
Arisa sangat menikmati malam-malamnya bisa kembali tinggal bersama dengan ibunya seperti dulu, meski hanya untuk beberapa hari saja. Sedangkan Andika sangat tersiksa karena merasa kesepian tanpa Arisa di sisinya. Ini malam kedua, Arisa menginap di rumah ibunya. Saat ini mereka sedang menonton sinetron kesayangan mereka sambil menggerutu sendiri saat melihat tokoh utamanya diperlakukan tidak adil oleh pemeran lain. Meski jalan ceritanya begitu-begitu aja bahkan sampai lagu soundtracknya itu-itu terus padahal setiap episode memiliki jalan cerita masing-masing, sampai-sampai Arisa sudah bisa hafal di luar kepala, namun tetap saja mereka tak bosan-bosan menontonnya. Hayo, siapa yang tahu sinetron apa yang dimaksud Author, hehehe....
"Memang kurang ajar suaminya itu ya, kalau aku jadi istrinya, kugebukin sampai babak belur, lalu kuikat di pohon pisang, digigit semut." gerutu Arisa dengan menggebu-gebu melihat pemeran laki-lakinya yang berselingkuh, menduakan istrinya dengan wanita lain.
"Iya betul, kalau ibu yang jadi mertuanya, ibu juga akan bantu gebukin, terus itu perempuan kegatelan itu kita cabekin sekalian, biar nyahok...." sahut Dina tak kalah geramnya dengan Arisa sambil memakan keripik yang tersedia di meja depan mereka.
"Lha, kok habis?" tanya Arisa saat tangannya meraba-raba mangkok berisi keripik, rupanya sudah kosong tak bersisa. Dia memelototin ibunya yang hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Itu keripikku, Bu... Bukankah Ibu kan tidak boleh makan ini kebanyakan, nanti ibu bisa sakit lagi." ucap Arisa.
"Akh...ibu sehat-sehat aja kok, lagian tadi memang keripiknya sudah sisa sedikit. Kamunya aja yang belinya terlalu sedikit, makanya cepat habis." ujar Dina beralasan, padahal Arisa sudah membeli cukup banyak tadi dengan mamang keripik yang lewat tadi sore, untuk cemilan saat dia menonton.
"Udah, kalau habis, beli aja lagi sana...." lanjut Dina sambil menyodorkan uang lima ribuan kepada Arisa.
"Yah....mana cukup ini Bu, paling dapatnya seemprit aja...." mau tidak mau dia masuk ke kamarnya untuk mengambil dompetnya, kemudian berjalan keluar menuju pintu depan.
"Mau ke mana kamu? malam-malam begini mau keluyuran?"
"Yah, pergi beli snack lagilah Bu, di minimarket depan sana tuh. Lagian aku kan bukan anak gadis lagi, jadi ngapain keluyuran, mau ke mana coba, nongkrong sama tukang bakso? Ogah akh...." ujar Arisa sambil nyelonong pergi.
"Awas lho, kalau pulangnya malam-malam, Ibu laporin lho sama Andika...." ancam Dina pura-pura.
"Akh emangnya Risa masih anak kecil, pakai dilapor-laporin segala...." protes Arisa.
"Ngomong-ngomong dengan Andika, kamu gak telepon tuh tanyain kabar suami itu hari ini?" tanya Dina.
"Tau akh, ngapaian juga perlu dipantau-pantau segala, paling nanti juga dia yang telepon, biasanya....." Benar saja, belum selesai Arisa menyelesaikan pembicaraannya, handphone di saku celananya berbunyi. Dengan segera, dia mengambil handphonenya tersebut dan melihat nama siapa yang tertera dalam panggilan tersebut. Tertulis jelas nama Suami Amnesia di situ, julukan yang diberikan Arisa kepada Andika.
"Hai, sayang, kamu gimana kabarnya hari ini?" sapa Andika dari seberang.
"Hai, mas, aku baik kok. Aku senang, hari ini aku belanja bareng ibu ke pasar. Sudah lama, aku tidak menemani ibu ke pasar. Rasanya senang sekali, melakukan rutinitas kami dulu." ucap Arisa menjelaskan.
__ADS_1
"Baguslah, kalau kamu senang. Tapi, ingat ya, tinggal semalam lagi ya, kamu nginapnya di tempat ibu ya, besok malam, aku jemput ya."
"Heh eh, iya...iya...." jawab Arisa meski merasa tidak rela karena masih ingin berlama-lama menginap di rumah ibunya.
Arisa mengobrol dengan Andika di telepon sambil berjalan menuju ke minimarket depan gang sana. Saat dia sedang berjalan setengah perjalanan, dia berpapasan dengan Johan yang baru pulang kerja.
"Hai Arisa...." sapa Johan senang bisa bertemu dengan Arisa setelah sekian lama.
"hai Joh, ...." balas Arisa.
"Udah ya, Mas... Aku tutup dulu, udah mau sampai nih ke minimarket." ujar Arisa langsung menutup teleponnya
Johan? Apakah Erina sedang bersama dengan Johan sekarang, sehingga dia menutup telepon dariku cepat-cepat. Tak bisa kubiarkan mereka berduaan. Guman Andika dalam hati, langsung meraih kunci mobil di atas meja dan bergegas menuju ke rumah mertuanya itu.
"Baru pulang kerja Joh?" tanya Arisa
"Iya nih, gue lembur hari ini. Makanya pulangnya agak malam. Loe tumben ada di sini?"
"Terus Loe mau ke mana sekarang?"
"Tuh, mau ke minimarket depan aja, ada yang mau dibeli."
"Gue temani ya."
"Akh, gak usah Joh, ini juga dah mau sampai kan, loe pulang aja. Istirahat, pasti capek habis lembur-lembur begini." tolak Arisa.
"Ya, sudah kalau gak mau ditemani. Gue pulang dulu ya, sampai ketemu lagi besok." balas Johan.
"Iya...bye." Arisa kemudian melanjutkan perjalanannya ke minimarket yang sudah kelihatan di depan mata. Dia segera membeli beberapa snack yang disukainya dan berjalan pulang kembali ke rumahnya. Namun betapa kagetnya, saat dia sampai di depan rumahnya, dia melihat mobil Andika sudah terparkir di depan rumah ibunya.
Mau apa Andika ke sini? cepat sekali nyampainya, padahal tadi barusan teleponan, katanya ada di apartemen.
__ADS_1
Jangan ditanya se-ngebut apa tadi Andika saat dalam perjalanan ke sini, dia tidak rela kalau istrinya berlama-lama dengan Johan meski dia tahu Johan itu sahabat istrinya dari dulu.
"Mas?" sapa Arisa saat memasuki rumah dan melihat Andika sedang asyik menonton sinetron azab bersama dengan ibunya. Keduanya pun memandang bersamaan ke arah Arisa.
"Kenapa ke sini?" tanya Arisa.
"Aku kangen sama kamu sayang." jawab Andika berbohong, padahal dia datang untuk memastikan bahwa istrinya tidak sedang berduaan dengan Johan. Dia lega saat melihat Arisa datang sendirian tanpa Johan di dekatnya. Seharusnya dia tidak perlu curiga dan cemburu sampai segitunya kepada istrinya.
Akhirnya mereka pun melanjutkan menonton televisi sampai cukup larut, hingga ketiganya sudah mengantuk satu per satu.
"Kamu menginap di sini saja, Dika...kalau mengantuk begini, bahaya kan kalau menyetir." ucap Dina sebelum masuk kamar.
"Ibu?" sahut Arisa ingin protes.
"Kalau Andika nginap di sini, mau ditaruh ke mana tidurnya?" lanjut Arisa.
"Yah, tidur sama kamulah, masa tidur sama ibu."
"Tapi...." ujar Arisa ingin protes, tetapi tidak jadi karena tidak enak hati dengan Andika yang ada di depannya.
"Ya udah, mas tidur di sini ya, tapi ingat malam ini tidak ada macam-macam ya, awas...." ancam Arisa. Andika hanya tersenyum lalu menguap beberapa kali menandakan dia memang sudah sangat mengantuk. Bahaya juga kalau dia menyetir dalam keadaan seperti itu.
"Ayo, masuk!" ajak Andika bersemangat menggandeng tangan istrinya.
"Awas lho, jangan macam-macam! kamarku bersebelahan dengan kamar ibu lho!" ucap Arisa memperingatkan lagi.
"Iya.."
Mereka pun masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh mereka di atas kasur empuk Arisa. Ranjang di kamar Arisa tidak selebar ranjang mereka di apartemen, alhasih membuat Arisa tidak bisa tidur nyaman semalaman, karena merasa kesempitan tidak leluasa tetapi tidak bagi Andika. Dia malah semakin senang bisa bersempit-sempitan dengan istrinya di atas ranjang. Andika sengaja tidak melepaskan pelukannya supaya Arisa bisa tidur dengan tenang, kaki dan kakinya tidak kungfuan ke sana-kemari seperti kebiasaannya awal-awal mereka menikah dulu. Kini tinggalah Arisa yang terbaring bengong dalam dekapan Andika tetapi tidak bisa terlelap.
Huh....ini semua gara-gara ibu. Gerutu Arisa dalam hati.
__ADS_1