
Setelah setengah jam kemudian, barulah Dina masuk ke dalam rumah setelah selesai sesi ngerumpi dengan Jeng Asih. Dengan senyum sumringah, Dina mendekati Arisa yang tengah berbaring di atas ranjangnya. Tentu saja, dia sedang senang dan puas karena bisa membanggga-banggakan menantu laki-lakinya di depan tetangganya itu.
"Ibu habis ngobrolin apa sih dengan Tante Asih di depan tadi?" tanya Arisa penuh curiga, karena dia melihat keduanya yang seolah sedang menertawakannya saat Arisa baru saja tiba tadi.
"Akh, gak ada apa-apa kok, hanya obrolan santai sesama emak-emak. Kamu mau tahu aja." jawab ibunya santai.
" Daripada kamu bermalas-malasan begini, mending sekarang kamu anterin ibu ke pasar dan ke mall. Ibu mau belanja." lanjut Dina. Meskipun dia tidak bekerja, tetapi dana pensiunan almarhum suaminya yang bekerja sebagai PNS dulu, cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Bahkan, cukup membantu membiayai kuliah Arisa dulu. Tentu saja, ditambah dengan pekerjaan sampingannya menjual ketoprak di depan rumahnya dulu, saat Arisa masih kuliah. Perjuangannya tidak sia-sia, kini Arisa sudah menyelesaikan kuliahnya bahkan sudah bersuamikan orang cukup mapan meski karena sesuatu hal. Dirinya cukup bisa berlega hati saat ini.
Meski rasa malas untuk beranjak dari tempat tidurnya, Arisa memaksakan dirinya untuk bangun dan menuju garasi kecil samping rumahnya itu untuk mengecek motor kesayangannya si Jablay, yang sudah cukup lama tidak dipakainya. Dia tidak mau nanti terjadi sesuatu lagi dengan ibunya, dia trauma saat ibunya mengalami kecelakaan dulu. Setelah membersihkannya sekilas, barulah Arisa mendorong motornya ke luar dan menyalakan mesinnya, sementara menunggu ibunya yang tengah bersiap-siap.
Tidak lama kemudian, keluarlah Dina dengan gayanya yang cukup mengagetkan Arisa
"Ya ampun, astaga ibu, kita ini mau ke pasar, bukannya mau ke kondangan, Bu." protes Arisa melihat dandanan ibunya yang cukup menor seperti orang mau ke pesta. Belum lagi, sepatu hak tinggi yang dipakai dengan warna senada dengan gaun selutut ibunya tersebut, benar-benar seperti orang yang mau ke pesta.
"Kita ini mau pergi ke pasar kan, Bu?" tanya Arisa untuk meyakinkan dirinya sendiri, kali aja tadi dia yang salah dengar.
"Sudah, jangan banyak protes. Ayo, kita berangkat!" Dengan sigap, Dina sudah duduk di atas motor, di belakang Arisa. Mau tidak mau, Arisa menjalankan motornya itu, menembus jalanan ramai dan menuju ke mall terdekat di kawasan pemukiman tersebut.
Sesampainya di mall dan memarkirkan motornya di tempat parkir, Arisa berjalan mengikuti ibunya yang sudah berjalan duluan lebih cepat beberapa langkah di depannya. Dia melihat beberapa orang menatap aneh ke arah ibunya, tetapi mungkin itu hanya perasaan dirinya saja. Sedangkan Dina, santai saja tidak merasa ada yang aneh. Mereka kemudian berjalan menuju area toko-toko pakaian. Dina semakin bersemangat ketika mendekati area tumpukan pakaian yang terpasang tulisan sale dan diskon besar-besaran, dia kegirangan seperti musafir yang menemukan air di padang gurun. Dia langsung ikut menyerbu bersama ibu-ibu yang lain yang sudah memilih-milih duluan. Sementara Arisa, memilih menjauh dari kerumunan ibu-ibu itu dan mencari sudut yang tersedia kursi sehingga dia bisa duduk menunggu di situ.
__ADS_1
Cukup lama Arisa duduk termenung di situ, menunggu ibunya yang tak kunjung selesai memilah-milah baju yang mau dibelinya. Dari kejauhan, dia melihat bahkan beberapa ibu sampai bersitegang merebut baju yang sisa satu-satunya, termasuk Dina juga terlihat sedang tarik-tarikan baju dengan salah satu ibu.
"Ya, ampun ibu!" Dengan cepat, Arisa beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju ke arah ibunya. Namun, sebelum dia sampai, sesi tarik-tarikan baju itu sudah berakhir dan sepertinya perebutan itu dimenangkan oleh ibunya, terlihat dari senyum penuh kemenangan yang ditunjukkan oleh ibunya tersebut dan baju yang kini sudah ada dalam genggamannya itu.
"Ibu nih, malui-maluin aja, kan masih banyak baju-baju lain, kenapa coba harus pakai acara berebutan segala." protes Arisa sambil berjalan mendekati dan berdiri di belakang Dina, namun tidak digubris ibunya yang kini mulai sibuk lagi memilah baju-baju lain yang ingin dibelinya. Tiba-tiba, Dina berteriak girang seolah-olah menemukan sesuatu yang berharga di antara tumpukan baju-baju tersebut
"Nah, itu cocok buat kamu. Ibu belikan ya!" ujar Dina sambil menunjukkan sebuah lingerie tipis tembus pandang. Kebetulan sekali, bisa terselip satu di antara tumpukan baju tersebut, dan lagi diskon pula.
"Ibu!"
"Sudah, jangan protes. Ibu yang beli, kamu yang pakai. Beres urusan tokh!" Belum sempat Arisa mau protes, sudah diskak oleh ibunya yang sudah memberikan tatapan penuh ancaman terhadap dirinya. Seperti biasa, Arisa selalu tak berdaya untuk menolak permintaan ibunya dari dulu, kalau wanita itu sudah menghendaki sesuatu.
Setelah itu, barulah mereka singgah sebentar di foodcourt untuk menikmati minuman dingin dan makanan ringan saja. Arisa merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan ibunya setelah sekian lama sejak ibunya mengalami kecelakaan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dina mengajak Arisa untuk pulang, namun sebelumnya mereka akan singgah ke pasar sebentar.
Sesampainya di gerbang masuk pasar, Arisa hendak memarkirkan motornya dan ikut menemani ibunya menuju area yang ingin dituju, namun ditolak oleh Dina.
"Sudah, kamu tunggu di sini saja. Ibu hanya sebentar saja kok!" ujar Dina sambil melepaskan helm dari kepalanya.
"Benaran nih, tidak mau Risa temani, Bu?"
__ADS_1
"Iya, ibu bisa sendiri kok. Sebentar aja, kamu tunggu di sini ya...." jawab Dina sembari berjalan meninggalkan Arisa.
"Ya sudahlah, kalau begitu!"
Setengah jam kemudian, ibunya masih belum nongol-nongol juga, membuat Arisa mulai kuatir.
"Ke mana sih ibu nih, katanya sebentar aja tadi." ucap Arisa sambil melihat kiri kanan namun ibunya masih belum kelihatan.
"Apa ibu tersesat di dalam pasar? Akh, tetapi gak mungkinlah, ibu kan dah sering belanja di pasar ini. Lagipula, ibu kan tidak hilang ingatan seperti Andika." ucap Arisa pelan berkata pada dirinya sendiri.
Baru saja dia beranjak dari motor dan ingin berjalan menyusul ke dalam, tiba-tiba saja Dina sudah muncul dan berdiri di belakang Arisa sambil menepuk pundak Arisa.
"Ibu nih, kagetin orang saja. Katanya sebentar tadi, kok lama... Jangan bilang, ibu tersesat dalam pasar, gak ketemu jalan keluar. Hayo, ngaku!" ujar Arisa.
"Enak saja, ibu masih hafal betul seluk beluk pasar ini tahu, biarpun udah lama ibu gak ke sini. Hanya saja tadi barang yang dicari, tempatnya agak tersembunyi di sudut sana, seperti yang dibilang Jeng Asih. Jadi, ibu kesulitan menemukannya tadi. Sampai putar beberapa kali." jawab Dina.
"Memang apa sih yang mau dibeli ibu?" tanya Arisa sambil menatap penuh selidik, karena melihat tangan ibunya kosong. Dia mengira tadi ibunya mau membeli sayur dan lauk untuk persediaan di rumah. Ibunya lebih suka membeli di pasar daripada di mall, maklum lebih murah.
"Sudah jangan banyak tanya, udah sore nih. Ayo, kita pulang!" ajak Dina. Dan Arisa pun mengendarai motornya menuju jalan pulang ke rumah, meski dia sedikit penasaran, sepertinya ada yang dirahasiakan oleh ibunya itu. Dia harus mencari tahu, sesampai di rumah nanti, pikirnya.
__ADS_1