Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Kebohongan Baru


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dalam mobil, Arisa sebenarnya ingin menanyakan satu hal kepada Andika, mengapa Andika memanggil dengan namanya yang sebenarnya, bukankah di dalam ingatannya itu Arisa adalah Erina.


"Ada apa? kelihatannya kamu tidak senang pulang bersamaku?" tanya Andika.


"Oh tidak, aku tidak keberatan kok pulang bersamamu sekarang. Hanya saja, aku ingin menanyakan sesuatu, kalau boleh."


"Apa itu? Katakan saja!"


"Mengenai tadi, kenapa kamu memanggilku dengan nama Arisa di depan ibu? Apakah kamu sudah....?" tanya Arisa namun tidak yakin untuk melanjutkan.


"Oh soal itu, aku sudah tahu yang sebenarnya." jawab Andika santai.


"Hah? Jadi kamu sudah tahu kalau ....?"ucap Arisa namun terpotong oleh Andika.


"Ya, aku sudah tahu dari cerita mama kemarin kalau ibu juga hilang ingatan sepertiku. Dan ibu mengira kamu adalah Arisa, padahal kamu adalah Erina. Jadi, rupanya kamu dan Arisa memang saudara kembar ya, pantesan ada yang memanggilmu Arisa. Namun, mama sudah menjelaskan kepadaku kemarin." Arisa tambah bingung. Kebohongan apa lagi yang dibuat oleh ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Emang apa kata mama soal ibu dan aku?" tanya Arisa


"Lho kok tanya balik, bukannya kamu yang menceritakan kepada mama saat mama berkunjung ke rumah sakit kemarin?" Arisa semakin bingung, seingatnya dia tidak menceritakan apa-apa tetapi dia tetap berpura-pura mengiyakan supaya Andika tidak curiga.


"Oh iya....mama kemarin memang ada datang dan aku memang sempat menceritakan sekilas tentang kehidupan keluargaku." jawab Arisa.


"Nah tuh kan, tetapi aku masih penasaran, emang kenapa sih sampai Arisa minggat dari rumah sih?" tanya Andika.


Minggat dari rumah? Apalagi ini? Sebenarnya apa sih yang diceritakan mama kepada Andika.


Ini yang hilang ingatan siapa sih? Jadi, bingung....Lha, kan memang aku Arisa, ngapain lagi berperan jadi Arisa. Ucap Arisa dalam hati. Ada-ada saja cerita yang dibuat oleh Anita, mamanya Andika. Ini sih bisa makin runyam ceritanya.


"Hei, kok melamun? Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi tuh." ujar Andika membuyarkan lamunan Arisa.


"Pertanyaan apa?"

__ADS_1


"Itu lho, kenapa sih Arisa minggat dari rumah beberapa tahun yang lalu?" Mau tidak mau, kali ini Arisa ikut-ikutan menyusun skenario cerita yang masuk akal untuk mendukung cerita yang sudah dimulai oleh ibu mertuanya itu agar terdengar meyakinkan.


"Oh itu, Aku dan Arisa memang saudara kembar. Ayah meninggal ketika kami masih kecil, sehingga ibu yang berjuang sendiri untuk membesarkan kami." Sampai di sini, ceritanya memang benar karena Ayah Arisa memang meninggal saat dia masih sekolah SD, tetapi tidak soal saudara kembar yang dia miliki.


"Saat mulai masuk sekolah SMA, Arisa memiliki pacar yang membuatnya tidak fokus lagi belajar. Ibu menjadi marah. Ibu mau kami hanya fokus sekolah dulu dan tidak menjalin hubungan spesial dengan laki-laki dulu karena kuatir kami akan kebablasan, tetapi Arisa tidak mau terima pandangan ibu. Menurutnya, sah-sah saja bukan, kalau gadis seumurannya boleh pacaran sambil sekolah." Arisa berhenti sejenak, berpikir mau dikarang seperit apa lagi mengenai cerita dirinya yang minggat dari rumah.


"Terus....terus?" tanya Andika penasaran.


"Dan benar saja, kekuatiran ibu terjadi. Arisa hamil sebelum menyelesaikan sekolahnya. Ibu marah marah besar atas apa yang terjadi. Sedangkan, Arisa berpikir bahwa ibu pilih kasih, lebih menyayangiku daripadanya. Akhirnya suatu malam, tanpa sepengetahuan kami dia pergi diam-diam dari rumah. Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi mendengar kabar dari Arisa. Mungkin dia kawin lari dengan laki-laki yang menghamilinya itu." lanjut Arisa dengan cerita yang sengaja didramatisirnya.


"Hiks....hiks...mungkin karena itu, ibu jadi merasa bersalah, karena ketika tahu bahwa Arisa hamil, ibu marah besar hingga mengatakan bahwa ibu malu memiliki anak seperti Arisa." lanjut Arisa pura-pura menangis agar kelihatan lebih meyakinkan.


"Aku turut bersedih dengan masalah yang dihadapi keluargamu..... Udah... udah...jangan nangis lagi, cup..cup..." ucap Andika menghibur Arisa yang berpura-pura sedih.


Oh, my God, kenapa aku mengarang cerita yang menjelekkan diriku sendiri?

__ADS_1


__ADS_2