Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Ingin Bekerja


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, rate dan vote jika berkenan


Happy reading ya...


********


Saat perjalanan pulang dari resto, Arisa tersenyum-senyum sendiri membayangkan betapa kesalnya Rasti tadi. Dirinya benar-benar puas berhasil memanasi hati Rasti.


"Kamu kenapa sayang, senyum-senyum sendiri begini? Aku jadi takut...." canda Rasti.


"Memangnya kenapa kalau aku senyum-senyum, kok mas bisa jadi takut?"


"Ya takutlah...Siapa tahu kamu kesurupan hehehe...."


"Enak saja... Lihat nih, aku masih sadar betul!" ujar Arisa tidak terima dikirain kesurupan.


"Terus kenapa tadi kamu senyum-senyum sendiri begitu?"


"Tidak kenapa-napa... Hanya senang saja hahahahaha....." jawab Arisa yang kemudian tertawa lepas seketika itu.


"Nah, sekarang malah jadi ketawa-tawa sendiri. Aku jadi semakin takut sayang..." ujar Andika berpura-pura kuatir. Dirinya hanya penasaran saja sebenarnya apa yang membuat istrinya begitu senang malam ini.


"Aku tadi bertemu dengan Rasti, Mas."


"Oh ya, di resto tadi kah? Kok aku gak lihat?"


"Akh, kamunya terlalu sibuk makan sampai lupa lihat ke sekeliling sih."


"Kami sempat bertemu saat aku ke toilet tadi."


"Terus...terus.....apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Andika penasaran.


"Dia pikir hubungan kita akan rusak gara-gara foto-foto yang dikirimkannya itu, tetapi aku malah sengaja memanas-manasi dirinya dengan menunjukkan kemesraan kita. Makin kebakaran jenggot dia tadi tuh hahaha....." cerita Arisa sambil tertawa puas.


"Bagus....bagus....gini baru yang namanya istri Andika Raharsyah."

__ADS_1


"Tetapi awas lho Mas, kalau benaran kalian punya hubungan khusus di belakangku." ucap Arisa tiba-tiba serius setelah berhenti tertawa.


"Akan kupotong pisangnya tuh!" ancam Arisa berpura-pura namun berhasil membuat Andika bergidik ngeri kalau harta berharganya benar-benar kena potong.


"Tenang sayang....Aku tidak akan berani macam-macam. Janji..." jawab Andika menanggapi serius padahal Arisa hanya bercanda.


"Iya, aku percaya."


"Oh ya Mas. Kita sudah lama nih tidak ke rumah papa. Apa kamu jadi mau jadi anak durhaka yang tidak pernah mengunjungi orang tua, Mas? Hari minggu ini, kita ke rumah Papa ya..." Ajak Arisa.


"Ya ampun....aku sampai lupa. Sejak kita pulang dari Bali, kita belum mengunjungi Papa dan Mama. Makasih ya sayang, sudah mengingatku."


"Iya, sekalian aku mau memberikan oleh-oleh yang mas beli tuh buat papa dan mama, serta para pembantu di rumah mama juga, boleh ya?"


"Tentu saja boleh dong, sayang." jawab Andika.


Mereka mengobrol sepanjang jalan, tidak terasa akhirnya mereka pun sampai di apartemen. Malam sudah cukup larut, mereka memilih untuk beristirahat setelah beraktivitas dengan segala macam kesibukan hari ini. Urusan pertempuran di atas ranjang ditunda dulu. Masih ada di lain kesempatan. Tak perlu lama, Andika dan Arisa pun segera terlelap menyongsong mimpi indah mereka masing-masing.


****


Keesokan harinya, Arisa bangun lebih awal. Badannya segar setelah mandi dan dia akan bersiap-siap menyiapkan sarapan sebelum Andika terbangun. Hitung-hitung untuk menggantikan kelalaiannya kemarin, pikirnya. Meskipun sebenar Andika tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kamu sudah bangun, sarapan sebentar lagi siap. Tunggu sebentar ya!"


"Iya, aku mau mandi dulu... Ayo, mandi bareng!" ajak Andika.


"Maaf...diriku sudah mandi." jawab Arisa membuat Andika sedikit kecewa karena keinginannya untuk bermesraan dengan istrinya di kamar mandi tidak kesampaian hari ini.


"Udah sana....mandi gih. Nanti habis mandi, pasti sarapannya sudah siap kok!"


"Iya...iya deh!"


*****


Setelah Andika selesai mandi dan berpakaian rapi, Arisa sudah menunggu di meja makan dengan makanan yang tersaji lengkap. Mulai dari nasi, sup ayam, udang goreng dan sayur tumis sudah dihidangkan siap disantap.

__ADS_1


"Wah...wah....tumben pagi-pagi begini masak selengkap ini sayang?Ada apa nih?" ucap Andika terheran melihat menu makanan yang tersaji di atas meja. Tidak biasanya selengkap ini.


"Gak kenapa-napa kok, hanya kepengin aja, supaya Mas tidak kekurangan gizi."


Mereka pun menikmati sarapannya dengan lahap. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Arisa bicarakan dengan Andika, namun dia ragu apakah suaminya itu akan menyetujui permintaannya itu. Akhirnya dia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkannya.


"Mas, aku ingin bicara..." Arisa terdiam sesaat.


"Iya, ada apa? Katakan saja."


"Aku ingin kerja lagi. Aku bosan di apartemen seharian, tidak banyak hal yang bisa kulakukan. Kalaupun keluar, aku hanya ke rumah ibu. Boleh ya?"


"Hmmm....memangnya kamu mau kerja di mana? Atau begini saja, gimana kalau kamu kerja di perusahaanku?"


"Akh...gak mau akh....kalau aku kerja di perusahaan Mas, itu namanya nepotisme dong, aku diterima karena punya hubungan orang dalam. Aku mau kerja di perusahaan lain, supaya prestasi kerjaku benar-benar bisa dinilai dari kinerjaku sendiri, bukan karena campur tangan orang dalam. Boleh ya Mas?"


"Hmmm......" Andika terlihat berpikir.


"Boleh ya, Mas. Ayolah!" rengek Arisa.


"Tergantung...." ucap Andika


"Lho, kok tergantung...."


"Ya, tergantung kamu bekerjanya di mana? Memangnya kamu sudah punya panggilan kerja dari perusahaan?" Arisa segera menyodorkan sebuah amplop berisi surat panggilan kerja yang menginformasikan bahwa dirinya diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut. Andika segera membuka dan membaca surat tersebut, dilihatnya kop pada surat tersebut. Sepertinya perusahaan yang cukup bonafit.


"Lho, kapan kamu melamar di perusahaan ini? Kok aku gak pernah tahu?"


"Ini sudah cukup lama Mas, awal-awal kita menikah dulu... Aku kira tidak ada tanggapan apa-apa, mungkin ditolak. Eh, datang surat ini rupanya kemarin. Jadi, boleh ya Mas, aku bekerja?" rengek Arisa lagi. Dirinya memang pernah memasukkan lamaran ke perusahaan tersebut atas rekomendasi dari Johan. Diapun sempat mengikuti wawancara kerja di perusahaan tersebut, namun tak kunjung datang surat panggilan kerja, membuat Arisa berpikir mungkin dirinya ditolak. Dan tak disangkanya, akhirnya surat itu diterimanya kemarin. Bukan main senangnya hati Arisa.


"Iya, boleh saja, kalau kamu ingin mempunyai kesibukan, sayang. Tetapi ingat ya, jangan sampai kesibukanmu membuat kita jarang mempunyai waktu bersama nanti."


"Iya, aku janji deh. Tokh, ini kayaknya aku tidak bekerja di hari Sabtunya, jadi ada libur 2 hari di akhir pekan. Jadi, aku diizinkan ya, Mas?" Andika menganggukkan kepalanya.


"Hore....Makasih ya, Mas." Arisa kegirangan hingga spontan mengecup pipi Andika.

__ADS_1


*****


Update 1 episode dulu kali ini. Terima kasih buat semua yang telah berkenan mampir dan membaca karyaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate dan vote ya kalau boleh. Kritik dan saran yang membangun juga boleh, supaya author bisa belajar membuat karya yang lebih baik lagi. Terima kasih semuanya...


__ADS_2