
Kini semuanya sudah pulang, hanya tersisa Andika dan Arisa yang masih ada di resto tersebut. Lantai tiga memang telah dibooking oleh Andika khusus untuk merayakan ulang tahun istrinya malam ini.
"Sayang!" ucap Andika sambil mengenggam tangan Arisa yang duduk di hadapannya.
"Maafkan aku ya atas kejadian pagi ya, kamu gak berpikir itu sungguhan kan?" ucap Andika dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.
"Jadi, kejadian tadi pagi itu juga bagian dari sandiwaramu, Mas? Ya ampun, aku sampai benar-benar kepikiran sepanjang hari ini, tahu gak sih?" protes Arisa sambil pura-pura memasang muka cemberut.
"Sudah, jangan marah-marah lagi. Nanti cepat tua lho, atau bisa-bisa si adek nanto ketularan muka cemberut dari mamanya." goda Andika.
"Tahu akh..."
"Marah nih ye..." goda Andika sambil beranjak dari kursinya menghampiri Arisa untuk menggelitik istrinya itu, hingga Arisa tertawa terpingkal-pingkal.
"Sudah akh, Mas. Semua sudah pulang. Ayo, kita pulang juga ya."
"Tunggu dulu, belum saatnya kita pulang. Aku masih punya kejutan lain untukmu. Ayo, ikut aku sekarang!" ajak Andika yang langsung menyambar tangan Arisa, menggandengnya menuju mobil dan hendak membawa Arisa ke suatu tempat.
"Kita akan ke mana, Mas?" tanya Andika penasaran.
"Sabar, nanti juga kamu tahu, sayang!"
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mobil Andika tiba di depan suatu rumah yang cukup mewah, dengan halaman yang cukup luas di depannya. Andika memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan rumah tersebut.
"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Arisa masih penasaran sebenarnya suaminya ini mau membawa dia ke mana.
"Ayo, kita masuk!" ajak Andika.
Arisa mengira kalau mereka akan bertamu ke rumah seseorang. Tetapi, malam-malam begini, apa tidak salah waktu. Namun, dia terkejut saat Andika memiliki kunci rumah tersebut dan membuka sendiri pintu rumah tersebut.
Dengan sedikit keraguan, Arisa melangkahkan kaki memasuki rumah tersebut mengikuti Andika. Saat lampu tersebut dinyalakan, kesan minimalis namun mewah terpancar dari ruang tamu yang dipenuhi nuansa warna hijau. Arisa sangat menyukai penataan ruangan tersebut, apalagi hijau merupakan warna kesukaannya.
"Ini rumah siapa, Mas?" sekali lagi Arisa bertanya karena pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh Andika.
"Ini rumah kita, sayang. Kita akan tinggal di sini, bersama anak kita." jawab Andika.
"Rumah kita? sebesar ini? apa tidak salah, Mas? Ini sungguh mewah sekali." ucap Arisa polos.
"Tidak, sayang. Ini hadiah ulang tahun untukmu sayang. Ayo, ikut aku. Aku ingin menunjukkan sesuatu." ajak Andika.
__ADS_1
Arisa mengikuti Andika menuju lantai 2 menaiki tangga setengah melingkar yang dipagari dengan pagar minimalis.
"Lihat ini, ini kamar untuk anak kita nantinya" Andika membukakan pintu sebuah kamar.
"Wow, cantik sekali kamarnya, Mas!" Arisa takjub melihat dekorasi kamar bernuansa pink tersebut lengkap dengan lemari dan tempat tidur dengan warna senada. Kamar itu cukup luas untuk ditempati oleh seorang anak.
"Tetapi Mas, ini kan kamar untuk anak perempuan. Memangnya kamu udah tahu jenis kelamin si adek yang di dalam ini?" tanya Arisa sambil mengelus perut buncitnya itu.
"Oh, kalau soal itu, tenang saja. Ayo, ikut aku lagi!" Andika mengenggam tangan istrinya berjalan beberapa langkah menuju pintu kamar sebelahnya lagi.
Betapa terkejutnya Arisa, saat pintu kama roti dibuka. Sebuah kamar anak, kali ini dengan nuansa yang berbeda dengan kamar sebelumnya. Kamar ini yang didominasi dengan warna biru muda, lengkap dengan tempat tidur dan lemari dengan warna yang senada. Kamar yang cocok untuk anak laki-laki.
"Nah, kalau anak kita laki-laki, kita tempati saja kamar yang ini. Kalau anak kita perempuan, kita tempati saja kamar yang tadi." ujar Andika santai.
"Astaga, Mas. Apa ini tidak terlalu mubazir?"" protes Arisa yang merasa kelakuan suaminya ini hampir tidak ada bedanya dengan kelakuan mama kandung dan mama mertuanya beberapa waktu yang lalu.
"Ya tidak donk, kalau kali ini anak kita alaki-laki. Nanti kita buat lagi yang anak perempuan hahaha...." canda Andika santai sukses membuat Arisa geram dengan kelakuan suaminya itu.
"Akh, gak mau akh, memangnya aku nih pabrik anak, enak saja." ujar Arisa sambil pura-pura manyun.
"Harus mau dong, bila perlu sekarang juga kita buat." ucap Andika yang tiba-tiba mengenggam Arisa dan menggandengnya menuju ke pintu kamar satunya lagi.
"Ayo, masuk!" ajar Andika.
"Malam ini, kita sekalian menginap di sini saja ya. Kan sudah terlalu larut juga, untuk kita kembali ke apartemen. Tenang saja, ibu sudah tahu kok!" ucap Andika.
"Jadi, ini semua memang sudah direncanakan ya..."
"Iya, dong!"
"Mas!"
"Iya, sayang."
"Aku mau tanya, akhir-akhir ini hampir dua minggu, kamu selalu pulang larut, apa karena ini juga?" tanya Arisa.
"Iya sayang. Sebenarnya aku sudah membeli rumah ini cukup lama, rencananya ini akan menjadi kejutan buat dirimu saat anak kita lahir nanti, sayang. Tetapi rupanya, kata mama, sebentar lagi kamu ulang tahu di tanggal ulang tahunmu yang sebenarnya. Jadi, aku mempercepat memberikan kejutan ini kepadamu. Hanya saja karena waktunya cukup mepet, aku sampai juga ikutan turun tangan setiap pulang dari kantor, aku sellau ke sini, memastikan semua yang bekerja, mendekorasi rumah ini dengan baik dan sesuai yang aku harapkan." ucap Andika menjelaskan panjang lebar.
"Ya ampun, Mas. Maafkan aku, aku sampai curiga kepadamu." ucap Arisa merasa bersalah.
__ADS_1
"Curiga?"
"Iya, aku curiga. Apa jangan-jangan kamu punya hubungan dengan wanita lain jadi membohongiku kalau selalu lembur kerja." jawab Arisa jujur.
"Ya ampun, sayang. Tidak mungkin aku bisa berselingkuh darimu sayang. Cukup dirimu saja yang mengisi hatiku ini, tidak ada tempat untuk wanita lain di hati ini." ucap Andika sembari menepuk pelan bagian dadanya.
"Gombal, akh!"
"Kalau tidak percaya, belahlah hatiku ini, agar kamu bisa melihat betapa aku mencintaimu sayang."
"Benaran, aku belah nih?" tantang Arisa.
"Oh, jangan sekarang, sayang. Kalau sekarang, waktunya kita bermesraan." jawab Andika ngeles.
"Kita benaran menginap di sini, Mas?"
"Iya dong. Memangnya aku kelihatan bercanda dengan ucapanku tadi?" tanya balik Andika.
"Gak tahu akh. Dari tadi kan kamu bicaranya gak serius, jadi aku gak bisa bedakan yang mana bercanda, yang mana benaran."
"Aku serius, sayang."
"Tetapi, aku akan tidak membawa baju ganti, Mas. Masa mau tidur dengan gaun begini."
"Oh kalau itu, tenang saja. Semua sudah disiapkan untuk ratuku tersayang. Ayo, ikut aku." Alex mengajak Alex mendekati sebuah ruangan kecil dalam kamar mereka, yang rupaanya merupakan kamar ganti khusus lengkap dengan lemari-lemari untuk menyimpan pakaian. Saat salah satu pintu lemari itu dibuka, Arisa terkesima melihat sederet pakaian wanita yang tergantung rapi di dalamnya, lengkap dengan pakaian tidur, yang sebagian besar dengan model agak terbuka.
"Ini semua pakaian untukmu sayang." ucap Andika.
"Tetapi, kenapa semua modelnya terbuka begini, Mas?" protes Arisa sembari meraih salah satu baju tidur yang tergantung dlaam lemari.
"Oh itu, supaya aku memudahkan aku melepaskannya dari tubuhmu sayang." jawab Andika santai
"Kamu pakai yang itu ya, malam ini!" pinta Andika.
"Memakai yang ini, dengan perutku yang buncit begini. Apa tidak aneh?"
"Tidak sayang, malah bagiku akan semakin mengairahkan. Ayo, ganti bajumu sekarang, aku mau ke kamar mandi dulu ya." ucap Andika kemudian meninggalkan Arisa sendirian di ruang ganti tersebut.
***
__ADS_1
Happy reading ya semua, hari ini author crazy up sedikit deh, demi memperbaiki kevakuman author beberapa waktu yang lalu. Maaf ya kalau kemarin sempat lama terus updatenya.