Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Permintaan Arisa


__ADS_3

Arisa terbangun saat seorang perawat masuk untuk mengecek kondisi ibunya seperti biasa. Dia segera bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar. Dilihatnya wajahnya di depan cermin yang tergantung di salah satu sisi kamar mandi tersebut. Apakah benar wajahku ini mirip dengan yang namanya Erina, aku ingin sekali bertemu dengannya, supaya bisa melihat seberapa tingkat kemiripan kami ini sih.


Keluar dari kamar mandi, dia kaget melihat seorang laki-laki sudah duduk di kursi di dekat ibunya itu.


"Hei....siapa kamu?" tegur Arisa langsung karena posisi laki-laki itu duduk membelakanginya.


"Kamu......" ujar Arisa kaget ketika laki-laki itu membalikkan badannya dan tersenyum padanya.


"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Arisa


"Mama yang memberitahuku, supaya aku datang menemanimu." jawab Andika santai.


"Ini calon mertuaku?" tanyanya sambil menatap ke arah ibu Arisa.


"Hah....apa maksudmu?" Arisa tiba-tiba lupa dengan perjanjiannya dengan Nyonya Anita, menatap balik laki-laki tampannya itu dengan penuh kebingungan.


"Akh...iya...." lanjutnya langsung tiba-tiba teringat akan perjanjiannya itu. Ya ampun, aku kok bisa sampai lupa sih, ini pasti gara-gara makan martabaknya Johan tadi malam nih. Lha kok, Johan dibawa-bawa...


" Bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Andika ingin tahu.


"Kamu bisa lihat sendiri, masih koma, belum sadar dari sejak operasi beberapa hari yang lalu...huh...." keluh Arisa.


" Tenang, mamamu pasti akan sadar kembali, supaya bisa melihat kita menikah nanti."


"Hah....menikah....???" Arisa masih merasa tidak percaya. Masih terasa seperti mimpi baginya, dia akan menikah dengan laki-laki asing di depannya itu yang belum benar-benar dikenalnya. Dan parahnya, dia harus berperan sebagai Erina, bukan sebagai dirinya sendiri. Pernikahan seperti apa itu, apakah mungkin dia akan menemukan kebahagiannya di dalam pernikahan semu ini, pikirnya.


"Iya, apakah kamu lupa? Kita sudah mempersiapkan semuanya, bahkan gaun pengantimu pun sudah siap...atau jangan-jangan kamu juga lupa ingatan seperti aku?" tanya Andika yang tiba-tiba saja sudah mendekatinya, memegang kepalanya seolah-olah mengecek apakah ada luka di kepalanya itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Anita berusaha melepaskan kepalanya dari genggaman Andika.

__ADS_1


"Mau cek aja...siapa tahu kepalamu juga terbentur, jadi lupa ingatan seperti aku." jawab laki-laki itu.


Dasar, Anda sendiri yang lupa ingatan hingga ngaku-ngaku jadi calon suamiku. Aku mah masih sehat. Arisa geram dalam hatinya.


"Baguslah kalau kamu sehat, gak lupa ingatan....karena kita akan menikah dalam waktu dekat ini ya."


"Ha...apa?" Anita memastikan dia tidak salah dengar.


"Semuanya sudah disiapkan, jadi tunggu apa lagi, kita akan menikah sesuai rencana kita." lanjut Andika.


"Tetapi, apakah ini tidak terlalu cepat? bukankah kita belum menge....." Arisa terhenti tiba-tiba teringat bahwa salah satu dari perjanjiannya dengan mama Andika adalah dia berperan sebagai Erina. Itu artinya, dia harus pura-pura sudah mengenal Andika lama.


"Tetapi kenapa? Apa yang mau kamu bilang tadi." tanya Andika menangkap kerisauan pada wajahnya.


"Oh tidak, maksudku bukan terlalu cepat, sedangkan ibu belum sadar dan kamu sendiri, bukankah baru sembuh setelah mengalami kecelakaan." jawab Arisa mengalihkan pembicaraan.


"Lalu memangnya, kapan kita akan menikah?" tanya Arisa menyadari bahwa dia memang tidak bisa menghindar dari pernikahan ini.


" Dua minggu lagi, sekarang tinggal tunggu cetakan undangannya jadi, terus kita bagikan....persiapan lain semua sudah oke." Arisa semakin kaget mendengar jawaban laki-laki di depannya itu. Tunggu dulu, aku tidak berpikir pernikahannya akan dilakukan secepat ini, kukira mungkin beberapa bulan ke depan, sambil menunggu kami mengenal lebih jauh dulu. Oh tidak....


"Kenapa kaget? apakah kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Andika curiga melihat wajah kaget Arisa.


"Oh tidak, tentu saja aku sangat senang bisa menikah dengan laki-laki setampan kamu..." jawab Arisa asal untuk menghilangkan kecurigaan Andika.


"Hanya saja, aku tidak menyangka akan secepat ini....Tetapi...hmm...bolehlah aku meminta sesuatu." lanjut Arisa.


"Oh...tentu saja...untuk calon istri secantik kamu, apa sih yang tidak buat kamu." balas Andika.


Akh....gombal. Apakah dirimu ini selalu ngegombalin calon istrimu yang bernama Erina itu Tuan.

__ADS_1


"Apa yang kamu minta?" tanya Andika.


"Aku ingin meminta.....bolehkah kalau pernikahan kita dilakukan secara sederhana saja?" Andika mengernyitkan dahinya.


"Sederhana? Maksud kamu?"


" Iya, tidak perlu mewah, tidak perlu mengundang terlalu banyak orang, cukup keluarga dekat saja, bukankah yang terpenting kita menikah." pinta Arisa dengan muka memelas, berpura-pura dengan suara manja untuk meluluhkan hati Andika, pikirnya.


"Hmm...." Andika menghela nafas panjang mendengar permintaan aneh Arisa.


"Soal ini aku tidak bisa memutuskan sendiri, kita akan bicarakan nanti dengan orang tuaku, mudah-mudahan mereka setuju dengan permintaan anehmu ini, mengingat papaku memiliki banyak relasi bisnis yang tentu saja mau diundangnya." jawab Andika.


"Okelah, kalau begitu...aku akan tunggu kabar darimu."


Arisa kemudian menatap tajam kepada Andika. "Terus, apakah kamu mau seharian berada di sini?" seperti kurang kerjaan saja. Lagipula apa yang mau dilakukannya sepanjang hari di sini, menganggu saja.


" Kalau kamu izinkan, kenapa tidak?" jawab Andika santai.


Aduh, jangan sampai deh, dia seharian di sini. Apalagi kalau tiba-tiba Johan ikutan nongol juga ke sini, bisa curiga anak itu.


"Aku lapar, temani makan, yuk." ajak Andika


"Oke, aku temani makan, tapi habis itu kamu pulang ya..."


"Lho....kok aku diusir, apa kamu tidak mau ditemani calon suamimu?" tanya Andika. Calon suami? calon suami dari Hongkong, aduh....ngaku-ngaku lagi, iya....calon suami pura-pura. Ketus Arisa dalam hati.


Lalu mereka pun berjalan keluar menuju kantin rumah sakit untuk mencari makanan di situ. Kebetulan cacing-cacing di dalam perut Arisa sudah demo dari tadi meminta jatah pengisian karena memang dia belum sarapan apa-apa sejak bangun tadi.


Sepanjang jalan menuju kantin, Arisa merasa banyak mata menatap aneh kepada mereka. Entahlah, mungkin mereka melihat ada yang aneh pada dirinya dan Andika, karena dirinya yang semrawut dan lusuh begitu kok bisa berjalan berdampingan dengan laki-laki tampan, macho dan elegan begitu, gak cocok banget deh, mungkin gitu pikir orang-orang. Ini apa lagi, pakai pegang-pegang tangan segala. Arisa berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Andika, tetapi malah laki-laki itu mengenggam lebih erat lagi, sehingga akhirnya Arisa memilih pasrah saja.

__ADS_1


__ADS_2