Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Dia anakku


__ADS_3

Sudah dua hari Arisa tidak masuk kerja karena ingin merawat Andika dengan baik setelah keluar dari rumah sakit. Andika keluar setelah semalam menginap di rumah sakit. Kondisinya sudah membaik, sehingga dia tidak perlu berlama-lama di rumah sakit. Kebetulan hari ini hari akhir pekan, Arisa tidak pergi kerja dan kondisi Andika juga sudah fit kembali, dia berencana ingin mengunjungi ibunya. Karena sejak dia mulai bekerja, dia sudah jarang sekali mengunjungi ibunya. Untuk itu, dia mau memanfaatkan kesempatan kali ini untuk ke rumah ibunya.


"Mas, aku ke rumah ibu ya siang ini..." ucap Arisa kepada Andika yang masih berbaring di atas tempat tidur, untuk meminta izin kepada suaminya tersebut.


"Aku temani ya!"


"Gak apa-apa, aku bisa pergi sendiri kok. Mas istirahat saja!" tolak Arisa.


"Aku sudah sehat kok. Nih, lihat sudah tidak apa-apa kan. Pokoknya aku yang mengantarmu!" ucap Andika tidak mau dibantah. Arisa mengangguk saja.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka yang terlambat karena sudah cukup siang, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah Dina siang itu.


****


Sementara itu, Handoko yang sedang bersama dengan Linda di dalam mobil juga sedang dalam perjalanan menuju rumah Dina. Tak lama kemudian, mereka pun sampai dan mobil berhenti tepat di depan rumah Dina. Kebetulan pintu rumah Dina dalam keadaan terbuka, itu artinya ada orang di rumah kali ini, pikir Handoko.


Linda masih bingung hendak dibawa ke mana oleh Handoko, namun dia tetap mengikuti dari belakang saat Handoko turun dan memasuki pekarangan rumah tersebut.


"Permisi.." ujar Handoko


Cukup lama, sampai Handoko memanggil berkali-kali, barulah terdengar sahutan dari dalam.


"Iya, siapa ya?" sahut Dina yang berjalan dari arah dalam. Sekilas dia melihat sesosok laki-laki paruh bayah di depan pintunya, namun rasa-rasanya dia tidak mengenali orang itu.


"Maaf, Anda cari siapa?" tanya Dina. Namun saat dia melihat seseorang yang berdiri di belakang pria tersebut, dia terkejut.


"Saya mencari ibu Dina Marsiah!'


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya?"


"Boleh saya masuk?"


"Oh....silakan!" jawab Dina setelah berpikir sejenak.

__ADS_1


"Silakan duduk!" ucap Dina mempersilakan tamu-tamunya duduk di ruang tamunya yang tidak luas itu.


"Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu ya!"


"Oh, tidak perlu Bu. Jangan repot-repot! Ada yang mau saya bicarakan dengan ibu. Ini masalah penting tentang Arisa." Dina pun duduk kembali, tidak jadi menuju ke dapur.


"Masalah penting? Anda kenal dengan anak saya?" tanya Dina penasaran.


"Ya, tentu saja saya kenal. Arisa adalah anak saya." jawab Handoko


"Apa?"


"Tidak! Arisa adalah anak saya. Ada hak apa, Anda datang-datang, langsung ngaku-ngaku Arisa anak Bapak?" ujar Dina tidak terima.


"Memang kenyataannya, Arisa anak saya. Anak saya yang telah hilang beberapa tahun silam saat dia masih kecil."


"Apa maksud Anda?"


"Mungkin kamu bisa jelaskan?" ucap Handoko kepada Linda yang sedari tadi hanya diam saja karena merasa tidak enak hati dengan teman lamanya itu. Dia memang sudah tidak pernah bertemu dengan Dina lagi sejak kejadian meninggalnya suami dan anak-anaknya.


"Tenang dulu, Din. Saya akan menjelaskan semuanya." jawab Linda.


"Bagaimana saya bisa tenang? kalau tiba-tiba datang seseorang yang mengaku sebagai orang tuanya Arisa, anak yang sudah saya besarkan dari kecil."


"Arisa atau lebih tepatnya Erika memang anaknya Tuan Handoko ini, Din." ucap Linda menjelaskan.


"Bukankah kamu dan Asman sendiri yang mengatakan bahwa Arisa adalah keponakanmu dari kerabatmu. Dan kedua orang tuanya telah meninggal dunia?"


"Maaf, Dina. Saya berkata bohong kepadamu saat itu."


"Apa maksudmu? Hah?"


"Arika adalah anak yang diculik oleh Asman dari Pak Handoko ini karena ingin membalas dendam saat itu. Kami menitipkan Arisa kepadamu dan tidak mengatakan yang sebenarnya waktu itu."

__ADS_1


"Jadi?" tanya Dina masih serasa tidak percaya dengan semua penjelasan Linda barusan.


"Erika adalah anak kandung saya." ucap Handoko menegaskan.


"Tidak! Arisa adalah anak saya. Saya yang membesarkannya selama ini." ucap Dina tidak mau kalah.


"Tetapi dia adalah darah daging saya. Jangan lupakan itu!"


"Tidak!"


Akhirnya, Dina dan Handoko bertengkar untuk saling mengakui bahwa Arisa atau Erika itu adalah anak mereka. Sampai-sampai mereka tidak menyadari, sepasang suami istri muda telah berjalan masuk dan berdiri di depan itu.


"Apa maksud semua itu, Ibu?" tanya Arisa di depan pintu membuat semua orang yang sedang duduk di ruang tamu itu terkejut dan memandang ke arah suara.


"Erika, anakku!" sahut Handoko yang beranjak dari tempat duduknya hendak menghampiri Arisa namun tangannya ditepis oleh Arisa yang kemudian berjalan menuju tempat Dina duduk.


"Apa maksud semua ini, Ibu? Tolong jelaskan kepadaku!" pinta Arisa kepada Dina yang terlihat sudah mulai menangis.


"Aku bukan anak kandung ibu? Jawab, Bu....jawab!" pinta Arisa sekali lagi yang masih digubris oleh Dina. Dina hanya mengangguk.


"Tidak mungkin!" seketika itu Arisa menangis sejadi-jadinya, Andika dengan cepat mendekat dan merangkul istrinya sehingga Arisa menangis lepas dalam pelukannya.


Setelah keadaan mulai tenang, Arisa maupun Dina sudah mulai menghentikan tangisannya, barulah mereka mencoba untuk berbicara dengan baik-baik. Meski sudah mendengarkan penjelasan semuanya dari awal, Arisa masih belum bisa menerima bahwa sosok pria yang pernah ditemuinya saat berkunjung ke rumah mertuanya itu adalah ayah kandungnya. Baginya, ayah kandungnya adalah suami dari Dina, dan ayahnya sudah lama meninggal.


"Berikan aku waktu untuk bisa menerima semua ini!" ucap Arisa lalu berjalan meninggalkan rumah tersebut menuju ke mobil, disusul oleh Andika. Andika pun berusaha menenangkan Arisa di dalam mobil yang terlihat masih shock setelah mengetahui semua kebenaran ini.


"Jadi, Erina, kekasih yang Mas cintai itu adalah saudara perempuanku, Mas....aku bahkan tidak pernah bertemu dengannnya dan kini dia sudah meninggal hiks....." ucap Arisa berusaha menahan isakan tangisnya.


"Aku merasa bersalah sekali, Mas....telah merebut posisinya dalam hidup Mas."


"Shhitt.....cukup. Jangan berkata seperti itu lagi, kamu tidak merebut apa-apa. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Semua yang terjadilah, biarlah terjadi...Yang terpenting sekarang, kamu harus bisa menerima keberadaanmu ini!" ucap Andika berusaha menenangkan istrinya.


"Tetapi itu tidak mudah buatku, Mas!"

__ADS_1


******


Update lagi ya.....Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman melalui like, komen dan rate, apalagi kalau bisa ngevote, author akan lebih bersemangat menulis lagi deh. Ditunggu ya komennya guys....mari kita saling mendukung satu sama lain.


__ADS_2