
Selesai mandi dan mengenakan pakaian masing-masing, barulah Arisa menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam diikuti oleh Andika, yang juga ingin membantu.
"Udah, kamu duduk aja nonton tv atau ngerjain yang lain aja, Mas." pinta Arisa yang merasa Andika bukannya membantunya malah memperlambat pekerjaannya karena sedari tadi Andika tidak melepaskan pelukannya dari tadi. Bagaimana mungkin dia bisa memasak dengan leluasa kalau suaminya menempel terus seperti itu.
Kring...kring...kring...
Tiba-tiba nada dering handpone Andika yang diletakkan di atas meja nakas di kamar tidur berbunyi, barulah Andika melepaskan pelukannya dan segera menuju ke kamar untuk mengangkat teleponnya. Namun belum sempat dia mengangkatnya, tiba-tiba panggilan itu sudah terputus. Saat dia mencoba menelepon balik, tiba-tiba masuk pesan dari nomor asing, nomor yang sama yang tadi meneleponnya.
Sebuah foto dikirim melalui pesan tersebut, membuat Andika kaget seketika itu ketika melihat jelas siapa yang ada di dalam foto tersebut. Siapa lagi kalau bukan Johan yang sedang bersama dengan istrinya itu. Beberapa foto dikirimkan, terlihat jelas mereka terlihat bahagia dalam kedekatan mereka.
Akh, aku tidak boleh cemburu dulu. Bukankah mereka memang bersahabat dari dulu? Guman Andika dalam hati menyadarkan dirinya sendiri tidak berprasangka buruk dulu. Tetapi hati kecilnya itu tetap berkecamuk.
Tetapi kenapa Erina merahasiakan pertemuannya ini kepadaku, dia sama sekali tidak memberitahukanku... Sesaat setelah Andika menatap jelas foto-foto tersebut, terlihat jelas tulisan kecil yang menunjukkan kapan foto tersebut diambil. Itu kemarin, padahal dia ingat betul saat sedang sarapan bersama, dia sempat menanyakan rencana aktivitas Arisa hari itu, namun Arisa tidak mengatakan apapun soal pertemuannya dengan Johan. Apakah ini di luar rencananya. Hatinya sedikit emosi, namun dia masih berusaha menahannya.
Dengan langkah malas, dia kemudian berjalan menuju meja makan setelah mendengar panggilan istrinya yang menandakan makan malam sudah siap. Dia bersikap agak dingin saat makan, padahal sebelumnya dia begitu romantis memperlakukan Arisa. Hal ini membuat Arisa menjadi curiga.
"Ada apa? ada yang salah dengan masakanku hari ini?" tanya Arisa spontan yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Andika.
__ADS_1
"Terus, kamu sakit?"
"Tidak." jawab Andika tidak bersemangat.
"Kalau gitu, kasih tahu dong kalau memang ada yang menganggu pikirannmu, kalau diam begitu bagaimana aku tahu, apa ada yang salah dengan diriku ini?" tanya Arisa lebih lanjut.
"Iya...memang ada yang salah dengan dirimu. Lihat ini...." jawab Andika dengan nada yang agak tinggi sambil menyodorkan handphonenya kepada Arisa. Arisa segera melihat pesan yang ada handphone tersebut, lebih tepatnya foto-foto tersebut.
"Ini...."
"Ini apa? Kenapa kamu merahasiakan pertemuanmu dengan Johan kemarin? Apakah kalian berselingkuh di belakangku?" tuduh Andika terbawa emosi padahal dia tadi sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak marah berlebihan kepada istrinya.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak suka melihat kalian sedekat itu, kamu istriku sekarang....lihat foto itu, kalian kelihatan begitu mesra, laki-laki mana yang tidak marah melihat istrinya berduaan dengan laki-laki lain."
"Aku sudah jelaskan berkali-kali soal hubunganku dengan Johan, kalau kamu masih tidak percaya, ya sudahlah. Terserah kamu saja!" ujar Arisa sambil beranjak dari kursi sambil menahan tangisnya, dia tidak mau kelihatan menangis di depan Andika. Segera dia berlari menuju ke kamarnya. Melihat hal itu, Andika jadi bingung sendiri, bukankah seharusnya dia yang lebih berhak marah, tetapi sekarang malah gantian istrinya yang lebih marah kepadanya. Hatinya jadi semakin tidak karu-karuan, apa mungkin dia salah bicara tadi. Bukankah dia berhak untuk cemburu.
Andika segera menyusul istrinya ke kamar. Dilihatnya Arisa yang sekarang sudah berada di atas tempat tidur dalam posisi membelakanginya. Dia mendekati istrinya dan memegang bahu Arisa namun segera ditepis oleh Arisa.
__ADS_1
"Jangan sentuh-sentuh aku, biarkan aku sendiri."
"Tapi...." belum sempat Andika melanjutkan, sudah dipotong oleh Arisa
"Aku perlu waktu sendiri. Untuk beberapa hari, aku akan menginap di rumah sakit besok untuk menemani ibu sebelum ibu dinyatakan bisa keluar dari rumah sakit, sekalian biar aku tidak perlu bertemu denganmu dulu. Aku malas..." lanjut Arisa tanpa menoleh sekalipun ke arah Andika. Mendengar hal itu, membuat hati Andika menjadi sesak, namun dia bingung mau berkata apa lagi.
"Ya sudah, kalau kamu maunya begitu." ujar Andika singkat. Sebenarnya Arisa agak kesal melihat Andika yang tidak ada usaha lebih untuk membujuknya. Tetapi di satu sisi, dia lega juga, bisa menginap beberapa hari di rumah sakit untuk menemani ibunya, sekaligus menghalangi Andika untuk bertemu dengan ibunya dulu.
Akhirnya, mereka pun tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing dan akhirnya tertidur dengan posisi saling membelakangi. Begitulah yang terjadi, jika suami istri sedang bertengkar, bukan?
Keessokannya, Arisa bangun lebih awal dan melakukan rutinitas paginya seperti biasa. Saat Andika terbangun, Arisa sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Andika, bahkan dia sedang memasukan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas sebagai persiapannya untuk menginap di rumah sakit nanti.
"Kamu sudah bangun...sarapan sudah siap, apa mau mandi dulu atau makan dulu, terserah saja." ujar Arisa datar tidak seperti biasanya. Dengan malas, Andika berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka barulah dia pergi ke meja makan untuk menikmati sarapan yang sudah disiapkan. Biasanya, mereka selalu sarapan bersama, tetapi pagi ini Andika terpaksa makan sendiri, karena mereka sedang marahan. Sungguh tidak nyaman rasanya dalam kondisi seperti ini.
"Aku akan menginap di rumah sakit beberapa hari ini, kamu tidak perlu menyusul ke rumah sakit. Aku tidak mau bertemu denganmu dulu. Dan kupikir kita juga tidak perlu membuat ibu kaget dulu mendengar kabar pernikahan kita yang tiba-tiba saja terjadi. Aku kuatir ibu akan shock." ucap Arisa sambil melewati meja makan dan menuju ke dapur untuk mengambilkan air minum buat Andika.
"Iya." jawab Andika singkat.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Arisa pergi duluan meninggalkan Andika sendirian yang harus mandi dan bersiap-siap dulu sebelum ke kantor. Situasi pagi ini, rasanya membuat Andika menjadi tidak bersemangat bekerja, namun dia tetap harus berangkat, supaya tidak membuat papanya khawatir jika dia tidak ke kantor lagi hari ini. Akhirnya, dia memaksakan diri tetap ke kantor meski dengan pikiran yang kalut.