
Saat Andika selesai mandi dan sudah berpakaian rapi, dia segera menyusul istrinya yang sudah keluar kamar duluan. Arisa pasti sedang menyiapkan sarapan dan Andika bermaksud ingin memeluk istrinya dari belakang. Tetapi saat dia keluar, dia melihat ibu mertuanya juga sedang membantu Arisa menyiapkan sarapan. Hampir saja dia lupa, kalau untuk sementara ini, ibu mertuanya tersebut tinggal di apartemen agar bisa membantunya merawat Arisa di masa awal kehamilannya ini.
Batal rencananya untuk merayu istrinya agar tidak bersikap dingin lagi terhadapnya.
"Selamat pagi, Bu!" sapa Andika kepada Dina.
"Eh, sudah siap juga kamu, Andika. Ayo, kita sarapan bersama!" ajak Dina.
"Tumben, kalian berdua sudah siap sepagi ini, bukankah, jam kerja kantor kalian jam 8, ini belum jam 7." ucap Dina berbasa-basi untuk memecah keheningan dalam kegiatan sarapan mereka pagi ini, karena dilihatnya kedua-duanya tidak saling bicara Sebenarnya masalah apa lagi yang terjadi di antara mereka, Dina penasaran namun dia enggan untuk menanyakannya.
"Aku sudah selesai. Aku pergi dulu, Bu!" ucap Arisa tanpa menanggapi pertanyaan ibunya barusan.
"Aku antar ya!" ujar Andika.
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi!" jawab Arisa.
"Tidak, kamu sedang hamil, sayang. Aku kuatir kamu kenapa - napa di jalan, gimana? Aku antar ya!" ucap Andika tetap mencoba meyakinkan.
"Benar apa kata Andika, Risa. Sebaiknya, kamu diantar sama suamimu. Ibu juga kuatir dengan kondisimu. Kalau diantar Andika, baru ibu bisa merasa lebih tenang." ucap Dina dengan nada sedikit memaksa.
Meski berat hati, akhirnya Arisa mengangguk karena dia tidak mau mendengar ceramah ibunya yang akan berlanjut panjang lebar jika dia membantah perkataan ibunya itu.
*****
Keduanya sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju tempat kerjanya Arisa, perusahan Alex. Masih dalam suasana keheningan, Andika mencoba mencari bahan obrolan.
"Sayang, nanti malam kita makan malam di luar ya!" ajar Andika.
"Malas!" ketus Arisa.
"Jangan gitu dong, kita kan sudah lama tidak makan malam bersama berdua. Ayolah!" bujuk Andika lagi. Arisa hanya diam tidak menolak juga tidak mengiyakan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan. Arisa langsung turun dari mobil, tanpa memberi kecupan di pipi Andika seperti yang biasa dilakukannya.
__ADS_1
"Nanti, aku jemput ya! Kabari aku, kalau sudah pulang ya!" ucap Andika dengan suara agak keras supaya terdengar oleh Arisa yang sudah berjalan masuk ke dalam tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Keadaan seperti ini sangat tidak nyaman bagi Andika. Dia harus mencari cara untuk bisa membujuk Arisa agar tidak marah lagi kepadanya, apalagi marah-marah tidak jelas dengan alasan aneh seperti tadi malam. Ditambah lagi, saat ini Arisa sedang hamil. Kondisi seperti ini, pasti tidak baik untuk perkembangan janin di dalam perutnya itu. Kira-kira begitulah informasi yang didapatkan oleh Andika dari kursus kilatnya dengan Mbah Google.
*****
Kabar tentang pengunduran diri Arisa memang belum diketahui oleh para karyawan lain di perusahaan Alex, jadi Arisa masih bisa bersikap seperti biasanya. Arisa sempat berpapasan dengan Reni dan Dinda di lobbi, mereka pun belum tahu kalau Arisa akan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Arisa sudah standby di meja kerjanya, saat Alex baru sampai. Saat melihat wanita pujaannya ada di meja kerjanya, Alex merasa senang sekali, karena dia sangat merindukan Arisa yang sudah tidak masuk beberapa hari.
"Kamu sudah sehat?" tanya saat melewati meja kerja Arisa.
"Sudah Pak!" jawab Arisa singkat.
Arisa mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih belum tuntas, sebelum dia menghadap Alex hari ini, untuk memastikan perihal pengunduran dirinya tersebut.
Arisa berjalan menuju ke pantri untuk menyiapkan minuman bagi atasannya tersebut, sebelum dia masuk ke dalam ruangan Alex. Namun, saat dia berjalan keluar dari pantri dan hendak berjalan menuju ruangan Alex, dirinya malah bertemu dengan Farah, yang sepertinya juga datang untuk menemui Alex.
"Hai, Arisa apa kabarmu? Aku dengar dari Alex, kami tidak masuk kerja beberapa hari ini karena sempat sakit? Apakah sudah sehat sekarang?" tanya Farah membuat Arisa terheran-heran, kenapa tiba-tiba Farah menjadi begitu peduli kepadanya, padahal biasanya wanita itu selalu bersikap ketus kepadanya.
"Aku baik-baik saja!" jawab Arisa singkat
"Kalau begitu, aku masuk dulu ya. Alex ada di dalam kan ya?" Arisa hanya mengangguk. Rencana untuk menghadap Alex harus tertunda sesaat, karena kedatangan Farah.
Dia kemudian melanjutkan pekerjaan, berkutat dengan laporan jadwal meeting Alex seminggu ke depan yang harus disusunnya. Dia berharap Farah cepat keluar dari ruangan Alex sehingga dia bisa menghadap Alex.
Cukup lama, Arisa menunggu, bahkan hampir jam makan siang, Farah tidak keluar dari ruangan Alex. Sebenarnya apa sih yang dilakukan mereka di dalam, sampai-sampai Farah betah sekali di dalam. Akh, sudahlah, itu bukan urusannya, pikir Arisa.
Waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang, barulah Farah keluar dari ruangan Alex. Kali ini, tampak ada yang lain, tidak seperti biasanya. Kalau biasanya, setiap kali Farah keluar dari ruangan Alex, pastinya mukanya cemberut dan terlihat seperti orang marah. Tetapi kali ini, senyum sumringah benar-benar terpancar di wajah Farah. Syukurlah, kalau hubungan mereka semakin membaik, pikir Arisa.
Arisa senang kalau akhirnya Alex dapat melupakan dirinya dan mulai membuka dirinya untuk Farah.
Baru saja, Arisa berniat untuk masuk ke dalam menghadap atasannya itu, Alex malah keluar dari ruangan dan langsung menggandeng tangannya dan berjalan menuju lift. Syukur tidak ada yang melihat hal itu, termasuk Farah yang sudah pergi duluan. Arisa segera berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alex.
__ADS_1
"Ayo, kita makan siang!" ajak Alex.
"Pak, saya sudah janjian dengan makan siang dengan teman-teman saya." ucap Risa beralasan untuk menolak.
"Sebenarnya, hari ini saya mau menghadap Pak Alex untuk memastikan permohonan pengunduran diri saya benar-benar diterima dan menyelesaikan pekerjaan terakhir saya hari ini." lanjut Arisa.
"Jadi, kamu tetap bersikeras mengundurkan diri? Baiklah kalau begitu, aku tidak memaksamu. Apalagi, kamu sedang hamil sekarang. Kalau begitu, terima ajakan makan siangku kali ini. Anggap saja ini makan siang perpisahan kita, sebagai teman" ucap Alex.
Arisa terlihat berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang! Ibu hamil tidak boleh terlambat makan lho!" ajak Andika.
Sesampai di sebuah resto, Alex segera memesan ruangan privasi untuk makan siang dengan Arisa.
Tidak banyak hal yang dibicarakan mereka sepanjang sesi mana siang mereka. Alex hanya bertanya hal-hal receh mengenai kondisi kesehatan Arisa di masa awal kehamilannya ini.
Arisa kemudian memberanikan diri untuk menanyakan hubungan Alex dengna Farah.
"Hubungan kami baik. Mungkin dalam waktu dekat, kami akan menikah." jawab Alex namun tidak terlihat bersemangat.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Semoga kalian bisa berbahagia selamanya." ucap Arisa tulus.
"Mungkin memang ini saatnya aku harus belajar melupakanmu, karena kamu memang sudah menjadi milik orang lain. Sayang sekali aku lebih lambat bertemu denganmu daripada Andika. Kalau saja..."
"Sudahlah, Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang tepat buat setiap orang." sanggah Arisa sebelum Alex sempat meneruskan ucapannya.
"Iya, doakan ya, supaya hubunganku dengan Farah bisa selalu bahagia, saling mencintai seperti kalian berdua." ucap Alex.
"Iya, tentu saja. Yang penting, kamu mau belajar membuka hati untuk membalas cintanya Farah." ujar Arisa. Kali ini obrolan mereka benar-benar sebagai teman, bukan antara bawahan dan atasan. Arisa ikut merasa senang mendengar Alex yang kini mau berusaha belajar mencintai Farah.
******
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman...
__ADS_1