Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Rencana Anita


__ADS_3

Waktu terasa begitu lambat bagi Wijaya. Dia ingin secepatnya bisa pulang ke rumah, supaya bisa mendengarkan penjelasan istrinya mengenai gadis yang tadi makan siang bersama mereka tadi. Rasanya, semua tidak masuk akal baginya saat ini. Bagaimana mungkin, seseorang yang sudah meninggal bisa hidup lagi. Rasa penasaran tersebut membuat dia tidak konsentrasi mengecek dokumen-dokumen penting yang harus dia tandatangani saat itu.


Untunglah ada Andika yang menemaninya hari ini, dia meminta bantuan kepada putranya itu untuk membantunya mengecek dokumen-dokumen tersebut, sebelumnya dia sudah memberikan penjelasan garis besar mengenai dokumen tersebut. Karena putranya ini memang termasuk cerdas sejak dia masih sekolah dulu, tidak perlu waktu lama untuk dia mempelajari dan memahami dokumen-dokumen tersebut. Bagi Andika sendiri, dia merasa senang bisa membantu laki-laki yang mulai dipercayainya sebagai ayahnya itu, meskipun hanya sebatas itu bantuan yang bisa dia berikan.


Akhirnya, jam sudah menunjukkan waktunya pulang kantor. Wijaya mengajak Andika untuk menyudahi pekerjaan hari itu dan bersiap untuk pulang. Dirinya sudah tidak sabaran untuk mendengarkan penjelasan istrinya setiba di rumah nanti.


Namun, tentu saja, akhirnya Wijaya baru bisa berbicara dengan Anita setelah selesai makan malam di ruang kerjanya malam itu, supaya tidak terdengar oleh Andika.


"Mama tahu? mama telah membuat papa penasaran sepanjang siang ini. Sekarang papa minta jelaskan semuanya kepada papa." pinta Wijaya langsung to the point membuka obrolan padahan istrinya baru saja masuk dan menutup pintu ruang kerjanya itu.


"Papa ingat, kemarin Andika ada jadwal kontrol ke dokter Hadi di rumah sakit beberapa hari yang lalu."


"Hmmm....."


" Di rumah sakit itu, tidak sengaja mama bertemu gadis itu. Awalnya mama juga kaget, dan berpikir itu adalah Erina, tetapi ternyata bukan..... Gadis itu bernama Arisa, ibunya mengalami kecelakaan parah dan membutuhkan biaya perawatan yang cukup besar." Anita berhenti sejenak untuk meneguk teh hangat yang di atas meja.


"Terus.....???" Wijaya semakin penasaran.


" Mama kemudian menemuinya dan menawarkan bantuan, jika dia mau menikah dengan Andika, kita akan membantu biaya perawatan ibunya itu."


"Tetapi Ma, apakah itu tidak masalah bagi gadis itu? Dia kan bukan Erina, dia tidak mencintai Andika." Wijaya menanggapi rencana istrinya dengan sedikit keraguan.


"Papa tenang saja, semua sudah mama atur dengan baik. Gadis itu menyanggupi persyaratan yang mama ajukan, mama juga sudah mengecek informasi kehidupannya. Kelihatan dia gadis baik-baik, jadi tidak masalah kalau kita jodohkan dengan Andika." lanjut Anita menjelaskan rencananya itu.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan Dika?"


"Dika tentu saja akan dengan senang hati menikahi Erina kan Pa, kan memang itu rencananya sebelum dia mengalami kecelakaan."


"Mama akan melakukan apa saja demi kebahagian Dika. Papa lihat sendiri, betapa besar perubahan Andika sejak dia bertemu dengan gadis itu....seolah-olah dia mendapatkan kembali semangat hidupnya."


"Lagian semua persiapan pernikahan Andika dengan Erina sudah hampir selesai, termasuk baju pengantin mereka. Jadi, pernikahan mereka tinggal dilaksanakan saja." Wijaya mengangguk kepala mengiyakan rencana istrinya itu. Baginya, yang penting putranya bisa kembali bahagia, semua rencana istrinya itu akan dia dukung dengan sepenuh hati.


*****


Sementara itu, Arisa yang sedang menjagai ibunya di rumah sakit, hatinya merasa galau memikirkan apa yang dialami beberapa hari ini dan yang akan dialaminya nanti. Ingin rasanya dia curhat kepada ibunya itu, tetapi ibunya masih belum sadar dari koma. Meskipun ibunya sering galak kepadanya, tetapi dia tahu wanita itu sangat menyayanginya, sehingga kadang-kadang ketika Arisa menghadapi suatu masalah, dia tidak segan-segan untuk curhat kepada ibunya itu.


Tok....tok....tok.....


"Loe sudah makan, Risa?" tanya Johan, sahabat satu-satunya itu.


"Belum....apa yang Loe bawa, sesuatu yang bisa dimakan?" tanya Arisa penasaran.


"Tahu aja Loe....nih....cepat dimakan, ntar keburu dingin?" Johan menyodorkan kantong itu kepada Arisa.


"Martabak.....akh....tahu aja kesukaanku, makasih ya....Loe emang sahabat terbaikku." ujar Arisa langsung merangkul manja pada Johan.


"Maaf ya, beberapa hari ini, gue tidak dapat ikut menemanimu di rumah sakit. Kerjaan gue memaksa gue lembur terus beberapa hari ini, sampai malam"

__ADS_1


"Gak apa-apa....Loe datang hari ini, gue udah senang sekali, makasih ya." balas Arisa.


"Gimana keadaan ibumu? Sudah ada perkembangan." tanya Johan.


"Seperti yang Loe lihat sekarang, masih sama....ibu masih belum sadar sejak habis operasi."


"Loe yang tabah.....tapi ngomong-ngomong gimana dengan biaya tagihan rumah sakit ini, pasti membengkak ya. Loe punya uangnya?" tanya Johan tiba-tiba teringat, karena dia tahu biaya perawatan rumah sakit apalagi sampai berhari-hari begini pasti akan besar sekali.


"Loe tenang saja.....gue udah dapat jalan keluarnya." Johan langsung menatap curiga.


"Nanti kalau udah pas waktunya, gue akan ceritakan." lanjut Arisa sebelum ditodong pertanyaan oleh sahabatnya itu. Johan langsung mengangguk, dia tahu sifat sahabatnya itu, kalau dia lagi tidak mau cerita, mau dipaksa gimanapun juga dia gak bakalan akan cerita.


Kedua sahabat itu kemudian mengobrol ringan ngalur ngidul entah ke mana. Maklum, sudah beberapa hari mereka berdua tidak bertemu. Arisa sendiri sangat senang bersahabat dengan Johan. Baginya, laki-laki itu selalu saja bisa menghiburnya ketika merasa sedih. Sedangkan bagi Johan, sebenarnya dia menaruh perasaan spesial kepada Arisa. Dia sangat menginginkan hubungannya dengan Arisa bisa lebih dari sahabat. Pernah sekali, dia mencoba mengungkapkan perasaannya itu kepada Arisa, namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Arisa. Gadis tomboi itu merasa teman sepermainannya dari kecil itu lebih pantas menjadi sahabat sekaligus abangnya, daripada menjadi kekasihnya. Jadinya, cinta Johan kepada Arisa bertepuk sebelah tangan.


Karena malam sudah mulai larut, akhirnya Johan pamit dengan Arisa. Sebenarnya Johan ingin menemarin Arisa di rumah sakit, namun dilarang oleh Arisa, karena dia tidak mau merepotkan sahabatnya itu. Apalagi, besok paginya, Johan masih harus berangkat kerja pagi-pagi, Arisa kuatir Johan tidak bisa beristirahat dengan baik di rumah sakit.


"Kalau gitu, gue pulang dulu ya....Loe benaran, gak mau gue temanin?" tanya Johan lagi, siapa tahu Arisa berubah pikiran.


"Sudah Loe pulang aja sana.....gue dah biasa kok jaga sendirian di sini. Kalo ada Loe, yang ada malahan kita berdua gak tidur-tidur, ngobrol gak jelas sampai besok pagi. Loe besok kan kerja tokh..." jawab Arisa.


"Hehehe....iya...iya....ya udah kalo gitu gue pamit dulu, Loe hati-hati ya....bye...." ujar Johan sambil berjalan ke luar.


Akhirnya Arisa kembali sendirian di ruangan rumah sakit tersebut. Tidak perlu lama, akhirnya dia terlelap di sofa yang ada di situ.

__ADS_1


__ADS_2