Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Tumpukan Barang di Apartemen


__ADS_3

"Arisa!" panggilan Dina mengagetkan Arisa yang sudah hampir tertidur. Dengan agak malas, dia membuka matanya dan bangun.


"Ada apa Bu?" tanya Arisa yang melihat ibunya masih terbengong melihat barang-barang yang berkardus-kardus itu.


"Kalian mau pindahan?" tanya Dina.


"Tidak, Bu!"


"Terus, ini apa?"


"Ini belanjaan untuk si adek Bu."


"Hah, sebanyak ini? tidak salah kamu. Apalagi anakmu kan masih lama lahirnya, kenapa sudah belanja sebanyak ini. Jangan boros-boros tahu. Mentang-mentang sekarang sudah punya suami lumayan kaya, boros sekali kamu ini...Ibu..." Dina menyerocos tak henti-henti.


"Iya, Bu. Ini bukan belanjaanku.Aku juga tidak mau membeli barang sebanyak ini, apalagi semuanya dalam jumlah ganda begini." potong Arisa.


"Terus ini?"


"Tadi, aku diajak mama Anita dan Mama Della pergi ke pusat perbelanjaan. Jadilah, mereka saling berlomba sampai sebanyak ini." jawab Arisa menjelaskan sekilas.


"Hah, lomba belanja? Huh...mentang-mentang orang kaya ya..."


"Sudahlah, Bu. Daripada ibu mengomeli Arisa terus, mending bantuin pindahkan barang ini ke kamar kosong itu, yuk Bu!" ajak Arisa.


"Ini kan sudah sore, ibu mau masak dulu. Nanti, baru kita pindahin sama-sama saja."


"Aku bantuin ibu ya!"


"Sudah, kamu duduk nonton TV saja. Yang ada, bukannya bantuin, malah ngerepotin ibu aja. Kan, kamu anti cium bau bawang." ujar Dina.


"Hiks...hiks..iya sih. Gak apa-apa nih, Arisa gak bantuin. Biasanya ibu kan paling suka ngomel kalau Arisa gak bantuin dulu."


"Udah...udah...sana, ibu mau masak sekarang. Atau kamu pergi mandi sana, pergi seharian pasti bau tuh badanmu!" ujar Dina.


"He eh...iya..ya...kalau begitu aku mau mandi dulu akh!" ucap Arisa setelah mencium bau badannya sendiri.


*****


Arisa berendam di dalam bath tubnya, sambil bersantai dan menutup mata. Sungguh rileks rasanya, namun tiba-tiba dia dikagetkan dengan sentuhan tangan pada area punggungnya.


"Akh....!" teriak Arisa spontan.


" Sayang..ini aku, gak usah teriak-teriak gitu dong. Nanti, ibu kirain kenapa lagi, terus masuk!" ucap Andika.


" Habis, mas sih main masuk aja tanpa permisi. Kaget tahu...!"

__ADS_1


"Salah sendiri...siapa suruh tadi gak dikunci pintunya."


"Lupa....he...eh.." jawab Arisa.


"Aku gabung ya!" pinta Andika.


"Gak...ah..aku mau udahan." jawab Arisa.


"Ih, masa begitu, mandikan aku dong, sayang!" goda Andika.


"Emang Mas masih anak kecil, pakai dimandiin segala, nih lihat, udah bisa buat anak tuh." jawab Arisa asal sambil menunjuk ke arah perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.


"Biarin...aku kan juga mau dimanja." ujar Andika sambil menarik tangan Arisa dan merangkul tubuh istrinya hingga mereka berdua kembali berendam di dalam bath tub. Akhirnya, Arisa memilih pasrah saja, tidak berusaha bangun, karena dia tahu usahanya pasti sia-sia.


Cukup lama mereka berendam di dalam bath tub sambil bermesraan hingga terdengar sura Dina memanggil dari luar kamar.


"Makanan udah siap. Ayo, makan malam, Arisa, Andika!"


Mendengar panggilan suara ibunya, Arisa spontan langsung beranjak keluar dari bath tub, begitu juga dengan Andika. Mereka segera mengeringkan tubuh mereka dan berpakaian agar tidak membuat Dina menunggu lama di luar.


"Sayang, itu barang-barang di luar?" tanya Andika.


"Nanti saja ya Mas. Setelah kita makan malam, nanti aku jelaskan. Ayo, kita keluar sekarang. Ibu sudah tunggu lama lho!" jawab Arisa.


"Tumben, ini kan sup kesukaanmu, Arisa?" tanya Dina saat Arisa sudah keluar dari toilet. Sementara itu, Andika mencoba mengoleskan minyak kayu putih di sekitar tengkuk Arisa agar merasa lebih nyaman


"Ibu sih, masukin bawang gorengnya kebanyakan dalam sup itu. Arisa kan lagi anti dengan bau bawang."


"Ups....ibu lupa...he...he..." ucap Dina.


"Udah, Mas. Aku gak apa-apa, udah baikan kok!"


Mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka yang sempat tertunda. Selesai makan malam, Arisa membantu ibunya mencuci piring, sementara itu Andika mencoba melihat-lihat barang-barang yang ada di dalam kardus tersebut, yang hampir mencuri sebagian besar ruang kosong dalam apartemennya itu.


"Sayang, untuk apa semua barang ini?" tanya Andika saat melihat Arisa sedang berjalan menghampirinya.


" Ya, untuk anak kita dong nantinya, memangnya untuk apa lagi coba?" jawab Arisa.


"Iya, aku tahu ini semua barang-barang keperluan bayi. Tetapi apakah perlu sampai sebanyak ini."


"He..eh...rasanya sih tidak perlu...tetapi apa boleh buat Mas. Ini mama Della dan Mama Anita yang bersikeras membelikan semua ink. Tahu gak Mas, mereka tadi sampai berlomba belanja lho membelikan semua keperluan si Adek. Aku sudah menolak, tetapi mereka tetap saja membeli semua barang-barang ini."


"Astaga, mama!" ucap Andika sambil menepuk jidatnya.


Kalau seperti ini sih, apartemen kita bakalan sempit nih. Ya sudah, untuk sementara kita masukkan ke kamar kosong itu ya!" ucap Andika.

__ADS_1


"Iya, rencananya tadi juga maunya begitu. Ayo...!" ucap Arisa sudah bersiap-siap mengangkat.


"Tunggu dulu, kamu mau apa sayang?" tanya Andika.


"Yah, mau pindahkan barang-barang ini Mas!"


"Oh...tidak...aku tidak akan mengizinkan kamu mengangkat-angkat kotak berat ini. Sudah kamu duduk nonton TV sana, biar aku yang memindahkan semua ini!"


"Benaran nih, gak mau dibantu Mas?" goda Arisa.


"Iya, sayang....aku bisa memindahkan semuanya sendiri kok. Tenang saja, semua pasti beres, ratuku!" ucap Andika sambil mencium kening Arisa.


" Ya sudah, kalau begitu, aku mau melanjutkan menonton sinetron favoritku!" ucap Arisa lalu mengecup pipi suaminya, kemudian berlari kecil ke arah kulkas untuk mengambil beberapa makanan kecil yang akan menjadi teman pendampingnya menonton malam ini.


Dina yang baru selesai mandi dan keluar dari kamarnya, bermaksud membantu Andika yang sudah terlihat sibuk memindahkan kotak-kotak kardus tersebut. Namun, Andika pun tidak mengizinkannya, sehingga diapun memilih bergabung menonton bersama Arisa.


"Semangat Mas!" teriak Arisa sambil menoleh ke arah Andika yang sedang mengangkat sebuah kardus berukuran sedang.


Hampir sejam, barulah Andika selesai memindahkan semua barang-barang tersebut, sehingga kini ruang tamu mereka bisa kembali seperti semula, tidak sesak lagi. Andika memilih segera masuk kamar untuk membersihkan diri karena keringat sekujur tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Kemudian, Andika berbaring di ranjang empuknya, untuk mengistirahatkan badannya, setelah seharian bekerja dan ditambah lagi harus memindahkan kotak-kotak tersebut tadi.


Tak lama kemudian, Arisa pun menyusul masuk kamar, karena film tontonannya sudah berakhir.


"Capek, Mas?" tanya Arisa.


"Capek dong, sayang."


"Salah sendiri, tadi mau dibantuin, tidak mau terima bantuan." ujar Arisa yang kini sudah ikut berbaring di samping Andika.


"Suami mana yang tega sih sayang, membiarkan istri cantiknya yang sedang begini, untuk mengangkat barang-barang berat itu. Aku tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu dan janin yang ada dalam kandunganmu sayang!" ucap Andika sambil menyibakkan rambut Arisa yang menutupi sebagian wajah istrinya. Dielusnya pelan kepala istrinya itu.


"Kalau begitu, aku pijitin ya, Mas!"


"Nah, gitu dong. Kalau yang ini boleh, apalagi kalau ada ada plus-plusnya pijitannya" ucap Andika


"Akh, Mas.." ujar Arisa sambil memberikan cubitan kecil di samping perut Andika.


"Auh...sakit, sayang!"


"Siapa suruh genit...huh..."


*******


Update lagi hari ini. Jangan lupa, tinggalkan jejak ya teman-teman.


Happy reading..

__ADS_1


__ADS_2