
Arisa sendiri sebenarnya kasihan dengan Ronny. Laki-laki itu terpaksa melakukan perintah Rasti demi mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan adiknya. Bukankah itu sama halnya seperti yang dia lakukan, dia pun terpaksa menikah dengan Andika demi mendapat uang untuk membiayai pengobatan ibunya.
Namun, pernikahan yang terpaksa dia lakukan itu telah membuatnya semakin terjerumus dalam cintanya kepada Andika. Cinta yang tumbuh seiring dengan waktu kebersamaannya dengan Andika, namun dia masih ragu, apakah suatu saat jika Andika mengetahui kebenarannya bahwa dia bukanlah Erina, akankah suaminya itu tetap mencintainya dan memperlakukannya seperti saat ini? Hanya waktu yang akan menjawab semua itu.
"Kamu melamun, sayang?" tanya Andika, sesaat Ronny telah berjalan meninggalkan mereka. Ronny akhirnya tahu bahwa tawaran pekerjaan Arisa tadi hanyalah bohong belaka. Meski kecewa, namun dia juga bersyukur, dirinya tidak mendapatkan masalah besar dari Andika yang sempat berang tadi.
"Oh, tidak... Jadi gimana? kita jadi makan siang kan?" tanya Arisa.
"Oh tentu saja dong. Nih, aku datang hendak menjemputmu, sayang."
"Memangnya kita mau makan siang di mana?" tanya Arisa lagi.
"Ada deh, pokoknya kamu ikut saja ya. Ayo, jalan!" ajak Andika sambil mengandeng tangan istrinya beranjak dari kursi. Namun, sebelum mereka keluar dari cafe, Arisa berpamitan dulu dengan Tante Ririn dan teman-teman kerjanya dulu.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka pada sebuah resto yang menawarkan konsep alam yang begitu asri. Di dalamnya, ada berbagai tanaman unik dan bunga yang menghiasi resto tersebut. Nuansa dalam resto itu sangat menyenangkan, Arisa takjub melihat tempat tersebut.
"Kamu suka tempat ini, sayang?" tanya Andika yang segera dibalas dengan anggukan kepala Arisa.
"
"Ayo, kita duduk di sebelah sana ya!" ajak Andika sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang telah dibooking oleh Andika sebelumnya. Mereka pun berjalan menuju tempat yang dimaksud Andika.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka untuk mencatat pesanan mereka. Andika dan Arisa menerima buku menu secara persamaan, Andika masih mengamati dengan seksama, namun Arisa hanya melihat sekilas kemudian malah sibuk memandangi keadaan sekelilingnya yang begitu indah karena dihiasi bunga di mana-mana. Dia merasa benar-benar sedang berada di tengah-tengah taman.
"Kamu mau pesan apa, sayang?" tanya Andika.
__ADS_1
"Pesan aja yang sama dengan Mas ya!" jawab Arisa karena dia bingung melihat nama menu makanan yang tertera pada buku menu tersebut. Akhirnya, Andika pun memesan makanan dengan dua porsi. Tak lupa dia memesan es krim sebagai hidangan penutup mereka, karena Andika tahu istrinya sangat menyukai es krim.
Mereka pun menikmati makan siang dengan santai saat pesanan makanan mereka sudah disajikan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan Ronny?" tanya Andika karena masih penasaran dengan kejadian tadi.
"Oh, tadi kebetulan saat di cafe, aku melihat dia sedang duduk bersama dengan Rasti. Sebelum Rasti meninggalkan cafe, kulihat mereka sempat bertengkar. Jadi, aku penasaran dan mendekati dia untuk mencari informasi."
"Terus...terus?"
"Ya, siapa sangka rupanya dia orang yang sama yang memotret Mas dengan Rasti. Jadi, aku bisa mengorek informasi tentang apa yang terjadi di antara kalian." lanjut Arisa menjelaskan.
"Jadi, kamu sudah percaya kan sayang, kalau aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rasti itu."
"Lho, kok begitu, kan sayang tahu sendiri, bahwa kami tidak melakukan apa-apa kan?" ujar Andika berusaha membela diri.
"Udah akh, pokoknya aku masih kesal deh!" sahut Arisa sambil memanyunkan mulutnya dan memalingkan wajahnya memandang ke arah lain. Sebenarnya dia berpura-pura kesal saja karena ingin mengerjai suaminya. Dia percaya Andika tidak mungkin melakukan hal gila dengan Rasti.
"Udah dong, jangan marah lagi! Kalau marah, nanti hilang lho kecantikannya." goda Andika sambil mencolek dagu Arisa.
"Biarin!" ketus Arisa.
"Biar tidak panas hatinya, sini aku suapin es krim ya!" kebetulan pesanan es krim Andika baru saja diantar. Dengan sigap, Andika menyambut es krim tersebut, kemudian menyendoknya untuk menyuapi istrinya. Arisa yang mulutnya monyong tadi tak kuasa menahan diri untuk tidak membuka mulutnya menyambut suapan es krim tersebut. Siapa coba yang tergiur dengan godaan es krim di tengah panas siang-siang begini.
"Hahahaha......" akhirnya mereka berdua ketawa bersama.
__ADS_1
"Jadi, sekarang kita baikan ya, sayang?" tanya Andika.
"Iya." jawab Arisa singkat. Dirinya sudah mengambil alih sendok es krim yang dipegang Andika tadi dan memakannya sendiri dengan lahap sampai habis tak bersisa. Andika tersenyum memandangi istrinya yang seperti anak kecil sedang menikmati makanan kesukaannya. Andika tidak memesan es krim untuk dirinya sendiri karena dia kurang menyukai makanan dingin berhubung dia sering bermasalah dengan giginya yang sensitif.
"Habis ini, kamu mau ke mana sayang? Pulang ke apartemen?" tanya Andika.
"Oh, tidak. Seperti aku ingin mengunjungi ibu di rumah. Kalau di apartemen, aku bosan sendirian." jawab Arisa.
"Baiklah. Nanti aku antar ya!"
Setelah selesai dengan kegiatan makan siang mereka, Andika pun mengantarkan Arisa ke rumah ibunya. Setelah satu jam perjalanan menerobos kemacetan, sampailah mereka di depan rumah Dina. Saat mobil Andika berhenti di depan rumah, Arisa sedang melihat ibunya sedang duduk di teras, sedang mengobrol dengan tetangganya, Tante Asih. Salah satu tetangganya yang suka kepo dengan urusan orang lain.
Ketika Andika dan Arisa turun dari mobil, dilihatnya tatapan Tante Asih yang mencurigakan, kemudian dia dan ibunya itu lanjut mengobrol dan cekikikan tertawa sendiri. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi ini pasti ada hubungannya dengan dirinya, pikir Arisa
"Selamat siang, Bu.... Selamat siang, Tante." sapa Andika dengan sopan. Tante Asih menganggukan kepalanya sambil tersenyum memandangi Andika. Dia mengagumi ketampananan Andika, apalagi dia melihat Andika datang dengan mobil mewah. Sungguh tak disangka, Arisa yang tomboi dan urak-urakan dulunya bisa mendapatkan suami sehabat ini, pikir Asih.
"Hai Dika, Risa....kalian sudah makan siang? Ibu masak banyak lho hari ini." sahut Dina menyambut kedatangan anak dan menantunya itu.
"Sudah, Bu. Ini barusan kami habis makan siang baru ke sini." jawab Andika dengan sopan.
"Ya sudah, aku titip Arisa dulu di sini ya, Bu. Mau balik ke kantor lagi, nanti sore aku datang jemput." lanjut Andika sambil mencium kening Arisa sebelum berjalan kembali ke mobil.
"Titip? memangnya aku ini barang, Mas? pakai dititip-titip segala...." protes Arisa namun tidak ditanggapi Andika yang sudah berjalan ke arah mobilnya.
Arisa pun masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya, meninggalkan ibunya dan Tante Asih yang masih asyik mengobrol. Dia tidak tertarik untuk bergabung dengan obrolan ibu-ibu itu, karena ujung-ujungnya pasti dia yang menjadi sasaran pembahasan.
__ADS_1