Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Terkejut


__ADS_3

Andika tiba di apartemennya cukup larut, setelah makan malam dengan Michella dan mengantarkannya pulang ke rumah. Saat ini, dia merasa kesepian sekali berada di apartemennya yang cukup luas, sendirian. Dia sedikit menyesali ucapannya kemarin yang mungkin membuat istrinya menjadi tersinggung, tetapi bukankah dirinya berhak cemburu. Hatinya masih dilema sampai saat ini.


Setelah membersihkan diri dan sudah mengenakan piyamanya, dia membaringkan dirinya di atas ranjang empuknya. Biasanya selalu ada wanita yang dicintainya itu menemaninya, tetapi saat ini dirinya hanya sendirian, membuat dia merasa ada sesuatu yang kosong di hatinya.


Akh, bukankah ini berlebihan? Kan memang Erina sudah mengatakan dia menginap di rumah sakit karena mau menemani ibunya. Mungkin besok-besok dia juga pulang, tokh... Hei, jangan anggap enteng, Erina tuh marah makanya dia memilih menginap di rumah sakit. Hati Andika berkecamuk berdebat sendiri.


Andika meraih handphonenya dan berniat menghubungi Arisa untuk menanyakan kabarnya. Namun panggilan teleponnya sama sekali tidak diangkat. Apa mungkin dia sudah tidur? Besok aku harus menemuinya, ujar Andika dalam hati.


Andika berusaha memikirkan kira-kira apa yang akan dilakukannya untuk mendapatkan permintaan maaf istrinya besok, akhirnya senyum mengembang di sudut bibirnya, sepertinya dia mendapatkan sebuah ide. Yah, dia akan melaksanakan ide itu. Hati lega karena sudah mendapatkan ide apa yang akan dilakukannya besok, akhirnya tidak lama kemudian dia pun terlelap dalam tidurnya karena beban pikirannya sedikit berkurang.


*****


Keesokan paginya, Andika mengabarkan kepada Wijaya bahwa hari ini dia tidak masuk kantor karena ada urusan penting yang harus diselesaikannya. Sebenarnya Wijaya sedikit keberatan, namun apa boleh buat, dia pun belum bisa terlalu memaksa Andika untuk mengambil alih semua tanggung jawab perusahaan.


Hari ini, Andika akan melaksanakan rencananya, ide yang dipikirkannya semalam. Dia berkutat sendiri seharian di apartemennya. Entah apa yang dilakukannya, hanya dia, Tuhan dan author yang tahu. Saking sibuknya dia, sampai-sampai dia melewatkan makan siangnya, hingga tiba-tiba saat ibunya meneleponnya barulah dia sadar bahwa waktu sudah menunjukkan hampir jam 3 sore.


Anita menelepon Andika karena merasa kuatir apakah anaknya sakit lagi seperti beberapa hari yang lalu. Tetapi, syukurlah, Andika sehat-sehat saja. Setelah itu barulah pembicaraan mereka beralih soal ibu Arisa yang sudah sadar. Sebuah berita penting disampaikan oleh Anita, membuat Andika sedikit terkejut, namun kemudian mengiyakan permintaan mamanya itu. Pembicaraan yang cukup lama hampir satu jam berlalu. Setelah itu, barulah Andika melanjutkan sisa pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi sebelum keburu sore. Barulah dia menyelesaikan pekerjaannya ketika waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore


Melihat hari sudah mulai semakin sore bahkan menjelang malam, dia segera mandi dan mengganti pakaiannya, bersiap untuk ke rumah sakit. Kali ini, dia akan mengacuhkan perkataan Arisa kemarin yang mengatakan tidak mau bertemu dengannya untuk beberapa hari ini. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan berhari-hari, sehari saja kemarin dia sudah merasa sangat kesepian dan uring-uringan sendrii. Maka dia membulatkan tekadnya untuk menjemput istrinya hari ini.


Cukup lama perjalanan yang harus ditempuhnya dari apartemen sampai ke rumah sakit, bukan karena jaraknya yang jauh, karena dia terjebak macet yang menguji kesabarannya itu. Waktu menunjukkan hampir pukul 7 ketika dirinya sudah sampai di rumah sakit. Dengan semangat, dia melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat ibu mertuanya dirawat. Di tangan kanannya, sedang menjinjing sebuah parcel buah untuk diberikan kepada ibu mertuanya dan dan sebucket bunga mawar di tangan kirinya, tentu saja untuk istri tercintanya.


Tok...tok...tok...


Dia mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam, maka Andika pun memberanikan diri untuk memasuki ruangan tersebut. Dipandanginya keadaan sekeliling ruangan, ibu mertuanya itu sedang tertidur pulas, sedangkan Arisa tidak kelihatan sama sekali. Namun segera dia tahu, bahwa istrinya ada di dalam kamar mandi, karena terdengar guyuran air dari dalam.

__ADS_1


Dia menunggu dengan sabar, hingga akhirnya Arisa keluar dan kaget ketika melihat Andika sudah duduk di kursi sofa.


"Mau apa mas ke sini?" ujar Arisa kurang bersahabat.


"Jangan begitu sayang, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Tidak seharusnya bersikap seperti kemarin."


"Aku tidak suka kamu cemburu gak jelas begitu, Mas."


"Aku cemburu karena sangat mencintaimu, sayang. Aku tidak rela jika melihatmu dekat dengan laki-laki lain, bahkan dengan sahabatmu sendiri."


"Aku sudah sahabatan dengan Johan sangat lama, jauh sebelum aku kenal denganmu, Mas."


"Iya...iya...aku tahu, tapi bukankah kamu juga harus menjaga perasaanku, sayang?"


"Oke...oke....fine, rasanya tidak akan selesai-selesai, kalau kita berdebat terus. Lagipula tadi juga Johan ada ke sini..."


"Tuh kan, mulai lagi....jangan salah paham dulu, dia tadi datang hanya sekedar untuk menjenguk ibu, lagipula tadi aku sudah katakan kepadanya, untuk menjaga jarak di antara kami." ucap Arisa.


"Benarkah itu sayang? aku senang mendengarnya." ujar Andika sambil tersenyum.


"Ya, tentu saja aku menyadari posisiku saat ini, aku telah menjadi istrimu, aku...." balas Arisa namun terputus karena tiba-tiba mendengar deheman dari orang yang sedang terbaring di ranjang.


"Ehem...hem...." dehem Dina, ibunya Arisa.


" Ibu....ibu sudah bangun?" tanya Arisa sambil berjalan mendekati ibunya disusul oleh Andika di belakangnya.

__ADS_1


"Jadi, ini yang namanya Andika?" ucap Dina setelah melihat jelas laki-laki di belakang Arisa itu.


"Iya Tan....eh ibu, saya Andika, suami dari anak ibu. Maafkan kelancangan saya, yang sudah menikahi anak gadis ibu sebelum ibu sadar kembali."


Cukup tampan dan kelihatan berwibawa rupanya suami Arisa ini. Wah, bisa nih aku bangga-banggakan di depan tetangga-tetangga komplek rumah nih, apalagi sama jeng Asti tuh yang suka menyombongkan menantu laki-lakinya itu. Emang dia pikir dia aja yang bisa...Pikir Dina dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri membuat Arisa dan Andika menjadi bingung.


'Ibu...kenapa ibu senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Arisa.


"Oh tidak ada apa-apa. Emang senyum dilarang, ya suka-suka ibu lah."


"Tapi senyum ibu tuh kelihatan mencurigakan, tahu?" tuding Arisa.


"Ikh....kamu nih, dikit-dikit curiga, kalau gitu, ibu pasang muka cemberut aja deh." ujar Dina sambil pura-pura memasang muka cemberut.


"Maafkan saya ibu, baru bisa menjenguk ibu hari ini, sekalian kalau diizinkan, saya mau menjemput istri saya, Arisa hari ini."


"Hah....." Seketika itu, Arisa dan ibunya terkejut membelalakkan matanya kemudian saling memandang.


Lha, gimana sih, tadi kemarin katanya disuruh pura-pura manggilnya Erina aja, nah Andika sendiri manggilnya Arisa kok. Ucap Dina dalam hati.


Apa jangan-jangan ingatan Andika sudah pulih kembali. Dia tahu siapa aku sebenarnya. Pikir Arisa.


"Oh ya, ada sesuatu yang kubawakan untuk ibu." Andika berjalan menuju meja di depan sofa untuk mengambil parcel buah dan buket bunga mawar.


"Ini buat ibu dan ini buat istriku tercinta, sebagai permintaan maafku." ujar Andika sambil meletakkan parcel buah di meja nakas samping tempat diur dan buket bunga kepada Arisa yang menerima dengan muka penuh kebingungan.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, Andika memohon diri. Karena memang malah disuruh ibunya untuk pulang, mau tidak mau akhirnya Arisa mengikuti Andika untuk pulang ke apartemen.


__ADS_2