Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Jalan-jalan sendirian


__ADS_3

Rasti yang mengetahui bahwa Michella memiliki hubungan kerja dengan Andika, berpikir mungkin bisa memanfaatkan gadis itu untuk mendekati Andika. Oleh karena itu, malam ini dia mengajak Michella makan malam bersama. Tentu saja, ajakan itu langsung diterima oleh Michella. Kapan lagi, coba bisa diajak hang out bareng oleh selebritis, Michella akan memamerkan momen itu kepada semua teman-temannya nanti.


"Kita makan di resto itu ya, menurut rekomendasi teman-temanku, makanannya enak-enak lho." ucap Rasti sambil menunjuk papan nama sebuah resto di depan dari kejauhan saat mereka masih di dalam taksi online. Sesaat kemudian, sampailah mereka di resto yang dimaksud.


Mereka masuk dan memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing. Barulah setelah itu, Rasti mulai membuka obrolan.


"Kalau tidak salah, pimpinan perusahaan yang menjadi mitra kamu itu Andika Raharsyah kan ya?" tanya Rasti.


"Iya, Andika Raharsyah yang sangat tampan itu....kamu kenal juga?"


"Iya dong, dia kan teman satu sekolahku dulu saat SMA."


"Oh, ya....berarti kamu kenal baik dong dengan Andika, ceritakan dong tentang dia." tiba-tiba Michella yang jadi bersemangat ingin tahu tentang Andika.


"Iya kami berteman sangat baik. Dia memang dari dulu sudah tampan makanya digandrungi banyak cewek." ucap Rasti tidak ingin mengungkapkan bahwa dia dan Andika pernah berpacaran dulu.


"Oh itu, tidak heran. Sekarang pun dia sangat tampan, ditambah lagi dia kaya dan berkharisma begitu, siapa yang tidak tertarik coba, aku pun menyukainya. Andai saja dia bisa menjadi kekasihku." ucap Michella santai membayangkan Andika menjadi kekasihnya namun dia tidak menyadari bahwa Rasti sempat kaget mendengar ucapannya tersebut.


Apa? Michella juga menyukai Andika? Ini sih namanya saingan, tidak bisa dijadikan sekutu kalau begini mah.


"Oh ya, kamu kan teman baik Andika waktu SMA dulu, gimana kalau kamu memberi kejutan buat dengan tampil di acara peresmian perusahaan cabang besok. Pasti Andika akan sangat senang." ujar Michella tiba-tiba. Rasti mengernyitkan dahinya terlihat sedang berpikir.


"Ntar gampang deh, aku bisa aturkan, kebetulan aku kenal baik dengan EO yang menghandle acara besok, kamu mau ya?" lanjut Michella.


"Oke...aku mau, kebetulan aku juga santai selama di sini, tidak ada jadwal show." jawab Rasti setelah berpikir sesaat, mungkin ini bisa menjadi jalan untuk dia mendekati Andika.

__ADS_1


"Sip deh, kalau begitu, besok aku kabari kamu lagi ya."


Sesaat kemudian, pesanan makanan mereka pun datang dan mereka menikmati makanannya masing-masing. Benar-benar enak sesuai dengan rekomendasi teman-teman Rasti. Setelah selesai makan, tak lupa Michella mengajak Rasti mengabadikan foto momen mereka, karena dia mau memamerkan kepada teman-temannya.


*****


Keesokan harinya, ketika Andika terbangun lebih awal, dia sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, barulah Arisa terbangun. Sambil mengucek matanya, Arisa melihat Andika yang sudah berpenampilan rapi, dia tahu bahwa hari ini suaminya akan berangkat ke kantor cabang untuk melakukan pemantauan.


"Apakah kamu mau ikut aku ke kantor, sayang?" tanya Andika sambil memasangkan dasinya dan memandang Arisa dari pantulan cermin. Arisa menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku mau jalan-jalan saja."


"Kamu yakin, bisa jalan sendiri?" tanya Andika merasa sedikit kuatir jika Arisa jalan-jalan sendirian di kota ini.


"Iya deh, tetapi kamu harus berhati-hati ya, dan kabari aku kamu ada di mana nanti. Dan ingat, sayang harus sudah balik sebelum jam 5 sore ya untuk bersiap-siap menghadiri acara peresmian nanti malam. Aku telah menyuruh perias datang untuk mendandanimu nanti." ucap Andika memberi izin meski sedikit berat hati.


"Iya, tenang saja. Aku bisa jaga diri. Aku akan bukan anak kecil lagi dan sebelum jam 5 aku pasti sudah kembali ke hotel"


"Iya..iya...aku percaya kok sama kamu." ucap Andika lalu berjalan mendekati Arisa dan mencium keningnya.


"Aku berangkat dulu ya. Kamu mandi gih, habis itu sarapan di resto hotel ya. Ingat, makan yang banyak, biar gak makin kurus."


"Siap bos!" sahut Arisa sambil memposisikan tangannya seperti sedang memberi hormat.


"Ingat, kabari aku!" ucap Andika menoleh ke belakang sesaat sebelum membuka pintu kamar dan keluar.

__ADS_1


"Iya...Iya...Tuan bawel. Udah berangkat sana, nanti terlambat lho." balas Arisa.


Setelah Andika keluar dari kamar, Arisa segera beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Hari ini dia benar-benar bersemangat, rencananya setelah sarapan dia akan pergi ke beberapa spot wisata terkenal di bali yang sudah dia cari infonya di mbah google. Apalagi, di Bali memiliki banyak pantai terkenal, benar-benar memuaskan batinnya yang sangat merindukan pantai selama ini.


Dan di sinilah Arisa berada saat ini, di Pantai Kuta, salah satu pantai terkenal di Bali. Meskipun kemarin dia sudah bermain sepanjang sore di pantai dekat penginapannya, tetapi rasanya masih belum puas. Dia berjalan menelusuri pantai dan melihat ada begitu banyak turis asing yang sedang berjemur. Ingin rasanya Arisa juga ikut-ikutan berjemur seperti mereka supaya memiliki kulit eksostis juga, tetapi Arisa tidak mempunyai nyali untuk memakai bikini seperti mereka. Gak lucu kan kalau berjemurnya dengan pakaian lengkap begini.


Karena cuaca cukup panas saat itu, akhirnya Arisa memilih untuk bersantai di sebuah pondok sambil menikmati es kelapa yang dipesannya. Namun, masa santainya itu tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang wanita sombong ini yang sangat malas dia temui. Siapa lagi kalau buka Michella yang tiba-tiba mendekatinya dan sudah duduk di hadapannya. Apakah dunia ini terlalu sempit, sehingga ke mana saja Arisa pergi, selalu bertemu dengan wanita sombong ini.


"Hei, bisa juga kamu liburan sampai di Bali ya?" sindir Michella seperti biasa.


"Aku kira orang miskin seperti kamu ini, paling jauh juga mainnya di Ancol aja hahaha...." lanjutnya


"Aku mau ke Ancol kek, ke Bali kek, atau ke ujung dunia sekalipun, itu bukan urusanmu Mak lampir." ketus Arisa kesal.


"Aku gak yakin orang miskin kayak kamu tuh, punya duit untuk jalan-jalan, apa jangan-jangan kamu jadi simpanan om-om kaya ya, jadi bisa diajak jalan-jalan sampai ke sini." tuduh Michella sembarangan sehingga membuat Arisa semakin berang.


"Hati-hati ya kalau bicara ya, baru aja kaya dikit, itupun karena kekayaan orang tua, udah sombong minta ampun. Heran deh...."


"Ya, daripada kamu orang tua miskin, makannya anaknya juga miskin tujuh turunan."


"Udah deh, minggir sana, pergi berjemur sana kayak bule-bule tuh atau sekalian nyebur sana dari pada gangguin orang di sini, menghina orang terus kerjaannya, biar gak tambah berat dosamu tuh."


"Iya donk, aku juga gak mau berlama-lama dengan dekat-dekat dengan orang miskin kayak kamu kali, mending aku jalan-jalan, siapa tahu ketemu bule ganteng, kaya lagi. Aku jalan dulu ya, dah...." ujar Michella sambil beranjak dari kursi meninggalkan Arisa kembali sendirian. Lega akhirnya mak lampir itu pergi.


Arisa melirik jam tangan sesaat, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, sebentar lagi dia harus kembali ke hotel supaya mempunyai lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadiri acara nanti malam pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2