Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Keputusan Farah


__ADS_3

Sudah hampir seminggu, Farah masih belum berhasil menghubungi Alex. Hatinya semakin galau setelah mendapat beberapa pesan singkat dari Michella yang sengaja memanasinya, dengan mengatakan akan berusaha membuat Alex jatuh kembali ke pelukannya.


Farah tidak pernah menyangka kalau Alex pernah mempunyai hubungan masa lalu dengan Michella. Apakah mungkin benar, jika Alex maaih mencintai mantan kekasihnya itu, sehingga sampai saat ini, Alex masih belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk Farah. Memikirkan hal itu, membuat Farah tidak bersemangat menjalani hari-harinya, bahkan kesibukannya sebagai perancang busana di sebuah butik milik sendiri pun terbengkalai.


Siang ini, untuk merilekskan pikirannya dia mendatangi sebuah cafe favoritnya untuk bersantai sejenak di situ.


Saat dia sedang mendengarkan musik sambil membaca majalah fashion yang dibawanya, terdengar seseorang yang menyapanya.


"Bolehkah aku duduk di sini, Nona?" tanya seorang laki-laki yang cukup tampan dan menarik perawakannya.


Farah melihat ke sekeliling, karena asyik membaca majalahnya, dia tidak menyadari kalau kafe itu tiba-tiba saja dipenuhi pengunjung. Dan sekilas dia melihat memang hampir semua meja sudah dipenuhi pengunjung. Tidak enak hati untuk menolak, akhirnya Farah menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Nona. Aku harap diriku tidak menganggu ya." ujar laki-laki tersebut sambil menyeruput secangkir kopi yang sudah dipegangnya dari tadi.


"Tidak apa-apa. Ini memang jam makan siang, dan cafe ini memang selalu ramai dikunjungi pengunjung. Jadi, biasanya memang selalu penuh waktu seperti ini." jawab Farah ramah.


"Perkenalkan namaku Johan." ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Farah.


"Farah." jawab Farah singkat sambil menyalami tangan laki-laki yang bernama Johan. Dilihat dari penampilannya, sepertinya laki-laki di depannya itu, seorang karyawan kantoran, terlihat dari stelan kantor yang dikenakannya.


"Sendirian saja?" tanya Johan basa-basi. Arisa mengangguk.


"Wanita secantik dirimu hanya duduk sendirian, Nona? Wah, sulit dipercaya. Tetapi ngomong-ngomong, kalau aku duduk di sini, tidak akan ada yang marah kan?" tanya Johan. Sekali lagi, Farah hanya mengangguk.


Farah kembali melanjutkan membaca majalahnya dan mengacuhkan Johan yang masih menikmati kopinya dan makanan pesanannya yang baru saja diantar oleh pelayan.


Sambil menikmati makanannya, sesekali Johan memandangi wanita di depannya itu. Tidak bisa dipungkiri, wanita itu mempunyai paras yang cantik.


Setelah dirasanya cukup lama berada di cafe, Farah bermaksud kembali ke butiknya. Dia memanggil pelayan, untuk membayar tagihannya. Namun, sesaat dia terlihat bingung saat mencari dompet di dalam tasnya. Astaga, dompetnya ketinggalan di tasnya yang lain, dan kini dia tidak membawa uang cash sedikitpun untuk membayar.


"Ada masalah?" tanya Johan.

__ADS_1


"Sepertinya dompetku ketinggalan." jawab Farah panik.


"Tenang...Biarkan saja aku yang membayarnya. Aku traktir ya."


"Tetapi..."


"Sudah, tidak apa-apa. Aku traktir ya, anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kamu sudah mau berbagi tempat denganku." ucap Johan. Dengan sedikit rasa tidak enak hati, akhirnya Farah terpaksa menerima tawaran Johan.


"Aku minta nomor kontakmu ya. Jika ada kesempatan, izinkan aku membalas traktiranmu hari ini ya." ujar Farah. Segera setelah mereka saling bertukar nomor, Farah meninggalkan cafe dan kembali ke butiknya.


*****


Sementara itu, hari ini Arisa bangun cukup siang, karena kecapean setelah semalaman meladeni suaminya yang bersikap manja seperti anak kecil.


Saat Arisa keluar dari kamarnya, dia tidak melihat ibunya di ruangan manapun. Arisa hanya melihat pesan pada secarik kertas yang pada pintu kulkas. Sebuah pesan dari Dina yang mengatakan kalau dirinya sedang ke pasar untuk berbelanja keperluan dapur karena memang stok makanan di kulkas sudah hampir kosong.


Tidak banyak yang bisa dilakukannya, setelah selesai mandi dan menikmati sarapannya yang terlambat, dia memilih berbaring di sofa sambil menonton televisi. Sungguh membosankan rasanya. Seandainya, dia masih bekerja, pasti dia tidak akan merasa kebosanan seperti ini.


Apa daya, Andika sudah tidak mengizinkannya lagi bekerja. Lagipula, kondisi di mana Alex, atasannya sendiri menaruh perasaan terhadapnya, tentu itu menjadi satu masalah bagi Arisa. Akhirnya, mau tidak mau, Arisa harus memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya.


"Halo..." ucap Arisa menerima panggilan dari nomor asing yang tampil di layarnya.


"Hai, Arisa...apakah kamu punya waktu hari ini?" tanya seseorang dari seberang telepon.


"Ini?" tanya Arisa karena masih belum mengenali suara orang yang meneleponnya ini.


"Eh lupa, ini aku, Farah. Aku mendapatkan nomormu dari HRD di perusahaan Alex. Kamu ada waktu hari ini, aku lagi butuh teman bicara Nuh untuk bertukar pikiran. Siapa tahu kamu bisa, tetapi kalau kamu sibuk. Tidak apa-apa, tidak usah dipaksakan ya!" jawab Farah.


"Oh tidak,kebetulan aku lagi santai kok. Boleh saja, kita mau ketemu di mana? Kasih tahu tempatnya nanti aku nyusul ke sana ya!" ujar Arisa.


Setelah mencatat alamat tempat janji temu mereka, Arisa pun bersiap-siap. Tak lupa sebelumnya, dia mengabari Andika untuk meminta izin. Setelag mendapatkan izin dari suaminya, diapun meluncur ke tempat pertemuannya dengan Farah.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore saat Arisa sampai di sebuah resto tempat janji temunya dengna Farah. Dilihatnya Farah sudah sampai duluan danduduk di salah satu kursi di pojok resto. Farah melambaikan tangan saat melihat Arisa berjalan masuk ke dalam resto.


"Sudah menunggu lama? Maaf ya aku agak telat. Tadi jalanan cukup macet." ucap Arisa.


"Tidak apa-apa, aku juga barusan sampai kok. Kamu mau pesan apa, kita pesan dulu ya. Setelah itu, baru kita ngobrol."


Setelah mengamati sekilas daftar makanan pada buku menu, Arisa memesan beberapa makanan yang dirasanya cocok dengan seleranya saat ini.


"Terima kasih ya, kamu sudah mau meluangkan waktumu untuk datang menemuiku. Maaf ya, kalau aku jadinya mengganggu waktumu." ucap Farah membuka pembicaraan.


"Jangan sungkan, kebetulan aku juga lagi santai kok. Jadi, tidak menganggu sama sekali. Jadi, ngomong-ngomong apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Arisa.


"Aku sudah memikirkannya baik-baik Aku rasa ini yang terbaik buat diriku dan Alex. Aku menyadari bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Semakin aku mencintai Alex dan berusaha membuat dia mencintaiku juga, hatiku semakin terluka."


"Hmmm...." Arisa belum tahu harus berkomentar apa.


"Jadi, aku memutuskan akan mengakhiri hubunganku dengan Alex." lanjut Farah.


"Hah? tetapi bukannya kalian berencana akan menikah. Lalu kenapa sekalian kamu memilih mengakhir hubungan kalian. Aku rasa keputusan ini terlalu terburu-buru. Aku mohon, kamu pikirkan lagi baik-baik."


"Aku tidak mau menjadi orang yang paling tersakiti akhirnya. Apalagi, jika akhirnya Alex lebih memilih kembali pada cinta lamanya, Michaela. Aku tidak mau menunggu sampai hal itu terjadi. Lebih baik aku mengakhirinya sekarang."


"Aku tahu ini berat untukmu. Tetapi, menurutku ini terlalu gegabah, jika kamu memutuskan seperti itu saat ini."


"Aku tidak mau menunggu hal yang sia-sia. Sampai saat ini pun aku tidak bisa menghubungi Alex. Aku mencoba menghubungi Michella. Hasilnya pun sama. Pasti mereka sedang bersama di suatu tempat saat ini. Memikirkan kalau mereka mungkin sedang bermesraan saat ini, membuat hatiku semakin sakit." lanjut Farah.


"Aku mohon, kamu pikirkan sekali lagi. Atau paling tidak tunggu sampai Alex sudah kembali, kalian bicarakan baik-baik." ucap Arisa.


"Entahlah..." Farah mengangkat bahunya sekilas.


****

__ADS_1


Happy reading teman-teman


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


__ADS_2