
Pagi ini, giliran Arisa yang bangun duluan daripada Andika. Laki-laki itu masih saja meringkuk di dalam selimutnya dan tertidur nyenyak, padahal jam sudah menunjukkan setengah delapan.
Apakah dia tidak kerja hari ini? Tumben belum bangun dari tadi.
Selesai mandi dan menyiapkan sarapan, Arisa masuk ke dalam kamar untuk memanggil suaminya itu untuk sarapan. Tadinya, dia berpikir mungkin selesai menyiapkan sarapan, laki-laki itu sudah terbangun, tetapi rupanya posisinya masih sama sejak dari tadi.
"Bangun....bangun...Apakah kamu tidak kerja hari ini, Mas?" ucap Arisa sambil menggoyangkan badan Andika, namun seketika itu dia merasakan hawa panas yang menyembur keluar dari tubuh suaminya itu.
"Arghh...." Andika mengerang lembut, namun tetap saja belum membuka matanya.
"Badanmu panas, kamu demam mas, kita periksa ke dokter ya." ujar Arisa setelah menempelkan punggung tangannya di dahi Andika.
"Aku tidak apa-apa, hanya perlu istirahat saja. Nanti aku kabari papa, tidak ke kantor hari ini."
"Tunggu sebentar, aku bawakan kompres dan obat pereda panasnya ya." ujar Arisa sambil beranjak dari tempat tidur, namun belum sempat dia bangun sempurna, tangannya ditarik oleh Andika hingga akhirnya badannya terjatuh dalam dekapan Andika.
"Jangan pergi, tetap saja seperti ini dulu!" pinta Andika membuat Arisa merasa canggung berada di dalam pelukan Andika, ditambah lagi hawa panas dari tubuh Andika membuat badan Arisa juga ikut-ikutan panas dan jantungnya berdegup kencang.
Cukup lama, mereka berada dalam posisi seperti itu. Kali ini Arisa benar-benar patuh, tidak bergerak sama sekali membuat Andika mendekap semakin erat. Hingga tiba-tiba bunyi musik dalam perut Andika kedengaran menandakan bahwa perutnya sedang dalam mode keroncongan saat ini.
"Kamu lapar? aku siapkan makanannya dulu ya." Kali ini Arisa mempunya alasan untuk melepaskan diri dari dekapan Andika.
__ADS_1
"Hmm....jangan lama ya!"
Arisa segera menuju dapur untuk membawa sarapan yang telah dibuat sebelumnya.
"Makan pelan-pelan ya, nih aku buatin teh hangat juga!"
"Aku siapkan kompres dan obat pereda panasnya dulu ya!" lanjut Arisa, rupanya dia cukup cekatan merawat orang sakit. Maklum, keadaan yang melatihnya seperti itu, ketika ibunya sedang sakit dulu, maka dia satu-satunya orang yang merawat ibunya karena hanya dia anak satu-satunya.
Rupanya enak juga ya diperhatiin begitu kalau lagi sakit begini. Kalau tahu dari awal, kan gak usaha payah-payah aku berpura-pura marah tadi malam(padahal sebenarnya memang marah sih), harusnya berpura-pura sakit saja, lebih mempan. Guman Andika dalam hati sambil tersenyum memandang Arisa yang sedang sibuk mencari kotak obat di salah satu lemari di sudut kamarnya saat ini.
"Ini obatnya, kamu minum ya setelah makan. Habis itu tiduran aja, aku bantu kompres ya." Andika mengangguk pelan.
Setelah selesai makan, Andika segera meminum obat dan kemudian mengompres dahinya dibantu oleh Arisa. Meskipun sedang sakit, tetapi hatinya senang karena bisa mendapatkan perhatian dari istrinya itu.
"Tapi...."
"Tapi apa, kamu menolak untuk menemani aku?" tanya Andiak
"Bukan begitu, hari ini rencananya aku harus pergi belanja ke supermarket. Persediaan makanan kita sudah habis. Kalau tidak, nanti siang kita mau makan apa."
"Oh....ya sudah, kamu boleh pergi belanja dulu, tetapi jangan lama-lama ya, aku tidak mau sendirian kelamaan." ujar Andika manja, maklum sedang sakit.
__ADS_1
"Pakai ini!" Andika menyodorkan kartu kredit kepada Arisa.
******
Arisa pergi ke mall terdekat di daerah kompleks apartemennya itu dengan menggunakan taksi online. Meski ada mobil Andika yang sedang menganggur dan memang ditawari oleh Andika untuk menggunakan mobilnya, dia memilih naik taksi online, selain tidak mau repot parkir, dia juga menyadari dirinya belum begitu mahir menyetir mobil karena dia lebih sering mengendarai si Jablay, motor kesayangannya itu.
Sesampainya mall tersebut, dia langsung menuju supermarket di lantai 2 karena memang hanya itu tujuan utamanya. Dengan mendorong troli di depannya, dia mulai berjalan ke arah area grocery, untuk memilih-milih sayur dan buah yang cocok untuk orang sakit. Setelah dirasanya cukup, barulah dia menelusuri area lain untuk mencari keperluan lain yang juga kebetulan habis. Sedang sibuk-sibuk membandingkan harga, tiba-tiba dia dikejutkan oleh satu suara yang menyapanya dari belakang.
"Hei....kamu Arisa kan?" sapa seorang wanita cantik ketika Arisa menoleh ke belakang. Tidak perlu lama untuk mengingat, tentu saja Arisa segera mengenali wanita tersebut, orang yang paling malas dia temui sejak dari SMA dulu.
"Sudah lama ya kita tidak ketemu, tidak kusangka ya, kamu tidak berubah, tetap-tetap aja begini ha...ha...ha..." ledek wanita tersebut menyindir penampilan Arisa, persis seperti yang dilakukannya saat SMA dulu.
Padahal bagi Arisa, dia sudah mencoba mengubah sedikit tampilannya tomboi untuk menjadi lebih feminim, ya sedikit saja. Namun bagi Arisa, itu sudah perubahan besar, tetapi tidak bagi wanita cantik di depannya itu. Biar bagaimanapun, Arisa kalau disandingkan dengan dia ya kalah jauh, Arisa mengakuinya dalam hati.
"Ha...ha...kok diam, pangling ya melihat kecantikan aku. Aku kan memang dari dulu sudah cantik sih, ya tentu saja sekarang lebih cantik." lanjut wanita itu dengan narsis membuat Arisa menjadi semakin geram, rasa ingin menelannya hidup-hidup kalau dia mampu melakukan hal itu.
"Iya...iya, kuakui kamu memang cantik. Saking cantiknya, sampai semua ngantri....ngantriin cermin toilet karena nunggu kamu kelamaan bercermin." ujar Arisa ketus.
"Huh....daripada kamu, aku yakin deh pasti gak ada satupun cowok yang berani dekatin kamu, tomboi begitu, siapa coba yang tertarik sama kamu, yang ada semua pada lari ketakutan, gak jelas ini cowok atau cewek." balas wanita itu tidak mau kalah. Apesnya kebetulan sekali,saat ini Arisa keluar dengan berpakaian santai kaos dan celana jeannya kesukaannya itu. Wanita itu tidak tahu aja, kalau Arisa berdandan dan berpakaian feminim juga terlihat cantik.
"Udah akh, aku gak mau berlama-lama dengan kamu, takut ketularan narsisnya. Penyakit yang gak ada obatnya, buktinya sampai sekarang kamu gak sembuh-sembuh." jawab Arisa tidak mau kalah sembari mendorong trolinya ke depan meninggalkan wanita yang cemberut mendengar jawabannya itu.
__ADS_1
Mimpi apa aku semalam, bisa-bisanya aku ketemu dengan mak lampir itu lagi setelah sekian lama. Gerutu Arisa dalam hati. Wanita cantik itu adalah musuh bebuyutannya waktu SMA dulu. Mentang-mentang cantik dan menjadi primadona sekolah, ditambah lagi orang tuanya yang kaya, kesombongannya menjadi-jadi. Dan parahnya, Arisa selalu menjadi sasaran cemoohannya bersama teman-teman se-gank nya, karena tampilan Arisa yang urak-urakan itu tentu saja tidak level ditandingkan dengannya. Tetapi bukan Arisa namanya, kalau dia hanya diam aja ketika dicemooh, berkali-kali dia menggencarkan aksi melawan balik. Pernah sekali, Arisa mencuri lipstik dari tasnya, lalu dilumurinya dengan sambal pedas buatan ibunya yang kebetulan warnanya hampir-hampir sama dengan lipstik tersebut. Alhasih, wanita itu kepedasan sampai bibirnya dower ketika memakai lipstik tersebut. Mengingat hal itu, Arisa spontan tertawa sendiri, syukur tidak ada orang di sekelilingnya. Puas sekali dia waktu itu.