
Kecupan itu terasa begitu nikmat, dan anehnya Farah masih saja tidak terganggu dan terbangun. Hampir saja, Alex terbawa suasana dan mulai mengecup area leher si putri tidur itu, kalau bukan karena tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan panggilan dari Tia, salah satu karyawan Farah yang tadi masih di bawah dan belum pulang.
Ketukan berkali-kali akhirnya membuat Farah bangun dan kaget karena tiba-tiba saja dia sudah di atas sofa dan Alex ada di depannya Sambil menatap tajam kepada Alex, Farah menyahut menjawab panggilan Farah.
"Masuk Tia!" sahut Farah.
Sementara itu, Alex dengan spontan sudah duduk di atas sofa depan Farah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Permisi mbak Farah. Maaf, kalau saya menggangu. Saya mau melaporkan kalau gaun pesanan Bu Shinta sudah dipacking dengan baik dan siap diambil seperti permintaan Beliau. Karena sudah selesai, saya sekalian permisi pulang ya, mbak!"
"Oh, iya, terima kasih ya Tia. Kamu boleh pulang sekarang!"
"Iya, permisi mbak!" Tia pun menutup kembali pintu hingga hanya tinggal Farah dan Alex dalam ruangan itu.
Farah kembali menatap tajam kepada Alex. Namun, Alex sengaja bertingkah seolah tidak menyadari itu dan tetap tersenyum kepada Farah.
"Buat apa kamu ke sini?" ketus Farah.
"Mengunjungi calon istriku." jawab Alex santai.
"Aku bukan calon istrimu. Bukankah, kamu sudah punya calon istri yang lain. Sudah, pergi sana, urus calon istrimu yang itu?" ketus Farah lagi.
"Calon istri yang lain?" tanya balik Alex seolah tidak tahu apa maksud dari ucapan Farah.
"Sudah, tidak usah berpura-pura tidak tahu. Aku sudah tahu semuanya. Dan tenang saja, aku sadar diri kok, kamu tidak pernah mencintaiku. Selama ini, aku yang begitu bodoh, menyia-nyiakan waktuku untuk mengejar cintamu. Tetapi, aku sudah sadar. Jadi, tenang saja, aku tidak akan mengganggumu lagi." lanjut Farah.
"Tunggu dulu. Apa maksud ucapanmu ini, aku tidak paham!"
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Mungkin lebih baik sekarang kamu pergi kepada Michella, wanita pilihanmu itu. Aku sudah ikhlas melepaskanmu kok!" ujar Farah dengan tegar meski sebenarnya hatinya terasa sakit saat mengucapkan itu.
Bukannya membalas ucapan Farah, Alex malah tersenyum, kemudian berpindah posisi dan duduk tepat di samping Farah.
"Tidak usah dekat-dekat, jauh-jauh sana!" ketus Farah.
"Tolong, dengarkan penjelasanku dulu Farah!" pinta Alex, namun Farah sengaja menutup telinganya dengan kedua tangannya. Maka dengan terpaksa, Alex meraih dan menggenggam tangan Farah sehingga telinga siap untuk mendengarkan.
Farah menggerutu dan memasang wajah cemberut, namun dia tidak bisa melawan untuk melepaskan genggaman tangan Alex karena Alex mengenggam tangannya dengan cukup kuat.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, di antara aku dengan Michella, sayang!"
"Sayang?" guman Farah dalam hati. Apa dia tidak salah mendengar. Ini pertama kalinya dia mendengar dari mulut Alex mengucapkan kata sayang yang ditujukan kepada dirinya. Hampir saja, hatinya luluh hanya dengan satu kata ajaib itu.
"Tidak, aku tidak boleh luluh secepat itu" ucap Farah dalam hati kepada dirinya sendiri.
"Bohong, aku tahu kalau kalian menghabiskan waktu bersama saat kamu keluar kota beberapa waktu yang lalu. Kamu sengaja kan merahasiakannya dariku, supaya aku tidak menganggu kesenangan kalian. Bahkan aku tidak bisa menghubungimu sama sekali. Tega kamu!" ujar Farah hampir terisak menangis, namun dia tetap mencoba menahan diri karena dia tidak mau terlihat cengeng di hadapan Alex.
"Aku kemarin memang ada urusan pekerjaan ke luar kota, untuk mengurus pembukaan perusahaan baru di Kalimantan. Setelah mengecek pabrik di Pontianak, aku langsung ikut turun ke lapangan bersama team untuk melihat area perkebunan sawit yang akan menjadi supplier bahan baku untuk pabrik.Nah, handphoneku jatuh saat kami sedang di lapangan. Aku baru menyadarinya setelah sudah kembali ke hotel. Makanya..."
"Oke, lalu bagaimana soal ini?" tanya Farah tiba-tiba, memotong penjelasan Alex, sambil menunjukkan sebuah foto di handphonenya. Alex menatap dengan seksama foto itu.
"Oh, ini..." ujar Alex dengan santai.
"Jelaskan!" perintah Alex.
"Ini pertemuan kami yang tak disengaja."
"Aku tidak percaya itu!" ketus Farah
"Perusahaan mitra yang menjadi pemegang besar saham kedua setelah punyaku, itu adalah ayahnya Michella. Jadi, waktu itu Michella mewakili perusahaan ayahnya itu untuk mengikuti meeting beberapa pemegang saham di sana. Aku juga tidak menyangka hal itu sebelumnya." lanjut Alex menjelaskan.
"Iya, aku tidak bohong." jawab Alex.
"Aku senang kalau kamu mencoba menghubungiku berkali-kali. Itu berarti kamu sangat peduli kepadaku, sayang." lanjut Alex
"Itu dulu, sekarang tidak lagi." ketus Farah.
"Ayolah, sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan bersikap cuek lagi kepadamu." ucap Alex dengan tulus.
Farah memandangi Alex dengan tatapan tajam, seolah ingin memastikan apakah Alex serius dengan ucapannya barusan.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?" tanya Alex
"Jauhi Michella, jangan pernah berhubungan lagi dengan dia."
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu maumu, sayang. Lagipula, seperti hubungan kerja sama perusahaanku dengan perusahaan Bapaknya juga sebntar lagi akan berakhir." jawab Alex santai di luar dugaan Farah.
"Apa yang terjadi?""
"Kamu ingat, saat kita bertemu di resto tadi siang?"
"Iya, Bapak tua yang bertengkar denganku tadi itulah ayahnya Michella?"
"Oh ya, lalu kenapa kamu bertengkar dengannya, bukankah perusahaan kalian saling kerja sama seperti katamu tadi?" tanya Farah dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ya, karena Beliau mengajukan syarat yang mustahil untuk aku penuhi." jawab Alex
"Syarat? syarat apa?" tanya Farah
"Beliau mengajukan syarat, bahwa akan mendukung modal pembiayaan perusahaan cabang kita yang di Kalimantan, asal aku bersedia menikahi putrinya. Jika tidak, ...'
"Apa? menikahi Michella maksudnya?" potong Farah sebelum Alex menyelesaikan penjelasannya karena Farah sudah terlanjur geram. Alex mengangguk.
"Kurang ajar, bisa-bisanya dia memanfaatkan kekuasaan ayahnya untuk mendapatkan kamu. Ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Farah semakin geram.
"Sudah...sudah, tenang sayang. Aku sudah menolak persyaratan itu apapun resikonya. Makanya kami sempat bertengkar tadi"
"Itu berarti perusahaan kamu ....?" tanya Farah
"Sudah tidak usah dipikirkan soal itu, aku pasti akan menemukan solusinya. Yang penting sekarang, kamu mau memaafkanku. Mau kan?" tanya Alex dengan muka memelas sambil mengenggam tangan Farah.
Sungguh Farah benar-benar terbuai dengan kelembutan Alex saat ini, karena belum pernah Alex begitu perhatian terhadap dirinya. Haruskah dia menarik ucapannya dan memikirkan kembali hubungan mereka yang mungkin masih bisa diperbaiki. Tanpa sadar, dia menganggukkan kepalanya.
Spontan saja, Alex langsung memeluknya hingga membuat Farah sempat kaget. Pelukan Alex terasa begitu hangat dan melegakan.
"Baiklah, aku akan coba sekali lagi." ucap Farah dalam hati pada dirinya sendiri
"Aku antar pulang ya!"
"Tunggu sebentar ya, aku bereskan kertas-kertas coretan sketsaku di atas meja sebentar. Kamu tidak keberatan menunggu kan?"
"Tentu saja, aku tidak keberatan menunggu wanita secantik dirimu." ujar Alex
__ADS_1
"Gombal!" sahut Farah berjalan menuju meja kerjanya. Namun dia senang, mendengarkan kegombalan Alex itu.