
Halo semua, Nah author udah mulai up lagi nih, boleh dong minta dukungannya melalui like, rate dan komen ya. Bila ada yang berkenan memberikan vote, lebih bagus lagi, biar author juga lebih semangat untuk crazy up, berhubung beberapa hari sudah off dikarenakan kondisi badan yang sakit. Terima kasih ya buat pembaca-pembaca setia yang sudah berkenan mengikuti cerita Arisa ini setiap episode. Love you guys....
Happy reading ya...
*****
Arisa masih penasaran dengan apa yang dibeli oleh ibunya sampai berkeliling selama setengah jam di dalam pasar, sampai-sampai dia tidak fokus saat mengendarai motornya. Hampir saja, dia menyeruduk tukang bakso yang sedang mendorong gerobak di depannya itu. Syukur saja, dia langsung sadar dan sempat untuk mengarahkan motornya. Tidak perlu ditanya lagi, bagaimana dahsyatnya omelan ibunya setelah itu, sampai panas telinga Arisa dibuatnya.
Akhirnya, sampai juga mereka di rumah dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Hari sudah cukup sore, bahkan sudah menjelang malam. Arisa bergegas menuju ke kamarnya mengambil handuk dan ingin menyegarkan tubuhnya di kamar mandi karena merasa gerah setelah seharian berada di luar.
Selesai mandi, dia sudah berganti pakaian dengan pakaian yang memang sengaja dia tinggalkan di rumah ini, supaya sewaktu-waktu dia pulang, dia punya baju ganti di rumah. Dia sedang mengeringkan rambut basahnya sehabis keramas saat ibunya masuk dan ikut duduk di tepi ranjang di sampinnya.
"Nih....jangan lupa dipakai!" ujar Dina sambil menyodorkan satu bungkusan yang tentu saja Arisa sudah tahu apa isi di dalamnya.
"Jangan lupa, nanti malam dipakai, kamu foto dan kirim ke ibu ya. Ibu mau lihat. Awas ya, jangan sampai apa yang dibeli ibu sia-sia, gak terpakai!" lanjut Dina dengan nada memerintah dan mengancam membuat Arisa bergidik ngeri tidak berani membantah perkataan ibunya itu.
"Ibu nih, apaan sih, pakai difoto-foto segala? Aku kan...." ujar Arisa bermaksud untuk protes, namun keburu sudah dipelototin oleh ibunya yang membuat hatinya ciut duluan
...
"Udah, jangan banyak protes dan satu lagi nih..." ucap Dina dengan senyum mencurigakan sambil mengeluarkan beberapa bungkusan kecil dari tasnya.
__ADS_1
"Apa sih ini, Bu? Jangan-jangan ini ya, yang ibu cari-cari di pasar tadi sampai tersesat."
"Hus...siapa juga yang tersesat?" ujar Dina tidak terima.
"Ini nih, ramuan jamu manjur, biar kamu cepat hamil."
"Hamil?" teriak Arisa kaget. Belum pernah terpikir olehnya, tentang kehamilan. Apalagi sampai saat ini, dia masih belum yakin bagaimana perasaan Andika terhadap dirinya jika suatu saat nanti dia tahu kebenaran bahwa dirinya bukanlah Erina.
"Ibu nih, ada-ada saja, aku belum mau hamil, Bu."
"Kamu ini gimana sih? Coba kamu pikir, kalau kamu hamil kan, Andika tidak ada alasan lagi untuk melepaskanmu apalagi mencampakkanmu karena kamu mengandung anaknya. Dengan begitu, kamu tetap bisa bertahan sebagai istri Andika. Memangnya kamu mau jadi janda muda, diceraikan sama Andika nanti." lanjut Dina menjelaskan dengan panjang lebar. Arisa hanya mangut saja, meski dia tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat ibunya tersebut.
Dengan cepat, Dina meraih segelas air putih yang tersimpan di atas meja samping tempat tidur dan mencampurkan sebungkus jamu tersebut.
"Nah, begitu kan bagus.. Gini dong, baru namanya anak ibu." ucap Dina puas setelah melihat Arisa meneguk habis minuman tersebut tanpa bersisa.
"Ingat ya, nanti malam kamu harus beraksi. Jangan kasih kendor... Besok-besok kamu cerita sama ibu ya!" ujar Dina sambil tersenyum penuh maksud.
Jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul enam. Saatnya mereka akn bersiap-siap untuk makan malam. Kebetulan, sudah terdengar suara mobil di depan. Sepertinya Andika sudah datang, di waktu yang tepat. Mereka pun segera keluar dari kamar. Dan benar saja, Andika sudah berdiri di pintu depan, saat mereka keluar.
"Kebetulan kamu sudah datang, Dika. Ayo, kita makan malam bersama, sebelum kalian pulang." ajak Dina sambil berjalan menuju ruang makan yang sebenarnya bergabung satu dengan dapur mereka dengan hanya dipisah oleh satu sekat. Andika dan Arisa berjalan berdampingan mengikuti ibunya dari belakang.
__ADS_1
Satu jam kemudian, setelah mereka selesai makan malam dan mengobrol sebentar, barulah Andika dan Arisa pamit pulang.
"Kami pulang dulu ya, Bu!" ucap Andika memohon diri.
"Risa pulang ya, Bu. Ibu jaga diri baik-baik ya!" ucap Arisa sambil mencium tangan ibunya. Lalu, ibunya memeluk dia sejenak dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Selamat beraksi ya, malam ini" bisik ibunya pelan di telinga Arisa.
"Ibu!"
"Udah, kalian cepat pulang, biar bisa istirahat ya!" lanjut Dina.
Sepanjang perjalanan, Arisa memikirkan minuman yang telah dia minum tadi. Entah efek apa yang akan terjadi pada dirinya malam ini. Arisa tidak berani membayangkannya, tetapi dia percaya ibunya tidak mungkin meracuninya, jadi mungkin tidak akan ada efek buruk. Lagipula, mungkin saja itu hanya akal-akalan tante Asih aja yang suka ngibulin ibu.
Jalanan cukup macet saat itu, sehingga mereka baru bisa sampai di apartemen hampir sejam kemudian. Andika langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan, Arisa yang sudah mandi di rumah ibunya, berniat mencuci mukanya saja dan segera mengganti pakaian dengan baju tidur. Saat dia hendak mengambil baju tidur yang ada di dalam lemarinya, tiba-tiba matanya terarah pada sebuah kantong di atas tempat tidur yang diberikan oleh ibunya tadi. Dia ragu, apakah dia benar-benar harus memakainya malam ini. Tetapi kalau dia tidak memakainya dan mengirimkan bukti fotonya kepada ibunya malam ini, bisa dipastikan ibunya pasti murka. Membayangkan dirinya diomelin oleh ibunya saja dia sudah ngeri.
Dengan cepat dia meraih kantong baju tersebut dan memakainya, sebelum Andika keluar dari kamar mandi. Syukur, Andika cukup lama berada di dalam kamar mandi, sehingga bisa memberi waktu yang cukup untuk dirinya mengambil foto dan segera mengganti baju tidurnya kembali, pikirnya.
Setelah memakai pakaian yang aneh baginya itu, Arisa naik ke atas tempat tidur untuk mengambil foto selfie, supaya bisa dikirim ke ibunya malam ini juga, barulah dia akan segera mengganti dengan baju tidur biasanya. Namun rencana tinggal rencana, belum sempat Arisa berganti baju, Andika sudah keluar dari kamar mandi. Dia tidak mau kalau sampai Andika melihat dia berpakaian seperti itu, mau ditaruh di mana mukanya nanti. Dengan cepat, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan berpura-pura tertidur.
*******
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman like, komen dan rate. Bila berkenan vote, author sungguh berterima kasih, supaya author bisa lebih bersemangat lanjut update lagi ya