Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Pertemuan Rasti dan Michella


__ADS_3

Ketika hari semakin sore dan matahari pun sudah tidak sepanas tadi lagi, barulah Andika dan Arisa berjalan menuju ke arah pantai. Bukan main senangnya, Arisa yang bisa bermain dengan pasir dan ombak laut yang datang pergi. Bahkan dia seperti anak kecil yang kegirangan mendapatkan hadiah mainan baru saja. Sesekali dia mencipratkan air laut itu ke arah Andika sehingga membuat baju suaminya itu basah. Akibatnya, Andika mengejar Arisa yang dengan cekatan segera menghindari Andika yang hendak membalas kembali.


Dari kejauhan, hati Rasti semakin panas melihat kebahagiaan kedua sejoli yang sedang bermain di pantai itu. Dia tidak terima posisinya digantikan oleh perempuan itu


Sabar, sabar Rasti....Kamu pasti bisa mendapatkan kembali Andika. Ucap Rasti untuk menenangkan dirinya sendiri. Tetapi hatinya tetap saja galau, apalagi melihat saat Andika berhasil mengejar dan memeluk Arisa saat ini, bukan main kesalnya dia melihat semua itu.


Daripada melihat semua itu dan membuat hatinya semakin tidak karu-karuan, akhirnya dia memilih berjalan ke arah lain sambil melihat-lihat area sekitar pantai tersebut. Saat itu, dia sedang mengenakan topi pantainya yang lebar dan kaca mata hitam, sehingga hampir tidak ada orang yang mengenalinya.


Dia berjalan santai, namun tiba-tiba seorang wanita menyapanya dari belakang. Dia segera menoleh melihat siapa yang memanggilnya itu.


.


"Rasti Andini kan? Model sekaligus penyanyi terkenal itu?" tanya wanita itu.


"He...eh....iya..." jawab Rasti grogi karena ada yang mengenalinya.


"Perkenalkan saya Michella, saya salah satu pengemarmu lho. Suaramu sangat bagus." lanjut wanita tersebut sambil mengulurkan salaman untuk menjabat tangan Rasti.


"Kamu sendiri saja? Sedang liburan ya?" tanya Michella lebih lanjut.


"Iya...kalau kamu? Liburan atau memang tinggal di sini?" tanya balik Rasti. Dia berpikir tidak ada salah dia memiliki kenalan baru di tempat ini, daripada dia hanya berjalan sendirian.


"Oh...saya juga dari Jakarta. Kebetulan saya ke sini karena ada urusan bisnis saja. Bagaimana kalau kita jalan bareng?" Rasti memandang sekilas penampilan wanita tersebut, cukup oke. Tidak ada salahnya berteman dengannya, pikir Rasti.


"Boleh saja, ayo." ucap Rasti menerima tawaran Michella. Akhirnya, mereka berjalan bersama mengitari area tepi pantai tersebut tetapi berjauhan dengan tempat Andika dan Arisa berada. Setidaknya, kekesalan Rasti karena melihat kemesraan Andika dan istrinya bisa terobati sedikit dengan kehadiran Michelle yang menemaninya jalan-jalan.


"Sepertinya hari sudah mulai gelap, saya mau kembali ke hotel. Ngomong-ngomong, Anda menginap di hotel mana?" tanya Michella.

__ADS_1


"Saya menginap di hotel Mulia Jaya." jawab Rasti sambil menunjuk ke arah hotel yang dimaksudnya.


"Oh, sama donk, saya pun menginap di sana. Kebetulan besok malam, ada acara pertemuan bisnis yang akan saya hadiri di hotel tersebut. Jadi, saya memilih sekalian saja menginap di situ." ucap Michelle.


"Besok malam? di ballroom utama hotel ya?" tanya Rasti.


"Iya, besok malam itu acara peresmian pembukaan perusahaan cabang milik Raharsyah Group. Kebetulan perusahan orang tua saya menjadi salah satu mitra kerjanya." ucap Michelle menjelaskan.


Wah, kebetulan sekali...seperti aku bisa memanfaatkan orang ini untuk memuluskan rencanaku. Ucap Rasti senang dalam hati.


"Kita berjalan bersama balik ke hotel yuk!" ajak Michella. Mereka pun segera berjalan meninggalkan pantai untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


*****


Sementara itu, Andika mengandeng tangan Arisa untuk kembali ke hotel, namun kelihatan Arisa menyeret kakinya dengan terpaksa. Hatinya masih belum rela ketika diajak Andika untuk kembali ke hotel. Dia masih ingin berada di pantai, meski hari sudah mulai gelap. Namun karena Andika sudah bersikeras, akhirnya mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan Andika untuk kembali ke hotel.


"Tuh kan, udah kecapean begitu, masih mau memasakkan diri main di pantai sampai malam?" ujar Andika.


"Siapa bilang aku cape? Gak kok?" bantah Arisa.


"Masih tidak mau mengakui ya." Andika mendekati Arisa lalu menggelitik badannya sehingga membuat Arisa meronta-ronta karena merasa geli.


"ha...ha...ha...cukup....cukup....aku mau mandi." ujar Arisa untuk menghindari dan langsung berlari masuk ke kamar mandi sebelum dikejar oleh Andika.


"Aku ikut dong." sahut Andika.


"Gak boleh!" teriak Arisa dari dalam kamar mandi. Kali ini dia mau menikmati segarnya kucuran air membasahi tubuhnya tanpa ada gangguan. Karena itu, tak lupa dia memastikan sudah mengunci pintu sebelum dia melepaskan pakaiannya. Dia tidak mau lagi asyik-asyiknya mandi, tiba-tiba ada pengganggu yang masuk.

__ADS_1


Berusaha membuka pintu namun rupanya terkunci dari dalam, Andika yang mendengar bunyi air dari dalam, akhirnya memberikan kesempatan untuk Arisa untuk mandi duluan. Dia berjalan ke balkon dan duduk di kursi santai yang tersedia di luar sambil menikmati keindahan awan yang warna-warni mengiringi terbenamnya matahari. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.


Barulah setelah Arisa selesai mandi, Andika mendapatkan giliran kesempatannya untuk mandi. Cukup lama dia berada untuk membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Tadinya, dia berencana mengajak istrinya untuk makan malam di salah satu resto terkenal di kota ini, namun ketika dia berjalan keluar dari kamar mandi, ternyata Arisa sudah tertidur pulas di atas tempat tidur.


Pasti dia sangat kecapekan setelah bermain seharian di pantai tadi.


Melihat Arisa yang sudah terlelap begitu, Andika menjadi tidak tega untuk membangunkannya, sehingga dia membatalkan rencananya dan memilih untuk memesan makan malam melalui layanan kamar saja. Setelah pesanan makanannya datang, barulah dia membangunkan istrinya pelan-pelan.


"Sayang....bangun, sayang. Makan dulu!" ucap Andika pelan sambil mengelus lembut pipi Arisa.


"Akh.....aku tertidur ya, maaf!" ujar Arisa pelan-pelan membuka matanya yang masih mengantuk.


"Tidak apa-apa...ayo, makan dulu, baru tidur lagi!" ajak Andika sambil mengandeng tangan Arisa menuju balkon. Dia sengaja menyuruh pelayan tadi menyajikan makanan tadi di meja yang ada di balkon, supaya mereka bisa makan malam romantis memandangi awan indah bertaburan bintang malam itu, sebagai penganti makan malam di luar yang dibatalkan. Cukup romantis, meskipun mereka tidak jadi makan di luar. Mereka pun menikmati makanan mereka dengan lahap.


"Aku sudah kenyang." ujar Arisa setelah menghabiskan suapan terakhir pada piringnya, tetapi makanan yang tersedia di atas meja masih tersisa cukup banyak.


"Ayo, makan lagi, masih banyak lho sisanya nih!"


"Kamu sih, pesannya kebanyakan, jadinya mubazir kan?" Arisa merasa sayang dengan makanan yang masih belum termakan itu, tetapi perutnya memang sudah sangat kenyang saat ini. Tidak mungkin lagi dia bisa menghabiskan makanan tersebut.


"Habis...aku kan tidak mau kalau istriku kelihatan kurus. Ntar dikira aku sebagai suami, tidak mengurus istri dengan baik, gimana? Tuh lihat, sepertinya kamu kayaknya jadi lebih kurusan dari sebelum kita nikah nih." Arisa tersadar, memang rasanya badannya lebih kurus saat ini. Mungkin karena selama ini dia terlalu mengkuatirkan keadaan ibunya, sehingga membuat dia kurang nafsu makan sehingga berat badannya turun drastis.


"Hmmm....aku kurusan ya?"


"Iya....makanya makannya harus banyak dan teratur ya." ucap Andika sambil membelas kepala Arisa membuat Arisa semakin terharu dengan kepedulian Andika terhadapnya. Dia semakin jatuh cinta kepada Andika. Apakah egois jika dia berharap ingatan Andika tidak akan pulih selamanya, sehingga dia tetap bisa menjadi wanita yang dicintai oleh Andika.


******

__ADS_1


Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah membaca novelku ini. Jika berkenan, boleh dong tinggalkan jejak like, vote dan komentarnya, apalagi kalau dikasih vote, diriku akan sungguh berterima kasih. Love you all...


__ADS_2