
Mobil Anita pun melaju menuju sebuah pusat pembelanjaan besar, yang belum pernah didatangi oleh Arisa selama ini. Sesudah turun dari mobil, ketiganya langsung berjalan menuju tempat penjualan segala perlengkapan bayi yang lengkap.
Tentu saja Arisa yang tidak tahu akan diajak ke mana, kakinya hanya ikut melangkah saja karena kedua tangannya digandeng oleh mama dan ibu mertuanya kedua sisi masing-masing.
"Nah, kita sudah sampai!" ujar Della setelah mereka sampai tepat di depan pintu masuk sebuah toko yang bertulisan Happy Baby.
Sesuai namanya tokonya, ini benar-benar tempat yang membuat para bayi bahagia karena segala perlengkapan bayi tersedia di situ.
Kedua wanita paruh baya tersebut sudah berjalan mengitari toko yang cukup luas itu untuk mencari segala perlengkapan yang ingin dibelikan untuk cucu pertama mereka. Mereka kelihatan sangat antusias dan kompak. Arisa sampai terheran-heran melihat kekompakan keduanya itu.
Sementara itu, Arisa hanya berjalan pelan sekedar melihat-lihat dan masih bingung apa yang harus dibelinya.
"Arisa, sini!" panggil Della. Arisa segera berjalan mendekati mamanya itu.
"Lihat, box bayi ini sangat cantik dan lucu, cocok sekali buat anakmu nanti deh, mama belikan ya!" ucap Della dengan semangat sambil menunjuk pada box bayi yang berwarna pink itu, yang tentu saja sangat cocok untuk bayi berjenis kelamin perempuan. Tetapi, Arisa kan belum tahu jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungannya ini.
"Siapa bilang?" sahut Anita yang kebetulan juga berada tak jauh dari tempat Della dan Arisa berdiri.
"Aku rasa yang warna ini lebih cocok. Aku yakin, pasti bayi mereka nanti laki-laki. Jadi, masa mau dikasih warna pink begitu. Ini saja!" lanjut Anita sambil menunjuk pada box bayi berwarna biru.
"Ini aja, lebih cocok. Bayinya pasti perempuan!" jawab Della tak mau kalah.
"Gak, pasti laki-laki. Jadi, yang ini saja!" ujar Anita tak mau kalah.
"Ini!"
"Ini!"
Akhirnya kedua besan itu bersahut-sahutan masing-masing mau membelikan box bayi dengan warna sesuai jenis kelamin yang diyakini mereka. Arisa makin pusing melihatnya, padahal barusan tadi mereka terlihat kompak, kini mulai berselisih lagi.
__ADS_1
Apalagi, ketegangan mereka semakin menjadi-jadi saat masing-masing ingin memberikan perlengkapan bayi lainnya, yang satu dengan model dan warna untuk bayi perempuan, yang satu dengan model dan warna untuk bayi laki-laki. Mereka bersikeras dengan pilihan mereka masing-masing. Alhasil, akhirnya mereka memborong barang-barang perlengkapan bayi itu masing-masing dengan pilihannya.
Puas berbelanja di toko perlengkapan bayi itu, kedua besan itu mengjak Arisa untuk mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Arisa sendiri sebenarnya agak malas, karena dia menjadi mudah capek bawaan kondisi hamil begini.
Melewati salon kecantikan, kedua wanita paruh bayah itu jaid kompak kembali dan mereka saling mengajak untuk singgah. Hingga tinggallah Arisa yang terbengong, karena tidak tahu harus apa sambil menunggu mama dan ibu mertuanya yang sedang melakukan perawatan. Sedangkan dia, karena sedang dalam kondisi hamil, dianjurkan tidak melakukan perawatan seperti mereka.
Oleh karena itu, Arisa meminta izin untuk menunggu di food court saja, agar dia bisa menunggu sambil menikmati makanan ringan yang mungkin ada yang sesuai dengan seleranya saat ini, mengingat pesan dokter dia harus tetap rutin mengisi perutnya meski tidak merasa lapar.
Arisa berjalan sendirian menuju ke sana. Setelah memesan beberapa makanan ringaan untuk dinikmati sambil menunggu, dia memilih duduk di kursi yang terdapat di sudut. Sambil melihat ke sekeliling, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok yang duduk di pojok tak jauh dari tempat duduknya itu.
"Bukankah itu Farah?" ucap Arisa bertanya pada dirinya sendiri.
"Sepertinya dia sedang menangis." Arisa sedang menimbang-nimbang dalam hatinya, apakah dia harus menghampiri Farah yang lagi duduk sendirian dan sepertinya sedang menangis walau terlihat samar.
Arisa melihat ke sekeliling dan menunggu sejenak, kalau sekiranya mungkin Farah sedang bersama Alex, namun Alex tak kunjung menampakkan dirinya setelah beberapa saat Arisa menunggu.
Akhirnya, Arisa memberanikan diri untuk menghampiri Farah, karena dorongan hatinya yang peduli terhadap Farah, lagipula bukankah Farah sudah mulai bersikap baik terhadapnya. Jadi, tidak ada salahnya dia juga mencoba bersikap baik terhadap Farah.
"Arisa?" ujar Farah saat memandang ke arah suara yang menyapanya Dengan cepat, dia mengambil tisu yang ada di atas meja, untuk menghapus sisa-sisa air matanya agar tidak terlihat oleh Arisa.
"Silakan, duduk saja. Kebetulan, aku sendiri kok. Kamu juga sendirian?" tanya Farah sambil memandang ke sekeliling.
"Suamimu mana?" tanya Farah.
"Jam segini, tentunya di kantor dong hehehe.." jawab Arisa.
"He eh...iya ya, aku sampai lupa."
"Aku menganggu gak? Kalau ganggu, aku pindah ya." lanjut Arisa.
__ADS_1
"Oh tidak, kamu duduk di sini saja. Kamu tidak ganggu kok, aku malah senang jadi ada teman untuk ngobrol. Mungkin kita bisa mulai berteman saat ini. Oh ya, maafkan aku ya atas sikap-sikapku yang judes terhadap kamu selama ini. Selama ini aku telah salah paham terhadap kamu" ujar Farah.
"Salah paham?"
"Iya, dari gosip yang beredar di perusahaan Alex, ada rumor yang mengatakan kalau kalian punya hubungan spesial, bukan hanya sebatas atasan dan bawahan. Dan itu sungguh membuatku tidak senang."
Astaga, rupanya ada gosip seperti itu yang beredar di perusahaan. Padahal, aku sudah berusaha menjaga sikap sebaik mungkin.
Arisa menjadi semakin yakin dengan keputusan mengundurkan diri meski belum menyelesaikan kontrak kerjanya, sehingga dia harus membayar sejumlah uang sebagai bagian penalti yang harus ditanggungnya.
"Tetap kamu tahu kan, bahwa tidak ada apa-apa di antara kami? Kami hanya...."
"Iya...ya...awalnya aku terpengaruh dengan rumor itu, ditambah lagi sikap Alex yang selalu dingin terhadapku saat itu. Tetapi akhirnya ketika aku tahu kamu sudah mempunyai suami, aku percaya kamu tidak mungkin main gila dengan Alex. Aku percaya kamu bukan orang seperti itu." ucap Farah yang terlihat bersungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Arisa.
"Syukurlah kalau begitu."
"Itulah sebabnya, aku berharap kamu mau memaafkanku dan kita bisa menjadi teman ya." Arisa mengangguk menanggapi ucapan Farah tersebut.
"Berarti sekarang tidak ada masalah dong, bagaimana hubunganmu dengan Alex sekarang? Aku dengar kalian akan segera menikah. Wah, Selamat ya!" ucap Arisa tulus.
Mendengar ucapan Arisa tersebut, spontan Farah terisak kembali. Dia terlihat menahan tangisan agak tidak terlihat oleh Arisa, namun dia tidak berhasil menutupinya.
"Kalian sedang ada masalah?" tanya Arisa. Farah masih diam dan menyodorkan handphonenya kepada Arisa. Arisa menerima handphone dari tangan Farah dan menatap layar handphone tersebut.
"Ini?" ujar Arisa spontan.
*****
Maaf sekali ya, author lambat update. Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman, biar author tetap semangat melanjutkan kisah Andika dan Arisa.
__ADS_1
Happy reading ya semuanya...