Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Tidak Mengakui


__ADS_3

Malam cukup larut, ketika Andika sampai di apartemennya. Dengan pelan, dibuka pintu apartmennya, keadaan di sekeliling gelap, namun matanya langsung tertuju pada televisi di ruang santai yang masih menyala. Dia berjalan mendekati, benar dugaannya istrinya tertidur di situ.


Apakah dia menungguku sampai ketiduran? Bukankah tadi sudah kuberitahukan kepadanya bahwa aku akan pulang terlambat. Hmm....


Kemudian dia mengangkat tubuh Arisa dan membawanya ke kamar, diletakkannya dengan pelan-pelan supaya tidak membangunkan Arisa. Padahal sebenarnya dia juga tahu, Arisa kalau sudah tidur, tidak begitu peka dengan keadaan sekelilingnya hingga membuatnya terbangun. Dikecupnya kening istrinya, ingin sekali dia ikut terlelap di samping Arisa. Namun akhirnya dia memilih membawa bantalnya dan tidur di sofa, karena dia tahu bagaimana gaya tidur perempuan itu.


Keesokan harinya, ketika keduanya bangun hampir bersamaan. Arisa terlihat terkejut karena seingatnya tadi malam dia tidur di sofa di ruang santai.


"Selamat pagi, sayang...kamu sudah bangun?" sapa Andika basa-basi. Ya tentu saja dia bisa melihat sendiri bahwa istrinya itu sudah bangun.


"Bukankah tadi malam aku tidur di luar ya?" tanya Arisa bingung


"Gak tahu....mungkin kamu berjalan dalam tidur kali...." ujar Andika sambil mengangkat bahunya berpura-pura tidak tahu.


"Saat aku pulang, kamu memang sudah tidur di kamar kok." lanjutnya.


"Akh, gak kok. Aku ingat betul semalam aku nonton di luar sambil tunggu....." bantah Arisa.


"tunggu aku ya? hahaha, rupanya ada yang kangen nih sampai ditungguin,bukankah kemarin sudah kukabarkan bahwa aku akan pulang telat. Kok malah ditungguin, sampai tertidur di luar."


"Lho....tadi bilangnya, aku tidur di dalam. Hmm...mana yang benar sih?" tanya Arisa curiga.


"Wah keceplosan ya hehehe, iya...iya semalam kamu memang tertidur di luar, aku yang mengangkatmu ke dalam kamar. Kamunya aja yang tidurnya kayak beruang hibernasi, sampai gak ngerasa apa-apa dan gak terbangun sama sekali."


"Hayo, ngaku....semalam kangen ya sama suamimu, sampai ditungguin begitu." goda Andika.


"Huh, siapa bilang.....Aku tuh tadi malam milih nonton di luar, karena tv dalam kamar nih rusak, gak muncul gambar apa-apa." bantah Arisa dengan mencari-cari alasan.

__ADS_1


"Akh yang benar, buktinya......" Andika meraih remote tv dan memencet tombol on nya, seketika itu TV nyala dengan tampilan gambar normal, tidak ada masalah apa-apa.


"Wah, ketahuan nih bohongnya....memang ya, istriku ini tidak pandai bohong." goda Andika sambil mencolek dagu Arisa sehingga membuat Arisa jadi malu sendiri. Semalam memang dia sudah tahu kalau Andika akan pulang agak malam karena ada urusan, tetapi dia tidak menyangka akan selarut itu, hingga dia memilih menunggu sambil menonton tv di ruang santai luar.


"Sudah akh, aku gak mau berdebat lagi. Aku mau mandi." ketus Arisa merasa sudah kalah.


"Aku ikut........"


"Gak mau!" dengan cepat Arisa berlari menuju kamar mandi dan segera mengunci pintunya karena takut disusul oleh Andika.


Hmm, kenapa sampai sekarang dia masih malu aja, bukankah kami ini suami istri, memang apa lagi yang perlu dimalukan.


Andika kemudian memilih menonton acara infotainment di TV sembari menunggu istrinya selesai mandi. Tiba-tiba dia terkaget, ketika sebuah nama yang tidak asing disebutkan dalam acara tv tersebut. Ya, siapa lagi, kalau bukan Larasti Andini, seorang model cantik dan penyanyi berbakat yang telah pulang ke tanah air, setelah beberapa tahun memilih menetap di luar negeri. Kebetulan acara infotainment itu sedang mengupas tentang kehidupan gadis itu dan alasannya kembali ke tanah air padahal karirnya di luar sana juga cukup menjanjikan.


Sebuah pengakuan jujur terucap dari Rasti, bahwa dia pulang karena ingin lebih dekat dengan laki-laki yang dicintainya. Meski tidak menyebutkan nama, namun entah kenapa Andika merasa bahwa laki-laki yang dimaksud oleh Rasti itu adalah dia. Dia merasa tidak enak hati karena telah mengecewakan gadis, meskipun dia sama sekali tidak bisa mengingat seberapa dekatnya hubungan mereka dulu.


"Wah, Larasti sudah balik ke tanah air rupanya ya..." ujar Arisa.


"Kamu kenal dengan dia?" tanya Andika keheranan.


"Kenal donk...siapa coba yang tidak kenal dengan dia, udah cantik, model dan penyanyi berbakat begitu, suaranya bagus sekali. Pokoknya aku ngefans deh sama dia." jawab Arisa.


"Masa sih, kok aku gak kenal ya?"


"Yeah....kamunya jarang nonton tv sih." ketus Arisa asal.


"Lagipula, gak penting kok aku kenal dia atau gak, kan yang penting kenal kamu, udah cukup buat aku." goda Andika.

__ADS_1


"Hiks, gombal.....udah sana pergi mandi." ujar Arisa pura-pura cuek, padahal sebenarnya dia senang juga digombalin sama Andika.


"Iya...iya....nyonya bawel."


"Mank....aku dah tua, dipanggil nyonya, gak terima aku." ketus Arisa.


"Terus maunya dipanggil apa? panggil sayangku, cintaku, honey baney ku ujung-ujungnya jadi barneyku aja ya....kayak yang di film kartun" balas Andika sambil berlari menuju kamar mandi sebelum kena lemparan handuk dari Arisa.


Setelah merapikan rambutnya, Arisa bergegas keluar untuk menyiapkan sarapan buat Andika sebelum berangkat kerja. Hari ini rencananya, setelah mengunjungi ibunya di rumah sakit, dia akan keluar makan siang dengan Johan, menepati janjinya dua hari yang lalu, ketika Johan datang membesuk ibunya di rumah sakit. Sudah lama, dia tidak bersenda gurau dengan Johan, dia merindukan saat-saat seperti itu, jadi akhirnya dia menerima tawaran Johan.


"Sarapan sudah siap, makan dulu sebelum ke kantor." sapa Arisa ketika melihat Andika sudah berjalan menuju ke arahnya.


"Masak apa hari ini? sepertinya enak tercium dari baunya."


"Nasi goreng aja kok, sederhana aja, gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa, selama kamu yang masak, apa pun itu enak buat aku kok" gombal Andika lagi, tetapi memang selama ini masakan Arisa selalu cocok di lidahnya. Meski tomboi begitu, rupanya Arisa cukup telaten dalam memasak. Semua ini adalah hasil dari omelan ibunya bertahun-tahun.


"Hari ini apa saja rencana kegiatanmu?" tanya Andika tiba-tiba, sambil menikmati nasi gorengnya.


"Seperti biasa, hanya nungguin ibu di rumah sakit saja." jawab Arisa spontan, dia ragu apakah dia harus memberitahukan kepada Andika soal rencananya makan siang dengan Johan. Dia takut Andika tidak akan mengizinkannya, akhirnya dia memilih untuk merahasiakannya saja .


"Aku selesai, aku berangkat dulu ya...atau kamu mau sekalian sama-sama, biar aku antar?"


"Tidak usah, aku bisa sendiri naik taksi online kok. Lagipula arah kantor dengan rumah sakit kan berlawanan." tolak Arisa tidak mau merepotkan laki-laki di depannya itu.


"Kamu berangkat aja dulu, masih ada yang mau kubereskan dulu, setelah itu baru aku ke rumah sakit." Andika mengangguk, kemudian dia mencium kening Arisa, lalu segera berjalan ke luar menuju parkiran mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2