Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Titipan Ibu


__ADS_3

Aku menemani ibu-ibu yang sedang aerobik. Tadi Bu Sri bilang aku nggak usah ikutan, takutnya malah berbahaya untuk janin yang ada di dalam kandunganku kalau gerakan aerobik-nya terlalu ekstrem.


Ibu Sri dan Ibu Jojo terlihat begitu bersemangat mengikuti gerakan dari instruktur aerobik. Entah mengapa melihat mereka tuh rasanya membuat aku ada hiburan tersendiri. Ibu Sri menggunakan pakaian senam milik salah satu partai politik dengan celana panjang training berwarna hitam.


Kalau Ibu Jojo mungkin karena lebih banyak uang bajunya terlihat lebih mahal. Bermerek Cuma, bukannya Puma. Dan gambarnya bukan Macan tapi kucing. Secara ya belinya yang KW di pasar.


Heran melihat mereka rajin aerobik tapi enggak pernah kurus. Gimana mau kurus kalau habis aerobik langsung nongkrong di warung bakso dan minumnya es campur? Debet kredit deh itu lemaknya.


Lagu aerobik berganti menjadi lagu Poco Poco. Kayaknya udah lagu resmi nih kalau aerobik ada Poco Poconya.


Aku senyum-senyum sendiri melihat gerakan mereka yang terlalu bersemangat. Saking semangatnya musik dimana mereka dimana.


Aku membawa buku pelajaran kuliahku ke taman. Sambil menunggu Duo Julid aerobik aku membaca buku dan menikmati hangatnya sinar mentari.


Sebuah telepon masuk dari Kak Rian mengagetkanku. Tumben banget Kak Rian meneleponku pagi-pagi.


"Hallo, Kak."


"Kamu dimana May? Kakak di kontrakan kamu nih tapi kamu enggak ada." kata Kak Rian di ujung telepon sana.


"Aku di taman dekat rumah, Kak. Kakak tunggu sebentar biar aku pulang ke kontrakkan." baru aku hendak bangun dan pulang eh Kak Rian melarangku.


"Enggak usah, May. Biar Kakak kesana aja. Nanti kamu kecapean. Tunggu disana aja." larang Kak Rian.


"Yaudah Maya tunggu di taman ya Kak." telepon pun dimatikan Kak Rian.


Aku menunggu kedatangan Kak Rian. Pasti Ia datang dengan motor maticnya. Ia berhasil punya motor dari hasil nyicil dengan gaji kerja di kantornya.


Motor Kak Rian pun memasuki area taman. Ia pun memarkirkan motornya di tempat parkiran motor. Aku melambaikan tanganku. Kak Rian tersenyum melihatku dan datang menghampiri.


Aku langsung memeluk Kak Rian. "Maya kangen."


"Kakak juga kangen sama Maya." Kak Rian mengelus lembut rambutku dan mengacak-acaknya.


Bu Sri yang sedang aerobik berlari menghampiri kami.


"Heh...heh... Kalian berdua ngapain? Main peluk-pelukan aja! Maya, kamu tuh istri orang, inget!" omel Bu Sri sambil memukul pelan lenganku.


Aku dan Kak Rian melepaskan pelukanku. "Aww! Sakit Bu."


"Ya kamu main peluk-peluk cowok sembarangan aja!" omel Bu Sri.


"Emangnya kenapa sih Bu?" tanyaku bingung.


"Yeh Si Oon kumat lagi deh. Tuh liat Ibu-ibu pada berhenti senam dan ngeliatin kalian berdua pelukan!" Ibu Sri menunjuk ke arah Ibu-Ibu kampung yang sekarang sedang bergunjing membicarakanku dan Kak Rian.


"Ya ampun. Pasti lagi ngegosipin Maya deh!" cerocosku.


"Udah tau ada rombongan Ibu-Ibu kamu main peluk aja seenaknya!" omel Bu Sri lagi.


"Emangnya Maya enggak boleh peluk Kakak Maya ya Bu?" tanyaku bingung.


"Ka... Kakak kamu? Ini kakak kamu? Maksudnya Kakak kandung kamu May?" tanya Bu Sri tidak percaya.


"Iya Bu. Kenalin, ini Kak Rian. Kakak kandung Maya." aku mengenalkan Kak Rian pada Bu Sri.


Bu Sri dan Kak Rian saling berkenalan. Merasa tak enak Bu Sri pun pamit.


"Gaes. Ini kakak kandungnya Maya. Ayok kita goyang aerobik lagi!" teriak Bu Sri membubarkan geng tukang gosip lainnya.


"Yaaahhhh." keluh Ibu-ibu kompak. Kesal karena enggak dapet bahan gunjingan baru.


Kak Rian terlihat tertawa melihat ulah teman-teman baruku. "Lucu banget temen-temen kamu May."


Aku ikut tersenyum sambil melihat Ibu-Ibu memulai lagi aerobik yang sempat tertunda. "Berkat kelucuan mereka Maya jadi bisa lebih enjoy menikmati hari-hari Maya yang berat, Kak."


Kak Rian menepuk bahuku, memberi dukungan dengan caranya sendiri. "Kamu tuh hebat, May. Kamu pasti bisa hadepin semua masalah ini."


"Kita duduk di sana aja yuk Kak. Sekalian berjemur." aku menunjuk tempat duduk yang tadi kutinggalkan.

__ADS_1


"Ayo." Kak Rian pun mengikutiku dan kami pun duduk sambil menikmati hangatnya mentari pagi.


"Ini. Titipan dari Ibu. Ada uangnya juga dibawahnya. Ibu enggak bisa transfer karena akan langsung ketahuan sama Bapak. Ibu bilang uangnya kamu pakai untuk nanti persiapan melahirkan. Masukkin tabungan kamu. Ibu belum tahu kapan lagi bisa kirimin kamu uang." kata Kak Rian menyampaikan pesan dari Ibu.


Kubuka Tas kecil yang Kak Rian bawa. Ada dua toples sambal cumi pesananku dan dibawahnya ada uang segepok yang kutahu lumayan banyak untuk persiapan melahirkan nanti.


Air mataku meleleh dengan semua perhatian yang Ibu berikan padaku. Betapa besarnya kasih sayang Ibu terhadapku. Beliau tetap perhatian meski aku sudah mengecewakannya.


"Maya enggak tau dengan cara apa berterima kasih sama Ibu, Kak. Maya yang anak durhaka ini terus menerus menyusahkan Ibu. Maya belum bisa membahagiakan Ibu malah mencoreng aib di wajahnya. Malu Maya sama kelakuan Maya sendiri, Kak." kataku sesegukan dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


"Sudahlah, May. Kakak tau kamu tuh udah menyesal akan kesalahan kamu. Yang kamu harus lakukan sekarang adalah membuktikan sama Ibu kalau kamu menjalani hidup kamu sebaik mungkin."


Aku mengangguk. "Iya, Kak."


"Dulu Kakak juga kayak kamu May. Kakak buktikan sama Ibu dan Bapak kalau Kakak bisa dan akhirnya Bapak mulai membuka hatinya sama Kakak. Ya walau masih agak canggung setidaknya Ia sudah menerima Kakak lah." kata Kak Rian dengan bangga.


"Siap, Kak. Ini Kakak liat aja Maya masih rajin belajar. Suatu hari nanti Maya mau lanjutin kuliah Maya yang terputus. Entah kapan tapi Maya enggak mau nyerah sama pendidikan Maya."


"Nah gitu dong. Kakak kan senang kalau kamu semangat kayak gitu." Kak Rian mengacak acak rambutku lagi. "Oh iya, kabar Leo gimana?"


"Kabar Leo baik kok, Ka." jawabku.


"Kamu enggak ada masalah kan sama Leo?" selidik Kak Rian.


"Enggak. Kami baik-baik aja kok, Kak." kataku berbohong. Biarlah kupendam sendiri masalah Leo yang kini berubah dan menjadi dingin serta menjauh dariku.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Kakak senang mendengarnya. Kakak pulang dulu ya. Kakak ada tugas kampus yang harus kakak kerjakan. Kamu jaga diri baik-baik ya. Jaga keponakan Kakak juga! Jangan dibikin sedih terus ya!" pesan Kak Rian.


"Siap, Kak."


Aku pun mengantarkan Kak Rian ke parkiran. Kulambaikan tanganku mengiringi kepergian motornya sampai sudah tidak terlihat lagi di ujung jalan.


Baru saja aku hendak kembali dan menonton ibu-ibu aerobik lagi, tapi ternyata sesi aerobik sudah selesai. Bu Jojo dan Ibu Sri sedang duduk di bawah sambil meluruskan kakinya.


Keringat mengucur dan membasahi baju mereka. Sepertinya aerobik lumayan ya membakar lemak yang terpendam. Tapi lihat aja sebentar lagi juga ngajakin makan bakso.


"Kakak kamu udah pulang May?" tanya Ibu Jojo.


"Tinggal dimana kakakmu, May?" tanya Bu Sri yang sedang mengelap keringatnya dengan kaus bagian bawahnya. Dasar emak-emak ya enggak sadar apa kalau kayak gitu dadanya yang ngondoy kan keliatan. (Hmmm... ngondoy apa ya istilahnya hmm... melorot lah ya).


"Ih Bu Sri! Itu keliatan!" omelku sambil menutupi bajunya.


"Ah elah santai aja May. Lagi juga disini kan ibu-ibu semua. Cuek aja. Udah pada laku juga." jawab Ibu Sri dengan santainya.


"Iya di sini emang adanya ibu-ibu semua. Tapi kan tuh lihat." aku menunjuk ke CCTV yang ada di beberapa tempat. "CCTVnya banyak. Mau viral?"


Buru-buru Ibu Sri menutupi tubuhnya. "Kamu enggak bilang dari tadi sih May. Malu kan saya jadinya."


"Besok-besok jangan di ulangin lagi Bu. Malu tau Bu." omelku.


"Iya... iya... May. Eh tadi Kakak kamu bawain apaan? Bagi dong!" dasar ya emak-emak jiwa celamitannya suka kumat. Tau aja kalau ada makanan enak.


Sebelum Ibu Sri melihat tas kecil yang Kak Rian berikan padaku, aku langsung menjauhinya. "Bawa sambal cumi. Kita makan di rumah Maya aja ya. Nanti Maya bagi, tapi jangan setoples kan itu buatan Ibu Maya."


"Tuh mulai pelit deh sama kita. Awas ya!" ancam Bu Sri tapi kutahu cuma bercanda aja.


"Ih..... Maya kan nggak pelit. Maya bagi kok. Makan aja sama-sama ya. Kita liwetan bareng di rumah Maya. Mau gak?"


"Ide bagus itu. Boleh deh nanti saya bawa semur jengkol sama lalapanya deh." sahut Bu Jojo penuh semangat.


"Kalau gitu saya bawa minuman Pop Ice kesukaan kamu dan orek tempe mau gak?" usul Bu Sri.


"Mau..... Ya udah kita ketemu di rumah Maya ya. Enakkan sih pas makan siang ya Bu." usulku.


"Jangan!" jawab Ibu Sri dan Ibu Jojo kompak.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Orang kita udah lapernya sekarang kok. Kan kita habis aerobik. Sekarang aja sih." protes Bu Sri.

__ADS_1


"Iya May. Sekarang aja. Saya juga udah laper nih." kata Bu Jojo turut serta.


"Habis aerobik kok ngeliwet? sami mawon podo wae toh." sindirku.


"Yaelah kayak ngerti artinya aja. Pokoknya sekarang aja ya. Saya mau nyari daun pisang nih buat alasnya. Kamu masak nasi aja di rumah. Ada beras enggak?" tanya Bu Jojo.


"Ada. Tenang aja." jawabku yakin. Sekarang aku sudah ada uang lebih untuk ditabung dari uanh mengupas bawang dan uang belanja yang kusisihkan. Ditambah uang dari Ibu mah sekarang aku bisa bernafas tenang.


"Yaudah kita ketemu di rumah kamu sejam lagi ya. Saya mau bikin semur jengkol dulu." kata Bu Jojo.


"Saya juga mau bikin orek tempe dulu. Bye!" kata Bu Sri.


Mereka pun berpisah di depan taman. Aku tidak ikut serta karena aku ijin mau ke minimarket depan taman. Bukan untuk berbelanja melainkan mau menyetorkan uang yang Ibu berikan ke rekeningku. Kalau aku pegang bisa habis, lebih baik kumasukkan ke dalam tabungan.


Aku memasukkan uang ke dalam mesin setoran tunai. Aku tidak tahu berapa uang yang Ibu kasih. Ternyata setelah dihitung oleh mesin ATM uang yang disetorkan adalah sebesar 10 juta. Wow.... besar sekali. Darimana Ibu mendapatkan uang sebanyak ini?


Aku pulang ke rumah setelah menyetorkan uang. Aku memasak nasi dengan jumlah yang lebih banyak untuk makan nasi liwet bersama-sama dengan Bu Jojo dan Bu Sri. Sambil menunggu kedatangan mereka, aku menonton televisi yang menyiarkan acara musik alay kesukaanku.


Tiba-tiba Leo meneleponku. Tumben sekali. Ada apa ya?


"Hallo. Kenapa Sayang?" jawabku.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Leo.


"Lagi nonton acara musik Hebat. Kamu kan tahu aku suka nonton acara musik Hebat. Ini aku lagi nonton." jawabku dengan jujur.


"Kamu dari tadi di rumah aja? Enggak pergi keluar?"


Kok Leo kayak lagi curiga ya? Apa yang Ia curigai dariku?


"Tadi aku ke Taman ngeliat Bu Jojo sama Bu Sri aerobik. Terus tadi Kak Rian datang bawain titipan Ibu. Rencananya aku mau makan liwetan sama sama bu Jojo dan Ibu Sri." kataku berterus-terang.


"Memang Ibu bawakan kamu apa?" tanya Leo lagi.


"Bawa sambel cumi. Enak deh. Kemarin waktu Kak Rian lagi main di rumah Ibu aku request sambal cumi eh ternyata dibawain. Nanti kamu cobain ya."


"Kedengerannya sih enak. Sisain aku ya." pesan Leo.


"Siap, Bos! Eh udah dulu ya Sayang. Bu Sri dan Bu Jojo udah di depan tuh." kataku saat kudengar namaku dipanggil dari depan rumah.


Aku mengakhiri panggilan teleponku dan berjalan ke depan rumah. Duo Julid sudah membawa peralatan untuk liwetan.


Bu Jojo menggelar daun pisang di teras rumahku. "Mana nasinya May?" tanya Bu Jojo.


"Iya, sebentar Maya ambilkan dulu." aku menaruh hp yang kupegang diatas nakas lalu pergi mengambil nasi di magic com.


Ibu Jojo menuangkan nasi secukupnya untuk kami bertiga. Ia lalu menaruh semur jengkol buatannya di tengah-tengah. Ibu Sri juga ikut menaruh orek tempe yang Ia masak.


Aku masuk ke dalam dapur dan membawa setoples sambal cumi buatan Ibu lalu menaruhnya bersamaan dengan lauk yang mereka bawa. Lumayan lengkap juga menu makan pagi menjelang siang kami apalagi ada lalapannya juga. Wuiiihhh mantap. Serasa makan di rumah deh pokoknya.


Setelah membaca doa kami pun makan bareng. Tentunya sambil bergosip ria. Topik kali ini adalah ngomongin medsos teman aerobik mereka sendiri.


"Si Juli ya, di Medsos aja gayanya selangit. Tapi tiap bulan kerjaannya kasbon melulu di Mbak Sari tukang sayur." Ibu Sri memulai sesi ghibahnya.


"Iya. Saya juga liat. Di Medsosnya Juli kondangan pake emas gede-gede banget. Padahal mah itu emas dapet dari chiki. Palsu." sahut Bu Jojo.


"Dia mah emang tukang pamer. Eh tapi kemarin liat si Nia enggak? Lakinya si Ronald tukang selingkuh. Saya liat mukanya agak bengkak kemarin. Apa Dia dipukulin ya sama suaminya?" topik pun berganti secepat kilat.


"Kasihan banget ya hidup sama suami yang tukang mukulin. Udah selingkuh eh tukang mukul lagi. Amit-amit deh laki kita kayak gitu." sahut Bu Sri.


"Katanya ya Bu, kalau tulang mukul itu Dia juga suka dipukulin sama orang tuanya." kata Bu Jojo.


Deg.... Leo kan suka dipukulin sama Papanya. Apa mungkin Leo akan menjadi seperti Papanya?


*****


Hi semua! Jangan lupa like, share dan vote ya kalau suka novel ini!


Masih penasaran kan dengan kelanjutannya? Sabar. Novel ini masih ada disini kok tapi aku menunggu kontrak dulu ya baru kita lanjut lagi.

__ADS_1


jangan lupa add favorit ya biar tetap tau kapan novel ini up. Oke? Maacih 🥰🥰🥰


__ADS_2