
Arisa masih berdiri mematung kebingungan di depan lemari pakaiannya itu. Dipilah-pilah nya beberapa gaun tidur yang tergantung, namun srmua model hampir sama, hanya warna saja yang berbeda. Mulutnya komat-kamit mengomelin selera pilihan suaminya yang buruk itu menurutnya
Akhirnya, mau tidak mau dipakainya juga salah satu gaun tidur yang tadi diambilkan oleh Andika itu. Setelah selesai memakainya, Arisa melihat pantulan dirinya pada cermin besar yang ada di salah satu sisi.
"Tidak buruk, ya sudahlah, gak apa-apa. Yang penting bisa tidur dengan nyaman malam ini daripada dia tidak mengganti pakaiannya."
Saat Arisa melangkah keluar dari ruang ganti, lampu kamar sudah dimatikan digantikan dengan dua lampu tidur yang menyala di kedua sisi tempat tidur. Sementara itu, Andika sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi duduk bersandar.
"Sini, sayang!" panggil Andika.
Arisa ikut bergabung dengan suaminya di atas tempat tidur.
"Mas tidak mengganti baju?" tanya Arisa.
"Untuk apa aku berganti baju, kalau akhirnya akan kubuka juga..." jawab Andika dengan senyum mesumnya itu. Tangannya pun sudah bergerilya melancarkan aksinya.
"Akh, geli tahu Mas..." protes Arisa.
"Masa dibelai suami sendiri, geli...ada-ada saja kamu ini sayang."
"Habis, kamunya kan sudah lama tidak membelai istrimu ini "jawab Arisa asal.
"Wah, sepertinya ada yang sudah merindukan belaianku ini tetapi tidak berani meminta nih." goda Andika.
"Gak tuh." bantah Arisa.
"Akh, yang benar? Gak usah malu-malu, kalau mau bilang saja mau hahaha....kalau gitu ayo kita mulai" dengan cekatan Andika menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka dan melancarkan aksinya di balik selimut. Sementara itu, Arisa hanya bisa pasrah saja menerima dan tentu saja menikmati moment mengairahkan ini bersama suaminya sampai akhirnya keduanya kelelahan dan terlelap dalam mimpi.
*****
Pagi datang menyongsong, Arisa baru terbangun tidurnya saat mendengar suara berisik yang sepertinya datang dari arah dapur. Tak lama kemudian, Andika pun masuk dengan membawa nampan makanan untuk Arisa.
__ADS_1
"Sarapan dulu, sayang." ajak Andika sembari mempersiapkan sebuah meja kecil yang dapat ditata di atas tempat tidur dan menyuguhkan makanan yang dibawanya itu .
"Terima kasih, Mas!" jawab Arisa yang kemudian menikmati sarapannya dengan lahap.
"Oh ya, kamu tidak pergi kerja hari ini, Mas?" tanya Arisa yang baru menyadari kalau saat ini waktu sudah menunjukkan tepat pukul 8 dan Andika masih belum berangkat kerja.
"Kamu lupa hari ini hari apa ya sayang? Hari ini kan Sabtu, week end, tentu saja aku tidak pergi ke kantor."
"Ups, aku lupa...hehehe..."
"Mungkin karena terlalu keasyikan dengan aktivitas kita tadi malam, makanya kamu jadi lupa segala-galanya." ledek Andika.
"Enak saja, gak kok. Aku ingat kok, kalau hari ini juga jadwal kontrolku ke dokter kandungan."
"Oh ya, hari ini?"
"Iya, aku baru keingat barusan hehehe...."
"Tunggu dulu....tunggu aku habiskan makanan ini dulu dong, Mas."
"Hehehe...eh...iya, nah kamu habiskan pelan-pelan ya. Aku mandi duluan ya." Arisa mengangguk dan kemudian meneruskan sarapannya dengan lahap.
Betapa senang dan riang hatinya hari ini, segala kegundahan dalam hatinya telah sirna setelah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya selama ini. Tidak sepantasnya dia mencurigai Andika yang begitu mencintainya.
Setelah keduanya telah bersiap, mereka pun berangkat ke rumah sakit tempat biasa Arisa kontrol dengan dokter kandungan.
Usia Arisa sudah memasuki 6 bulan, sebenarnya pada jadwal kontrol yang sebelumnyapun seharusnya Arisa sudah bisa melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya. Namun, karena saat itu dia tidak ditemani oleh suaminya, dia menunda pemeriksaaan itu.
"Selamat pagi, Ibu Arisa dan Bapak Andika." sapa dokter Rita, salah satu dokter kandungan di rumah sakit tersebut saat Arisa dan Andika memasuki ruang periksa dokter. Berhubung dokter kandungan yang biasa memeriksa Arisa sedang ada urusan ke luar kota, maka dokter Rita menggantikan untuk memeriksa Arisa .
"Selamat pagi, Dok." jawab Arisa dan Andika hampir bersamaan.
__ADS_1
"Ayo, kita periksa dulu ya. Silakan Ibu berbaring dulu." Arisa segera melakukan apa yang diperintahkan dokter.
Dokter pun mengoleskan gel di atas perut Arisa sebelum menempelkan alat periksanya di atas perut Arisa.
"Perkembangan janin anak-anak sangat baik, detak jantungnya juga normal ya. Semua baik, tidak ada masalah, jadi besar kemungkinan Ibu Arisa bisa melahirkan normal tanpa kendala nantinya." ucap dokter Rita.
"Tunggu dulu, anak-anak?" tanya Andika merasa bingung.
"Iya, istri Anda mengandung bayi kembar Pak, yang ini laki-laki dan yang satu ini anak perempuan. Selamat ya Ibu Arisa dan Pak Andika." jawab dokter Rita.
Betap senangnya saat mendengarkan ucapan dokter barusan. Rasa-rasanya seperti mimpinm kalau rupanya Tuhan menganugerahkan anak kembar kepada mereka untuk memperlengkapi kebahagiaan rumah mereka.
"Mas, anak kita kembar."
"Iya, sayang, aku sangat senang mendengarnya." ucap Andika sembari mencium kening Arisa dan membantunya untuk merapikan kembali bajunya dan kemudian bangun dari tempat tidur periksa tersebut.
Mereka kembali duduk di hadapan dokter Rita untuk mendengarkan beberapa penjelasan.
"Nah, untuk menjaga kondisi ibu dan bayi-bayi Anda, saya resepkan beberapa vitamin ya."
"Baik, terima kasih dok."
Rasanya tidak sabar mereka ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada kedua orang tua mereka masing-masing, apalagi kepala Della dan Anita. Pada awalnya, Arisa sempat bingung, kalau anaknya ini rupanya anak perempuan, dia kuatir mama Anita akan kecewa karena mama Anita sangat mengharapkan anak laki-laki. Tetap sebaliknya kalau anaknya laki-laki, dia kuatir mama Della yang akan kecewa.
Tetapi rupanya, Tuhan begitu baik kepadanya, hingga memberikan sepasang bayi kembar kepada mereka, pikir Arisa. Dia sungguh bersyukur atas semua kebahagiaan yang Tuhan berikan dalam hidupnya ini.
Andika dan Arisa tidak mau memberitahukan kabar bahagia ini kepada orang tua mereka melalui telepon, mereka ingin mengabarkan secara langsung karena mereka penasaran ingin melihat bagaimana reaksi bahagia orang tua mereka yang sudah lama merindukan kehadiran cucu.
Untuk itu, dari rumah sakit, Andika dan Arisa langsung meluncur ke rumah Wijaya. Kebetulan Wijaya dan Anita sedang menikmati makan siang di ruang makan saat Andika dan Arisa tiba di rumah.
Mereka pun ikut menikmati makan siang dulu karena sudah diajak dan dipaksa oleh kedua orang tua tersebut. Jadi, Andika berpikir akan menyampaikan setelah mereka menyelesaikan makan siang. Arisa yang biasanya tidak doyan makan pun tiba-tiba jadi sangat lahap makan menikmati setiap hidangan di atas meja.
__ADS_1