk mengganti pakaiannya, mumpung Andika sedang mandi. Dia telah berpakaian rapi, ketika Andika baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mau pergi melihat ibu di rumah sakit."


"Tetapi kita kan baru menikah masa......." protes Andika namun cepat dipotong oleh Arisa.


"Terus kenapa?" ujar Arisa tidak senang karena protes Andika terasa seperti larangan baginya.


"Bukankah siang ini, kita harus kembali ke rumah, kita sudah janji dengan papa dan mama kemarin, akan makan siang bersama." lanjut Andika menjelaskan.


oh iya, bagaimana aku bisa lupa? Bukankah kemarin aku sudah mengiyakan permintaan dari orang tua Andika kemarin sesaat sebelum kami berpisah kembali ke kamar.


"Terus setelah itu, kita akan pergi melihat apartemen yang telah disiapkan oleh orang tuaku sebagai hadiah dari pernikahan kita." Lebih tepatnya hadiah dari Wijaya yang menginginkan putranya agar bisa lebih mandiri dalam kehidupan rumah tangganya nanti, sedangkan Anita sebenarnya lebih menginginkan anak dan menantunya itu tetap tinggal satu rumah dengannya. Namun, Andika lebih menyetujui pendapat papanya itu. Tentu saja, supaya dia bisa lebih mempunyai privasi bersama istrinya itu ketimbang harus tinggal satu atap dengan orang tuanya.

__ADS_1


"Oke...oke....tetapi habis itu izinkan aku menjenguk ibu di rumah sakit ya...." Arisa mengalah mengikuti kemauan Andika dulu.


"Iya, nanti akan kuantar ke rumah sakit, ayo kita berangkat sekarang, sekalian kita check out siang ini." ajak Andika.


Setelah check out dari hotel, mereka segera menuju kediaman Wijaya. Sesampainya di sana, kedua orang Andika sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya itu sedari tadi, makanan pun semua sudah siap dihidangkan di atas meja.


"Kamu sudah datang, Nak. Gimana seru tadi malam?" sapa Anita saat melihat kedatangan Andika disusul oleh Arisa di belakang. Mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu, Arisa menjadi tersipu malu. Apanya yang seru? Sepanjang malam diriku bolak-balik ke kamar mandi. Arisa mengingat kembali perutnya yang mules sepanjang malam kemarin hingga tengah malam baru dia merasa agak baikan dan bisa tertidur.


Pertanyaan Andika tidak digubris oleh Andika yang sudah langsung duduk di meja makan, bersiap mengambil makanan yang ada di atas meja.


"Kamu yakin, kalian akan tinggal berdua saja di apertemen itu? apa tidak lebih baik kalian tinggal di sini saja bersama kami?" Anita berusaha sekali lagi mempengaruhi keputusan Andika, siapa tahu kali ini dia kan berubah pikiran.


"Mah...." sahut Wijaya memberi kode.


"Iya Ma, Dika serius akan tinggal berdua dengan Erina, supaya kami bisa lebih mandiri." sekaligus biar tidak ada gangguan, lanjutnya dalam hati.


"Baiklah, kalau memang begitu keputusanmu, tetap janji ya kalian harus sering-sering main ke sini ya."


Kemudian mereka pun memulai makan siang bersama, dengan diselingi obrolan santai sekali-kali.


"Kamu makan yang banyak ya, nak. Ini cobain ini deh, ini masakan mama spesial untuk kalian." kata Anita kepada Arisa sambil menyodorkan sepiring lauk ke arah Arisa yang kebetulan duduk di depannya. Arisa menjadi kikuk sendiri melihat perbedaan cara bicara wanita di depannya itu, mengingat sebelum dia menikah, wanita yang menjadi ibu mertuanya sekarang, selalu berbicara datar, dingin dan terkesan memerintah.


Apakah dia benar-benar menerimaku sebagai menantunya benaran?


Memikirkan itu membuat Arisa menjadi tiba-tiba teringat dengan ibunya yang masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Mengingat itu, Arisa menjadi sedih, tetapi dia harus bisa menyembunyikan kesedihan itu supaya tidak terlihat pada raut wajahnya saat ini supaya tidak merusak momen makan siang mereka saat ini.


Bersambung....


******

__ADS_1


Hai, para pembaca yang mampir di karyaku ini, boleh donk minta like, rate dan komentarnya yang membangun, supaya diriku lebih semangat lagi belajar menulisnya ya. Terima kasih sudah mampir


__ADS_2