
Arisa berjalan mendekati laki-laki yang sedang menikmati makanannya dengan lahap itu setelah memastikan bahwa Rasti sudah pergi dari cafe tersebut.
"Wah, kebetulan sekali, bisa bertemu dengan Anda di sini, saya perlu bantuan Anda nih, boleh ya bantu saya?" ucap Arisa sambil menghempaskan pantatnya untuk duduk di kursi laki-laki itu, namun laki-laki itu masih asyik melahap makanannya tanpa menghiraukan ucapan Arisa.
"Maaf, Anda seorang fotografer kan ya?" tanya Arisa. Laki-laki itu mendongakkan kepalanya dan menatap Arisa sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
"Tetapi Anda membawa kamera, saya pikir Anda seorang fotografer. Saya perlu bantuan fotografer nih, sialnya fotografer yang telah saya hubungi sebelumnya membatalkan janjinya dengan saya. Jadi, saya bingung mau mencari pengganti di mana lagi, bisakah Anda membantu saya, please...." ucap Arisa pura-pura memohon.
"Maaf saya bukan fotografer, saya seorang reporter entertainment, jadi saya tidak bisa membantu Anda."
"Sayang sekali, padahal ini bayarannya cukup besar lho.... Dan Anda pasti jago memotret kan ya, jadi tidak masalah, fotografer atau reporter sama saja, mau ya?" ucap Arisa.
"Memangnya apa yang bisa saya bantu, Nona?"
"Saya ditugaskan mencari fotografer untuk melakukan pemotretan foto keluarga besar majikan saya hari ini, tetapi fotografer yang saya hubungi tiba-tiba membatalkan janjinya. Kalau saya tidak menjalankan tugas saya dengan baik, bisa-bisa saya dipecat hiks...hiks..." lanjut Arisa menjelaskan sambil pura-pura terlihat sedih.
"Baiklah, mungkin saya bisa membantu Anda, Nona." Laki-laki itu berpikir sejenak, dia memang sedang membutuhkan uang yang cukup banyak untuk biaya pengobatan adik satu-satunya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Adiknya mengidap penyakit leukimia dan memerlukan kemoterapi, yang tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar. Jadi, tidak ada salahnya dia menerima tawaran tersebut.
"Wah, terima kasih ya. Anda baik sekali ya. Saya percaya Anda pasti fotografer yang handal. Kalau tidak salah lihat, saya pernah melihat Anda memotret Rasti Andini, itu lho model terkenal itu, di mana ya....oh ya waktu di Bali, benar kan?" Laki-laki itu mengernyitkan matanya terlihat ragu untuk menjawab.
"Oh, jadi Anda juga pergi ke Bali minggu lalu, Nona?" tanya balik laki-laki itu.
"Heh eh, iya....saya ikut keluarga majikan saya liburan di sana. Dan ketika berjalan di pantai, kebetulan saya melihat Anda sedang melakukan sesi pemotretan dengan Rasti Andini. Pasti menyenangkan ya, bisa bekerja sama dengan selebritis ya.."
__ADS_1
"Akh, biasa saja."
"Masa biasa saja. Apalagi, Rasti Andini itu kaya dan terkenal sangat baik, semua orang pasti senang bisa berada di dekatnya ya...." lanjut Arisa pura-pura memuji Rasti, padahal dirinya kesal dengan yang namanya Rasti itu.
"Tidak semua yang kita lihat di layar kaca itu yang sebenarnya Nona, jangan mudah tertipu."
"Maksud Anda?" tanya Arisa pura-pura bingung.
"Maksud saya, yang kita lihat atau dengan baik, belum tentu kenyataanya seperti itu kan, contohnya Rasti Andini itu...Akh, sudahlah tidak usah dibahas lagi, saya malah jadi ngegosipin orang nih."
"Tetapi kan memang Rasti itu baik kan orangnya, di berita infotainment sering tuh diberitakan dia membantu menyantuni anak yatim di panti asuhan. Saya salut deh sama dia." ucap Arisa pura-pura mengaggumi Rasti.
"Itu hanya pencitraan saja, Nona. Aslinya tidak seperti itu, ups....." laki-laki itu langsung menutup mulut dengan salah satu tangannya karena merasa kecoplosan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diucapkannya.
"Saya Ronny" ucap laki-laki itu menyambut tangan Arisa untuk bersalaman.
"Senang bertemu denganmu, Ronny. Oh ya, saya perlu bantuanmu satu lagi, boleh ya."
"Apa itu?"
Arisa mengeluarkan dua lembar foto Andika dan Rasti. Kebetulan kedua foto tersebut masih tersimpan di tasnya karena tidak terkeluarkan semua saat Arisa menunjukkan foto-foto tersebut kepada Andika tadi malam.
"Foto ini." ujar Ronny kelihatan gugup dan salah tingkah.
__ADS_1
"Kamu pasti tahu foto ini kan, apa jangan-jangan kamu yang memotret foto ini?" tuduh Arisa tiba-tiba, membuat Ronny semakin gugup. Kenyataannya, malam itu memang dia dipanggil oleh Rasti untuk datang ke kamarnya. Rupanya, dia disuruh untuk memotret Rasti dengan seorang laki-laki yang sedang tertidur atau mungkin pingsan. Dia sebenarnya tidak mau melakukan hal itu, tetapi dirinya terpaksa, karena Rasti telah menjanjikan bayaran yang besar, yang bisa digunakannya untuk membiayai pengobatan adik perempuannya itu.
"Saya.....saya...." ucap Ronny terbata-bata, dia takut salah bicara sehingga membuatnya terlibat dalam masalah Rasti. Belum sempat, Ronny menjelaskan lebih lanjut, seorang pria tampan telah berjalan mendekati mereka.
"Sayang!" ujar Andika membuat Arisa dan Ronny sama-sama kaget dan menoleh ke arah suara. Terlebih Ronny lebih kaget karena melihat laki-laki yang menyapa itu adalah laki-laki yang sama dengan di foto atau lebih tepatnya laki-laki yang bersama dengan Rasti saat dia memotret di kamar hotel Rasti.
"Siapa laki-laki ini?" tanya Andika merasa cemburu karena melihat istrinya sedang duduk berdua dengan laki-laki lain. Dengan cepat, Arisa menarik tangan suaminya itu, untuk ikut duduk di sampingnya tanpa menjawab pertanyaan Andika tersebut.
"Jawab...." ujap Andika terhenti saat melihat istrinya meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, memberi tanda bahwa dia harus diam dulu. Meski hatinya sedang kesal sekarang, akhirnya dia memilih diam dan sabar menunggu penjelasan dari istrinya.
"Lanjutkan omonganmu tadi, pasti kamu tahu kan perihal foto-foto ini kan Ronny? Saya harap kamu bisa jujur, atau suami saya akan membuat kamu dalam masalah." ucap Arisa dengan nada tegas. Andika sendiri cukup terkejut ketika mengetahui bahwa yang sedang dibahas istrinya dan laki-laki di depannya itu adalah perihal foto-fotonya itu. Dia memilih diam untuk mendengarkan dengan seksama.
"Maaf saya terpaksa melakukannya, saya membutuhkan uang yang banyak untuk membiayai pengobatan adik saya. Rasti menawarkan sebuah pekerjaan untuk saya dan mengajak saya ke Bali minggu lalu. Sebenarnya tujuan awalnya adalah menyuruh saya untuk membuat berita bohong mengenai hubungannya dengan suami Anda ini, tetapi saya tidak bisa melakukan itu. Itu melanggar kode etik profesi saya. Itulah sebabnya, kami bertengkar tadi."
"Terus, mengenai foto ini, kamu pasti tahu kan kejadian sebenarnya saat kamu memotretnya?" tanya Arisa.
"Iya, malam itu Rasti menelepon saya untuk segera ke kamar hotelnya. Katanya, ada tugas yang harus saya kerjakan. Sesampainya di kamar, dia menyuruh saya untuk memotretnya dalam berbagai pose dengan suami Anda yang sedang tertidur atau pingsan, saya kurang tahu itu. Saya tidak tahu apa tujuan Rasti merekayasa semua ini. Dia hanya menyuruh saya mencetak semua foto-foto tersebut dan mengirimkan kepadanya." Ronny menjelaskan panjang lebar.
"Kurang ajar!" bentak Andika saat mendengarkan penjelaskan Ronny barusan.
"Jadi, semua ini adalah kerjaan kamu." lanjut Andika sambil berdiri dan mencengkeram kerah baju laki-laki di depannya itu, tetapi cepat dilerai oleh Rasti. Akhirnya dia kembali dalam posisi duduknya tadi.
Arisa merasa senang mendengar penjelasan Ronny barusan. Terlebih lagi Andika, meski dia kesal dengan laki-laki di depannya itu, namun dia juga merasa lega, akhirnya ucapan laki-laki itu bisa membuktikan bahwa dia memang tidak ada hubungan dengan Rasti. Tetapi, dia masih merasa heran, bagaimana mungkin istrinya ini bisa lebih cepat selangkah darinya dalam menyelidiki hal ini. Dia menjadi semakin kagum kepada Arisa.
__ADS_1