
Malam itu, aksi mogok bicara masih dilakukan Arisa. Entah kenapa, dia jadi malas mau berbicara dengan Andika, sehingga dia memilih mendiamkan suaminya itu dengan pura-pura tidur awal padahal sebenarnya dirinya belum mengantuk.
Sementara itu, Andika masih dalam kebingungannya, karena merasa tidak melakukan kesalahan fatal apapun yang mungkin bisa membuat istrinya marah.
"Sayang..." panggil Andika sambil berusaha memeluk Arisa dari belakang. Lagi-lagi Arisa menepis tangannya menolak untuk dipeluk.
Andika tetap berusaha, kini tangannya telah pindah ke area paha Arisa dan mulai mendekatkan tubuhnya pada Arisa untuk mencium tengkuk istrinya itu. Lagi-lagi, Arisa menggeliat untuk menjauhkan tubuhnya dari suaminya itu.
"Sayang, aku tahu kamu belum tidur. Ayolah!" ajak Andika.
"Hmmm..." dengus Arisa pelan.
"Sayang, aku lagi kepengin nih, please!" pinta Andika yang seolah tidak tahu situasi, malah minta begituan di saat istrinya sedang marah.
"Sayang?" panggilan Andika lagi-lagi tidak digubris oleh Arisa.
"Kalau begitu, biarkan aku saja yang beraksi, sayang tinggal menikmati ya!" ide gila Andika yang sungguh tidak tepat waktunya. Tangannya mulai menggerayangi tubuh istrinya itu. Arisa sebenarnya mulai terbuair dengan sentuhan lembut suaminya itu, apalagi ketika sentuhan itu mulai mengarah ke beberapa area sensitifnya, ditambah lagi Andika yang menciumi tengkuknya dari tadi, hampir saja dia lupa kalau dirinya sedang marah dengan suaminya saat ini dan ingin masuk dalam permainan ranjang ini. Tetapi, tiba-tiba dia tersadar.
"Cukup, stop!" pekik Arisa yang langsung bangun dalam posisi duduk, membuat Andika terkaget segera menghentikan aksinya itu dan menatap bingung ke arah istrinya tersebut, karena kini tanpa sebab Arisa telah menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa menangis? Apakah badanmu tidak nyaman seharian ini?" tanya Andika menebak-nebak, dia sudah mencoba mencari informasi di internet tentang kondisi yang biasanya akan dialami wanita pada awal kehamilannya setelah melihat Arisa sering mual dan muntah-muntah.
"Tidak!"
"Terus kenapa, sayang?" tanya Andika lembut sambil mengelus kepala Arisa dan hendak menyandarkan kepala istrinya itu di atas pundaknya, namun ditolak oleh Arisa.
"Hentikan!" lagi-lagi Arisa hanya menjawab singkat, sehingga membuat Andika bertambah bingung.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa yang terjadi, sayang?" tanya Andika masih dengan sabar.
"Seharusnya, aku yang bertanya, apa yang terjadi di antara kamu dengan Rasti, Mas?" pertanyaan Arisa yang mendadak itu membuat Andika semakin bingung.
"Rasti? tidak ada apapun yang terjadi di antara kami, sayang. Kenapa, tiba-tiba kamu berpikir aku ada hubungan dengan Rasti? Kamu tahu aku tidak mungkin melakukan hal apapun dengan Rasti." ucap Andika mencoba menjelaskan apa adanya.
"Tetapi, Rasti hamil, Mas!" ucap Arisa.
"Terus kenapa kalau Rasti hamil? Apa hubungannya denganku sayang?" tanya Andika mencoba tetap bersikap tenang, meski dirinya sedikit terkejut mendengar kabar kehamilan Rasti. Tetapi, bukankah itu berita bagus, jika Rasti sudah menikah dan hamil, berarti dia tidak akan lagi mendekati dirinya, pikir Andika.
"Dia pasti mengandung anakmu, Mas. Ngaku mas...sungguh teganya kamu membohongiku dan berselingkuh di belakangku." lanjut Arisa dengan tuduhannya itu.
"Tunggu dulu, darimana kamu bisa membuat kesimpulan sendiri, sayang? Bukankah mungkin Rasti sudah menikah dan kini sedang mengandung anak dari suaminya." bantah Andika.
"Tetapi, tadi aku nonton di TV dan dengar sendiri Mas, dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan seorang pengusaha, inisialnya AR. Siapa lagi kalau bukan kamu, Mas?" ujar Arisa tetap bersikukuh dengan tuduhannya itu.
"Kalau begitu, buktikan, Mas! Buktikan padaku kalau anak yang dikandung oleh Rasti memang bukan anakmu!" tantang Arisa.
Apa -apaan ini? Apa maksudnya aku harus melakukan tes DNA dengan janin yang dikandung Rasti? Tidak, aku memang tidak ada hubungan apapun dengan dia. Sudah pasti, anak itu bukanlah anakku. Tetapi, bagaimana supaya Arisa bisa percaya kepadaku.
Andika berpikir keras. Apa yang harus dilakukannya supaya Arisa percaya bahwa dirinya benar-benar tidak hubungannya dengan kehamilan Rasti. Lagipula, apa maksud Rasti menyebutkan inisial yang sama dengan dirinya, apakah Rasti mau mencoba menjebaknya atau memang dia telah menikah dengan seseorang yang berinisial sama dengan dirinya.
Hal ini benar-benar membuat pusing. Baru saja kemarin dirinya berbahagia mendengar kabar kehamilan istrinya itu, sekarang kabar kehamilan Rasti yang dikait-kaitkan dengan namanya membuat hubungannya dengan Arisa menjadi terganggu lagi.
"Baiklah, aku akan berusaha membuktikan itu. Tetapi, aku mohon, sayang, percayalah padaku. Tak sekalipun aku berpaling darimu, apalagi sampai berselingkuh darimu. Aku sangat mencintaimu, sayang!" ucap Andika berharap bisa meluluhkan hati istrinya.
"Sudah, aku mau tidur!" jawab Arisa dengan ketus, kemudian kembali berbaring dengan posisi membelakangi Andika. Entah kenapa, moodnya hari ini menjadi sangat buruk apalagi setelah mendengar berita infotainment siang tadi mengenai Rasti. Padahal biasanya, dia adalah orang yang tidak langsung percaya suatu berita tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Arisa menjadi posesif, dia merasa dia tidak cukup cantik dan menarik dibandingkan dengan Rasti. Rasti seorang model cantik, penyanyi berbakat, dalam banyak hal Rasti lebih dari Arisa, membuat Arisa berpikir bahwa dirinya tidak ada apa-apanya bila disandingkan dengan Rasti. Pantas saja, jika akhirnya suaminya tertarik dan jatuh ke dalam pelukan wanita tersebut, pikir Arisa.
Keduanya tidak bisa tidur malam itu, namun tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Masing-masing tenggelam di dalam pikirannya hingga malam begitu larut, barulah mereka mulai mengantuk dan akhirnya tertidur.
*****
Pagi itu, waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi, Andika terbangun karena mendengar suara berisik. Saat dia membuka matanya, dilihatnya Arisa sudah bangun, bahkan sudah rapi dengan stelan kerjanya dan kini sedang duduk di depan meja riasnya sedang memoles wajah cantiknya itu.
"Sayang? mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Andika.
"Aku mau ke kantor." jawab Arisa singkat.
"Bukannya kamu sudah mengajukan surat pengunduran dirimu kemarin?"
"Iya, tetapi kemarin surat pengunduran diriku belum disetujui, jadi hari ini aku harus kembali ke kantor untuk memastikan itu dan sekalian mengambil beberapa barangku yang ketinggalan di kantor." ujar Arisa dengan nada datar.
"Tetapi, bagaimana keadaanmj hari ini? Apakah kamu yakin badanmu cukup kuat untuk ke kantor hari ini? Jika tidak, aku tidak izinkan kamu pergi. Aku mengkuatirkanmu, sayang."
"Aku yakin, aku tidak apa-apa. Jadi, tolong izinkan aku. Tidak perlu kuatir berlebihan. Bukankah banyak wanita hamil yang maish bisa bekerja bahkan sampai masa melahirkan mereka? Kalau mereka bisa, aku juga pasti bisa!"
"Tunggu dulu, kamu tidak berencana untuk kembali melanjutkan pekerjaan itu kan. Tidak, aku tidak mengizinkanmu, kamu harus berhenti bekerja, sayang!" ujar Andika.
"Iya, aku tahu. Aku hanya perlu menyelesaikan hari ini, bukan untuk tetap melanjutkan pekerjaan tersebut." jawab Arisa.
"Ya sudah, kalau begitu. Untuk hari ini saja, aku izinkan kamu pergi ke kantor ya!" ucap Andika, yang kemudian beranjak dari tempat tidur, segera mandi, agar bisa menyusul istrinya yang sudah siap dan mereka bisa sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor masing-masing.
Meski Arisa mau berbicara dengannya, tetapi Andika merasa suasana di antara mereka masih tegang. Jadi, Andika masih harus berusaha keras agar hati Arisa bisa luluh kembali.
__ADS_1