Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Menyelesaikan Salah Satu Misi


__ADS_3

"Gimana May?" Leo yang bertanya pertama kali.


"Bisa May? Apa kata teman kamu?" Papa Dibyo menyusul.


"Adel tuh siapa sih May? Kayaknya segala bisa deh! Jadi makin penasaran!" Kakanda malah menanyakan hal lain, bukan tentang rencana yang sudah disusun Papa Dibyo dan Leo tapi tentang hal lain, lebih ke permasalahan pribadinya sendiri.


Aku terdiam. Melihat bapak dan anak satu-persatu.


"May!" Papa, Leo dan Richard kompak memanggil namaku.


"Ehem...." Aku kembali diam sejenak. "Nungguin ya?" ledekku.


"Ah elaaah May!" keluh Richard.


"Cepetan atuh May!" Papa Dibyo tak sabaran.


"Sayang please.... Becandanya pending dulu ya. Apa kata teman kamu Adel?" Leo masih menekan rasa emosinya dan memperbesar stok sabar menunggu jawabanku.


Aku menahan senyum melihat ulah Bapak dan anak di depanku ini. Baru saja hendak menjawab eh Mama Lena muncul.


"Ayo kita makan dulu. Kalian pasti udah lapar kan?"


Dan dijawab kompak oleh Trio Buntungers. "Entar dulu, Ma!"


"Wuih tumben kalian bertiga kompak." Mama pum heran dengan ulah mereka.


Aku enggak kuat lagi menahan tawa. Lucu.


"May!" lagi-lagi mereka kompak menyebut namaku.


"Ck...ck...ck... Ternyata Maya ya yang bisa membuat tiga pria di keluarga Dibyo Kusumadewa kompak dan kehilangan kesabaran. Hebat kamu May!" Mama mengacungkan kedua jempolnya padaku.


"Ma! Jangan dipuji lagi. Makin lama nanti Maya jelasinnya!" protes Papa.


"Iya nih Mama! Enggak tau apa muka Maya tuh kesenengan ngerjain kita bertiga?" tambah Richard.


Leo tak ikut mengomentari. Mungkin lagi dzikiran dalam hati agar stok sabar menghadapi istrinya ditambahkan lagi?


"Memangnya ada apa sih?" Mama kini bergabung duduk di ruang tamu bersama kami. Lupa akan niatnya mengajak kami makan siang bersama. Padahal lauk nasi dan alat makan sudah tersedia semua di meja makan.


"Ini loh Ma, aku udah mulai menemukan siapa yang menjebak Papa. Tapi kami kekurangan bukti yang membuat si pelaku enggak bisa berkutik lagi." Leo menjelaskan.


"Masalahnya adalah, bukti yang Leo berikan kurang kuat dan si pelaku itu pintar berkelit. Hanya bukti rekening korannya yang kuat, tapi kan sulit mendapatkan print rekening koran tanpa ada koneksi di dalamnya." Papa melanjutkan penjelasan yang Leo berikan.


"Nah si Oon ini, eh maksudnya Maya." Richard melirik Leo memberi isyarat agar jangan marah istrinya dipanggil oon. "Dia punya teman yang bisa kasih print statement yang kita butuhin."


"Ooh... Jadi Maya sekarang jadi pahlawan nih? Ah gimana sih kalian ujung-ujungnya Maya juga yang turun tangan!" Mama Lena malah membelaku.


"Bukan gitu, Ma. Niatnya kita mau nyewa pengacara dan mengajukan tuntutan hukum." Papa menyanggah omongan Mama.


"Iya. Tapi kurang bukti kan? Tetap saja Maya yang menang. Kalau ngajuin tuntutan hukum lalu kurang bukti yang ada kalian malah dituntut balik, mau?"


Papa, Leo dan Richard menggelengkan kepala kompak. Tawaku makin kencang saja meliat trio buntungers kompak setiap saat.


"Puas May?" sindir Richard.


"Nanti aku bales kamu Sayang!" ancam Leo.


"Kalau Papa jadi Imposter Rahasia, nanti punya kamu akan Papa serang duluan!" ini lagi Papa ngancemnya saat kita mabar alias main bareng game online, kebiasaan yang kadang kulakukan untuk menemani Papa eh aku sendiri yang ketagihan.


"Iya... Iya... Maya kasih tau." aku menyerah pada ancaman mereka bertiga.

__ADS_1


Mereka kembali diam, siap mendengarkan perkataanku selanjutnya.


"Masih nungguin ya?" ledekku lagi.


"MAYA!" suara teriakan 8 oktaf keluar dari trio buntungers. Hanya tawa Mama Lena saja yang berbeda. Tertawa sampai menangis.


"Iya... Iya.... Sabar atuh. Kalem wae. Tadi tuh temen Maya akan usahain bantuin. Tapi nanti hari senin. Sekarang kan lagi libur."


Trio buntungers terlihat menghela nafas lega.


"Memang Adel kerja dimana May? Kok dia bisa buka data yang sifatnya rahasia gitu?" Richard mengajukan pertanyaan pertama kali.


"Di bank."


"Wah hebat juga teman kamu! Dia bisa buka semua data bank?" Papa Dibyo bertanya atau meragukan Adel nih?


"Bukan gitu, Pa. Dia tuh temannya banyak. Dari berbagai bank. Dia bakalan minta tolong sama temannya untuk membantu kita." aku mengambil minuman dingin yang Mama Lena sediakan. Berbicara dengan Trio Buntungers membutuhkan banyak energi dan bikin tenggorokanku selalu haus.


Rasa segar langsung melingkupiku saat es yang isinya mentimun yang diserut, sirup dan sari kelapa masuk ke dalam tenggorokanku. Tadi tidak terlalu haus, tapi sekarang malah bawaannya haus terus.


"Apa nanti tidak akan membahayakan teman kamu May? Data bank itu kan sifatnya rahasia. Aku enggak mau usaha kita menjebak Johan malah membuat teman kamu yang ketiban sialnya." benar juga sih apa yang Leo katakan.


Mikir May! Mikir! Kalau Adel bisa mengiyakan artinya Adel siap menanggung resiko.


"Adel sih nyantai saja."


"Tapi bener kata Leo, May! Kasihan kan teman kamu yang cantik itu kalau sampai kena masalah gara-gara membantu kita." Richard mengikuti jejakku meminum es buatan Mama.


Mama Lena dengan sigap mengisi gelasku dan Richard yang kosong dengan es yang baru. Bisa direfill gitu ya. Enak lagi udah dituangin he...he...he...


"Yaudah kita pikirin caranya aja."


"Pikirinnya nanti saja kalau sudah ada datanya. Ini kan belum kejadian. Nanti kalau sudah kita punya bukti kuat tinggal ngajuin aja tuntutan pake pengacara handal. Hotman Paris kek, nanti tinggal kita sudutkan saja untuk membuka data banknya. Bukti dapat, temannya Maya selamat. Gimana?" Papa Dibyo akhirnya angkat suara.


"Hush! Sekarang udah enggak main The Sims doang. Papa kan juga main catur jadi penuh strategi." Papa pun menyombongkan kemampuannya bermain games.


Aku mencolek lengan Papa. Mataku memberi kode agar jangan membahas games depan Mama. Takutnya Mama malah jadi ilfill liat ulah Papa yang kekanakkan tersebut.


Papa langsung sadar akan kesalahannya. "Papa udah jarang sekarang main games, Ma. Kan Papa udah balik ke kantor. Main games kalau senggang saja."


"Sebenarnya Mama enggak masalah kok Papa main games. Asal jangan sering-sering aja." jawab Mama Lena.


"Iya, Ma. Papa sekarang lebih banyak zikiran daripada main games."


"Mulai deh ngegombal!" celetuk Richard.


"Bener, Ma. Mama tau kan Papa orangnya jujur?" Papa malah meminta Mama memihaknya.


"Sudah...Sudah! Masalah kalian kan sudah selesai. Ayo kita makan siang bareng! Mama masak banyak hari ini. Ayo kita habiskan!" Mama Lena berjalan lebih dahulu ke meja makan. Kami mengikuti di belakangnya.


Mama Lena enggak bohong dengan perkataannya. Ia beneran masak banyak. Ada pepes ikan mas kesukaan Papa, sayur asem, sambal, petai rebus kesukaan Papa juga tentunya, ayam goreng untuk Richard yang punya kebiasaan dalam sehari harus makan satu potong ayam, dan lalapan tentunya.


Mata segar rasanya melihat lalapan yang hijau-hijau. Ada daun selada, terong ijo, labu siam kukus yang ukurannya kecil-kecil juga ada daun kenikir kesukaan Papa Dibyo.


Papa Dibyo memang konglomerat top di Indonesia, namun seleranya ndeso. Di rumah pun lebih suka makanan kampung dibanding makanan western.


Kadang minta dibuatkan tumis oncom pakai leunca pada bibi. Dan Papa selalu, kudu, mesti, wajib ada lalapan dan sambal.


"Wah.... Mantap banget nih! Ada pepes ikan kesukaan Papa." Papa mengangkat pepes ikan yang dibungkus daun pisang dan menaruhnya di piring makan miliknya.


"Maya juga sama kok. Sukanya pepes ikan. Iya kan Sayang?" tanya Leo.

__ADS_1


"Yup. Bener. Aku suka banget pepes ikan, apalagi pepes ikan mas. Wuiiih... enak banget pokoknya."


"Tos dong kita?"


"Yoi, Pa." aku dan Papa Dibyo tertawa bareng.


"Mama senang deh dengan kehadiran Maya di keluarga kita. Jadi lebih hidup. Kalau saja Mama tahu Maya kayak gini udah Mama angkut deh bawa ke rumah. Maafin Mama ya May..." Mama Lena menatapku dengan sedih.


"Enggak apa-apa, Ma. Yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting sekarang. Maya juga senang kok bisa gabung sama keluarga Papa Dibyo. Makanya Mama ayo rujuk lagi sama Papa. Biar kita bisa serumah bareng. Mumpung aku dan Leo masih tinggal bareng sebelum beli rumah baru."


"Bagus May! Giring terus bolanya!" Papa mengacungkan dua jempolnya atas aksiku menyindir Mama barusan.


"Papa dong ngegollin. Masa sih cuma diem-diem bae?!" ledekku balik.


"Yaudah nih Papa maju." Papa pun menatap Mama dengan intens. "Ma, rujuk yuk. Kasihan anak-anak. Kasihan sama Papa juga sih Ma. Yuks Ma. Kita bangun lagi keluarga yang harmonis. Mama sudah lihat kan kalau Papa sudah berubah sekarang. Papa berubah karena Papa sadar, selama ini Papa mencari yang sudah ada di depan mata Papa. Papa sibuk mengumpulkan uang padahal kebahagiaan Papa adalah memiliki Mama. Mau ya Ma kita rujuk?"


Mata Mama terlihat berkaca-kaca. Ini momen yang beneran beda. Lamaran untuk rujuk versi orang tua.


Karena pernah merasakan ada di posisi Mama, aku juga ikut terharu dibuatnya. Bercerai dengan pasangan dan akhirnya kembali rujuk karena cinta itu kembali hadir.


"Terima dong, Ma. Bukan karena mendukung Papa, tapi kasihan sama Mama yang menghabiskan masa tua sendirian di rumah ini. Kalau Mama dan Papa rujuk kan bisa menghabiskan masa tua dengan orang yang mencintai kita." aku membantu Papa membujuk Mama.


Akhirnya air mata yang sejak tadi Mama tahan lolos juga. Membasahi wajahnya yang tersenyum haru.


"Ma.... Setiap orang punya kesalahan. Sama kayak Leo yang pernah salah sama Maya. Tapi kalau kita mau mengesampingkan sedikit ego kita, maka kebahagiaan terbentang lebar di depan kita. Mama punya pilihan, pilihlah yang menurut Mama benar." Leo menghampiri Mama dan memeluknya erat.


Mama menangis di pelukan Leo. Acara makan pakai pepes ikan berantakan karena ada aksi katakan cinta dari Papa Dibyo kepada Mama Lena.


Hanya Richard yang sejak tadi diam saja. Menyentuh makanan tidak, berkomentar juga tidak. Mungkin Ia takut salah berucap.


"Jadi gimana? Mama mau atau tidak kembali rujuk dengan Papa? Papa tidak mau berjanji yang tak bisa Papa tepati. Papa banyak salah. Suka kasarin Mama. Papa sadar Mama pasti menyimpan luka yang mendalam sama Papa. Setidaknya biarkan Papa menebus kesalahan Papa dengan membahagiakan Mama di sisa hidup Papa." lagi-lagi perkataan Papa sarat makna yang dalam. Bukan kata puitis yang terlalu berat dengan rangkaian kata. Hanya kata sederhana namun dari hati.


Mama melepaskan pelukannya dari Leo. Ia kini menatap Papa Dibyo dengan penuh haru. Sejenak Ia kembali mempertimbangkan keputusannya sebelum menarik nafas dalam dan mengatakan apa keputusannya.


"Mama mau balikan sama Papa." jawab Mama dengan penuh keyakinan.


"Yess!" jawabku, Leo dan Richard kompak.


Namun Papa hanya menunduk. Tak lama bahunya pun terguncang. Papa ternyata menangis.


Kami semua pun menghampiri Papa. Ada yang menepuk-nepuk punggungnya. Ada yang memeluknya dan ada yang bergelayutan di lengannya dengan manja. Iya, aku yang bergelayutan di lengan Papa seperti anak monyet yang bermanja ria pada induknya.


"May! Berat!" suara pertama Papa setelah berhasil menghapus air matanya.


"Eh maaf Pa. Papa tuh gelayutable banget." kataku sambil tertawa cengengesan.


"Ih kamu ini! Sini gelayutannya sama aku saja." omel Leo. Aku pun pindah ke samping Leo dan kembali bergelayut di lengannya.


Suasana yang tadinya haru malah buyar gara-gara masalah gelayutan. Hadehhhh.... Gampang banget pada gagal fokus nih! Kembali ke laptop! eh kembali ke masalah rujuk.


"Ma, beneran Mama mau balikkan sama Papa yang banyak kekurangan ini?" Papa menyakinkan lagi Mama akan keputusan yang Mama ambil.


Mama mengangguk dengan penuh keyakinan. Tak ada lagi keraguan di dalamnya. "Sama seperti Papa, Mama juga banyak salah sama Papa. Tapi anak-anak benar. Kita sudah semakin tua. Siapa yang akan mengurus kita kelak saat kita semakin renta kalau bukan mereka? Siapa yang akan menghibur hari-hari kita yang membosankan kalau bukan melihat mereka?"


Mama menghapus air mata yang menetes tanpa bisa Ia tahan lagi. "Mama juga seperti Papa. Bermimpi mengejar cinta di masa lalu, saat mendapatkannya ternyata cinta di masa lalu juga sudah tertinggal. Tergantikan kepingan demi kepingan memori saat bersama keluarga ini. Saat Papa tersenyum sambil menangis sambil mengadzankan Richard pertama kali. Saat berebutan memberi nama Richard dan Leo. Saat begadang ngurusin mereka yang sakit. Saat dunia seakan runtuh saat mereka sakit sampai dirawat di rumah sakit,"


"Waktu menghapus cinta masa lalu Mama menjadi cinta yang sebenarnya. Cinta sama anak-anak kita. Cinta saat membuat masakan yang membuat keluarga makan dengan lahap. Saat Mama sendirian di rumah ini, Mama berpikir kalau tiba-tiba Mama meninggal gimana? Tetangga kiri kanan tembok dan pagarnya tinggi. Jangan-jangan baru ketahuan mayat Mama setelah sebulan lagi." ucap Mama dengan sedih.


"Mama jangan ngomong gitu dong! Tiap hari juga Richard telepon Mama walau belum sempat kesini." Richard akhirnya angkat bicara.


"Yaudah kita langsung nyari penghulu aja yuk. Memang Leo dan Maya aja yang bisa rujuk dadakan. Kita juga bisa. Mau rujuk sekarang enggak? Papa akan gunakan semua koneksi Papa nih supaya kita rujuk hari ini juga. Gimana?" beneran deh nih aki-aki. Ngebet banget pengen kawin.

__ADS_1


"Mau." jawab Mama malu-malu.


Ck..ck...ck... Ini juga nini-nini sama ngebetnya. Hadeeehhh....


__ADS_2