
Leo terdiam. Perlahan matanya mulai menghindari tatapan mataku.
"Kita bobo aja ya udah malam. Jangan bahas topik yang bisa buat kita berantem lagi." Leo menurunkan lengannya dan hendak berbalik badan namun aku mencegahnya.
"Kenapa kita harus berantem?" aku menuntut jawaban dari Leo.
Dua bulan lebih kami hidup bersama dan selama itu pula Leo yang kukenal dulu begitu hangat malah menjauh. Bahkan tak pernah sekalipun menyapa anak dalam kandunganku yang sejatinya adalah anak kandungnya sendiri.
"Aku lelah May. Kita bicarakan nanti aja ya."
"Tapi-" Leo tak mengindahkan perkataanku. Ia menepis tanganku dan berbalik badan. Leo terus memunggungiku dan tak menghiraukan aku yang tidak bisa tidur memikirkan semuanya.
*****
Kata orang kalau hati kita sedang tidak enak maka masakan yang kita masak juga akan berpengaruh. Sepertinya itu benar.
Sayur sop yang aku masak jadi keasinan dan tahu gorengnya agak gosong. Ah ada apa denganku?
Aku tidak membangunkan Leo. Biarlah toh nanti Dia akan bangun sendiri. Aku masih kesal karena Ia tidak menjawab pertanyaanku semalam.
Daripada suntuk aku membuka buku-buku pelajaran waktu kuliah. Kupelajari pelajaran yang belum sempat aku pelajari karena keburu cuti kuliah.
Ah.... Aku menyesal menyia-nyiakan masa mudaku. Kulepaskan kebahagiaan masa muda hanya demi hidup yang menyesakkan dada begini.
Seharusnya aku lagi belajar di kampus.
Seharusnya aku memilih pacar yang lain.
Seharusnya aku bisa leyeh-leyeh di kostan dengan uang jajan dari Bapak.
Seharusnya aku enggak mencintai Leo.
Ya, aku begini karena mencintai Leo. Walaupun Leo menyebalkan tetap saja aku mencintainya.
"Jam berapa May?" tanya Leo yang baru saja bangun tidur.
Aku diam. Aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Bukannya dijawab kalau suami nanya. Ngambek aja digedein." Leo akhirnya mengambil Hp yang Ia letakkan diatas nakas dan melihat jam dari Hpnya.
"Udah jam 10? Kenapa kamu enggak bangunin aku? Ah.... Jadi telat kan." Leo langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku masukkan masakan yang kumasak tadi ke dalam plastik dan memasukkan ke dalam tupperware beserta nasi. Aku tau Leo tidak akan sempat sarapan. Setidaknya ini bisa buat makan nanti siang.
Tupperware warna pink kesayanganku aku masukkan ke dalam tas, sambil berdoa semoga tupperware ini tidak hilang. Koleksi tupperware yang harganya lumayan sama berharganya kayak koleksi emas bagi emak-emak kayak aku.
Eh aku belum emak-emak deh tapi masih calon emak-emak.
Aku melanjutkan lagi pelajaranku. Sebelum aku jadi makin sibuk dengan bayi kami nanti lebih baik aku menambah ilmu pengetahuan.
Leo sudah keluar dari kamar mandi dan mengenakan celana boxernya yang bergambar Tazmania Devil, kartun kesukaannya. Ia memakai baju dengan tergesa-gesa lalu menyambar tas ransel miliknya.
"Eh apaan nih, kok berat?"
Aku tetap fokus pada buku pelajaranku tidak menjawab pertanyaannya. Leo membuka ranselnya dan melihat kotak tupperware yang aku masukkan.
Kulirik wajah Leo dan kulihat Ia tersenyum. Aku langsung pura-pura sibuk belajar lagi.
Leo menghampiriku dan mencium keningku dengan lembut. "Aku kerja dulu ya."
Aku mengangguk. Lemah hanya karena dicium keningnya oleh Leo. Ah.. memang perempuan itu segalanya pake perasaan... Sebal...
Tak lama kudengar suara motor Leo dinyalakan. Leo sudah berangkat kerja. Kututup buku pelajaranku dan bersiap mencari uang yang sesungguhnya.
"Maya! May!" panggil Bu Jojo dari depan rumah.
__ADS_1
"Iya Bu." Aku membuka pintu dan melihat Bu Jojo sudah membawakan sekarung bawang untukku.
"Kok Bu Jojo lagi yang nganterin? Katanya yang biasa nganterin anak buahnya Bu Jojo?"
"Sekalian saya main kesini jadi saya aja yang nganterin. Kan ini jadi tempat tongkrongan kita, ya gak?" Bu Jojo meletakkan karung bawang di lantai.
"Base Camp gitu maksudnya?" tanyaku mempertegas.
"Terserahlah kamu mau namain apa. Bu Sri mana?" tanya Bu Jojo.
Baru saja ditanya eh yang punya nama pun muncul. "Ini saya, Bu Sri Maryati yang cantik mandraguna datang."
"Tuh pas banget Dia. Kebanyakan mantau rumah kamu Dia, May." kata Bu Jojo.
Belum sempat aku menjawab kudengar suara motor mendekat. Leo balik lagi. Aduh gawat... Kalau Leo tau gimana?
Leo turun dari motor dan mengerutkan keningnya. Ia heran melihatku berteman dengan ibu-ibu.
"Leo, kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?" tanyaku.
Leo melepas helmnya dan mengangguk sopam pada kedua ibu-ibu yang berdiri di depan teras rumah kami. "Handphone aku ketinggalan."
"Biar aku ambilin." Aku masuk ke dalam rumah dan mengambil Handphone yang Leo taruh di atas tempat tidur setelah melihat jam.
Aku keluar dan membawa Handphone lalu memberikannya pada Leo. Mata Leo melihat ke karung yang ada di teras.
"Ini karung apa?" tanya Leo penuh selidik.
"Oh... Ini punya Bu Jojo. Iya kan Bu?" aku bertanya pada Bu Jojo memintanya membantuku lepas dari calon bibit-bibit masalah.
"Eh... I..Iya... Ini tadi saya bawa. Pegel bawanya berat jadi numpang taro sebentar di terasnya Maya. Maaf ya Mas Leo." kata Bu Jojo meski awalnya gelagapan tapi Ia akhirnya bisa lancar juga ngebohongnya.
"Iya enggak apa-apa, Bu. Saya berangkat kerja dulu ya. Permisi." Leo pun pamit dan menaiki motornya lagi.
Setelah Leo pergi barulah aku bisa bernafas lega.
"Aduh saya jadi ikutan bohong deh tadi. Ah bikin jantungan ini mah namanya. Ya gak Bu Sri?" tanya Bu Jojo.
"Iya. Saya juga hampir jantungan liat suaminya Maya yang ternyata guanteng rek. Pantes aja Maya klepek-klepek. Wong kayak artis sinetron gitu. Nanti anak kamu bakalan cakep May kalo Bapaknya kayak gitu." kata Bu Sri panjang lebar.
"Bisa aja nih Bu Sri. Makanya saya kebelet kawin kan Bu? Siapa juga yang tahan ngeliat kegantengan Leo? Saya aja bawaannya mau ditidurin melulu he...he...he..."
"Yeh dasar Si Oon! Kawin melulu yang dipikirin!" celetuk Bu Sri.
"Iya. Ngebet banget pengen kawin. Eh bocah, kalau lagi hamil muda kayak kamu mah enggak boleh sering-sering kawin. Enggak bagus buat bayinya." kata Bu Jojo.
Bu Jojo enggak tau aja kalau sejak menikah Leo jadi dingin sama aku. Jangankan kawin, ciuman bibir aja hampir enggak pernah. Paling cuma cium kening aja, itu pun jarang.
"Enggak bagus gimana Bu?" tanyaku penasaran. Siapa tau ini akan jadi ilmu lagi yang kuperoleh dari emak-emak.
"Katanya sih bisa kontrasepsi kata bu bidan." jawab Bu Jojo yakin dan terkesan amat pintar.
"Kontrasepsi? Kontraksi kali Bu." kataku membenarkan.
"Nah itu maksudnya. Kontrasepsi."
"Kontraksi." kataku membenarkan lagi.
"Iya. Kontraksi. Itu masih temenan lah kontrasepsi sama kontraksi." jawab Bu Jojo asal.
"Masa sih temenan Bu? Temenan dari mana?" tanyaku bertujuan mengejek.
"Ya temenan. Kan sama-sama terjadi di rahim. Hayo kamu pikir saya enggak tau ya? Saya tuh pinter May cuma kurang update aja." kata Bu Jojo dengan sombongnya.
"Ha...ha...ha... Iya deh Bu Jojo emang pinter. Maya aku itu. Hebat euy!" pujiku dengan tulus. Kuacungkan dua jempol tanganku sebagai tanda aku benar memujinya.
__ADS_1
"Udah ah saya mau duduk. Dari tadi enggak ditawar-tawarin sama Maya." Bu Sri yang sejak tadi hanya menyimak percakapan aku dan Bu Jojo melepas sandalnya dan duduk di terasku yang sudah kubersihkan.
"Ih Dia ngambek enggak diajak." ledek Bu Jojo yang ikutan duduk di samping Bu Sri.
"Enggak ada makanan lagi Bu?" tanyaku tanpa malu.
"Enggak ada May. Kosong kulkas saya. Belum belanja bulanan." jawab Bu Jojo.
"Kalau saya lagi bokek May. Habis bayar uang sekolah anak. Jadi makannya ikutan kamu aja, tahu dan tempe sampai tiba waktunya suami saya gajian." kata Bu Sri dengan wajahnya yang melas.
"Yah... Maya juga nggak punya uang. Kalau Maya punya uang pasti deh Maya traktir ibu-ibu. Habis gimana ya Bu, kan gaji suami Maya masih kecil. Suami Maya kan cuma lulusan SMA dan belum tamat kuliah makanya kerja nya masih karyawan kontrak, gajinya harian malah." loh kok aku malah curhat?
"Nggak usah kayak gitu May. Saya juga pernah ngalamin kayak kamu dulu. Saya juga sampai sekarang belum hidup kecukupan, saya aja masih jualan. Tapi seberapa besar rezeki yang saya dapat itu selalu saya syukuri. Jadinya saya tuh berkah. Enggak kekurangan lah istilahnya. Dan saya sesuain sama gaya hidup saya. Dengan pendapatan saya yang segini, saya nggak ngikutin kehidupannya Bu Jojo yang banyak uang." kata Bu Sri menceramahiku panjang lebar.
"Iya Bu. Maya juga lagi belajar kayak Ibu. Maya sadar saat ini Maya dan Leo sedang mendaki tangga bersama-sama. Dan sekarang kami itu masih di tangga yang paling bawah, tapi Maya yakin perlahan tapi pasti kami akan lebih baik dan kehidupan kami juga lebih membaik. Maya jalanin aja semuanya dengan ikhlas."
" Udah ah melownya. Nih cepetan kupasin nih bawang. Nanti suami kamu balik lagi kamu ke ketar-ketir sendiri lagi." omel Bu Jojo.
"Siap Bu Bos!" Aku melanjutkan mengupas bawang sambil mendengarkan Ibu Jojo dan Ibu Sri bergosip tentang ibu-ibu di kampung.
Ada aja topik pembahasan mereka. Tentang ibu warung depan yang katanya mau cerai lah. Atau tentang ibu yang di ujung kontrakan yang katanya selingkuh.
Aku menyimak tanpa ikut berkomentar. Bukannya aku nggak ikut-ikutan, tapi aku sadar diri. Hidupku nggak lebih baik dari ibu-ibu yang digosipin oleh Ibu Sri dan Ibu Jojo.
Aku juga anak yang durhaka pergi dari rumah orang tua dan telah mencoreng nama orang tua. Kalau aku ikut berkomentar seakan aku lebih suci dari orang yang digosipi oleh mereka berdua. Kenyataannya, Aku bahkan nggak lebih baik dari mereka.
"Tumben Maya diem aja." celetuk Ibu Sri.
Aku tersenyum. " Ya gimana ya Bu, hidup Maya juga nggak lebih baik dari hidup orang yang Ibu ceritain. Maya malu sama diri Maya sendiri."
"Ya jangan gitu dong May. Kan kesannya kita berdua udah lebih baik daripada mereka. Kita kan menggosip cuma buat iseng-iseng doang. Enggak ada maksud apa-apa. Kan kita kurang kerjaan di rumah jadi ya kesibukan kita yang ngegosip. Kalau kamu yang ngomong gitu kan kesannya kita gimana gitu." kata Bu Jojo merasa tidak enak.
"Maya enggak menyindir lbu berdua. Maya cuma lagi keingetan sama Ibu aja di rumah. Maya kangen sama Ibu. Maya merasa Maya tuh durhaka banget sama Ibu. Entah dengan cara apa Maya bisa menebus dosa-dosa Maya. Makanya, pikiran Maya kemana-mana saat ibu-ibu lagi mengobrol. Jangan marah ya Bu. Kalau Ibu berdua marah sama Maya, Maya nggak punya temen lagi nanti." aku nggak sepenuhnya bohong.
Aku emang ngerasa diri aku banyak dosa kok. Setidaknya kebohongan Aku ini mungkin bisa membuat ibu-ibu yang kini jadi temanku berubah ke arah yanh lebih baik lagi.
"Tapi bener juga sih Bu. Udah, kita enggak usah ngomongin orang lagi. Nanti jadi dosa. Bener kata Maya tuh. Malah Maya yang ngajarin kita." kata Bu Jojo.
"Iya. Bener juga. Untung aja kamu ingetin kita berdua May. Kita mau jadi orang yang lebih baik lagi." kata Bu Sri bertekad merubah hidupnya.
Kan.. kan.. kalau kita mengajak kebaikan dengan cara baik-baik, pasti akan lebih mudah terwujud dibanding dengan cara pemaksaan. Meskipun aku awalnya pakai cara berbohong, tapi tujuan aku benar untuk mengajak ibu-ibu tersebut bertaubat.
Dulu Ibu pernah bilang sama aku, "Kalau kamu sayang sama temen kamu, separah dan seburuk apapun kesalahan teman kamu, harus kamu beri tahu. Bukan hanya kamu diam saja hanya demi menjaga perasaannya. Kalau kamu diam aja, itu tandanya kamu nggak bener-bener sayang sama Dia."
Menegur bukan berarti sok tahu. Menegur Artinya kita sayang. Kalau kita sayang sama orang lain, kita nggak mau orang yang kita sayang terjerumus dalam jurang kesalahan. Begitu pun yang aku lakukan kepada duo ibu yang udah baik sama aku ini.
"Maya seneng kok dengernya. Masih banyak kok topik pembicaraan yang lain yang bisa kita omongin selain ngomongin tentang gosip, gosip dan gosip." kataku sok bijak.
"Yaudah, kita ngomongin tentang kehidupannya Maya aja deh. Gimana May, setelah menikah? Enak gak?" Bu Sri langsung membuka topik pembicaraan baru.
"Enak apaan dulu nih Bu? Harus jelas nih enaknya apaan." jawabku sambil tetap mengupas bawang. Lumayan, aku udah makin cepat dan banyak mengupas bawang. Kalau saja tadi Aku mulai dari pagi, mungkin aku bisa mengupas 2 karung sendirian.
"Kehidupan kamu setelah menikah. Bukan tentang kesusahan kamu ya. Itu mah kita udah tahu kalau kamu susah, jadi nggak usah dibahas lagi. Kamu gimana sama Leo setelah berumah tangga? Udah mulai kelihatan kan sifat-sifat aslinya?" tanya Bu Jojo.
Memang ya, Bu Jojo udah kayak peramal. Tahu aja yang menjadi permasalahan ku tanpa aku harus ngomong.
"Maya sih enggak ada masalah Bu. Tapi kayaknya Leo yang berubah deh. Leo sekarang jadi lebih dingin dan lebih curigaan. Kami jadi sering bertengkar dan berujung dengan diam-diaman. kayak anak bocah ya Bu."
"Jawabannya cuma satu." kata Bu Jojo membuat aku penasaran.
" Apaan?"
"Jangan nikah muda!" jawab Bu Sri dan Bu Jojo kompak.
****
__ADS_1
Likenya dan tipsnya tolomg dibantu ya