
Seperti keputusan awalnya, Farahbsudsh bertekad mengakhiri hubungannya dengan Alex karena dia tidak ingin merasakan sakit hati yang lebih mendalam lagi.
Dia sudah berusaha untuk melupakan rasa cintanya kepada Alex. Mungkin memang inilah waktunya baginya untuk menyerah dan tidak lagi mengejar cinta yang tak mampu digapainya.
Setelah galau beberapa waktu sebelumnya, kali ini Farah terlihat sudah lebih ceria. Diapun sudah bekerja seperti biasa di butiknya. Saat menjelang jam makan siang, dia tiba-tiba teringat pada Johan, seorang pria yang bertemunya di cafe beberapa waktu yang lalu. Farah teringat janjinya untuk mentraktir balik pria tersebut sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah menolongnya saat dompetnya ketinggalan waktu itu.
Meski sebenarnya Johan sendiri tidak mengharapkan balasan, tetapi Farah sendiri yang berkemauan keras untuk membalas kembali. Siang itu, Farah mencoba menghubungi Johan.
Panggilan sibuk pada panggilan pertama, Farah pun mencoba menelepon ulang. Syukurlah, kali ini panggilan tersebut diangkat.
"Halo..." sapa suara seorang laki-laki dari seberang.
"Johan!" panggil Farah
"Iya, ini?"
"Ini aku, Farah. Masih ingat kan, kita pernah ketemu di cafe yang waktu itu tuh." ucap Farah mencoba menjelaskan, mungkin saja Johan lupa.
"Oh Farah, tentu saja aku ingat. Wanita secantik kamu, mana mungkin bisa dilupakan begitu saja."
"Akh, gombal kamu! Jadi, gini, siang ini kamu ada waktu gak, aku ingin mentraktir kamu makan siang, sebagai ucapan terima kasihku atas bantuanmu kemarin."
"Kan sudah kubilang, itu gak perlu diganti Farah. Tetapi, gak apa-apa deh, kebetulan siang ini aku santai saat makan siang. Lumayan ada yang traktir hahaha...Kamu dimana? Aku yang jemput ya?" Kali ini malah Johan yang lebih bersemangat.
"Iya, jemput aku di butik xxx di jalan Melati ya. Aku kirimkan alamat tepatnya ya."
"Tetapi tunggu dulu, benar nih? kalau aku jemput, tidak akan ada yang marah kan?"
__ADS_1
"Sudah, kamu tenang saja. Aman kok...hahaha..." jawab Farah. Dia merasa sepertinya Johan adalah orang yang enak diajak ngobrol juga, sehingga dia pun bisa berbicara santai seolah-olah mereka sudah kenal lama.
"Oke, aku otw sekarang ya...Tungguin ya!"
Setengah jam kemudian, mobil Johan pun sampai di depan butik Farah. Belum lama ini, Johan memang membeli sebuah mobil baru, hasil kerja kerasnya selama ini setelah baru-baru ini dia dipromosikan menjadi General Manager di perusahaan tempatnya bekerja Akhirnya kini semua jerih payahnya menampakkan hasil.
Awalnya dia bertekad akan bekerja keras sehingga bisa menjadi orang sukses dan punya jabatan, untuk merebut kembali Arisa dari Andika. Namun akhir-akhir ini, ketika dia melihat Arisa benar-benar bahagia menikah dengan Andika, maka diapun harus belajar merelakan hatinya untuk menerima kalau Arisa memang bukan untuknya.
Tidak bisa dipungkiri, sejak pertemuannya tanpa sengaja dengan Farah di cafe waktu itu, Johan menjadi kepikiran dengan wanita cantik itu. Awalnya memang wanita itu terlihat judes, namun kini dari cara bicaranya, sepertinya Farah adalah orang yang menyenangkan. Johan berharap Farah memang belum mempunyai kekasih, jadi dirinya tidak akan mengalami patah hati yang kedua kalinya lagi.
Johan belum sempat turun dari mobil, terliaht Farah sudah melangkah keluar dari butik dari melambaikan tangannya sambil berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Sudah menunggu lama?" tanya Farah sesaat setelah masuk dan duduk di samping Johan.
"Tidak, aku juga barusan sampai. Jadi, kita mau ke mana nih?" tanya Johan.
"Oh ya, aku belum pernah makan di situ. Boleh deh..."
Mobil Johan pun segera meluncur ke tempat yang dimaksud Farah.
Sesampai di resto tersebut, mereka pun memilih area pendopo agar lebih santai menikmati makan siangnya.
Setelah pesanan makanan datang, mereka pun makan dengan lahap sambil sesekali mengobrol dan bercanda. Benar perkiraan Johan, Farah memang orang yang enak diajak ngobrol kalau sudah kenal dekat. Begitu juga dengan perkiraan Farah, dia tidak menyangka Johan adalah orang yang pandai berkelakar dan melawak, ada saja kata-kata yang terlontarkan dari mulut Johan yang membuatnya tertawa.
Namun obrolan mereka tiba-tiba terhenti, karena mendengar ada suara pertengkaran di ruang privat resto yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Tak lama kemudian, terlihat seorang bapak paruh baya keluar dikawal oleh beberapa pria yang terlihat seperti bodyguardnya, kemudian disusul seorang pria muda di belakangnya yang terlihat ingin mengejar bapak itu namun dihalangi oleh para pria bertubuh tegap itu.
__ADS_1
"Alex!" sahut Farah spontan, namun dengan cepat dia menutup mulutnya, karena tidak ingin terdengar oleh Johan.
"Aku tidak peduli apa yang mau kamu lakukan terhadap perusahaanku ini, tetapi yang jelas, sampai kapanpun aku tidak akan memenuhi persyaratan gilamu itu!" teriak Alex sambil ditahan oleh kedua staf yang ikut bersamanya saat meeting di dalam tadi. Sementara itu, pria paruh baya itu beserta anak buahnya telah melangkah pergi meninggalkan Alex yang masih terlihat geram menahan emosi.
Farah mencoba menundukkan kepalanya, agar tidak terlihat oleh Alex. Namun, saat Alex berbalik hendak kembali ke ruang privat resto, sepasang matanya menangkap sosok yang tidak asing duduk di pojok pendopo sana
"Farah!" panggil Alex, dengan segera dia berjalan mendekati Farah.
"Siapa ini, Farah?" tanya Alex saat melihat Farah sedang bersama seorang pria.
Johan yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, berusaha tetap tenang dan tersenyum ramah ke arah Alex.
"Bukan urusanmu!" ketua Farah
"Bagaimana bisa ini bukan urusanku? Kamu adalah kekasihku. Jadi, sudah sepatutnya aku harus tahu kamu pergi dengan siapa." ujar Alex dengna nada emosi, sepertinya suasana hatinya memang sedang tidak baik akibat insiden yang dialaminya barusan.
"Kekasih? Sejak kapan kamu benar-benar menganggap aku kekasihmu, bukankah aku hanya wanita yang selalu ingin kamu hindari, bahkan sampai-sampai kamu tidak ingin dihubungi aku sama sekali. Aku tahu kamu tidak pernah bisa mencintaiku. Jika kamu memang masih mencintai kekasih lamamu itu, kembali saja padanya!" ujar Farah mulai emosi dan terisak sambil menahan air matanya agar tidak mengucur deras.
"Tunggu dulu, itu tidak seperti yang kamu pikirkan! Dengarkan penjelasanku dulu, Far!" ujar Alex.
"Sudah cukup! Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Ayo, kita pergi, Joh!" jawab Farah sambil mengandeng tangan Johan yang sepertinya masih bingung dengan apa yang terjadi. Tetapi hatinya sedikit sedih, kalau rupanya Farah sudah memiliki kekasih, berarti dirinya tidak ada harapan lagi.
"Tunggu dulu, Far!" teriak Alex namun tidak digubris Farah yang berjalan semakin cepat meninggalkannya. Alex hanya bisa memukul meja dengan kepalan tangannya untuk melampiaskan kekesalannya atas semua yang menimpanya hari ini.
****
Maaf ya lama updatenya. Jangan lupa, tinggalkan jejak ya teman-teman
__ADS_1