
Arisa memilih tidur di kamar sebelah, karena dirinya masih merasa kesal dengan Andika, meski dia sudah mencoba untuk mendengarkan penjelasan suaminya itu, namun dirinya belum bisa percaya seratus persen dengan pembelaan suaminya itu.
Dia berbaring di atas ranjang dan menatap ke atas langit-langit kamar, sambil memikirkan kembali perkataan Andika dan foto-foto tersebut. Sebenarnya apa yang dikatakan Andika, ada benarnya juga, mungkin itu hanya settingan Rasti saja, karena memang hampir semua foto tersebut, terlihat kalau suaminya itu dalam posisi memejamkan mata, mungkin saja memang dia tertidur atau pingsan, siapa tahu.
Akh, aku harus menyelidiki hal ini.
Cukup lama dia memikirkan hal ini, akhirnya ketika waktu menunjukkan hampir tengah malam, barulah Arisa bisa terlelap. Sementara itu, Andika juga mengalami kesulitan untuk terlelap, karena hasratnya tidak bisa tersalurkan malam ini. Kemudian, dia masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia berada di dalam kamar mandi, entah apa yang dia lakukan, hanya Andika, author dan Tuhan yang tahu. Setelah hampir 30 menit berada di dalam kamar mandi, barulah dia keluar dan kemudian mencoba untuk tidur. Tidak lama kemudian barulah dia terlelap.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah bangun, untuk melakukan rutinitas paginya, menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat ke kantor. Dia tetap melakukan kewajibannya dengan baik meskipun hatinya masih kesal dengan Andika.
Saat sarapan, mereka menikmati makanan masing-masing dalam keheningan, keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Tidak tahu apa yang harus diobrolkan, Andika yang melihat Arisa yang masih bermuka datar mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.
"Nanti siang, kita makan siang bersama ya, sayang." ajak Andika.
"Hmm....." guman Arisa tanpa menjawab.
__ADS_1
"Gimana, kamu mau kan, sayang?" tanya Andika sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, nanti aku jemput ya. Kamu hari ini tetap di apartemen atau ada urusan ke luar?"
"Tidak usah, katakan saja di mana tempatnya, nanti aku yang langsung ke sana dengan taksi online. Hari ini, aku mungkin ada urusan ke luar"
"Memangnya hari ini, kamu mau ke mana? tempat ibu?" tanya Andika, namun Arisa hanya menggelengkan kepala.
"Aku mau ke cafe tempatku bekerja dulu, aku kangen dengan tante Ririn dan teman-teman kerjaku dulu."
"Baiklah, aku berangkat dulu ya." lanjut Andika setelah selesai menghabiskan makanannya dan meneguk segelas air putih, dia segera meraih tasnya dan kemudian memakai sepatunya. Tidak lupa dia mencium kening istrinya, dan berlanjut ke bibir istrinya namun Arisa segera menghindar sehingga tidak sempat bertemu bibir keduanya.
Setelah Arisa menyelesaikan pekerjaannya, membereskan piring-piring kotor dan membersihkan apartemennya sekilas, tidak perlu waktu lama karena memang apartemennya selalu dalam keadaan bersih dan rapi, jadi tidak banyak yang perlu dibereskan, barulah dia berangkat hendak menuju ke cafe tempat dia bekerja dulu.
Sesampainya di cafe, Arisa langsung disambut hangat oleh tante Ririn dan teman-temannya yang lain. Kebetulan cafe masih dalam keadaan sepi pengunjung karena masih awal. Jadi, mereka bisa mengobrol santai sejenak. Tidak lama kemudian, pengunjung mulai berdatangan dan teman-teman Arisa mulai sibuk melayani pengunjung. Melihat teman-temannya yang kerepotan melayani pengunjung yang cukup ramai, Arisa menawarkan bantuan untuk ikut membantu. Tentu saja, dia tidak canggung dalam melayani pengunjung karena dia pernah bekerja di sini. Meski awalnya ditolak oleh Tante Ririn, karena tidak ingin merepotkan Arisa, namun akhirnya Tante Ririn mengiyakan saja, karena pengunjung tiba-tiba begitu ramai berdatangan.
__ADS_1
Arisa ikut membantu menyiapkan makanan dan minuman pesanan pengunjung di bagian dapur cafe. Saat dia hendak berjalan ke luar untuk mengantarkan pesanan pengunjung, tiba-tiba langkahnya terhenti karena matanya terarah pada seorang perempuan dan laki-laki yang sedang duduk di sudut cafe. Dia sangat mengenali siapa perempuan itu, siapa lagi kalau bukan Rasti Andini. Tetapi, pria di depannya itu dia kurang kenal, namun rasanya wajah pria itu tidak asing bagi Arisa. Beberapa pengunjung yang mengenali Rasti, mengerumuni Rasti berusaha meminta foto bareng dan tanda tangan perempuan itu. Akh, kalau saja, Rasti bukan perempuan yang ingin merebut Andika dari Arisa, mungkin saja saat ini Arisa juga akan ikutan meminta foto bareng dan tanda tangan dengan Rasti.
Akhirnya dia mengurungkan niat untuk mengantarkan pesanan ke meja pengunjung dan meminta tolong kepada salah satu temannya. Dia berdiri di balik dapur cafe yang memiliki jendela besar untuk bisa melihat ke arah cafe, namun agak tersembunyi, supaya dirinya tidak terlihat oleh Rasti.
Dari jauh, dia bisa memandang bahwa Rasti sedang berbicara laki-laki di depannya itu. Dari penampilannya, sepertinya laki-laki itu bekerja sebagai fotografer ataupun wartawan atau sejenis lainnya, karena Arisa melihat kamera yang menggantung di leher laki-laki tersebut, yang kemudian dilepaskannya dan ditaruh di atas meja.
Wajah laki-laki itu benar-benar terlihat tidak asing bagi Arisa. Arisa mencoba mengingat-ingat di mana pernah melihat laki-laki tersebut.
"Akh, bukankah dia fotografer yang memotret Rasti di pantai, saat aku berjalan-jalan sendiri di Bali kemarin." guman Arisa pelan. Dia memang sempat melihat Rasti yang sedang berpose di pantai, sepertinya dia sedang melakukan sesi pemotretan saat itu. Arisa hanya melihat sesaat dari jauh, kemudian menjauh dari tempat itu karena dia malas kalau sampai harus bertemu Rasti. Tetapi sialnya, malah akhirnya dia bertemu nenek lampir satunya, si mak lampir sombong itu.
Kelihatan mereka sedang bertengkar, tidak lama kemudian Rasti terlihat beranjak dari kursi dan meninggalkan laki-laki itu dalam keadaan marah. Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan memukulkan ke meja. Meski tidak sampai merusak meja, tetapi pukulan itu cukup membuat tangannya kesakitan sendiri. Setelah itu, barulah dia melanjutkan menikmati makanan yang sudah terlanjur dipesan tadi.
Apa jangan-jangan laki-laki itu yang memotret Rasti dan Andika saat di Bali?
Arisa ingin mencari tahu. Dia sempat melihat cetakan tulisan kecil di foto-foto tersebut, yang menjelaskan kapan foto itu diambil, sehingga ia tahu bahwa foto tersebut saat mereka masih di Bali, tepatnya hari di mana Andika tidak kembali ke kamar hotel setelah mengadakan reuni kecil bersama teman-temannya malam itu.
__ADS_1
Setelah melihat ke arah luar kafe dan memastikan Rasti sudah pergi meninggalkan cafe, Arisa berjalan mendekati laki-laki tersebut yang terlihat masih asyik makan. Dia ingin menyelidiki, siapa tahu dia bisa mendapatkan informasi dari laki-laki tersebut, harap Arisa.