
POV Leo
Sudah berkali-kali Maya bertanya apa yang terjadi padaku. Wajar saja Ia mulai menaruh curiga.
Aku memang bukan laki-laki hebat seperti banyak laki-laki yang menyukai Maya di luar sana. Aku cuma laki-laki yang berjuang dengan kemampuanku sendiri.
Aku adalah anak bungsu dari pasangan Dibyo Kusumadewa dan Lena Wijaya. Papa Dibyo adalah seorang pengusaha. Ia juga adalah salah seorang pewaris Group Kusumadewa.
Mamaku adalah seorang keluarga Wijaya. Keluarga Wijaya terkenal karena perkebunan kelapa sawitnya yang maju.
Papa Dibyo dan Mama Lena menikah karena dijodohkan dengan kedua keluarga mereka. Hal itu bukan masalah bagi Papa karena Ia memang terkenal gila kerja dan saat itu tidak punya pacar.
Berbeda dengan Mama Lena. Mama Lena adalah wanita cantik yang sudah punya pacar. Hubungannya dengan sang kekasih harus berakhir karena pernikahan yang dijodohkan orang tuanya.
Papa Dibyo berusaha keras mengambil hati Mama Lena dengan berbagai cara. Awalnya Mama Lena mulai terpikat dengan Papa Dibyo sampai akhirnya lahirlah kakakku Richard dan aku yang hanya berbeda 2 tahun saja.
Rumah tangga Mama dan Papa makin bahagia saat Richard berhasil memenangkan penghargaan atas lomba sains tingkat nasional. Richard menjadi dielu-elukan dan dibanggakan di keluarga Kusumadewa.
Kakek Kusumadewa sangat bangga dengan anak yang Papa didik. Ia selalu membanggakan kehebatan Richard di depan semua koleganya.
Lalu bagaimana denganku? Kakek bilang wajah tampanku mirip dengannya waktu masih muda. Kakek tidak mau aku iri dengan apa yang Richard miliki.
Pesan kakek agar aku selalu jadi anak mandiri yang tidak haus akan pujian. Kakek yakin aku akan menjadi laki-laki yang hebat suatu hari nanti.
Kehidupaan rumah tangga yang harmonis perlahan mulai gonjang-ganjing. Kakek Kusumadewa meninggal dunia. Ia lalu mewariskan perusahaannya kepada ketiga anaknya.
Namun jiwa serakah mulai menguasai Papa. Ia ingin menguasai Group Kusumadewa sendirian tanpa mau berbagi dengan dua saudaranya yang lain.
Papa pun mulai berubah. Ia menjadi lebih ambisius dan gila akan pujian dan kesuksesan. Papa mulai gila kerja dan membuat suasana rumah mulai mencekam dan tak lagi adem ayem.
Sikap Papa yang lembut benar-benar sudah hilang. Berganti Papa yang otoriter dan tak boleh dibantah.
Papa bersikap amat disiplin padaku namun terhadap Richard amat lunak. Berbagai peraturan khusus diciptakan untukku namun tak ada peraturan bagi Richard.
Hubunganku juga Richard perlahan menjauh. Ia semakin menganggapku bagai kecebong yang tak pernah memiliki arti di keluarga ini.
Perusahaan dibawah pimpinan Papa semakin maju. Bahkan Papa berhasil mengambil alih sebagian saham di perusahaan orang tua Mama.
Papa dan Mama semakin sering bertengkar. Mama yang tidak suka dengan sikap Papa yang mulai serakah menunjukkan protesnya.
Merasa akan kalah jika tetap tinggal berdekatan dengan mertuanya, Papa pun memboyong kami pindah ke kota.
Mama mau protes namun Papa makin menjadi. Ia bahkan sudah berani main tangan dengan Mama didepan anaknya. Tanpa mereka tahu, aku sudah sering melihat Papa berlaku kasar sama Mama. Hal yang selalu mereka tutup-tutupi.
Aku suka bersembunyi di lemari di kamar Mama. Kulihat Papa memukul Mama, bahkan mendorongnya sampai terjatuh. Pernah juga kepala Mama sampai tergores lemari dan meninggalkan luka.
Namun aku hanya bisa memendamnya sendirian. Aku menjadi anak yang pendiam dan lebih sering belajar sambil mendengarkan musik dengan headphone.
Setelah kami pindah ke kota pertengkaran mereka makin menjadi. Aku mulai sering bolos dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Richard pun sama. Ia bahkan pernah kupergoki sedang memakai narkoba.
Aku mengadukan perbuatan Richard eh malah aku yang kena getahnya. Aku dibilang yang mencekoki Richard dengan barang haram tersebut.
Begitu mudahnya Richard memutar-balikkan fakta. Dan aku sebagai anak yang tak dianggap tidak ada yang membela.
Aku mulai muak dengan hidupku namun aku masih terus bergantung hidup pada kedua orang tuaku. Aku perlahan merubah hidupku.
Kalau aku menyia-nyiakan hidupku maka selamanya aku akan berada dalam kekangan Papa. Aku pun melanjutkan sekolah yang sempat terputus. Lewat ujian kesetaraan aku berhasil lulus SMA.
Aku lalu melanjutkan ke bangku kuliah. Papa sengaja menguliahiku bareng dengan Richard. Di kampus, aku sering diejek teman-teman Richard.
Semuanya karena ulah Richard. Di depan teman-temannya Richard bahkan mengejek adik kandungnya sendiri.
Aku awalnya bersabar dan menahan diri. Namun bullyan demi bullyan terus menerus kudapatkan. Teman-temannya makin menjadi dan mengolok-olok kalau aku adalah anak yang tidak dianggap.
__ADS_1
Richard hanya tersenyum simpul melihat adiknya diperlakukan seperti itu. Kesal dengan ulah Richard, aku pun membalasnya di rumah.
Kami pun berantem. Saling tonjok dan baku hantam pun tak terhindarkan. Kami bagai dua singa yang bertengkar demi memenangkan kekuasaan.
Siapa yang menang? Hasilnya seri! Kami berdua babak belur dan jika tidak dipisahkan oleh supir dan sekurity mungkin kami akan saling membunuh.
Malangnya, Papa melihat apa yang kami lakukan. Ia amat murka dan mengambil tongkat golf lalu kami dipukuli satu persatu.
"Apa alasan kalian bertengkar sampai kayak orang gila seperti itu?" tanya Papa setelah kami sudah tidak saling melawan karena menahan rasa sakit akibat badan remuk dipukuli tongkat golf.
Mama yang baru pulang shopping langsung melempar paper bagnya dan berlari memeriksa keadaan kedua putranya tersebut. Ia menghampiri Richard dan hanya melihat sebentar ke arahku.
Sedih. Tak dianggap. Kasihan. Itulah diriku. Namun aku tidak menangis. Air mata sudah kering dari mataku.
"Semua Leo yang mulai, Pa! Ugh... " sambil menahan sakit Richard mulai mengadu. "Leo yang memukuli Richard duluan!"
"Hah? Richard duluan, Pa! Dia yang menyuruh teman-temannya membully Leo di kampus." kataku tak mau kalah.
"Benar itu Richard?" tanya Papa sambil menyelidik. Dimainkannya tongkat golf untuk menakuti kami, ini peringatan, jangan pernah berani berbohong saat Ia bertanya.
"Leo yang mulai, Pa. Mana pernah sih Richard bohong? Leo tuh yang suka sok ganteng. Gebetan Richard saja sampai tergoda, Pa!" adu Richard bagai anak kecil merengek minta dibelikan balon.
"Bener itu Leo?" selidik Papa lagi.
"Gebetan Richard yang mana, Pa? Mana Leo tau? Leo cuma mau fokus mau belajar!" kataku membela diri.
"Jangan bohong! Kamu dekat kan sama Lidya?" tuduh Richard.
"Oh... Lidya. Ya jelas dekat. Kami kan satu kelompok. Tapi enggak ada apa-apa sama Lidya." aku menatap Papa minta dukungan. Ini kesempatanku untuk memenangkan semuanya.
"Pa, Leo enggak suka sama Lidya. Bisa Leo buktikan, Pa. Pindahkan saja kuliah Leo. Kalau memang Leo suka dengan Lidya pasti Leo akan bertahan. Ini Leo malah enggak mau satu kampus sama Lidya." Aku bernegosiasi sama Papa.
Papa adalah orang yang mengutamakan logika yang kadang tidak berperasaan. Ia pasti membenarkan perkataanku. Kalau memang aku benar sikapku-lah yang menunjukkannya.
Mama menyuruh bibi mengambilkan kotak P3K dan langsung mengobati luka Richard. Lalu bagaimana denganku? Hanya bibi yang berinisiatif mengobati lukaku.
Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Walau tadi aku menang di mata Papa tapi aku tetap kalah. Tidak ada yang peduli denganku.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Maya. Maya adalah cewek cantik dan merupakan primadona kampus.
Maya adalah anak yang periang dan lugu. Ia memang berasal dari kampung namun aku tahu Ia anak keluarga berada.
Sifat manja dan feminimnya membuat orang di sekitarnya tak bisa marah lama-lama. Cantik. Ia wanita tercantik yang pernah kulihat.
Kehidupan baruku di kampus baru pun dimulai. Kehidupan yang tenang dan nyaman. Aku mulai memiliki teman dekat dan tidak stress karena harus terus belajar mengejar ketertinggalan dari Richard seperti biasanya.
Aku yang sejak awal terpikat dengan Maya seakan tak mau lepas. Aku terus mencari perhatian di depannya. Aku terus menunjukkan rasa sukaku pada Maya.
Aku percaya segala usaha tidak akan sia-sia. Saat aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Maya, Ia pun menerima cintaku. Hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku.
Rasa bahagia terus mengelilingiku, seharusnya aku sadar diri, bahagia dan air mata itu bagai dua sisi mata uang. Saling terikat.
****
Sore itu sepulang kuliah dan setelah mengantar Maya ke kostannya aku pun mengendarai motorku pulang ke rumah. Motor ini adalah salah satu harta bendaku yang kuperoleh dari hasil mengumpulkan uang jajan dari Papa.
Aku sedang menikmati pemandangan taman dekat rumah. Semua terasa indah seperti suasana hatiku hari ini.
Motorku pun sampai di sebuah rumah mewah tempatku tinggal. Pagarnya yang menjulang tinggi seakan memberi jarak penghuni rumahnya untuk berhubungan dengan warga sekitar.
Pak Satpam lalu membukakan pintu gerbang untukku. Kuparkirkan motor Vixionku di dalam garasi. Bersebelahan dengan mobil sport milik Richard dan mobil mewah milik Mama.
Motor sport milik Richard tidak ada, artinya Dia lagi enggak ada di rumah. Mobil mewah Mama ada di rumah. Tumben. Biasanya lagi sibuk di salon atau lagi asyik shopping.
__ADS_1
Kutaruh helm milikku diatas motor. Aku lalu masuk ke dalam rumah. Aku berhenti dahulu di dapur. Mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai habis.
Benar-benar haus. Kubuang botol bekas air mineral ke dalam tempat sampah. Aku lalu masuk ke dalam rumah.
Rumah Papa memang amat megah. Lampu kristal berukuran besar tergantung di tengah ruang tamu. Tapi kenapa rumah ini terasa sepi ya?
Kuarahkan pandanganku ke sekitar. Bibi yang biasanya wara-wiri sambil bersih-bersih rumah pun tidak ada.
Kemana perginya semua orang ya?
Aku lalu berjalan melewati kamar utama milik Mama dan Papa. Aku pikir Mama mungkin sedang sakit makanya Ia ada di rumah siang-siang begini.
Karena khawatir dengan keadaan Mama aku pun mendekat ke pintu kamar. Pintu kamar terbuka sedikit. Aku mendengar suara Mama. Suara mendesah.
Apa mungkin Papa ada di rumah juga? Tapi mobil dan supirnya juga tidak ada. Berbagai pikiran negatif muncul di kepalaku.
Aku lalu membuka pintu kamar Mama. Lalu aku melihat sesuatu yang sangat tidak kuuduga.
Mama sedang mendesah penuh kenikmatan. Dan diatasnya ada.... Om Hans tanpa busana juga. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku. Mereka sedang asyik dengan nafsu setannya.
Kuambil vas bunga dan kulemparkan ke lantai.
Prang.....
Mereka berdua pun kaget. Mama melihat ke arahku penuh ketakutan. Ia mendorong tubuh Om Hans dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Leo... Mama bisa jelasin semuanya sama kamu." kata Mama dengan suara ngos-ngosan.
Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya. Betapa rendahnya perbuatan Mama. Bukan hanya istri yang tidak bertanggung jawab tapi juga tukang selingkuh. Aku sangat membencinya.
Pandangan mataku pun beralih pada Om Hans. Ia sedang memakai bajunya dengan tergesa-gesa. Pandangan mataku bagai sebilah pisau yang mampu membunuhnya.
Mama yang sudah berpakaian berlari menghampiriku. Tidak Ia perhatikan banyaknya pecahan kaca bekas vas yang kubanting tadi.
"Awww." Mama menginjak pecahan kaca. Darah segar mengucur dari kakinya.
"Kamu enggak apa-apa, Lena?" tanya Om Hans mendekat dan memeriksa keadaan Mama.
Aku tahu Mama pasti mengharapkan aku mendekat padanya dan memeriksa lukanya. Sama seperti saat dulu aku berharap Ia mengobati lukaku dan bukan luka Richard.
Harapan. Perhatian. Bukan sikap tidak adil.
"Leo... Mama mau bicara sama kamu. Kamu harus dengarkan perkataan Mama. Semua enggak seperti yang kamu lihat."
Aku tersenyum. Senyum menyepelekan. Mama pikir aku anak balita yang belum mengerti dengan apa yang mereka lakukan?
"Leo, dengerin Mama, Nak. Tolong dengar apa yang Mama bilang. Kamu salah paham. Tadi Mama sama Om Hans khilaf. Kami baru pertama kali khilaf seperti ini." Om Hans berusaha menenangkan Mama sambil membersihkan lukanya.
"Mama enggak malu dengan perbuatan Mama? Mama bilang khilaf? Aku sudah memperhatikan Mama sejak tadi. Masa sih khilaf enggak sadar-sadar? Mama menikmatinya kan?" kataku menyudutkan Mama.
"Sayang Mama mohon... Maafin Mama. Jangan beritahukan semua ini sama Papa. Mama mohon, Nak. Papamu bisa membunuh Mama kalau Ia sampai tahu. Mama mohon Sayang..." pinta Mama sambil berurai air mata.
Aku melihat ketakutan di dalam sorot matanya. Namun tak ada rasa kasihan dalam diriku. Aku paling benci dengan namanya perselingkuhan.
"Sayang? Sejak kapan Mama manggil aku Sayang? Apa Mama benar-benar pernah peduli akan keberadaanku?" kali ini aku tak bisa menahan kesedihanku. Kesedihan selama bertahun-tahun tidak dianggap dalam keluarga ini.
"Jangan berkata seperti itu pada Mama kamu, Leo. Jangan jadi anak durhaka kamu!" kali ini Om Hans mewakili Mama yang masih menangis sesegukan.
"Durhaka? Siapa yang durhaka? Saya yang anak durhaka atau Mama yang Orangtua durhaka? Coba tanya siapa yang mengurus saya sejak kecil? Apakah Mama? Bukan, melainkan Bibi. Lagipula siapa Anda seenaknya aja bilang saya durhaka? Anda tuh cuma kacung kampretnya Papa. Anda juga hidup dibawah ketiak Papa saya. Dengan tidak tahu dirinya Anda mengkhianati Papa saya. Memalukan! Perbuatan kalian amat menjijikan!"
Aku melempar sebuah vas bunga mahal kesayangan Mama dan melemparnya ke lantai. Mama berteriak histeris melihatku yang kalem bisa mengamuk juga.
****
__ADS_1
Udah siapin tissue belum? Jangan lupa like dan votenya juga ya cin... 😘😘😘