
Rutinitas Arisa selama Minggu ini tidak banyak berbeda. Dirinya disibukkan dengan pekerjaan di kantor yang cukup menyita pikirannya, sehingga dia bisa melupakan sejenak masalah status dirinya. Gelagat Alex yang kadang-kadang menunjukkan perasaannya secara terang-terangan kepadanya membuat Arisa merasa sedikit risih, namun dia tetap berusaha bersikap profesional dalam menanggapinya.
Saat ini, Arisa sedang menikmati rutinitas yang dilakukan setiap pulang kerja. Dia akan singgah ke salon, tempatnya mengikuti kursus dandan. Awalnya Arisa tidak menceritakan kepada Andika, namun lama kelamaan, karena Andika menjadi kuatir dengan Arisa yang selalu pulang terlambatnya, akhirnya Arisa menceritakan yang sebenarnya kepada Andika.
"Pantasan, aku merasa ada yang berbeda setiap kamu pulang kerja sayang." ujar Andika waktu itu.
"Jadi, tidak apa-apa kan Mas, kalau aku selalu pulang terlambat beberapa hari ini?"
"Tidak apa-apa sih. Tetapi, ngomong-ngomong kenapa kamu harus melakukannya, sayang? Bagiku, kamu sudah sangat cantik sekarang, dengan dandan mapun tanpa dandan, sayang."
"Akh yang benar, bukannya para pria akan lebih senang melihat wanita yang pandai bersolek kan?" sahut Arisa.
"Iya sih, tetapi..."
" Nah, tuh kan..." potong Arisa.
"Tetapi, kalau bersoleknya terlalu menor, ya gak suka juga..malah yang ada, jadi illfeel deh.".
"Jadi, maksudnya mas illfeel dengan dandananku nih." ucap Arisa sambil pura-pura memanyunkan mulutnya.
"Bukan begitu maksudku, sayang."
"Lho, tadi..?"
"Kan dandananmu tidak norak, aku suka kok sayang." barulah Arisa tersenyum lebar. Dia baru saja selesai mengikuti kelas kursus dandanan yang kesekian kali. Dan saat ini, mereka sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen, setelah Andika menyempatkan diri untuk menjemputnya saat pulang dari kantor. Sepertinya Arisa sudah mulai lebih mahir berdandan dari sebelumnya setelah mengikuti beberapa kali pertemuan.
*****
Tidak terasa, hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Malam ini, keluarga Wijaya akan mengadakan pesta syukuran sekalian merayakan Andika yang sudah pulih total, sehingga sudah kembali mengelola perusahaan secara mandiri tanpa perlu bantuan ayahnya lagi. Akhirnya, Wijaya bisa kembali pensiun menikmati masa tuanya seperti dulu lagi.
"Gimana penampilanku, Mas? Kira-kira ada yang kurang gak?" tanya Arisa kepada Andika setelah mengenakan gaun yang telah dibelinya beberapa hari lalu.
"Kamu terlihat anggun sekali sayang... sempurna." jawab Andika sambil menunjukkan kedua jempolnya ke depan.
__ADS_1
"Benar, Mas" Andika hanya mengangguk saja
"Tunggu sebentar ya, Mas. Ada sedikit persiapan lagi yang mau kulakukan." ucap Arisa sambil berjalan kembali ke kamar, sementara Andika yang sudah siap sedari tadi menunggu istrinya dengan sabar di ruang nonton.
Tak lama kemudian, keluarlah Arisa dengna tampilan yang sangat memukau bagi Andika. Istrinya benar-benar terlihat begitu anggun, tidak sepertinya biasanya.
"Ayo, kita berangkat, Mas!" ajak Arisa menyadarkan Andika yang masih tak berkedip menatapnya sedari tadi.
"Ayo!" sahut Andika
****
Saat mereka sampai di tempat acara, semua mata seperti tertuju menatap mereka. Mungkin di pikiran para tamu undangan yang datang, mereka benar-benar pasangna yang serasi. Arisa yang juga sudah belajar teknik berjalan dalam kursusnya itu, bisa menyelaraskan langkahnya dengan baik meski dia memakai sandal hak tinggi.
Jika ada orang yang kenal bagaimana Arisa di masa lalu, pasti bisa merasa pangling dan tidak percaya, kalau wanita anggun itu adalah Arisa.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar, hingga sampai acara santai dan ramah tamah. Andika bermaksud mengajak istrinya berdansa, tetapi Arisa kurang percaya diri. Dia kuatir tidak bisa menyelaraskan langkah kakinya nanti. Akhirnya mereka menikmati berbagai hidangan yang tersedia.
Michella tidak menyangka kalau Arisa bisa tampil seanggun itu. Dia hampir tidak percaya kalau wanita yang sedang duduk di depan Andika itu adalah Arisa.
Saat sedang menetap kesal ke arah Andika dan Arisa, tiba-tiba pundak Michella ditepuk seseorang dari belakang.
"Hai, kamu di sini rupanya." ucap wanita itu.
"Kamu, Farah. Kok kamu bisa ada di sini juga?" tanya Michella kaget karena temannya itu juga ada di sini dalam acara yang sama dengannya.
"Papaku kan relasi bisnis Bapak Wijaya juga . Karena papa sedang tidak enak badan, jadi diriku yang datang mewakili"
" Ngomong-ngomong, gaun ini memang sangat cocok dengan kamu ya..Kamu kelihatan anggun sekali. Jadi, gimana, paus kan dengan rancanganku ini?" lanjut Farah.
"Puas sih, tetapi pria incaranku sama sekali tidak melirik ke arahku, huh..."
" Memang yang masih sih, pria incaranmu itu. Jadi penasaran deh aku, seganteng apa dia tuh?" tanya Farah.
__ADS_1
"Tuh, dia." jawab Michella sambil menunjuk sekilas ke arah Andika berdiri. Namun, saat itu Andika hanya sendiri, mungkin Arisa sedang pergi ke toilet.
"Yang pakai stelan jas warna Bagi itu? Wow, benar- benar keren, gak kalah dengan punyaku juga." ujar Farah.
"Iya dong. Ngomong-ngomong kamu datang dengan siapa? sendirian?" tanya Michella.
"Oh, tidak. Tentu saja, aku datang dengan belahan jiwaku hahaha..."
"Mana dia, kenalin dong...oenasaran aku, mana yang lebih ganteng dan keren, punyaku atau punyamu." ujar Michella
"Tentu saja, punyaku dong." ucap Farah membanggakan diri.
"Tetap mana dia?" tanya Michella
"Tunggu sebentar, dia lagi ke toilet. Ntar juga datang ke sini." jawab Farah.
*****
Sementara itu, saat Arisa selesai dengan urusannya di toilet dan hendak kembali ke tempat acara, dia berpapasan dengan Alex saat berjalan keluar dari pintu toilet.
"Arisa!" panggil Alex
"Pak Alex!" ucap Arisa kaget juga, dia memang sudah terbiasa memanggil Alex dengan sebutan formal, meskipun Alex adalah kakak kelasnya saat SMA dulu.
"Kamu cantik sekali Arisa." puji Alex menatap Arisa.
"Terima kasih atas pujiannya. Aku kembali ke dalam dulu ya!" balas Arisa sambil berjalan meninggalkan Alex. Meskipun sebenarnya dirinya penasaran kenapa Alex bisa juga berada di acara ini, tetapi Arisa enggan menanyakannya. Pikirnya, mungkin Alex juga salah satu relasi bisnis ayah mertuanya.
Arisa berjalan masuk ke dalam ruangan acara. Namun dirinya kesulitan menemukan posisi Andika berada, karena cukup ramai tamu undangan yang hadir. Dia mencoba berjalan mengelilingi ballroom tersebut sambil beramah tamah dengan beberapa tamu yang dikenalnya, sambil mencari suaminya tersebut.
******
Maaf ya, agak lambat updatenya. Curhat sedikit nih, beberapa hari ini, pembacanya semakin turun drastis, membuat author jadi kurang semangat nulisnya. Tetapi, Author masih tetap berusaha nih melanjutkan novel ini sampai tamat. Jadi, jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate dan vote ya...supaya author makin bersemangat
__ADS_1