
Syukurlah, ketika Anita sampai di rumah, suaminya belum pulang. Jadi, dia masih punya waktu untuk membersihkan diri dulu sebelum menyambut kepulangan suaminya nanti. Sebelum menuju kamarnya, dia singgah dulu ke kamar Andika untuk melihat keadaan putranya hari ini. Dia mengetuk pintu dan kemudian masuk tanpa menunggu jawaban, dilihatnya Andika sedang duduk bersantai di balkon kamarnya, membuat dia mengurungkan niatnya untuk mengganggu Andika yang kelihatannya begitu menikmati keindahan awan menjelang matahari terbenam di atas langit sana.
Tidak lama kemudian, Wijaya pun pulang. Sungguh hari yang melelahkan bagi pria paruh baya itu, dirinya yang seharusnya sudah menikmati masa tuanya ini, mau tidak mau harus kembali mengurus perusahaan yang sebelumnya diserahkan kepada Andika. Dia berharap Andika akan cepat pulih sepenuhnya, sehingga bisa kembali mengurus perusahaannya itu.
"Bagaimana kerjaan Papa hari ini?" tanya Anita sambil mengambilkan nasi dan lauk pada piring suaminya.
"Cukup melelahkan Mah. Maklum, sudah lama bersantai, sekarang harus balik bekerja lagi, perlu penyesuaian kembali." jawab Wijaya sambil menatap ke arah Andika yang sedang sedang menikmati makan malamnya.
"Papa harap kamu bisa secepatnya kembali mengurus perusahaan Dika, kalau kamu sudah siap, kapan-kapan kamu boleh ikut papa ke kantor, sekedar lihat-lihat dulu ya...." ujar Wijaya kepada Andika yang kemudian menoleh ke arahnya.
"Iya, Pah, mungkin besok aku bisa ikut ke kantor." jawabnya singkat kemudian melanjutkan makan malamnya.
"Iya, boleh saja....sekalian supaya kamu punya kesibukan, sehingga tidak kebosanan di rumah terus tokh.." lanjut Wijaya.
"Sudah...sudah...nanti saja bicarakannya soal ini, kita makan dulu ya." timpal Anita mengingatkan suami dan anaknya itu.
Setelah selesai makan malam, Andika memilih menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan Wijaya yang sudah kecapean sedari tadi siang, memilih untuk beristirahat di kamarnya, mau tidak mau akhirnya Anita juga ikut menemani suaminya di kamar, sekedar memijat-mijat badan suami supaya lebih rileks. Dia merasa kasihan juga melihat suaminya yang masih harus bekerja menggantikan Andika sementara ini.
"Oh ya, pah, apakah besok siang, papa punya waktu? Bisa temani mama makan siang di luar?" tanya Anita sambil memijat punggung suaminya itu dengan lembut.
"Sepertinya, jadwal papa besok kosong, Mah. Tidak ada meeting ataupun makan siang dengan klien, tumben......???" tanya Wijaya merasa aneh karena tidak biasanya istrinya meminta ditemani makan siang di luar.
"Kok tumben, sesekali donk....kita makan siang bersama di luar, gak ada salahnya kan....."
"Okelah, kalau begitu. Nanti mama ingatin papa lagi ya, papa takut kelupaan besok."
"Oke pa. Tentu mama akan ingatin nanti....jam 12 siang ya Pa."
__ADS_1
"Iya....iya....." jawab Wijaya yang mulai mengantuk. Tidak lama kemudian, akhirnya dia terlelap, kemudian disusul oleh istrinya yang juga sudah capek setelah keluar seharian ini.
*****
Keesokan harinya, Andika menepati ucapannya tadi malam. Dia memilih untuk ikut ke kantor bersama papanya pagi ini. Sekedar untuk mengusir kebosanannya di rumah, pikirnya. Sesampai di kantor, semua staf dan karyawan menyapa dengan ramah ketika Andika mulai memasuki perusahaan dari depan sampai menuju ruangan kantor papanya, ruang dia sebenarnya. Namun, dia tidak mengenal satupun staf dan karyawan tersebut sehingga dia cuma sekedar menganggukan kepala untuk membalas sapaan tersebut.
Di ruangan kerja papanya yang luas itu, lengkap dengan sofa untuk bersantai, dia memilih duduk di situ untuk memperhatikan kerjaan papanya hari ini. Sesekali dia berjalan ke keluar menelusuri meja-meja kantor stafnya itu yang terbagi dalam beberapa departemen. Semuanya menjadi salah tingkah, ketika Andika berjalan mendekat, apalagi karyawan perempuan yang masih single, merasa menggagumi ketampanan Andika, dan mungkin dalam hati mereka bermimpi seandainya saja mereka bisa menjadi pendamping dari bosnya yang tampan itu.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul 12.000 WIB. Wijaya bersiap-siap akan makan siang bersama dengan istrinya, di sebuah resto sesuai pesan sebelumnya dari istrinya yang sekalian mengingatkan janjinya hari ini. Tidak lupa, dia mengajak Andika untuk ikut serta bersamanya.
****
Sementara itu, Anita sudah menjemput Arisa dari rumah sakit. Dari pagi, dia sudah menghubungi Arisa dan memberi pesan kepada gadis itu, agar hari ini dia harus tampil rapi dengan stelan baru yang dibelikannya kemarin dan harus memberikan sedikit riasan pada wajah polosnya itu. Syukurlah, Arisa yang sebenarnya selama ini tidak terbiasa untuk berdandan, mulai terbiasa sejak dia bekerja selama beberapa minggu di cafe tante Ririn, yang mengharuskannya setiap pelayan cafe untuk tampil semenarik mungkin, supaya pengunjung senang berkunjung di cafe tersebut. Karena memang dasarnya Arisa sudah cantik, jadi hanya perlu sedikit polesan saja sudah membuat wajahnya itu cukup menarik untuk dipandangi
Mereka sedang berada di dalam mobil menuju resto SSS, tempat Anita janji makan siang dengan suami dan anaknya itu.
"Tetapi....apakah putra nyonya akan percaya kepada saya? Saya tidak yakin....."ujar Arisa ragu.
"Tenang saja... Oh ya, mulai sekarang, jangan panggil saya Nyonya, panggil saja saya tante, karena seperti itulah biasa Erina memanggil saya...dan mungkin besok-besok nanti kamu akan memanggil saya mama." Arisa kaget mendengar kalimat terakhir Anita, membuat dia teringat dengan ibunya yang sedang terbaring tidak berdaya di rumah sakit.
"Baik...nyo....Eh...tante." jawab Arisa.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di resto SSS. Mereka duluan sampai dibandingkan Wijaya dan Andika. Anita segera duduk di meja pesanan yang telah dibooking sebelumnya. Sambil menunggu kedatangan suami dan anaknya, dia membantu Arisa memperbaiki sedikit riasan pada wajah Arisa dengan alat make up seadanya yang kebetulan dibawa dalam tasnya itu.
Arisa yang merasa risih didandani lagi, memilih untuk patuh saja, sampai selesai Anita mendandani wajahnya itu. Setelah selesai dia meminta izin sebentar ke toilet, karena sedari tadi dia sudah kebelet pi**s. Sekaligus, dia mau melihat wajahnya di cermin toilet, karena dia tidak merasa tidak pede wajahnya didandani lagi.
Saat Arisa masih di toilet, Wijaya dan Andika pun sampai di resto tersebut dan segera menghampiri Anita yang sudah duduk menunggu dari tadi.
__ADS_1
"Sudah lama menunggu, Ma?" tanya Wijaya sambil mengecup kening istrinya.
"Tidak, baru sebentar juga, Mama sampai...gimana kabarmu hari ini Andika? Senang melihat-lihat di perusahaan papamu ini?" tanya Anita kepada Andika penasaran dengan kabar Andika selama setengah hari di perusahaan suaminya ini.
"Baik, Ma.....Andika hanya sekedar melihat-lihat....dan berkenalan dengan beberapa karyawan, karena tidak satupun dari mereka yang Andika ingat." jawab Andika.
"Bagus itu Nak, pelan-pelan saja....nanti lama-lama kamu pasti terbiasa kembali." balas Anita yang kemudian memanggil salah satu pelayan resto tersebut untuk memerintahkan bahwa makanan yang dipesannya sebelumnya sudah boleh dikeluarkan.
"Nyo...eh...tante......" Andika dan Wijaya memandang kaget ke arah suara. Terlebih Wijaya yang seperti melihat hantu.
"Erina.....: Andika dan Wijaya berteriak bersamaan.
"Oh...sini silakan duduk di sini, Nak." jawab Anita sembari menyuruh Arisa duduk tepat di samping kursi Andika.
Meski Andika pernah bertemu dengan gadis yang diyakininya bernama Erina itu, tetapi dia kaget bagaimana mamanya bisa mengajaknya makan siang bersama dengan mereka saat ini. Terlebih Wijaya, yang sudah jelas-jelas pergi menghadiri pemakaman Erina beberapa waktu yang lalu, menatap tak berkedip ke arah gadis itu, bagaimana mungkin, pikirnya.
"Pah....." Anita menepuk pundak suaminya, dia menyadari kebingungan suaminya yang masih kaget tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Nanti akan mama jelaskan." bisik Anita kepada suaminya, sehingga akhirnya Wijaya berusaha bersikap seperti biasa lagi.
"Perkenalkan saya A.....eh....Erina." sapa Arisa kepada laki-laki tampan di sampingnya itu.
"Hahaha.....tentu saja aku tahu namamu Erina, kamu kan calon istriku." balas Andika merasa lucu melihat gadis di sampingnya itu memperkenalkan diri dengan canggung. Sepertinya dia tidak lupa ingatan seperti diriku, akhirnya dia mengakui dirinya Erina.
"Eh, iya....iya..." jawab Arisa bingung. Aduh, terserah deh, Anda mau mengenalku sebagai Erina atau Arisa, yang penting aku bisa mendapatkan uang untuk membayar tagihan biaya perawatan ibuku deh.....ujar Arisa dalam hati.
Tidak lama kemudian, semua makanpun dihidangkan. Arisa makan dengan canggung, dia sangat tidak terbiasa makan di resto mewah seperti ini yang menggunakan peralatan makan begini. Dia terlihat salah tingkah saat akan memotong steak di piringnya. Andika yang melihat kecanggungan Arisa menjadi tersenyum-senyum sendiri. Betapa lucunya gadis ini, pikirnya.
__ADS_1
Sementara itu, Wijaya makan dengan penuh kebingungan dan penasaran, berharap mendapat penjelasan secepatnya dari istrinya. Namun, dia harus bersabar, karena Anita mengatakan akan menjelaskan semuanya kepadanya nanti malam setelah dia pulang dari kantor. Aduh, bagaimana mungkin dia bisa menahan rasa penasaran ini sampai nanti malam, pikirnya.