Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Menghadiri Reuni part 2


__ADS_3

"Mari kita sambut Larasti Andini, untuk mempersembahkan sebuah lagu kepada kita semua malam hari ini, mewakili angkatan ke-35. Mari kita sambut dengan tepukan tangan yang meriah." Seketika itu tepukan riuh dari para hadirin mengiringi Rasti naik ke atas panggung.


"Selamat malam semua, senang sekali saya dapat berada di tempat ini, bertemu dengan banyak teman lama, teman seangkatan, maupun kakak kelas dan adik kelas. Izinkan saya menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur kita semua, sebuah lagu spesial yang ditujukan oleh seseorang yang spesial di hati saya." ucap Rasti sebagai kata pembuka, sebelum dia mulai menyanyikan sebuah lagu. Para hadirin begitu antusias mendengarkan ketika Rasti membawakan lagu tersebut, lagu tentang mencintai kekasih yang telah dimiliki oleh orang lain.


"Sepertinya lagu itu ditujukan untukmu tuh Bro, hahaha..." goda Rinto yang masih duduk di samping Andika.


"Akh....sembarangan aja kamu."


"Ya....secara, kalian kan dulu pernah pacaran, dan sekarang kamu udah nikah dengan yang lain. Pas kan dengan lagunya tadi."


"Belum tentu, siapa tahu dia juga punya pacar selain aku." ujar Andika mengemukakan alasan yang mungkin saja terjadi.


"Akh, seingatku dia tuh cinta mati sama kamu. Ingat gak, waktu kamu pernah iseng godain adik kelas, murid pindahan waktu itu. Rasti langsung nekat minum obat tidur sampai over, karena kirain kamu selingkuhin dia. Syukur aja dia gak benar-benar lewat waktu itu, kalau iya repot kamu mempertanggung jawabkan sama emak bapaknya..." lanjut Rinto menjelaskan panjang elbar.


"Masa sih?" tanya Andika rasa tidak percaya.


"Yeah....nih benaran deh, kamu tuh hilang ingatan atau apa ya, masa tak satu pun kejadian waktu SMA kamu ingat, benar-benar deh." Andika terkekeh dengan ucapan Rinto. Kalau dia kasih tahu yang sebenarnya bahwa dia memang hilang ingatan, mungkin Rinto akan kaget setengah mati kali. Tetapi tidak deh, dia tidak mau kalau sampai nanti orang-orang jadi mengasihaninya.


Acara demi acara berlangsung dengan lancar, hingga sampai pada sesi acara ramah tamah, di mana semua hadirin dipersilakan untuk menikmati hidangan prasmanan yang telah disiapkan di stand-stand yang tersebar cukup banyak di dalam ballroom yang luas itu.


Saat Andika sedang berjalan sambil melihat stand makanan apa yang akan disinggahi, tiba-tiba seorang wanita memanggil dari belakang.


"Andika..." Seketika itu Andika langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kamu?"


"Iya....aku Rasti, masa iya sih, kamu melupakan aku?" tanya Rasti pura-pura, padahal dia sebenarnya tahu persis bahwa Andika memang mengalami lupa ingatan akibat kecelakaan, sesuai informasi yang didapatkannya.


"Sudah lama ya, kita tidak bertemu. Aku merindukanmu deh..." lanjut Rasti berucap manja kepada Andika membuat laki-laki itu tidak bergeming.


"Kita duduk di sana yuk, sambil bercerita-cerita, hitung-hitung melepas kangen." ajar Rasti sambil menunjuk ke arah meja yang kosong. Tidak enak untuk menolak, akhirnya Andika mengambil beberapa dessert secukupnya dan duduk di tempat yang ditunjuk Rasti tadi.


"Bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Andika sekedar basa-basi untuk membuka obrolan.


"Aku baik. Aku tinggal di luar negeri sejak kita mengakhiri hubungan kita dulu. Aku kecewa, kamu lebih memilih Erina daripada aku setelah sekian lama kita menjalin hubungan." ujar Rasti mendesah kecewa.


"Aku tidak mungkin mampu melihat kamu bersanding dengan wanita lain. Karena itu, aku milih tinggal di luar negeri untuk mengobati luka di hatiku ini. Tetapi rupanya tidak berhasil, Dika. Aku tetap saja tidak bisa melupakanmu." lanjut Rasti membuat Andika menjadi tidak enak hati seketika itu.


"Aku masih mencintaimu, Dika." tiba-tiba saja Rasti sudah memegang tangan Andika. Dengan cepat, Andika menarik tangannya dari genggaman Rasti.


"Aku tidak peduli itu, aku percaya jauh di dalam lubuk hatimu, kamu masih mencintaiku....aku cinta pertamamu, Dika." ujar Rasti ngotot dengan mata berkaca-kaca, terlihat sedang menahan tangisannya. Apakah ini tangisan benaran atau yang dibuat-buat, entahlah.


"Aku mencintai istriku sekarang, Erina....satu-satunya wanita yang kucintai saat ini." ucap Andika.


"Hahaha.....aku tidak percaya, kalau kamu tetap akan mencintai istrimu jika suatu hari nanti kau tahu akan kebenarannya." balas Rasti.


"Kebenaran? Apa maksudmu?" tanya Andika bingung.

__ADS_1


"Suatu hari nanti kamu akan tahu itu, kalaupun aku cerita sekarang, kamu juga pasti tidak percaya kepadaku." jawab Rasti. Dia tahu bahwa kalaupun sekarang dia menceritakan semuanya, belum tentu dia berhasil meyakinkan Andika, yang ada malah nanti dia dikira mengada-ngada karena ingin memiliki Andika. Jadi, dia tidak mau gegabah dalam hal ini. Dia akan menjalankan rencananya dengan baik, pelan tapi pasti.


"Kamu bahagia hidup dengan istrimu sekarang?" tanya Rasti


"Iya, aku sangat bahagia memilkinya sekarang. Kuharap kamu juga dapat menemukan seseorang yang kau cintai dan bisa membahagiakanmu suatu hari nanti." ucap Andika tulus.


"Tidak mungkin....hatiku benar-benar hanya mencintaimu seorang, aku tidak mungkin bisa membuka hati lagi untuk pria lain." ketus Rasti.


"Waktu yang akan menjawab segalanya." balas Andika.


"Iya, kamu benar....waktu yang akan menjawab segalanya." Rasti menyungingkan senyum penuh maksudnya.


"Jadi, sekarang kamu tinggal di mana? Apakah kamu pulang dari luar negeri sekedar untuk menghadiri reuni ini?"


"Tidak....Aku sudah menetap di sini hampir sebulan. Aku memilih pulang saat mendengar kabar bahwa kamu....." ucapan Rasti terhenti karena sadar dia hampir saja kecoplosan. Andika mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya di dalam pikirannya saat ini.


"Bahwa kamu akan menikah....Aku kira aku bakalan diundang, tetapi rupanya tidak ada undangan yang kuterima." jawab Rasti memberikan alasan yang masuk akal.


"Oh....kalau soal itu, maafkan aku. Waktu itu memang pernikahanku dibuat secara sederhana, tidak mengundang banyak orang." balas Andika.


"Tidak ada apa-apa."


"Tetapi, ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak mengajak istrimu ikut reuni juga, bukankah Erina juga alumni SMA ini?" tanya Rasti pura-pura. Andika sendiri baru tahu dari cerita Rinto tadi bahwa istrinya rupanya alumni SMA Adiguna juga. Dia menyesal tidak mengajaknya ikut tadi.

__ADS_1


"Oh....dia sedang kecapean, jadi dia tidak mau ikut tadi." Jawab Andika asal.


"Erina beruntung ya, bisa memilikimu sebagai suaminya. Aku iri deh dengannya, harusnya aku yang ada di posisinya saat ini." lanjut Rasti. Mendengar hal itu, membuat Andika merasa tidak nyaman hati. Entah bagaimana lagi, dia harus menjelaskan kepada gadis di depannya, bahwa sekarang dia sudah menikah dan tidak mungkin mencintainya lagi, terlepas seberapa dekat hubungan mereka dulu.


__ADS_2