Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Bertemu kembali


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan diri pagi itu, hari yang cerah memberi semangat baru bagi setiap orang untuk harinya yang baru, tetapi tidak bagi Arisa. Dia masih tertidur nyenyak di ranjangnya yang empuk, sampai ibunya yang berteriak-teriak dari dapur sedari tadi tidak dia hiraukan


"Arisa....hei bangun, kamu pergi kerja gak hari ini....bangun cepat atau perlu mak siram dengan air segayung." ancam ibunya Arisa. Seketika itu, Arisa langsung bangun mendengar kalimat terakhir ibunya. Dia ngeri juga kalau benaran ibunya itu menyiramnya di atas tempat tidur, bisa repot urusannya nanti. Dia tahu benar sifat ibunya itu, yang tidak biasanya memang tidak main-main kalau sudah mengancam, ngeri, pikirnya. Sambil mengucek matanya, dia melihat ke arah jendela, sinar matahari sudah menyelinap masuk melalui celah-celah golden jendela yang tidak tertutup rapat.


"Ya ampun, nih anak....benar-benar deh....malas begini, macam mana kau mau jadi orang sukses. Orang semua sudah pada kerja, kamunya masih enak-enak tidur....Sudah sana cepat mandi." tiba-tiba saja ibunya sudah berdiri di depan pintu memegang sapu di tangan kanannya. Arisa spontan meraih handuknya untuk segera menuju ke kamar mandi sebelum diomelin lebih banyak lagi sama ibunya yang cerewet itu.


Ibu nih...gak bisa lihat orang santai dikit. Lagipula buat apa harus bangun pagi-pagi, kan aku kerjanya agak siang. Gerutu Arisa sembari membuka bajunya, kemudian mengguyurkan air ke badannya sehinga membuat badannya menjadi segar.


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Arisa menuju ruang makan berniat untuk mencicipi sarapan yang sudah dipersiapkan ibunya itu. Meskipun galak, sebenarnya ibunya sangat menyayangi Arisa. Karena itu, setiap pagi sarapan selalu tersedia di atas meja sebelum Arisa berangkat kerja.


"Gimana kerjaanmu di cafe itu, Sa? apakah menyenangkan di sana?" tanya ibu Arisa sambil menyendok nasi pada piringnya.


"Baik, Bu.....teman-teman kerja lainnya juga cukup baik." jawab Arisa singkat. Sudah dua minggu lamanya, untuk sementara waktu dia bekerja di cafe milik kenalan ibunya itu sambil menunggu panggilan kerja dari beberapa lamaran kerja yang dia masukkan ke beberapa perusahaan. Untuk mengisi waktunya, pikirnya, sekalian untuk menghindari omelan ibunya yang bawel kalau seharian Arisa di rumah.


"Terus, apakah sudah ada panggilan kerja dari lamaran yang kamu masukkan ke beberapa perusahaan?" lanjut ibu Arisa.


"Masih belum, Bu. Entahlah, mungkin banyak saingan kali....hari gini susah sekali mau cari kerja, Bu.. huh......" keluh Arisa sambil menghela nafas.


"Kamu bersabarlah, pasti nanti akan ada panggilan kerja buat kamu." hibur ibu Arisa.


"Ya sudah, aku sudah selesai sarapan, aku berangkat dulu ya Bu." pamit Arisa ketika melihat jam dinding di rumahnya sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB. Dia harus sudah sampai di cafe pukul 09.00, waktu tersisa setengah jam lagi, membuat dia harus segera bergegas.


"Iya...kerja yang baik ya....jangan bikin masalah...awas..." ancam ibu Arisa karena dia tahu putrinya ini dengan sifatnya yang tomboi kadang-kadang suka bikin ulah dengan orang lain.

__ADS_1


"Iya...tenang aja, Mak." jawab Arisa mengedipkan matanya sembari menyambar tas di sampingnya itu, kemudian mendorong si Jablay, motor kesayangannya itu keluar dari garasi kecil samping rumahnya itu.


Tidak lama kemudian, sampailah Arisa di cafe tempatnya bekerja.


Syukurlah, pas jam 09.00 WIB, aku tidak terlambat. Aman....guman Arisa dalam hati ketika masuk ke dalam cafe dan matanya langsung tertuju pada jam dinding yang tergantung di salah satu sisi dinding. Segera dia bergabung dengan rekan kerjanya yang lain untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum mulai membuka cafe tersebut.


Hari itu cukup melelahkan, sejak dari siang, pengunjung cafe cukup ramai membuat Arisa berjalan bolak-balik melayani para pengunjung. Sepertinya dia mulai menikmati pekerjaannya, meskipun pada awalnya dia pikir semua ini hanya untuk sekedar mengisi waktu luangnya aja sembari menunggu panggilan kerja.


*****


Siang itu, Andika merasa kebosanan karena beberapa hari dirinya memang tidak pergi ke mana-mana, kecuali kemarin dia berjalan di taman kota. Berniat ingin keluar, Andika segera memanggil Pak Joko untuk mengantarnya keluar. Untuk sementara ini, Wijaya dan Anita memang belum mengizinkan anaknya ini mengendarai mobilnya sendiri, karena mereka masih trauma dengan kecelakaan yang dialami oleh Andika.


Seperti biasa, Andika selalu duduk termenung di dalam mobil, menatap kosong ke jalanan seolah-olah tidak mempunyai tujuan hidup. Pak Joko yang mengantar pun bingung karena Andika tidak memberitahukan tujuannya yang jelas. Akhirnya, Pak Joko membawa mobil mengitari area jalan yang agak jauh dari kemacetan melewati beberapa cafe yang dibuka di area jalan tersebut. Melihat deretan cafe yang dilewatinya, membuat Andika berpikir untuk sekedar mampir di salah satu cafe.


"Pak Joko, mau ikut masuk atau tunggu di sini?" tanya Andika sopan menawari supirnya itu.


"Saya tunggu di sini saja, Tuan. Kalau ada apa-apa, panggil saya ya Tuan." jawab Pak Joko.


"Baiklah, saya masuk ya, Pak." sembari membuka pintu, kemudian berjalan masuk ke dalam cafe tersebut.


Berjalan masuk, sembari mencari tempat yang masuk kosong, akhirnya Andika memilih duduk di sudut cafe yang kebetulan kosong. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pelayan cafe yang datang untuk mencatat pesanannya.


"Mau pesan apa, Tuan?" tanya gadis pelayan itu dengan sopan sambil menyodorkan buku menunya itu.

__ADS_1


Andika yang sedari tadi menunduk ke bawah, membaca pesan singkat dari mamanya itu seketika itu mendongakkan kepalanya ke atas memandang gadis pelayan tersebut. Keduanya sama-sama terkejut.


"Kamu!!" ujar Arisa kaget.


"Erina!!" sahut Andika tidak kalah kagetnya.


Sial....kali ini aku tidak bisa menghindar...apes lalu sih aku hari ini....Gerutu Arisa dalam hati. Dengan cepat, dia kembali bersikap sopan terhadap pengunjung di depannya itu, meskipun dengan rasa terpaksa.


"Maaf, sudah aku katakan, Anda salah orang, Tuan." Andika tetap menatapnya dengan serius.


"Dan apa yang Anda pesan, Tuan?" sambil menyodorkan buku menunya.


"Oh....oke...saya lihat dulu....." jawab Andika sambil menerima buku menu tersebut dan membukanya, setelah tersadar dan teringat kembali kejadian kemarin, dia tidak boleh terlalu memaksa, supaya gadis di depannya itu tidak menjadi ketakutan seperti kemarin.


"Saya pesan segelas cappucino hangat saja." jawab Andika singkat yang segera dicatat oleh Arisa.


"Ada yang lain, Tuan?" tanya Arisa lebih lanjut sebelum beranjak dari tempat itu.


"Tidak, itu saja..." Arisa pun berjalan menuju ke dapur cafe diikuti dengan tatapan Andika sampai dia masuk dan tidak terlihat lagi.


Gadis itu pasti Erina, apakah dia berpura-pura tidak mengenalku??? Pikir Andika.


Sepertinya tidak ada kesempatan Andika untuk berbicara lebih lanjut dengan Arisa, karena yang kemudian datang membawakan pesanannya bukanlah Arisa lagi. Mungkin Arisa sengaja menghindar dari Andika, yang menurutnya laki-laki aneh itu, sehingga dia menyuruh temannya yang membawakan pesanan Andika tersebut.

__ADS_1


Andika sedikit kecewa, namun dia bersyukur paling tidak dia sekarang tahu di mana Erina bekerja. Jadi, sewaktu-waktu dia akan datang kembali ke tempat ini, pikirnya.


__ADS_2