Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Malam Peresmian


__ADS_3

Tepat jam 4 sore, Arisa sudah sampai di hotel kembali. Dia segera mandi membersihkan tubuhnya yang sudah sangat gerah setelah terjemur seharian, sebentar lagi mungkin tukang rias yang dipesan oleh Andika akan sampai. Ternyata benar, baru saja Arisa selesai memakai pakaiannya, sudah terdengar ketukan pintu dari luar. Perias yang ditunggu sudah datang.


Si perias langsung melakukan pekerjaannya dengan lihai memoles wajah Arisa yang masih polos itu. Setengah jam kemudian, ketika dandanan Arisa baru setengah jalan, barulah Andika nongol, balik dari kantor.


"Hai sayang, kamu kelihatan cantik sekali." ujar Andika memuji istrinya meskipun dandanan wajah Arisa baru setengah jadi.


"Akh, masih urak-urakan begini, apanya yang cantik Mas?" balas Arisa karena merasa rambutnya masih acak-acakan jadi tentu saja dirinya belum merasa cantik saat dia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.


"Kamu gak dandan saja sudah cantik, sayang...apalagi kalau sudah dandan begini, malam ini kamu pasti menjadi bidadari yang paling cantik deh." goda Andika lagi.


"Udah akh, gombal terus....sudah mandi sana, bau nih mas..."


"Iya...nih mau mandi kok." sahut Andika sambil berjalan masuk ke kamar mandi.


Saat Andika sudah selesai mandi dan telah berpakaian rapi, Arisa juga telah selesai didandani dan sudah memakai gaun indah yang telah disiapkan oleh Andika sebelumnya. Andika semakin takjub memandangi kecantikan istrinya. Malam ini, dia akan merasa sangat bangga didampingi oleh istrinya dalam acara peresmian pembukaan perusahaan cabang baru. Mereka pun bersiap-siap untuk berjalan menuju ke ballroom hotel, tempat diselenggarakannya acara.


Saat mereka memasuki ballroom, beberapa tamu undangan sudah hadir lebih awal dan hampir semua mata tertuju menatap ke arah Andika dan Arisa yang berjalan memasuki ruangan. Benar-benar pasangan yang serasi, pikir mereka. Sesaat kemudian acara pun dimulai, pembawa acara mempersilakan Andika untuk memberikan kata sambutannya sebelum memasuki sesi pengguntingan pita. Begitu gagah saat Andika menyampaikan kata sambutannya di depan para tamu, membuat Arisa terkagum memandangi suaminya sampai tak berkedip. Setelah Andika selesai menyampaikan kata sambutannya untuk membuka acara dan sesi pengguntingan pita simbolis, barulah dilanjutkan acara hiburan.


Seorang biduan naik di atas panggung untuk menyanyikan beberapa lagu, betapa kagetnya Andika dan Arisa ketika melihat siapa yang bernyanyi di atas panggung itu. Siapa lagi kalau bukan Rasti Andini, mantan Andika yang kini menjadi saingan Arisa dalam memperebutkan cinta Andika. Memang Andika menyerahkan sepenuhnya urusan acara kepada event organizer yang menangani, jadi dia tidak tahu kalau Rasti akan mengisi acara malam ini. Kehadiran Rasti di atas panggung membuat Andika merasa tidak nyaman, begitu juga dengan Arisa.


Sambil menikmati acara hiburan, para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati makanan yang tersedia di stand-stand yang tersebar di ballroom tersebut. Andika mengajak Arisa untuk menyapa beberapa tamu undangan, namun Arisa meminta izin sebentar untuk pergi ke toilet sebentar.


Saat Arisa kembali dari toilet, dia berpapasan dengan Michella di pintu masuk yang kebetulan baru datang. Michella datang terlambat karena malam ini dia berusaha berdandan secantik-cantiknya bahkan dia sampai berganti gaun berkali-kali, hanya karena ingin tampil secantik mungkin agar bisa menarik perhatian Andika malam ini.


"Hah....kamu ada di sini? gak salah nih? Pasti lagi menemani om-om yang datang menghadiri acara ini ya?"

__ADS_1


"Mau saya sendiri kek, atau menemani siapa pun, itu bukan urusan kamu, suka lalu sih ngurusin orang lain...heran." ketus Arisa


"Aku penasaran, orang miskin seperti kamu bisa ikutan acara bergengsi begini, apa gak salah nih? gak level banget deh." hina Michella.


"Kamu tuh ya, memang sudah sombong akut ya, dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah, selalu merasa paling hebat, paling kaya, paling cantik. Ingat deh, di atas langit tuh masih ada langit, tahu!"


"Gak usah sok-sok pakai peribahasa deh.. kan memang iya dari dulu, aku yang paling kaya, paling cantik semasa sekolah dulu." ujar Michella santai sambil mengibaskan rambutnya. Tiba-tiba Michella langsung menyempurnakan posisi berdirinya dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi, karena melihat seorang pria tampan berjalan ke arah mereka, siapa lagi kalau bukan Andika Raharsyah pemilik perusahaan cabang ini.


"Hai, Andika." sapa Michella manja membuat Arisa ikut menoleh ke belakang.


"Hai, Michella, baru datang? Terima kasih ya, sudah berkenan hadir jauh-jauh ke sini." balas Andika sopan.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Andika karena melihat Arisa dan Michella sudah ngobrol dari kejauhan tadi, membuat Michella sedikit kaget karena itu berarti Andika juga mengenal Arisa. Hebat juga ya, Arisa bisa kenal dengan orang seperti Andika juga.


"Kalau begitu, berarti saya tidak perlu lagi memperkenalkan istri saya lagi ya." lanjut Andika sambil merangkul Arisa membuat Michella kaget seketika.


"Lho, kok kelihatan kaget? Ngomong-ngomong kalian sudah kenal lama?" tanya Andika namun Michella masih terpaku diam tak percaya.


"Iya, sayang, kami sudah kenal lama kok. Michella ini temanku dari SMA dulu. Kebetulan sekali ya, kami bisa bertemu di sini." ucap Arisa dengan nada agak manja, sengaja memanas-manasi Michella. Dia merasa puas sekali bisa membalas Michella kali ini.


"Silakan dinikmati makanannya ya, kalau gitu kami jalan dulu ya, masih harus menyapa beberapa tamu undangan yang lain." ucap Andika.


Kali ini, Michella benar-benar mati kutu di hadapan Arisa tadi. Dia tidak menyangka orang yang selama ini selalu dihinanya malah bisa mendapatkan pria yang menjadi pujaan hatinya. Dia benar-benar tidak bisa terima kalau dia telah terlambat selangkah dari Arisa. Dia mengutuki dirinya sendiri dalam hati.


Melihat Rasti yang sudah selesai menyanyikan beberapa lagu dan sekarang sudah berjalan turun dari panggung, Michella segera berjalan menghampiri dan menyapanya.

__ADS_1


"Hai Rasti, penampilanmu di atas panggung tadi benar-benar luar biasa." puji Michella basa-basi padahal dia tidak benar-benar menyaksikan penampilan Rasti saat di panggung tadi.


"Oh, terima kasih, kamu baru datang?"


"Iya nih, tadi dandan kelamaan. Jadinya, datang telat deh..." ujar Michella terlihat agak kesal bukan karena dia ketinggalan acara, tetapi karena mengetahui Arisa itu istrinya Andika.


"Ayo, kita makan yuk!" ajak Rasti. Michella langsung mengangguk, lalu mereka pun berjalan mendekati beberapa stand untuk mencari makanan yang sesuai dengan selera mereka.


Sambil menikmati makanannya, sesekali Rasti melirik ke arah Andika. Dia menunggu kesempatan agar bisa mendekati Andika di saat Arisa tidak berada di dekatnya. Namun sedari tadi, Arisa selalu berada di samping Andika membuat Rasti tidak berkesempatan mendekati Andika.


Dari kejauhan, dia melihat Andika mengobrol dengan seorang pria yang tidak asing baginya. Sepertinya dia juga kenal pria itu, rupanya Andika sedang mengobrol dengan Rinto yang kebetulan juga tinggal di Bali saat ini, dia juga merupakan salah satu pengusaha yang diundang oleh Andika untuk hadir dalam acara peresmian ini. Rasti segera mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya kepada Rinto. Dia melihat Rinto sedang membuka handphonenya saat ini dan pasti telah membaca pesannya.


"Hei, bro...mumpung kamu ada di sini, gimana kalau besok kita adakan reuni kecil-kecilan lagi. Kebetulan di sini, ada beberapa kawan SMA kita lho, yang waktu reuni kemarin mereka tidak sempat datang ke Jakarta. Kamu mau kan?" ajak Rinto.


"Boleh saja, kamu atur saja acaranya. Nanti kabari aku ya!" jawab Andika.


"Sip, ntar aku hubungi ya, soal tempat dan waktunya." lanjut Rinto


"Kalau begitu, aku dan Erina pergi nyamperin tamu yang lain lagi ya. Kamu silakan nikmati makanannya ya." ucap Andika. Setelah Andika berjalan menjauh bersama istrinya, Rinto segera berjalan mendekati tempat di mana Rasti dan Michella duduk.


"Gimana, beres?" tanya Rasti semangat.


"Sip." jawab Rinto singkat sambil mengacungkan jempolnya. Dari dulu sampai sekarang, dirinya masih menyimpan rasa suka terhadap Rasti, sehingga apapun yang diminta Rasti, dirinya selalu berusaha memenuhinya.


"Makasih ya, kamu memang teman yang selalu bisa diandalkan deh." puji Rasti basa-basi. Mereka pun kemudian menikmati makanan bersama-sama hingga rangkaian acara demi acara berakhir.

__ADS_1


******


Makasih ya buat teman-teman yang udah berkenan mampir dan membaca novelku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen dan vote supaya diriku semakin semangat untuk menulis ya. Love you alls....


__ADS_2