
Sepertinya dugaan Arisa benar, kalau wanita itu adalah kekasihnya Alex. Namun, Arisa tidak ambil peduli akan hal itu, karena itu bukan urusannya. Diapun kemudian kembali ke meja kerjanya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah setengah jam kemudian, barulah wanita itu keluar dari ruangan Alex. Sekilas saat Arisa kebetulan menoleh ke arahnya, dia melihat mata sembab milik wanita tersebut. Dia pasti habis menangis, pikir Arisa. Wanita itu pun segera berlalu dari hadapan Arisa tanpa menoleh sedikitpun ke arah Arisa.
Tak lama kemudian, telepon di meja kerja Arisa berbunyi, Arisa bergegas menjawab panggilan tersebut.
"Baik, Pak!" ucap Arisa menjawab panggilan telepon dari Alex yang menyuruhnya untuk menghadapnya.
Arisa segera berjalan menuju ruangan Alex yang tentu saja tidak jauh dari meja kerjanya. Setelah mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut, Arisa melihat wajah datar Alex yang sedang duduk di balik meja kerjanya, kelihatan sedang melamun. Entah apa yang dipikirkannya.
"Permisi, Pak!" ujar Arisa membuyarkan lamunan Alex
"Iya, ...Eh....Oh iya....mana laporan jadwal pertemuan klien yang saya minta tadi?" tanya Alex
"Ini Pak!" jawab Arisa sambil menyodorkan map dokumen yang dipegangnya. Alex terlihat membacanya dengan teliti.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya Arisa sopan, meski sebenarnya Alex merasa sedikit risih dipanggil secara formal oleh Arisa.
"Tidak ada lagi."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Pak!"
"Tunggu dulu!" ujar Alex tiba-tiba saat Arisa sudah membalikkan badannya dan akan berjalan ke luar.
"Iya, ada apa, Pak?"
"Mengenai kejadian tadi, aku minta maaf."
"Kejadian tadi? Maksud Bapak? Saya tidak paham, saya rasa saya tidak ada sangkut pautnya. Dan Bapak tidak perlu meminta maaf kepada saya." jawab Arisa sedikit kebingungan.
"Maksudku, aku minta maaf tadi harus menyuruhmu keluar dari ruanganku tadi."
"Oh, itu bukan masalah. Bukankah memang seharusnya begitu."
__ADS_1
" Iya, tetapi aku takut kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Farah."
Oh, jadi wanita judes itu namanya Farah.
"Oh, tidak masalah buat saya, Pak. Kalaupun Pak Alex ada hubungan dengan Nona Farah, itu juga bukan urusan saya. Itu hak Bapak." ucap Arisa santai.
"Tetapi aku tidak menyukai dia. Aku menyukaimu, Arisa." ujar Alex.
"Maaf, Bapak kan tahu, kalau saya sudah punya suami, Pak!"
"Tolong, jangan panggil aku dengan sebutan Bapak. Rasanya terdengar risih di telingaku ini!"
"Ini kantor, Pak. Anda adalah atasan saya dan saya adalah bawahan Anda. Bukankah sepantasnya saya memanggil seperti itu!" ucap Arisa berargumen.
"Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi, Pak!" lanjut Arisa, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alex. Tinggallah Alex seorang yang meratapi nasibnya, kenapa hubungan percintaannya selama ini tidak pernah berjalan dengan mulus. Saat dia benar-benar jatuh cinta kepada seorang wanita, wanita itu lalu pergi meninggalkannya atau wanita itu sudah punya pasangan, sedangkan wanita-wanita yang antri untuk mendekatinya, tetapi tak satupun yang menarik perhatiannya.
Alex kemudian menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Namun, masalah yang dihadapi dengan dengan Farah cukup menyita perhatiannya. Farah adalah anak dari teman orang tuanya. Sejak putus dengan kekasihnya dulu, Alex menutup diri dan tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita lain. Untuk itu, kedua orang tua Alex sepakat menjodohkan Farah dengannya. Dari awal Farah memang menyukai Alex, namun Alex tidak pernah benar-benar bisa membuka hatinya untuk menerima Farah.
Selama ini, dia sudah berusaha untuk selalu bersikap baik kepada Farah, untuk menyenangkan hati orang tuanya. Namun, semakin hari, Farah sepertinya semakin gencar mendekatinya bahkan begitu terobsesi, sehingga membuat Alex merasa risih.
Beberapa hari ini, Alex memang sengaja mengacuhkan panggilan telepon dari Farah, karena dirinya sedang tidak mau diganggu. Oleh karena itu, Farah datang dan marah-marah kepadanya tadi.
Sementara itu, Arisa mulai bersibuk dengan pekerjaannya di depan komputer. Sesaat dia baru teringat ingin menanyakan sesuatu dan meminta saran kepada Dinda dan Reni. Maka diapun mengirimkan sebuah pesan untuk menyapa kedua temannya yang kini beda lantai dengannya.
Arisa : Hai guys....
Dinda : Hai Risa, gimana kabarmu di lantai atas? Enak ya, bisa berdekatan dengan Tuan Tampan kita terus nih....
Reni : Iya tuh....
Arisa : Apaan sih, biasa saja kali.....
Arisa : Oh, ya, mau tanya dong guys.....Kalian tahu gak kira-kira di mana tempat bisa untuk kursus kecantikan?
__ADS_1
Reni : Beauty class? maksudmu say...
Dinda : Cie.....Cie....buat apa hayo? mau belajar berdandan lagi, pasti untuk menggaet si Tuan Tampan ya?
Arisa : Ada aja....gimana? Tahu gak?
Dinda : Aku kurang tahu deh, gimana dengan kamu Ren?
Reni : Seingatku, salon langganan mamaku, ada tuh menawarkan jasa kursus merias wajah...
Arisa : Benaran???
Reni : Iya, kalau kamu mau. Nanti aku temani deh, pergi daftarnya dan atur jadwalnya pertemuannya.
Arisa : Sip...sip....makasih ya guys..
Reni : Gimana kalau sore ini, habis pulang kerja. Tempatnya gak jauh kok dari sini. Itu lho, di mall XXX yang ada di jalan Mawar.
Arisa : Oh....boleh juga. Kamu ikutan Dinda?
Dinda : Ikut dong, aku akan mau cuci mata sekalian....
Arisa : oke, sampai ketemu nanti. Aku lanjut kerja dulu ya guys....
Arisa bersemangat menyelesaikan pekerjaannya hari ini, bahkan sampai jam makan siang pun dia lewatkan, karena ada laporan yang diminta oleh Alex untuk diselesaikan cepat. Dia tidak menyadari, kalau sudah waktunya makan siang, sampai ketika Alex keluar dari ruangannya dan menyapanya.
"Kamu tidak pergi makan siang, Arisa?" Arisa melihat sekilas ke jam tangannya. Dia benar-benar tidak menyadari waktu berjalan begitu cepat.
"Gimana kalau kita pergi makan siang bersama?" ajak Alex
"Tidak perlu, Pak. Saya sudah pesan makanan online." jawab Arisa berbohong untuk menolak ajakan Alex tersebut.
"Ayolah, Aku tidak suka dengan penolakan!" ucap Alex serius sambil menatap tajam ke arahnya. Arisa menjadi bingung apakah harus menuruti ajakan Alex atau menolaknya. Dia tidak mau menjadi bahan perbincangan para karyawan di perusahaan ini, seolah-oleh dia mengambil kesempatan untuk mendekati atasannya itu, apalagi dengan statusnya sebagai karyawan baru. Tetapi tatapan Alex dengan wajahnya yang memelas membuat dia tak berdaya untuk menolak. Biar bagaimanapun, Alex adalah orang yang pernah menjadi orang yang spesial dalam hatinya.
__ADS_1
******
Maaf ya, kalau updatenya agak lambat. Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman melalui like, komen dan vote, jika berkenan, supaya author semakin semangat untuk lanjut menulis. Terima kasih semuanya.