Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Melewatkan malam masing-masing


__ADS_3

Arisa memilih kembali secepatnya ke rumah sakit daripada berlama-lamaan di cafe, padahal sebenarnya tadi dia mau bersantai di sana, tetapi naas baginya hari ini bertemu dengan keempat wanita sombong tersebut.


Saat dia sampai di ruangan ibunya, rupanya Dina, ibu Arisa sudah bangun dan sedang makan siang dengan makanan dan buah yang diantarkan oleh perawat tadi.


"Kamu dari mana aja Risa, ibu bangun, tiba-tiba saja kamu sudah tidak ada? Ibu kirain kamu pulang." ucap Dina saat melihat Arisa memasuki ruangan.


"Gak Bu, tadi aku pergi mencari makan siang sebentar. Nih baru aja selesai makan...Lagipula hari ini aku tidak pulang kok, malam ini aku mau nginap di sini, temani ibu aja" jawab Arisa.


"Lho, terus suamimu itu gak masalah, kamu gak pulang?"


"Gak apa-apa kok Bu, tadi Risa sudah minta izin. Jadi, sudah diizinin kok." jawab Arisa sedikit berbohong padahal dia yang ngotot akan menginap di rumah sakit karena mereka berdua sedang marahan.


"Oh ya, tadi bukannya masih ada yang mau kamu bicarakan sama ibu kan? yang sempat terputus karena kedatangan Johan tadi?"


"Iya, Bu...Jadi begini, seperti yang tadi Risa ceritakan, Andika kan hilang ingatan, jadi dia tahunya aku ini adalah Erina. Karena itu, nanti kalau misalnya ibu bertemu dengannya, panggil aja Risa dengan nama Erina ya, Bu." Pinta Arisa penuh harap.


"Lho...kok begitu?"


"Iya donk, Bu....nanti Andikanya curiga gimana? Udah deh, pokoknya ibu ikutin aja dulu ya..."


"Oke...oke...tapi ingat ya, ini hanya untuk sementara ya, ibu tidak mau berlama-lama ikut-ikutan dalam sandiwara ini, kamu harus cepat bereskan. Ingat kamu itu Arisa bukan Erina."


"Iya deh, Bu." ujar Arisa dengan muka memelasnya.


"Ibu, cepat sembuh ya, biar cepat keluar rumah sakitnya...Arisa juga sudah bosan nih bolak-balik rumah sakit deh." ucap Arisa yang langsung membuat ibunya tiba-tiba menoyor kepalanya.


"Kamu kira ibu senang lama-lama terbaring di rumah sakit, Ibu juga mau cepat keluar, tahu." ujar Dina.


"Tetapi kalau ibu sudah keluar rumah sakit, ibu akan tinggal sendirian dong... Wah gak seru nih, gak ada lagi yang diomelin hhmmm....." lanjut Dina.

__ADS_1


"Ya ibu....dari sebelum kebentur sampai habis kebentur, tetap sama saja, suka ngomel tak jelas." ketus Arisa


"Enak saja tak jelas, ibu ngomel-omel kan selalu ada alasannya, noh kamu tuh yang suka ngeyel." balas Dina.


Tak terasa obrolan santai mereka berlanjut hingga menjelang sore, bahkan kemudian disambung lagi hingga malam. Maklum Arisa sudah sangat merindukan masa-masa seperti ini bersama ibunya. Dia senang sekali malam ini dia bisa menemani ibunya di rumah sakit.


****


Sementara itu, Andika yang bekerja di kantor seharian ini tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Bahkan ketika rapat tadi, dia terlihat melamun hingga tidak mengikuti presentasi para staf dengan baik. Wijaya melihat gelagat aneh putranya itu.


"Kamu sedang ada masalah?" tanya Wijaya sesaat setelah rapat dibubarkan dan semua staf sudah keluar dari ruangan.


"Tidak ada kok, Pa." jawab Andika malas sambil beranjak keluar meninggalkan ruangan rapat.


"Anak ini....hmmm." guman Wijaya pelan.


Dengan malas, dia melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil. Ketika dia hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba suara seorang wanita memanggilnya. Dia menoleh dan melihat seorang wanita cantik sedang berjalan mendekatinya. Wanita itu terlihat tidak asing baginya, ya itu adalah Michella, yang beberapa waktu lalu menandatangi dokumen kerja sama dengan perusahaan papanya itu.


"Nona Michelle....sedang apa Anda di sini?" tanya Andika


"Hai Tuan Andika, kebetulan sekali Anda di sini, saya perlu meminta bantuan Anda deh." ujar Michella sambil tersenyum manis kepada Andika.


"Memang ada apa? apa yang bisa aku bantu?"


"Begini, tadi saya memang ke sini untuk bertemu dengan Bapak Wijaya untuk membahas beberapa dokumen kerja sama. Nah, pas saya mau pulang, mobil sayarupanya mogok." ucap Michella sambil menunjukkan mobil merah yang terparkir di barisan depan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja, tadi saat dia juga berjalan ke parkiran menuju mobilnya, dia melihat Andika yang berjalan lesu dari kejauhan. Dia tertarik dengan Andika saat pertama kali mereka bertemu di resto beberapa hari yang lalu. Jadi, dia mencari-cari alasan supaya bisa pulang bersama Andika saat ini. Soal mobil, gampanglah, dia akan menelepon sopir perusahaan papanya untuk mengambil mobil tersebut, pikirnya.


"Jadi, apakah saya bisa nebeng dengan Anda? Ya, kalau itu tidak merepotkan Anda." lanjutnya. Tentu saja Andika merasa tidak enak hati menolak permintaan Michella, sehingga ia memilih menganggukkan kepalanya.


"Mari, silakan." ujar Andika singkat sambil berjalan ke sisi pintu sebelah untuk membuka pintu mobil dan mempersilakan Michella masuk.

__ADS_1


"Anda akan pulang ke mana, Nona?" tanya Andika sopan.


"Jangan panggil saya dengan sebutan "nona" atau "anda" deh, rasanya kaku sekali, panggil saja Chella, supaya lebih akrab."


"Chella, oke...jadi kalau boleh tahu, sekarang kamu mau diantar ke mana?"


"Rumahku ada di kompleks Griya Tawang, tahu kan area itu?"


"Sebentar..." ucap Andika sambil mengaktifkan google mapnya.


"Oke, kita menuju ke sana sekarang ya."


"Makasih ya sudah bersedia mengantarkan saya Andika...bolehkan saya panggil dengan nama saja supaya lebih akrab?"


"Oh, tentu saja. Tidak masalah."


"Bagaimana kalau kita singgah dulu untuk makan malam, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya sudah dikasih tumpangan. Kamu gak ada urusan buru-buru kan?" Michella menodong langsung supaya bisa makan malam dengan Andika.


"Hmm....gimana ya?" Andika terlihat berpikir.


"Atau kamu lagi ditungguin pacar ya? Tidak bisa ya?"


"Bukan begitu.. hanya saja saya sudah....." Belum sempat Andika menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong oleh Michella.


"Hayolah.....hanya sekedar makan malam saja kok sebagai ucapan terima kasih saya." ucap Michella dengan sedikit memaksa.


"Oke, kalau begitu, kita singgah ke resto depan sana sebentar untuk makan malam, setelah itu saya akan antarkan kamu pulang ya." balas Andika terpaksa mengiyakan permintaan Michella. Biar bagaimanapun dia tidak enak menolak, karena perusahaan Michella atau lebih tepatnya perusahaan papa Michella, merupakan salah satu perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaannya.


"Nah, kalau gitu kan enak dengarnya...." ucap Michella dengan penuh senyum kemenangan. Sepertinya rencananya malam ini berjalan mulus untuk mendekati Andika, karena dia tertarik dengan pria itu sejak pertama kali mereka bertemu.

__ADS_1


__ADS_2