Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Perceraian


__ADS_3

Hi semuanya! Yuks yang belum vote bisa vote novel ini. Caranya klik detil terus vote ya, gratis loh. Dan jangan lupa like juga ya 🥰🥰🥰


POV Leo


Aku mengemudikan motorku dengan kecepatan tinggi. Mama berpesan kalau aku harus secepatnya sampai ke rumah Om Hans.


Pikiranku berkelana kemana-mana. Apa yang terjadi dengan hidupku? Istri berselingkuh dan Papa tertangkap KPK. Lalu bagaimana dengan pekerjaan yang kutinggalkan begitu saja.


Aaaaarrrrgggghhhhhhh.....


Ckiiiiiiitttt.... Bruuuggg...


Aku mengerem mendadak saat melihat anak kucing melintas didepanku. Ban motorku tergelincir dan aku pun terjatuh.


Aku secepatnya bangun. Kulihat hanya beberapa luka gores dan tidak ada artinya bagiku. Aku mendirikan kembali motorku. Untunglah tidak rusak.


Aku menaiki lagi motorku dan melanjutkan perjalananku. Aku tak menyadari kalau saat itu layar Hp-ku retak dan rusak.


Aku akhirnya sampai ke alamat yang tadi Mama beritahu. Tidak sulit menemukannya karena aku sudah sering mengantar makanan ke daerah sini.


Om Hans tidak sekaya Papa, tapi rumahnya lumayan besar juga. Mungkin Ia punya bisnis lain selain bekerja dengan Papa? Who knows?


Aku membunyikan bell dan menunggu dibukakan pintu. Mama yang keluar. Ia sepertinya sudah menduga kalau aku yang akan datang.


Mama buru-buru membuka pintu dan mempersilahkanku masuk. Aku memasukkan motorku ke dalam garasi mobil Om Hans dan mengikuti Mama masuk ke dalam rumah.


"Masuklah! Mama ceritakan di dalam."


Aku menurut saja. Kuikuti Mama memasuki rumah yang bergaya minimalis tersebut. Rumahnya unik seperti rancangan arsitek. Boleh menjadi referensi kalau aku punya rumah nanti.


"Duduklah." Mama menyuruhku di kursi ruang tamu. Ia juga duduk di depanku.


"Apa benar Papa korupsi? Papa memang terlalu ambisius tapi bukan type orang yang akan melakukan hal kayak gitu, Ma." walau aku sudah diusir dan dipukuli namun Papa tetaplah orangtua kandungku.


"Toh kenyataannya Papa melakukannya kan? Melihat Papa begitu ambisius ingin menguasai harta kakek kamu bahkan tega merebut perusahaan keluarga Mama, apa menurutmu Papa kamu tidak mungkin melakukan suap juga?" terdengar suara Mama penuh kebencian.


Aku menatap Mama dengan heran. Bagaimana mereka masih tetap bersama padahal rasa cinta di antara mereka sudah lama hilang?


"Tunggu sebentar. Tangan kamu kenapa?" tanya Mama khawatir. Ia melihat luka karena aku jatuh tadi.


"Tadi Leo tergelincir dan jatuh dari motor." kataku jujur.


"Tapi kamu enggak apa-apa? Mama ambil obat dulu ya." Mama lalu pergi mengambil obat dari lemari buffet. Terlihat sekali Mama hapal segala tempat di rumah ini. Apa Mama sering kesini? Apa ini tempat perselingkuhan mereka?


Mama lalu membersihkan lukaku dan mengobatinya dengan betadine lalu menutupnya dengan plester. "Hati-hati kalau naik motor. Untunglah kamu enggak kenapa-napa."


Aku masih belum terbiasa dengan perhatian yang Mama berikan. Biasanya Ia bersikap cuek saja padaku apapun yang terjadi.


"Richard mana?" tanyaku kemudian. Menanyakan Kakakku yang tidak terlalu dekat denganku. Saat ini keluarga kami sedang ada masalah. Aku akan lupakan permasalahanku dengan Richard dan mencari jalan keluar untuk keluarga kami.


"Entahlah." Mama mengangkat bahunya. "Mama telepon tidak diangkat."


Mama menaruh kembali kotak P3K yang sudah selesai Ia gunakan. "Tak usah perdulikan Richard. Ia hanya tau bersenang-senang saja."


Aku tersenyum mengejek. "Apa bedanya sama Mama? Mama juga taunya bersenang-senang saja. Malah Mama sampai berselingkuh lagi." kataku dengan kasar.


"Itu kan menurut kamu. Kalau Mama hanya bersenang-senang saja mana mungkin Mama bisa membeli rumah ini sendiri?" Mama sekarang yang gantian tertawa mengejekku.


Senyumku hilang. "Ini rumah Mama? Bukan rumah Om Hans?"


Mama mengangguk. "Kamu pikir Mama sebodoh itu setelah kehilangan perusahaan milik orang tua Mama? Kamu pikir kenapa Mama masih bertahan hidup dengan Papa kamu yang ringan tangan dan ambisius seperti itu? Kalau bukan karena kamu dan Richard maka sudah lama Mama pergi."


Aku terdiam. Jadi alasan Mama bertahan menerima siksaan Papa adalah karena aku dan Richard. Ternyata Mama menyayangiku. Aku pikir kalau aku hanya anak yang tidak penting. Tapi aku salah. Selama ini aku salah paham.


"Mama hanya berpura-pura saja shopping. Setiap Papa habis mukulin Mama, Ia akan memberikan uang. Uang itu Mama kumpulkan untuk membeli aset namun jika memakai nama Mama akan mudah ketahuan. Jadi Mama memakai nama Om Hans. Mama sudah menduga suatu hari nanti Papa kamu akan hancur karena sifatnya yang ambisius. Dan sekarang buktinya."

__ADS_1


Mama meninggalkan ruang tamu untuk mengambilkanku minum. Ia kembali membawa dua kaleng minuman bersoda.


"Minumlah. Habis ini kita makan dulu sebelum pergi ke kantor KPK." kata Mama dengan tenangnya.


"Kantor polisi? Kita?" tanyaku bingung. Papa yang ditangkap kenapa aku juga harus ke kantor KPK segala?


Mama membuka minumannya dan meneguknya sedikit. Membasahi tenggorokannya yang kering.


"Kita akan dimintai keterangan sebagai saksi. Kamu enggak usah khawatir. Jawab saja sejujurnya kalau kamu enggak tau apa-apa. Seluruh harta Papa akan diaudit. Kamu tidak perlu khawatir. Papa kamu hanya tertangkap karena menyuap saja. Paling 4 tahun bebas." jawab Mama dengan entengnya.


"Mama gampang ya ngomong kayak gitu. Biar bagaimanapun Papa kan suami Mama. Apa Mama enggak peduli dengan keadaan Papa?" tanyaku dengan emosi.


"Lalu apa Papa kamu peduli kalau Ia selama ini hanya menyakiti Mama saja?" tanya Mama balik.


"Ya setidaknya-" belum selesai aku bicara Mama sudah memotong ucapanku.


"Mama akan mengajukan gugatan cerai. Suratnya sudah lengkap dan Mama akan mengajukan secepatnya."


Aku menatap Mama tak percaya. Bagaimana mungkin Mama tega meninggalkan Papa disaat Papa sedang terpuruk saat ini? Aku memang tidak dekat dengan Papa, tapi setidaknya aku masih punya hati nurani untuk tidak menambah lukanya lebih dalam.


"Mama udah enggak tahan lagi. Keputusan Mama sudah bulat. Dan kamu, Leo. Mama akan membiayai kuliah kamu lagi. Berhentilah bekerja di restoran dan mengantar makanan lagi. Kamu hanya perlu kuliah yang benar dan Mama yang akan menghidupi keluarga kamu."


Sebuah tawaran yang menggiurkan. Aku dan Maya bisa hidup tenang tanpa perlu memikirkan uang. Aku juga bisa kuliah lagi. Lulus kuliah aku akan mencari pekerjaan yang layak dan bisa mandiri sendiri.


Rencana kilat langsung tersusun di otakku. Oke. Aku harus mendukung Mama. Percuma juga membela Papa toh Papa juga sudah mengusirku.


"Kayaknya kamu setuju dengan penawaran yang Mama tawarkan?" Mama bisa melihat kalau aku tertarik dengan tawarannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku kemudian.


Mama tersenyum. Sepertinya rencana yang Ia susun akan berjalan dengan lancar.


"Seperti yang Mama bilang tadi. Kamu katakan saja kalau kamu tidak tahu apa yang Papa kamu lakukan. Kamu katakan kalau kamu juga diusir. Kamu tidak tahu menau tentang perusahaan Papa." jawab Mama.


"Yes. Hanya itu saja. Mudah bukan?"


Aku masih curiga. Sepertinya ada hal lain yang Mama sembunyikan.


"Jangan kebanyakan berpikir. Mama melakukannya karena Mama merasa bersalah atas sikap Mama selama ini sama kamu. Mama terlalu membedakan antara kamu dan Richard hanya demi memikat hati Papa. Anggap saja semua ini sebagai penghapus dosa Mama sama kamu." jawab Mama dengan jujur.


"Baiklah. Aku akan menerimanya. Lalu dimana Om Hans?" aku mencari keberadaan Om Hans. Namun rumah ini sepi.


"Ya di rumahnya lah. Memangnya kamu pikir Mama kumpul kebo sama Om Hans dan tinggal bareng disini?" jawaban Mama mewakili segala pertanyaanku.


"Ya aku pikir begitu." jawabku jujur.


"Sudahlah. Ayo makan. Habis ini kita ke kantor KPK. Nanti pakai masker ya. Pasti akan ada banyak wartawan yang meliput."


"Tak usah. Aku masih kenyang." tolakku.


"Udah nurut aja. Pemeriksaan akan berlangsung lama. Bisa berjam-jam. Jangan sampai kamu sakit." Mama mengambilkan sebungkus nasi padang yang sudah Ia beli.


Aku mengambil dan memakan nasi padang yang sudah Mama belikan. Aku menurut saja apa yanh Mama suruh. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya.


Selesai makan Mama memintaku mandi dan berganti baju. Aku turuti semua kemauannya. Baju gantiku bahkan sudah Mama siapkan.


"Udah?" tanya Mama yang melihatku sudah rapi.


"Iya. Richard mana? Dia beneran enggak ikut?" tanyaku lagi.


Mama menghampiriku dan membuat tatanan rambutku yang rapi jadi berantakan. Aku perhatikan Mama juga tidak memakai make-up sehingga wajahnya terlihat agak pucat. Apakah ini strateginya?


"Biarkan saja anak itu. Toh nanti saat rekening kita diblokir Ia akan menghubungi Mama." jawab Mama dengan cuek.


Aku disuruh Mama untuk mengendarai mobilnya. Kami pun berangkat ke kantor KPK.

__ADS_1


Beberapa kali Hpku berdering. Saat di lampu merah aku sempatkan untuk melihat siapa yang menelepon.


Kukeluarkan Hp dari sakuku dan kubuka kuncinya dengan jari telunjukku. Gelap. Kenapa Hp ku gelap?


"Hp kamu kenapa?" tanya Mama yang melihatku membolak-balik Hp dan memeriksanya.


"Kayaknya rusak saat aku jatuh tadi. Kena layarnya kayaknya." jawabku.


"Ya sudah. Nanti saja diurusnya kalau kita sudah selesai diperiksa. Mama belikan yang baru kalau perlu." jawab Mama.


Aku mengecilkan suara volume Hp agar tidak mengganggu pemeriksaan. Suaranya bahkan hampir tidak terdengar sama sekali.


Lampu merah pun berganti menjadi lampu hijau. Aku menaruh Hp di kantung celana lalu fokus menyetir kembali.


Seperti sudah Mama perkirakan, di depan kantor KPK sudah banyak wartawan yang berkerumun. Untung aku mengikuti Mama memakai masker, jadi wajah asliku tidak akan terekspose oleh publik.


Papa ternyata lumayan terkenal juga. Bagaimana tidak, Ia kan pemegang beberapa perusahaan besar dan orang yang Ia sogok berasal dari Departemen Kehakiman. Tentu saja Papa akan menarik perhatian publik. Sudah bisa diduga kalau Papa tidak akan lolos.


Kami lalu turun dari mobil dan berjalan menuju ruang pemeriksaan. Kedatangan kami langsung disambut dengan blitz kamera dan banyak pertanyaan.


"Apakah Ibu tau kalau Bapak melakukan suap?"


"Apakah Bapak sudah lama melakukan aksi suap?"


"Bagaimana kesiapan Ibu menghadapi pemeriksaan KPK?"


Beragam pertanyaan diajukan namun tidak yang aku dan Mama jawab. Kami diam saja. Itu hak kami untuk tetap diam.


Kami lalu menuju ruang pemeriksaan. Aku dan Mama diperiksa secara terpisah. Hebatnya Mama, Ia bahkan sudah tau apa saja yang akan ditanyakan. Dan untungnya aku sudah berlatih tadi di rumah.


Pertanyaan demi pertanyaan diajukan. Kadang pertanyaan yang sama diulang untuk membuktikan kejujuranku dan kadang pertanyaan yang sifatnya menjebak.


Aku menjawab semua pertanyaan dengan tenang. Seperti yang Mama perkirakan, pemeriksaan bisa memakan waktu lebih dari 6 jam. Aku saja heran kalau ternyata aku sudah menjawab pertanyaan lebih dari seratus dan sebagian besar jawabanku adalah tidak tahu.


Kalau aku jadi petugas aku akan sebal menanyai orang dan jawabannya hanya tidak tahu saja. Mungkin begitulah aku dimata petugas tersebut. Biarlah, memang aku tidak tahu.


Aku diberi waktu istirahat sebentar. Aku pergunakan untuk meregangkan tubuhku yang rasanya amat pegal. Aku mengeluarkan lagi Hp- ku yang terus berbunyi. Aku matikan saja Hp-ku. Percuma tidak bisa diangkat juga.


Aku tak tahu siapa yang menelepon. Mungkin Maya? Tidak mungkin aku meminjam telepon saat ini. Lagi juga biarlah sekali-kali aku memberi Maya pelajaran, sudah berani Ia selingkuh. Biar Ia kapok dan rasakan bagaimana kalau aku pergi tidak memberi kabar.


Aku tiba-tiba teringat tadi Maya sempat terjatuh saat tangannya kuhempaskan. Ah pasti Maya baik-baik saja. Kan aku pelan menghempaskannya.


Aku selesai diinterogasi sekitar jam setengah 3 pagi. Hanya sedikit wartawan yang tersisa. Mungkin itulah strateginya kenapa aku diinterogasi sampai lama. Menghindari wartawan.


Aku sangat lelah saat sampai di rumah Mama. Aku langsung tertidur tanpa mencuci muka dulu. Aku seperti orang mati yang tidak sadar sudah tidur lama.


Seharian aku habiskan untuk tidur. Mama tidak menggangguku. Ia tahu aku lelah sehabis diinterogasi kemarin.


Aku bangun jam 4 sore. Kuputuskan untuk mandi dan bersiap pulang ke rumah. Saat aku keluar kamar Mama langsung menghampiriku. Ia menyuruhku untuk makan sebelum pulang. Mama juga memberikan sebuah Hp baru untuk kupakai. Aku mengganti Hp lamaku dengan yang baru.


Aku mengambil helm dan mengendarai motorku pulang ke rumah. Hari sudah menjelang malam saat aku sampai di rumah kontrakkanku.


Kontrakkanku amat gelap. Lampu depannya tidak dinyalahkan. Aku mengunci motor lalu turun dan membuka kunci pintu. Sepertinya Maya tidak dirumah. Pergi kemana Dia? Apa Ia sedang kencan dengan Angga?


Emosiku naik lagi. Sia-sia aku menenangkan diri di rumah Mama kalau Maya malah makin main gila dibelakangku.


Aku masuk ke dalam rumah dan kakiku menendang sesuatu. Aku menyalahkan lampu dan mencari benda apa yang aku tendang tadi. Ternyata sebuah amplop.


Aku buka amplop yang ditujukan padaku. Isinya sebuah surat.... gugatan cerai? Apa maksudnya ini?


Tertulis Maya Aprilia Putri menggugat cerai Leonardo Prakoso? Owh.... Jadi benar Maya lebih memilih laki-laki kaya itu? Dasar cewek matre! Mata duitan! Cih... Aku enggak sudi punya istri kayak dia.


Oke, kalau kamu mau cerai aku akan memenuhi keinginan kamu! Kita ketemu di persidangan!


Tapi ternyata Maya sama sekali tidak pernah datang ke persidangan. Ia sama sekali tidak ada niat untuk rujuk. Sampai beberapa kali sidang Ia tak juga datang. Aku yang emosi akhirnya memilih untuk bercerai darinya. Aku dan Maya selesai.

__ADS_1


__ADS_2