
Keesokan harinya, cukup awal Andika dan Arisa check out dari hotel, karena penerbangan mereka pukul 10. Mereka sudah sampai di bandara satu jam sebelumnya dan saat ini mereka sedang menunggu di ruang tunggu bandara. Tidak disangka Michella dan Rasti juga memiliki jadwal penerbangan yang sama dengan Andika dan Arisa, sehingga akhirnya mereka berada di ruang tunggu yang sama, tentu saja mereka duduk saling berjauhan.
Meski melihat Michella, Rasti tidak berniat sama sekali untuk menghampiri wanita itu, karena dia tidak mau duduk bareng dengan orang yang akan menjadi saingannya. Rasti menatap tajam ke arah Arisa yang sedang duduk bergelayut manja dengan Andika, begitu juga dengan Michella. Keduanya merasa panas hati melihat Andika begitu memanjakan Arisa. Sebenarnya bukanlah kebiasaan Arisa untuk bermanja-manja dengan suaminya itu, karena dia tetap berusaha menjaga jarak agar tidak semakin dalam perasaanya terhadap Andika, tetapi karena sedari tadi dia menyadari ada dua pasang mata yang memandang sinis terhadapnya dari dua sisi yang berbeda, membuat dia sengaja bergelayut manja di lengan suaminya itu. Andika sendiri, tentu saja senang dengan kelakuan istrinya yang manja, meski tidak biasanya.
Tak lama kemudian, terdengar panggilan bahwa penumpang harus segera memasuki pesawat, Rasti sengaja berjalan lebih cepat melewati Andika dan Arisa yang berjalan di depannya dan sengaja menyenggol Arisa dengan dengan kuat.
"Auh...." pekik Arisa hampir terjatuh, syukur saja Andika sigap memegangi sehingga dia tidak terjatuh.
Rasti menoleh ke belakang dan sengaja melemparkan senyuman sinisnya. Michella yang melihat dari belakang merasa sedikit curiga namun dirinya senang karena melihat Arisa hampir terjatuh tadi.
Setelah duduk manis selama 1 jam lebih di dalam pesawat, akhirnya sampai juga mereka di Bandara Soekarno Hatta. Andika dan Arisa menggerek kopernya keluar bandara, seorang sopir sudah menunggu mereka di depan. Mereka segera meluncur ke apartemen mereka. Arisa sudah sangat merindukan ibunya yang telah ditinggal selama beberapa hari. Meski sudah ada perawat yang ditugaskan menjaga dan menemani ibunya, tetap saja Arisa kuatir dan tidak ingin berlama-lama dalam liburannya.
Sesampainya mereka di apartemen, Dina, ibu Arisa menyambut hangat kedatang mereka. Bahkan dia sudah menyiapkan makanan untuk makan siang mereka.
"Ibu....aku kangen sekali dengan ibu." pekik Arisa saat memasuki ruangan dan menemui ibunya di dapur.
"Kenapa ibu repot-repot masak, nanti ibu kecapekan dan sakit lagi, gimana?" protes Arisa.
"Akh, cuma masak segini aja, ibu masih kuat kok....tenaga ibu masih banyak." ujar Dina sambil menunjukkan tangannya yang tidak berotot sama sekali.
"Gimana liburan kalian, seru?" tanya Dina.
"Lumayan." jawab Arisa singkat.
"Lho, kok lumayan? ceritakan dong apa saja yang kalian lakukan di sana?" tanya Dina.
"Akh...nanti saja Bu, aku sudah lapar sekarang. Kita makan ya...." Ajak Arisa sengaja mengalihkan pembicaraan, dia malas menceritakan kepada ibunya tentang bagaimana Andika di sana yang selalu mencari kesempatan untuk mengerjainya.
"Oh ya, ibu mau membicarakan sesuatu dengan kalian?" ujar Dina di sela-sela makan siang tersebut.
__ADS_1
"Ada apa ibu?katakan saja!"" sahut Andika.
"Kalian sudah kembali. Nah, ibu kepengen kembali ke rumah ya. Rasanya lebih nyaman kalau ibu tinggal di rumah saja." ucap Dina menjelaskan.
"Ibu tidak senang tinggal dengan kami?" tanya Arisa.
"Bukan begitu, ibu senang tinggal dengan kalian. Tetapi, ibu tidak tenang saja meninggalkan rumah kita, sudah lama tidak ditinggali begitu, tidak terawat. Kan sayang sekali, itu peninggalan ayahmu satu-satunya." lanjut dina menjelaskan.
"Hmm.....tapi aku kuatir kalau ibu tinggal sendiri."
"Tidak ada yang perlu dikuatirkan, ibu bisa menjaga diri kok. Lihat, ibu sudah sangat sehat kan?" Memang sih dilihat-lihat, memang seperti ibu Arisa sudah sangat sehat, rasanya tidak ada yang perlu dikuatirkan lagi.
"Baiklah, kalau begitu...tetapi dengan satu syarat ya."
"Lho, kok pakai syarat-syarat segala, kayak mau ikut lomba saja." protes Dina
"Aku ikut........" rengek Arisa.
"Aku ikut menginap di sana beberapa hari ya Bu, untuk memastikan saja, boleh ya Mas?" rengek Arisa kepada Andika, supaya diizinkan. Apa daya, karena gak enak hati di depan mertuanya, akhirnya Andika memilih menganggukkan kepalanya saja.
"Yes!" ucap Arisa kegirangan.
"Berapa hari?" tanya Andika
"Tiga hari." jawab Arisa. Andika langsung terlihat lemas. Itu berarti dia akan tidur sendirian selama tiga malam. Itu adalah malapetaka buat Andika tetapi keberuntungan buat Arisa. Dia memang sengaja memilih menghindar dari suaminya, supaya beberapa malam ini dia bisa aman dari terkaman suaminya. Sekaligus dia mau lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya setelah sekian lama ibunya koma di rumah sakit.
"Jadi, kapan ibu mau pulang?" tanya Andika
"Sore ini." jawab Dina.
__ADS_1
"Hah, cepat sekali Bu." protes Arisa
"Kan ibu juga sudah lama di apartemen kalian ini, pokoknya sore ini ibu mau pulang." ujar Dina bersikeras mau pulang sore ini meski diprotes oleh Arisa.
"Baiklah, kalau ibu maunya begitu. Nanti aku antar ya Bu." ucap Andika. Dina mengangguk saja.
Setelah selesai makan dan membantu ibunya membereskan piring-piring kotor, Arisa masuk ke dalam kamarnya, bermaksud untuk membereskan beberapa pakaiannya untuk menginap di rumah ibunya.
"Kamu yakin mau menginap di rumah ibu, sayang?" tanya Andika yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Yakin seratus persen." sahut Arisa dengan senyum sumringah.
"Terus akunya gimana?"
"Lho, emangnya kenapa, kan mas pandai jaga diri sendiri, udah besar begitu, udah tua malah.....cuma tiga hari kok." balas Arisa sambil menunjukkan tiga jarinya ke arah Andika.
"Terus malamnya, aku tidur sama siapa? kalau aku lagi kepengen gimana dong?"
"Tidurnya sama bantal dan guling aja, kalau lagi kepengen ya lakukan aja juga sama bantal dan gulingnya. Pasti mau kok bantal gulingnya itu."
"Huh....itu beda dong rasanya." protes Andika namun dirinya malah ditinggal pergi sama Arisa yang sudah menyusul ibunya yang sedang menunggu di ruang tamu.
Akhirnya, meski tidak rela, mau tidak mau dia harus merelakan istrinya menginap dengan mertuanya beberapa hari. Jalanan cukup macet siang itu, sehingga mereka baru sampai ke rumah ibu Arisa setelah 2 jam kemudian. Saat mobil mereka terparkir di depan rumah Dina, beberapa tetangga keluar melihat dan mencari tahu siapa gerangan yang datang. Memang seperti itulah kebiasaan emak-emak di kompleks tentang tinggal Dina itu.
Saat mereka memasuki pekarangan rumah, salah seorang tetangga menyapa mereka.
"Akhirnya pulang juga Jeng Dina, syukurlah sudah sehat.. Tahu gak, aku tuh selalu berdoa untuk kesembuhan Jeng Dina lho...." sapa Jeng Asih, salah satu tetangga Dina.
"Iya nih, makasih ya Jeng Asih atas doa-doanya selama ini." jawab Dina sekedar basa-basi. Andika mengernyitkan dahinya terlihat bingung, mendengar percakapan ibu mertua dengan tetangganya itu.
__ADS_1
Ibu masih mengenal tetangganya dengan baik. Apa jangan-jangan.....
Kemudian, mereka pun masuk ke dalam rumah. Namun tentu saja, mereka harus kerja keras dulu untuk membersihkan rumah tersebut agar layak ditempati dulu, karena sudah ditinggal cukup lama. Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat mereka telah selesai membereskan rumah tersebut. Setelah beristirahat sebentar, barulah Andika pamit untuk pulang ke apartemennya.