
Seperti biasa, Arisa selalu mengunjungi ibunya di rumah sakit, karena dia pun merasa kebosanan kalau harus seharian berada di apartemen. Meski ibunya belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar, dia tidak bosan-bosannya bercerita di samping ibunya itu.
"Ibu, kapan ibu bangun? Risa sudah kangen sekali dengan omelan ibu. Risa janji deh, tidak akan bermalas-malasan lagi, tidak akan degil lagi. Lihat Bu, Risa sudah banyak berubah. Bahkan, sekarang Risa sudah bisa berdandan, yah meskipun belum secanggih ibu. Lihat dong Risa sekali-kali, Bu." Mungkin suara-suara celotehen Arisa itu membuat ibunya penasaran di alam bawah sadarnya, tiba-tiba saja tangannya memberikan gerakan-gerakan kecil. Arisa yang melihat itu, spontan berdiri kaget dan segera pergi memanggil dokter.
"Dokter....dokter..." teriak Arisa dengan berlari kecil menuju stand perawat jaga.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Arisa penuh harap sesaat setelah dokter memeriksa keadaan ibunya.
"Sepertinya, keadaan ibu Anda mengalami kemajuan. Gerakan-gerakan kecil dari tangannya tadi menunjukkan responnya terhadap rangsangan suara dari luar" Arisa merasa senang mendengarkan penjelasan dokter tersebut. Sepertinya, tidak sia-sia jika selama ini dia tidak henti-hentinya mengajak bicara ibunya yang sedang koma.
"Teruskanlah usaha Anda untuk mengajak pasien berbicara terus, kemungkinan besar pasien akan merespon, sehingga tingkat kesembuhannya akan lebih cepat. Kita sama-sama berharap ibu Anda akan secepatnya sadar." lanjut dokter kemudian meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh perawat di belakangnya.
"Ibu....ibu dengar itu, ibu pasti bisa sembuh, ibu harus segera sadar ya, Arisa sudah kangen sekali dengan omelan ibu." Tidak bisa dipungkirinya, saat ini dia benar-benar merindukan omelan ibunya itu, rasanya suara cempreng teriakan ibunya yang memanggilnya setiap saat kini menjadi suara merdu yang paling dirindukannya saat ini.
Karena begitu senang dengan berita yang dia dengar hari ini, membuat Arisa ingin memberitahukannya kepada seseorang. Dia meraih handphonenya, mencari nomor Andika namun sesaat kemudian dia mengurungkan niatnya, karena mungkin Andika sedang sibuk di kantor dan dia tidak mau menganggunya dengan hal seperti ini, yang mungkin sepele bagi Andika, pikirnya.
Lalu kemudian, dia mencari nomor Johan, sahabat satu-satunya tempat dia berbagi suka dan duka.
Tut....tut....tut.....bunyi nada tunggu panggilan telepon Arisa
"Halo" terdengar suara dari seberang.
"Johan!" teriak Arisa saking senangnya hingga menggagetkan sahabatnya itu.
"Iya, Risa...pelankan suaranya dong, gendang telinga gue bisa rusak nih kena teriakanmu itu, mana cempreng lagi." balas Johan dari seberang sana.
__ADS_1
"Ada apa, Risa? Tumben loe telepon gue, kangen ya?" lanjut Johan
"Idih, siapa yang kangen? Gue cuma mau kasih tahu, ibu gue Joh, tadi tangannya sudah mulai ada gerakan-gerakan kecil. Ibu merespon Joh saat gue berbicara dengannya."
"Gue senang sekali Joh, maka gue telepon elu, ngabarin kabar bahagia ini."
"Oh ya, gue ikut senang Risa. Berarti loe harus lebih sering ngajak bicara ibumu tuh!" saran Johan
"Iya, tentu dong. Gue berharap ibu akan sadar secepatnya."
"Iya, gue juga berharap begitu. Nanti pulang kerja, gue ke rumah sakit ya. Loe masih ada kan?" tanya Johan.
"Eh...iya....boleh, gue tunggu ya Joh." saking senangnya sepertinya Arisa sudah melupakan ketegangan yang semapt terjadi dia antara mereka berdua beberapa hari yang lalu. Biar bagaimanapun, bagi Arisa Johan adalah sahabat terbaik dalam hidupnya.
Seperti janjinya tadi siang, setelah pulang kerja Johan langsung meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya Arisa, tujuan utamanya sih adalah untuk menemui Arisa. Dia juga merasa senang karena Arisa masih mau berbicara dengannya, syukurlah hubungan persahabatan mereka masih bisa berjalan dengan baik.
"Loe udah nyampe, Joh." ujar Arisa basa-basi saat melihat Johan memasuki ruangan.
"Iya, seperti janji gue tadi, habis kerja gue langsung ke sini. Gimana keadaan ibu loe sekarang?"
"Makin sering nih Joh, ibu mengerakkan jari-jari tangannya. Gue senang sekali." jawab Arisa.
"Syukurlah kalau begitu. Gue yakin pasti ibu loe akan cepat sadar nih."
"Gue juga berharap begitu, Joh."
__ADS_1
Kemudian mereka mulai ngobrol santai seputar tentang pekerjaan Johan di kantornya, teman-teman ngumpul mereka dan hal-hal remeh lainnya. Kali ini, Johan sama sekali tidak berani menyinggung soal kehidupan Arisa karena dia tidak mau hubungan mereka jadi tegang kembali. Sesekali Arisa tertawa terbahak-bahak, membuat Johan ikut bahagia melihatnya karena dia sudah lama tidak sahabat sekaligus gadis yang dicintainya itu tertawa lepas seperti itu.
Tanpa sadar, sepasang mata sedang mengintip keakraban mereka dari balik pintu. Tatapan tajam itu milik seorang pria tampan, siapa lagi kalau bukan Andika yang kebetulan pulang dari kantornya lebih awal hari ini karena dia merindukan istrinya. Hatinya terbakar api cemburu melihat kedekatan istrinya dengan Johan, meskipun dia tahu bahwa Johan adalah sahabat istrinya dari dulu sebelum mereka menikah.
"Ehem.....hemm." Andika pura-pura batuk sambil memasuki ruangan. Seketika itu, Arisa dan Johan terkaget membalikkan badannya melihat siapa yang datang.
"Sudah datang, Mas. Tumben kok awal?" tanya Arisa.
"Iya. Aku merindukanmu, sayang." jawab Andika menyembunyikan kecemburuannya tadi sembari berjalan mendekati Arisa untuk mencium kening istrinya. Kali ini, dia mau membalas membuat Johan merasakan kecemburuan yang sama seperti yang dia rasakan tadi.
Melihat hal itu, tentu saja itu berhasil membuat Johan cemburu, meskipun dia menyadari betul status Arisa saat ini, namun Johan masih benar-benar tidak rela Arisa telah menjadi istri dari laki-laki di depannya itu. Dalam hati dia berjanjir, akan bekerja dengan sebaik mungkin, supaya dirinya cepat dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi, hingga dia layak untuk bersaing dengan Andika suatu saat nanti, pikirnya Johan.
"Rasanya sudah cukup lama juga gue di sini, kalau gitu gue permisi dulu, Erina." pamit Johan yang mulai bisa membiasakan dirinya memanggil Arisa dengan nama Erina jika ada Andika di dekatnya.
Apa? dia sudah lama di sini? seberapa lama dia sudah bersenda gurau dengan istriku? Kurang ajar.....ini tidak boleh dibiarkan. Aku tidak rela dia mencari-cari kesempatan untuk mendekati istriku. Guman Andika dalam hati.
"Gimana keadaan ibu, sayang?" tanya Andika mengalihkan kekesalannya itu.
"Aku senang sekali, ibu hari ini menggerak-gerakkan tangannya. Kata dokter, ibu mengalami banyak kemajuan. Jika konsisten, ibu mungkin bisa cepat sadar." Arisa menjelaskan dengan penuh antusias.
"Wah, syukurlah....Aku senang mendengarnya, mudahan ibu mertuaku ini cepat sadar secepatnya ya, supaya aku bisa memperkenalkan diri." ujar Andika sambil tersenyum kepada Arisa.
"Iya, saking senangnya, makanya tadi kukabarkan kepada Johan, makanya dia datang ke sini tadi. Johan dari dulu juga dekat dengan ibu." ujar Arisa tidak sadar. Ups, dia tersentak sendiri sepertinya dia salah bicara. Dia langsung menyadari raut wajah Andika yang berubah.
"Kita pulang sekarang. Aku sudah capek seharian di kantor, lagipula kamu juga pasti capek seharian di rumah sakit." ketus Andika yang langsung berjalan ke arah pintu tanpa menghiraukan Arisa di belakangnya.
__ADS_1